top of page

Search Results

165 results found with an empty search

  • JELAJAH JOGJA: Candi Ratu Boko, Istana di Atas Bukit

    SELAMA empat hari di Jogjakarta, kami punya misi kecil-kecilan: menjelajahi destinasi-destinasi wisata di DIY dan sekitarnya. Yang kami jelajahi adalah objek-objek wisata mainstream . Mulai candi-candi hingga bangunan bersejarah. Dalam waktu tersebut, memang tidak semua bisa kami datangi. Tapi, ini adalah ikhtiar traveling kami untuk mencicil jelajah destinasi wisata Jogja. Pada waktu-waktu ke depan, kami berencana menuntaskannya, tapi sifatnya santai saja. Toh, banyak tempat lain yang juga menunggu untuk dijamah. Candi Ratu Boko Salah satu tempat yang kami datangi adalah Situs Ratu Boko atau Candi Ratu Boko. Candi ini berada kira-kira 3 kilometer di sebelah selatan dari Kompleks Candi Prambanan. Kami mengelilingi Jogja, Magelang, dan sekitarnya dengan motor matik sewaan. Rp 60 ribu per hari. Banyak jasa penyewaan motor di Jogja. Sesuaikan saja bujet sama jenis motor yang Anda inginkan. Salah satu keunikannya, situs purbakala ini terletak di ketinggian 196 meter di atas permukaan laut (mdpl). Luas keseluruhan kompleks candi ini sekitar 25 hektare. Fungsi Candi Ratu Boko belum diketahui secara pasti. Namun, jika dilihat dari struktur bangunan yang berupa kompleks dengan sisa beberapa bangunan, situs ini tampak seperti tempat berkegiatan atau permukiman. Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, situs ini diduga kuat merupakan bekas keraton (istana raja). Itu didasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau situs religius, melainkan istana berbenteng dengan bukti sisa dinding benteng dan parit kering sebagai pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini. Nama Ratu Boko berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Boko (raja bangau) adalah ayah Loro Jonggrang. Candi ini diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Candi Ratu Boko memang terkenal sebagai spot yang bagus untuk memotret sunset . Warna jingga dengan perpaduan siluet gerbang candi menjadi view yang sempurna. Namun, kita akan seperti ’’kucing-kucingan’’ dengan sekuriti di sana. Sebab, candi ini tutup pukul 17.00. Biasanya pengunjung bisa ’’kucing-kucingan’’ sampai pukul 18.00. Berbeda dengan peninggalan purbakala lain dari zaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, Situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendapa, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung. Berbeda pula dengan keraton lain di Jawa yang umumnya didirikan di daerah yang relatif landai. Kedudukan di atas bukit juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini. Posisi di atas bukit juga memberikan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah bagi para penghuninya. Selain tentu saja membuat kompleks ini lebih sulit untuk diserang lawan. Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat di sebelah kiri gapura yang sekarang biasa disebut tempat kremasi. Pemberian nama itu menyiratkan adanya kegiatan kremasi rutin yang perlu diteliti lebih lanjut. Situs Ratu Boko kali pertama dilaporkan Van Boeckholzt pada tahun 1790. Dia menyatakan, ada reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko. Bukit ini merupakan cabang dari sistem Pegunungan Sewu yang membentang dari selatan Jogjakarta hingga daerah Tulungagung. Seratus tahun kemudian, baru dilakukan penelitian yang dipimpin FDK Bosch yang dilaporkan dalam Keraton van Ratoe Boko. Dari sinilah disimpulkan bahwa reruntuhan itu merupakan sisa-sisa keraton. Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di Situs Ratu Boko. Prasasti ini menyebutkan seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran (746–784 M), serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamai Abhyagiri Wihara (wihara di bukit yang bebas dari bahaya). Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan. Salah satunya dengan mendirikan wihara bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Rakai Panangkaran menganut agama Buddha. Bangunan yang disebut Abhayagiri Wihara itu juga berlatar belakang agama Buddha. Buktinya adalah adanya Arca Dyani Buddha. Namun, ditemukan pula unsur-unsur agama Hindu di situs Ratu Boko. Misalnya, Arca Durga, Ganesha, dan Yoni. Tampaknya, kompleks ini kemudian diubah menjadi keraton yang dilengkapi benteng pertahanan bagi raja bawahan (vassal) bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Menurut prasasti Siwagrha, tempat ini disebut sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus batu oleh Balaputra. Bangunan di atas bukit ini dijadikan kubu pertahanan dalam pertempuran perebutan kekuasaan di kemudian hari. Di dalam kompleks ini, terdapat bekas gapura, ruang paseban, kolam, pendapa, pringgitan, keputren, dan dua ceruk gua untuk bermeditasi. Gerbang Gerbang masuk ke kawasan Ratu Boko berada di sisi barat. Kawasan candi ini terletak di tempat yang cukup tinggi. Jadi, dari tempat parkir dan loket, pengunjung masih harus berjalan sekitar 100 meter dengan menaiki anak tangga. Menanjak. Gerbang candi ini memiliki dua ’’lapis’’. Yakni, gerbang luar dan dalam. Gerbang dalam sebagai gerbang utama memiliki ukuran yang lebih besar. Gerbang ini terdiri atas lima gapura paduraksa yang berbaris sejajar dengan gerbang luar. Gapura utama diapit dua gapura di setiap sisi. Gua Di kawasan situs ini juga terdapat dua gua. Dua gua itu bernama Gua Lanang (gua lelaki) dan Gua Wadon (gua perempuan). Gua Lanang yang terletak di timur laut paseban merupakan lorong persegi. Di dalam gua, di sisi kiri, kanan, dan belakang, terdapat relung seperti bilik. Pada dinding gua, ada pahatan berbentuk semacam pigura persegi panjang. Sementara itu, Gua Wadon terletak sekitar 20 meter ke arah tenggara dari paseban. Ukurannya lebih kecil dibanding Gua Lanang. Di bagian belakang gua, terdapat relung seperti bilik. Tiket masuk candi ini Rp 40.000 untuk dewasa dan Rp 20.000 untuk anak-anak. Dulunya ada tiket khusus untuk pengunjung yang berencana menikmati sunset di candi ini, yakni Rp 75.000. Namun, peraturan itu sudah dihapus. Ada juga tiket terusan dengan Candi Prambanan. Jadi, pengunjung bisa mencapai Ratu Boko dengan menggunakan bus khusus. (*) Jogja, 12-16 Februari 2018

  • JELAJAH JOGJA: Jalan Malioboro, Jalan Pengembaraan

    SELAMA empat hari di Jogjakarta, kami punya misi kecil-kecilan: menjelajahi destinasi-destinasi wisata di DIY dan sekitarnya. Yang kami jelajahi adalah objek-objek wisata mainstream . Mulai candi-candi hingga bangunan bersejarah. Dalam waktu tersebut, memang tidak semua bisa kami datangi. Tapi, ini adalah ikhtiar traveling kami untuk mencicil jelajah destinasi wisata Jogja. Pada waktu-waktu ke depan, kami berencana menuntaskannya, tapi sifatnya santai saja. Toh, banyak tempat lain yang juga menunggu untuk dijamah. Sejarah Jalan Malioboro Jalan Malioboro merupakan salah satu kawasan jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta. Jalan ini membentang dari Tugu Yogyakarta hingga perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan, Jalan Malioboro terdiri atas Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo. Jalan ini merupakan poros garis imajiner Keraton Yogyakarta. Pada tanggal 20 Desember 2013, pukul 10.30, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengembalikan nama dua ruas jalan Malioboro ke nama aslinya, Jalan Pangeran Mangkubumi menjadi Jalan Margo Utomo dan Jalan Jenderal Achmad Yani menjadi Jalan Margo Mulyo. Ada beberapa objek bersejarah di kawasan tiga jalan ini. Yakni, Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja. Ini menjadikan Malioboro sebagai surga belanja. Banyak juga warung-warung lesehan saat malam hari. Kebanyakan menjual gudeg Jogja. Sepanjang jalan ini juga terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekspresikan kemampuan seperti bermain musik, melukis, happening art , pantomim, dan lain-lain. Saat ini, Jalan Malioboro tampak lebih lebar karena tempat parkir di pinggir jalan sudah dipindahkan ke kawasan parkir Abu Bakar Ali. Sebab, ke depan, Malioboro akan menjadi semi jalur pedestrian. Selama bertahun-tahun, Jalan Malioboro diberlakukan dua arah. Namun, pada tahun 1980-an, jalan ini menjadi satu jalur saja. Menurut situs resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Jalan Malioboro didirikan bertepatan dengan pendirian Keraton Yogyakarta. Jalan ini hampir tidak pernah sepi dari wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Di sisi kanan dan kiri jalan yang dilengkapi area bebas dan kursi-kursi semakin membuat siapa saja betah berlama-lama bersantai di sana. Arti Nama Dalam bahasa Sanskerta, malioboro memiliki makna karangan bunga . Sebutan ini diyakini memiliki hubungan dengan masa lampau. Pada zaman dulu, saat keraton mengadakan acara besar, Jalan Malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa malioboro berasal dari nama seorang kolonial Inggris bernama Marlborough yang pernah tinggal di sana pada 1811–1816 Masehi. Di luar beragam versi yang menjelaskan makna Malioboro, satu yang pasti adalah keberadaan jalan ini tak lepas dari konsep Kota Yogyakarta yang ditata sesuai mata angin. Buku Yogyakarta City of Philosophy yang diterbitkan Dinas Kebudayaan DIY juga menjelaskan makna etimologi Jalan Malioboro. Maliabara (Malioboro) disebutkan berasal dari kata malia yang berarti jadilah wali dan bara dari kata ngumbara (mengembara). Jadi, makna Maliabara secara etimologis adalah Jadilah Wali yang Mengembara. Nah, filosofi nama Malioboro ternyata berhubungan dengan jalan lain di Yogya. Yakni, Jalan Marga Utama dan Jalan Marga Mulya. Sebelum Jalan Malioboro, dari arah utara ada Jalan Marga Utama. Jalan ini digambarkan sebagai tahap awal atau tahap pertama. Jalan Marga Utama berarti jalan keutamaan. Setelah memilih jalan keutamaan (Marga Utama), manusia hendaklah mengikuti ajaran wali dengan mengembara (tahap kedua/Jalan Malioboro) untuk menerangi kehidupan umat manusia. Tahap selanjutnya adalah Jalan Marga Mulya yang berada di sisi selatan Jalan Malioboro. Makna Jalan Marga Mulya adalah jalan kemuliaan. Selain itu, tiga jalan tersebut memiliki kesamaan. Yakni, di sepanjang tepi jalan, ditanami pohon gayam dan asam jawa. Pohon gayam memiliki makna ayom (mengayomi) dan pohon asam memiliki makna nengsemake (menawan). (*) Jogja, 12-16 Februari 2018

  • Surili, Lutung Abu Kalem dan Cuek yang Terancam Punah

    BAGI Anda yang pernah mendaki Gunung Merbabu di Boyolali, Jawa Tengah, tentu akan ''disambut'' sang tuan rumah. Prajurit-prajurit kerajaan kera. Entah yang mana rajanya. Rupa mereka sama semua. Anda akan dipalak. Mereka tidak takut pada manusia. Anda melawan, taring tajam akan mengancam. Perilaku moyet/kera di Merbabu, begitu juga di gunung lain, berubah juga karena ulah para pendaki sendiri. Kera-kera yang di habitatnya biasa mencari makan dari alam berubah menjadi seperti ''preman''. Itu karena godaan berbagai makanan yang dibawa pendaki. Namun, di antara puluhan --mungkin juga ratusan-- monyet ekor panjang yang menunggu di sepanjang jalur pendakian atau yang mendatangi tenda, ada sejenis kera lain yang lebih kalem dan cuek. Alih-alih mendekati pendaki seperti kera lain, ia justru terkesan tak peduli. Memilih bertengger di batang-batang pohon. Di kejauhan. Mengamati dari sela-sela dahan. Surili atau lutung abu namanya. Ya, selain kera-kera yang usil dan songong, Gunung Merbabu dikenal sebagai habitat asli surili. Surili merupakan jenis lutung endemik asli Merbabu. Surili memang lebih menghindari interaksi dengan manusia. Menjauhi jalur pendakian yang ramai. Itu berbeda dengan monyet ekor panjang yang malah menyukai keramaian untuk ''memalak'' pendaki. Surili hanya memakan daun dan buah, sedangkan monyet ekor panjang memakan hampir apa saja yang bisa dimakan. Bagi Anda yang ingin mengintip surili, lokasi yang sering dikunjunginya adalah pos 2 via Selo. Kalau bisa menemui surili atau lutung abu, kita hanya perlu menikmatinya dari jauh. Jangan ganggu apalagi memburu. Sebab, surili merupakan salah satu primata endemik di Jawa Tengah yang terancam punah karena adanya penurunan populasi di alam. (*)

  • Menziarahi Tiga Pusara Soe Hok Gie

    DULU , sebagai mahasiswa yang masih labil dan sedang menggandrungi buku-buku sejarah --terutama tentang masa Orde Lama dan Orde Baru-- saya tertarik pada yang "kiri-kiri". Alih-alih membaca buku-buku dari sejarawan, saya lebih memilih membaca karya-karya sastrawan. Membaca buku yang riil buku sejarah cukup membosankan. Saya pun memilih novel sejarah. Untuk referensi tambahan, saya biasa buka Google. Atau kalau terpaksa buka buku sejarahnya. Saya pun mulai akrab dengan buku-buka dari penulis yang dicap "kiri". Sebut saja yang fenomenal macam Pramoedya Ananta Toer (masa sebelum merdeka) di ranah roman, Thukul (masa Orde Baru) di ruang puisi, dan sedikit melebar ke ranah kritik-puisi dari Soe Hok Gie (antara Orde Lama dan Orde Baru). Nama terakhir kemudian membuat saya menemukan paket lengkap: aktivis, penyair, plus pencinta alam. Kali ini saya hanya membahas itu. Sedikit saja. Saya membaca tulisan-tulisan Gie, sajak-sajak cintanya, dan tentu saja menonton filmnya. Namun, saat itu, ketika masih kuliah, belum ada keinginan untuk mendaki gunung seperti yang dilakukan Gie. Apalagi menapaktilasi tempat Gie wafat di puncak tertinggi Jawa sana. Keinginan itu baru muncul setelah saya menyelesaikan kuliah. Keinginan untuk menziarahi tiga "pusara" Gie. Yang pertama di puncak Semeru. Kemudian Taman Prasasti Jakarta. Dan yang terakhir di Gunung Pangrango, Bogor. Sebagai sarjana muda yang lelah tak dapat kerja, saya mulai mengumpulkan tekad untuk berziarah ke tiga tempat itu. Namun, sebagai pengangguran, mendatangi tiga tempat di tiga provinsi itu tentu tidak mudah. Dan yang pasti tidak murah. Dengan sisa tabungan semasa kuliah, saya ziarah ke tempat yang pertama. Mahameru di Gunung Semeru. Saat itu medio 2012. Dari Surabaya menuju Tumpang, Malang, saya lupa naik apa. Seingat saya; antara motor dan angkot. Dari Tumpang, saya --bersama tiga teman lain-- menumpang truk pupuk/sayur ke pos perizinan pendakian Ranu Pani. Saat itu, pendaki masih bisa nebeng naik truk dengan membayar Rp 30 ribu per orang (tapi tergantung ada berapa orang yang naik pada saat itu). Truk-truk itu biasanya naik ke Ranu Pani dengan membawa pendaki, turun membawa sayur atau pupuk kandang. Di atas bak biasa ditutup terpal. Saat itu mungkin lagi apes. Pendaki sepi. Biayanya tentu semakin mahal per orangnya. Cuma kami berempat. Saat itu kami hampir batal naik. Namun, pemilik truk sepertinya kasihan kepada kami. Sudah jauh-jauh dari Surabaya. Dan tak punya uang lebih. Hanya sisa yang untuk pulang. Kami per orang pun hanya perlu membayar Rp 50 ribu. Jadilah kami berempat naik truk campur dengan berkarung-karung pupuk kandang. Bau memang. Tapi, daripada balik kucing. Kami jabani. Sampailah kami di Ranu Pani. Mendaki Semeru. Di puncak tertinggi Jawa sana, di tanah berdebu, di antara batu-batu kerikil. Plakat in memoriam Gie (dan Idam Lubis) diam membisu. Menyimpan sejarah pilu itu. Di seberangnya, kubah lava Jonggring Saloko memuntahkan asap beracun hampir setiap 15-20 menit sekali. Racun asap itulah yang konon terhirup oleh Gie hingga ia mengembuskan napas terakhir. Pada 16 Desember 1969. Tepat sehari sebelum ulang tahunnya ke-27 tahun. Beralas pasir kerikil Semeru. Beratap langit Jawa. Kini, plakat itu tak ada lagi di tempatnya semula. Sudah diturunkan dari Mahameru. Lama sejak saat itu, keinginan untuk berziarah ke pusara kedua terabaikan. Jarak dan biaya menjadi alasannya. Sampai kemudian saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Jakarta. Dengan pertimbangan matang, saya mengambil kesempatan itu. Saya pergi dan tinggal di Jakarta. Medio 2014. Jadilah saya menziarahi pusara kedua Gie. Di Museum Prasasti Jakarta . Di antara batu-batu nisan dan puluhan prasasti, nama Gie terukir di sebuah marmer. Dengan patung malaikat kecil yang selalu mendoakannya. Di bawah pengayoman rimbun pohon. Menurut cerita, setelah dievakuasi dari Semeru, jasad Gie dikebumikan di Menteng Pulo. Namun, pada 24 Desember 1969, jenazahnya dipindahkan ke Perkuburan Kober, Tanah Abang, agar dekat dengan makam ibunya. Karena ada proyek pembangunan prasasti, makam Gie terpaksa digusur. Keluarga dan kawan-kawan Gie pun sepakat untuk menumbuk tulang-belulang Gie dan kemudian di sebar di antara bunga-bunga edelweiss di Lembah Mandalawangi, Pangrango. Di situlah biasanya Gie merenung seperti sebuah patung. Sebagai bentuk penghormatan, Gie dibuatkan plakat prasasti. Dan ditempatkan di Museum Prasasti hingga kini. Setiap 16 dan 17 Desember, selalu ada orang yang menyematkan bunga di pusaranya. Gie meninggal dan berulang tahun pada tanggal itu. Setelah hampir 10 tahun sejak pendakian Semeru pertama saya, kesempatan itu baru datang. Berziarah ke pusara terakhir Gie. Di puncak Pangrango. Di Lembah Kasih, Mandalawangi . Itulah tempat favorit Gie semasa hidup. Untuk menyendiri. Berkarib dengan alam. Di situlah serpihan tulang-belulang Gie ditebar. Menyatu bersama alam. Sayang, plakat in memoriam Gie di sana sudah tak utuh lagi. Hancur. Hanya tersisa dua pecahan marmer dengan kata yang tak terbaca lengkap. Marmer dengan nama Gie hilang entah ke mana. Entah itu hancur karena ulah manusia atau alam yang kadang susah diterka. Saya curiga karena ulah yang pertama. Tak apalah. Orang besar tak butuh apa-apa selain dikenang warisannya. Buah pikirannya. Dan tentu saja karya-karyanya. Puisi-puisinya abadi di Lembah Kasih, Mandalawangi. (*) Surabaya-Jakarta, 22 Oktober 2012-21 Juli 2019

  • Arbei, Buah Gunung Mirip Stroberi yang Aman Dimakan

    ANDA membutuhkan camilan tambahan saat mendaki gunung atau merambah hutan? Ada buah liar mirip stroberi yang aman untuk dimakan. Namun, ukurannya jauh lebih kecil. Rasanya masam. Buah arbei namanya. Buah mini dengan nama latin Rubus rosaefolius ini biasa juga dikenal dengan nama stroberi alpin atau stroberi kecil. Arbei bisa berwarna merah atau putih bergantung varietasnya. Arbei hutan biasa tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian 1000–2500 mdpl. Karena itu, buah ini biasa menjadi camilan tambahan bagi pendaki. Meskipun kecil, buah ini memiliki banyak manfaat. Di antaranya untuk obat sariawan. Caranya, kumbulkan 10 gram arbei segar, cuci, kemudian makan sekaligus. Selain itu, daunnya bisa dimanfaatkan untuk obat diare, sedangkan akarnya bisa digunakan sebagai obat wasir atau ambeyen. Di Gunung Gede, tanaman buah ini banyak tumbuh di salah satu spot di Alun-Alun Suryakencana. Tepatnya di seberang jalur menuju puncak Gede. Pada bulan Agustus kemarin, di samping tempat mendirikan tenda di Suryakencana, banyak buah arbei yang sudah matang. Merah cerah. Ingin mencoba? (*)

  • SAMBANG MUSEUM #01 | Taman Prasasti, Museum Outdoor yang Artistik

    HAMPIR semua museum artistik. Karena menyimpan beragam benda bersejarah yang mempunyai nilai seni tinggi. Selain sisi historis. Begitu juga Museum Taman Prasasti. Selain artistik, Museum Taman Prasasti menurut saya juga unik. Ini adalah satu-satunya museum outdoor yang pernah saya temui. Museum yang berada di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat, ini memiliki sejarah yang panjang. Lokasi ini awalnya adalah Pemakaman Umum Kebon Jahe Kober yang dibangun tahun 1795. Pada tanggal 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum dan dibuka untuk umum. Pembukaan museum ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Taman Prasasti ditetapkan sebagai museum cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda. Museum ini memiliki koleksi prasasti nisan kuno serta miniatur makam khas dari 27 provinsi di Indonesia. Melihat Lebih Dekat Begitu tiba di museum ini, kita akan melihat bangunan putih dengan arsitektur khas kolonial Belanda. Dengan beberapa pilar penopang bangunan. Di samping kanan dan kiri, terdapat masing-masing satu meriam. Di sisi kanan, ada plang besar bertulisan Museum Taman Prasasti. Di samping kiri pun ada plang dengan tulisan yang sama. Namun, tampilannya lebih artistik. Berupa tiga pilar besar berdiri kukuh dengan dua malaikat nangkring di atasnya. Di masing-masing pilar itu, tertera satu kata. Yang bila dibaca utuh menjadi Museum Taman Prasasti. Dua plang nama memang mubazir, tapi ya sudahlah. Masuk Museum Setelah membeli tiket dan masuk museum, kita akan melihat sebuah lonceng kecil. Konon, dulu lonceng tersebut akan dibunyikan ketika ada jenazah yang datang untuk dikebumikan. Berjalan sedikit lebih ke dalam, mata kita akan dimanjakan dengan rindang pepohonan. Serta puluhan prasasti dan makam yang berdiam di bawahnya. Berjalan sedikit ke kiri dari pintu masuk, kita akan disambut patung perempuan yang tertelungkup. Namanya Patung Wanita Menangis . Konon katanya, perempuan itu mati bunuh diri. Karena tak kuasa menahan kesedihan lantaran laki-laki yang baru dinikahinya meninggal terkena malaria. Di dekat patung wanita itu, ada bangunan seperti gazebo. Di situ terdapat dua peti mati. Keduanya adalah peti mati untuk membawa jenazah Bung Karno (sisi kanan) dan Bung Hatta (sisi kiri). Dengan peti itu, jenazah Bung Karno dibawa dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) menuju persemayaman terakhir di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala). Sedangkan jenazah Bung Hatta dibawa dari Rumah Sakit dr. Tjitpto Mangunkusumo (RSCM) menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir. Beliau memang ingin dimakamkan di pemakaman umum biasa. Sedikit bergeser ke kiri, ada makam yang tampak seperti bangunan rumah kecil. Namanya Rumah Bumi . Itu adalah makam keluarga A.J.W. Van Delden. Seorang juru tulis di Indonesia Timur dan pernah menjabat sebagai ketua perdagangan VOC. Di samping Rumah Bumi, ada nisan yang tampak berbeda dengan nisan-nisan lain. Nisannya terbuat dari batu andesit. Itu adalah makam Olivia Mariamne Raffles, istri Thomas Stamford Raffles . Thomas Raffles adalah gubernur-letnan Hindia Belanda ke-39 (1811–11 Maret 1816). Raffles juga dikenal sebagai pencetus Kebun Raya Bogor. Di sana, dibangun monumen peringatan untuk mengenang kematian Olivia Mariamne. Selain itu, nama Raffles juga dipakai sebagai nama bunga nasional Indonesia sebagai penghargaan. Rafflesia arnoldi . Kini kita sedikit bergeser lagi. Ke sebuah gazebo yang menaungi tiga kereta antik. Itu adalah replika atau duplikasi kereta jenazah yang digunakan pada masa kolonial Belanda. Di depan gazebo tersebut, ada monumen dengan tulisan Jepang. Bentuknya berupa batu bercat hitam. Tugu itu dibangun untuk mengenang tentara Jepang yang tewas dalam perang melawan sekutu. Masuk Lebih Dalam Setelah menjelajahi bagian pelataran, kita akan melewati jalan setapak yang terbuat dari paving block. Kita bakal dihadapkan pada persimpangan jalan. Ke kanan atau kiri. Jika ambil kanan, kita akan melihat bangunan seperti potongan tembok. Di sisi kiri jalan. Dengan ornamen yang cukup menyeramkan di atasnya. Tengkorak kepala tertusuk bilah besi. Itu merupakan replika tembok peringatan yang dulunya berada di daerah Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat. Tembok tersebut dibangun untuk memperingati R. Bervelt . Orang Belanda keturunan Jerman yang bergabung dengan pejuang Indonesia untuk melawan Belanda. Dia berencana melakukan pembunuhan masal saat malam tahun baru. Tapi diketahui pemerintah Belanda. Dia pun dihukum mati dengan ditarik empat kuda. Tembok kemudian dibangun di tempat Brevelt tewas untuk memberikan peringatan kepada pemberontak lain. Berjalan lebih ke dalam lagi, kita bisa bertemu dengan patung laki-laki cokelat yang seperti membawa buku. Itu adalah prasasti makam Pater Henrikus van der Grinten atau yang disebut sebagai Pastor Batavia. Tingginya mencapai 5 meter. Dia sempat menjadi pastor kepala di Gereja Katedral saat ini. Van der Grinten dikenal sebagai seorang pastor yang penuh cinta dari Batavia. Dia meninggal pada awal tahun 1864 karena terserang flu berat. Berjalan lagi, sedikit lebih jauh, di antara pepohonan rindang, ada tugu yang menjulang tinggi. Warnanya lebih mencolok di antara prasasti lain. Hijau. Seperti katedral. Nisan prasasti itu dibuat untuk menghargai jasa Panglima Perang J.J. Pierrie . Dia dinilai sangat berjasa bagi pemerintah. Tidak jauh dari nisan katedral tersebut, ada sebuah nisan batu besar yang mirip dengan candi. Itu adalah nisan seorang ahli sastra Jawa kuno bernama Dr. Jan Laurens Andries Brandes . Dia terkenal antara lain karena menemukan manuskrip Kakawin Nagarakretagama di Puri Cakranegara, Lombok, pada tahun 1894. Brandes meninggal pada tahun 1905 saat masih menjabat sebagai ketua Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoera (Komisi Hindia Belanda untuk Penelitian Arkeologi di Jawa dan Madura). Komisi tersebut merupakan cikal bakal dari Dinas Purbakala dan Pusat Penelitian Arkeologi di Indonesia. Masih banyak lagi orang penting, tokoh, atau pejabat yang nisan prasastinya disemayamkan di museum ini. Sebut saja prasasti Dr. H. F. Roll, kepala sekolah Dokter Jawa—kemudian berganti nama menjadi STOVIA, lalu berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Batu nisan Direktur Jenderal Finansial Hindia Belanda L. Launy. Lalu, ada batu nisan Gerardus van Overstraten, gubernur VOC terakhir. Arsitek gereja Katedral Jakarta Pusat Marius Hulswit dan Panglima Perang Belanda J.H.R. Kohler. Dia tewas di Masjid Baiturrahman Aceh saat hendak menyerang Aceh. Jenazahnya sekarang dimakamkan di Aceh. Ada pula tokoh Indonesia yang batu nisannya diletakkan di sana. Salah satunya selebritis pada 1930-an Misreboet. Dan, ada satu lagi yang seakan menjadi ikon Museum Taman Prasasti, Soe Hok Gie . Prasasti aktivis sekaligus pencinta alam kelahiran Jakarta, 17 Desember 1942, itu hampir setiap tahun diziarahi. Gie meninggal di puncak Gunung Semeru pada 16 Desember 1969 dalam usia 26 tahun. Tepat sehari sebelum ulang tahunnya. Saat Kebon Jahe Kober (sekarang Museum Taman Prasasti) direnovasi, makam Gie dibongkar. Sesuai kesepakatan antara keluarga dan teman-teman, sisa tulang-belulang Gie ditumbuk dan ditebar di Lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango. Itulah lokasi favorit Gie selama pendakiannya. (*) Jakarta, 16 Desember 2019

  • Potensi Wisata Pinggiran Gresik yang Mulai Menggeliat

    GRESIK dikenal sebagai kota industri. Sekaligus kota pesisir. Jadilah Gresik sebagai kota yang memiliki tiga matahari. Panas kentang-kentang kalau istilah orang Surabaya. Panase ora umum . Nggak bisa membayangkan panasnya? Sebaiknya rasakan sendiri. Soal wisata, Kota Pudak —sebutan Kota Gresik— mungkin tidak setenar kota tetangganya, Surabaya. Namun yang pasti, soal wisata religi, Gresik bisa sejajar dengan Kota Pahlawan. Surabaya memiliki wisata religi Sunan Ampel, Gresik mempunyai Sunan Giri. Itu yang di tengah kota. Kalau Anda berada di daerah Gresik dan sekitarnya, dan sudah bosan dengan suasana wisata yang itu-itu saja, cobalah melipir ke pinggiran Gresik. Tepatnya di Kecamatan Ujung Pangkah dan Panceng. Dua kawasan itu berada di bagian paling barat Gresik. Berbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Di kawasan Ujung Pangkah, ada dua destinasi wisata yang sedang naik daun. Namanya wisata batu kapur Setigi (Selo Tirto Giri) dan Wagos (Wisata Alam Gosari). Sementara itu, di daerah Panceng, ada destinasi yang sudah lama eksis. Pantai pasir putih Dalegan dan Bukit Surowiti. Setigi Sekarang mari kita berkunjung ke lokasi pertama. Bukit kapur Setigi di Desa Sekapuk. Akses menuju lokasi ini sangat mudah. Jarak dari Monumen Selamat Datang Segoromadu Gresik (yang berbatasan dengan Surabaya) menuju Setigi sekitar 39 kilometer ke arah barat. Setelah sekitar satu jam perjalanan, Anda akan sampai di Pasar Sekapuk. Di pertigaan pasar, Anda harus belok ke kanan. Sekitar 500 meter, Anda akan menemukan plang bertulisan wisata Setigi. Lokasinya berada di kiri jalan. Daya tarik lokasi ini adalah gua-gua serta cerukan bekas tambang batu kapur di bukit Sekapuk. Anda juga bisa menyaksikan aktivitas penambangan di sisi lain lokasi wisata ini. Tapi tenang saja, lokasi wisata dan penambangan sudah dipisahkan. Fasilitas di sini sudah lengkap meski pembangunan di beberapa sisi masih berlangsung. Ada pusat kuliner, berbagai spot foto yang bagus untuk feed Instagram , dan terdapat banyak gazebo untuk bersantai. Satu lagi yang menurut saya cantik adalah musala yang didesain seperti kastil kecil khas Eropa. Dengan latar belakang bukit kapur yang eksotis. Saran saja, kalau mau ke sini siang-siang, jangan lupa bawa payung. Panas banget. Tapi, lima tahun mendatang saya yakin lokasi ini akan rindang. Karena banyak tanaman yang baru ditanam. Wagos Setelah puas keliling Setigi dan masih ingin memuaskan dahaga berwisata, Anda hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 500 meter lagi. Ke desa tetangga, Gosari. Sebelum sampai ke Wagos, Anda akan melewati perkampungan yang sangat asri. Halaman setiap rumah ditanami bunga dan tanaman yang meneduhkan. Setelah melewati ladang pohon jati, Anda pun sampai di lokasi tujuan. Berbeda dengan Setigi, suasana di Wagos lebih rindang. Sebab, daerah ini awalnya adalah kebun warga yang disulap menjadi kawasan wisata. Wahana yang ditawarkan di sini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan lokasi wisata lain. Sebut saja replika rumah Hobbit, kastil tua, jembatan kayu, pemandian, dan taman bunga. Namun, di sini ada yang unik. Dan sepertinya tidak bisa ditemukan di daerah lain. Apa itu? Tiga buah rumah kayu warna-warni di atas bukit kapur. Tapi, untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus mengeluarkan uang lagi. Di bagian paling atas dari bukit ini, tepatnya di Gua Butulan, ada sebuah prasasti yang ditulis di dinding gua. Setelah proses penelitian, disimpulkan bahwa prasasti ini terkait dengan Kerajaan Majapahit dan ditulis pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Pantai Pasir Putih Dalegan Belum puas jalan-jalan? Oke, istirahat dulu sebentar. Yang selanjutnya berbeda. Setelah asyik berwisata di kawasan berbukit, kini giliran yang berair. Berombak. Bisa mandi segar-segaran. Anda bisa bermain ombak tenang pantai utara. Namanya Wisata Pantai Pasir Putih Dalegan. Untuk menuju lokasi ini, Anda terus saja melaju ke arah utara. Setelah mentok dan ada pertigaan, Anda belok kiri dan lurus terus. Jaraknya sekitar 11 kilometer. Perjalanan melalui jalur ini lebih asyik. Karena pinggir kiri Anda adalah hamparan laut utara. Anda akan menemui perkampungan khas pesisir. Setelah sekitar 20 menit, Anda akan menemukan sebuah lapangan sepak bola. Pantai Dalegan berada di seberangnya. Atau di sebelah kanan arah Anda datang. Pantai ini berada di Desa Dalegan yang sudah masuk wilayah Kecamatan Panceng. Puas-puasinlah bermain air. Bukit Surowiti Kalau sudah mandi dan bersih-bersih, cobalah menantang diri dengan menaiki puluhan anak tangga untuk menuju desa wisata di atas bukit. Namanya Bukit Surowiti. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari Pantai Dalegan. Sekitar 7 kilometer saja. Foto: IDN Times Jatim Begitu keluar dari pantai, Anda akan langsung dihadapkan dengan jalan lurus ke selatan. Ikuti saja jalan itu hingga sampai di jalan raya. Lalu belok kiri sampai menemukan tanda memasuki kawasan wisata Bukit Surowiti. Lokasinya berada di kanan jalan. Tapi, Anda masih harus masuk ke dalam. Tidak terlalu jauh. Nah, apa yang ada di bukit itu? Sebelum membicarakan ada apanya, saya kasih tahu sesuatu dulu. Konon katanya, jumlah anak tangga di sana akan berbeda tergantung dari mana Anda menghitungnya. Dari atas atau dari bawah. Penasaran? Coba sendiri. Berbeda dengan tiga lokasi wisata sebelumnya, Surowiti adalah kawasan wisata religi. Sebenarnya kawasan ini adalah sebuah desa, yang berada di atas bukit dengan ketinggian sekitar 260 meter. Konon, di desa itu ada petilasan pertapaan Sunan Kalijaga. Ada juga petilasan Kali Buntung, Makam Mpu Supa, Makam Raden Bagus Mataram, dan Gua Langsih. Tertarik mengeksplorasi kawasan wisata di pinggiran Gresik? Silakan, diagendakan! Gresik, 26 Desember 2019

  • Setigi, Tambang Batu Kapur yang Kini Jadi Destinasi Wisata

    KOTA Gresik kaya akan sumber daya alam berupa batu kapur. Namun, perlahan tapi pasti, bukit-bukit kapur di Kota Pudak itu terus terkikis. Dan mungkin akan habis. Contohnya bukit kapur di Kecamatan Ujung Pangkah dan Panceng. Namun, di balik itu semua, ternyata ada potensi yang dalam beberapa tahun terakhir mulai ditemukan. Dan digarap dengan serius. Bukit kapur Desa Sekapuk, Kecamatan Ujung Pangkah, Gresik, misalnya. Penambangan di sana yang sudah berlangsung bertahun-tahun ternyata menghasilkan bukit dengan gua-gua kecil dan relief yang indah. Kini, bukit itu disulap menjadi destinasi wisata andalan warga sekitar. Bahkan, penduduk dari kota-kota di sekitar Gresik pun berdatangan. Namanya kawasan wisata Setigi. Setigi merupakan akronim dari selo (batu besar), tirto (air), dan giri (gunung). Kawasan wisata ini mulai dirintis pada 2018 dan mulai dikembangkan tahun ini. Rencananya, Setigi resmi di- launching awal tahun 2020. Destinasi wisata ini terletak 27 kilometer dari gerbang tol Manyar. Atau kalau dari arah Kota Gresik, jarak dari Monumen Selamat Datang Segoromadu Gresik (yang berbatasan dengan Surabaya) sekitar 39 kilometer ke arah barat. Setelah sekitar satu jam perjalanan, Anda akan sampai di Pasar Sekapuk. Di pertigaan pasar, Anda harus belok ke kanan. Sekitar 500 meter, Anda akan menemukan plang bertulisan wisata Setigi. Lokasinya berada di kiri jalan. Kalau mau lebih mudah, cari saja di Google Maps. Hehe... Untuk masuk kawasan ini, setiap pengunjung dikenai biaya Rp5.000,00. Biaya parkir motor Rp5.000,00 dan mobil Rp10.000,00. Meski masih baru, Setigi sudah dilengkapi fasilitas yang memadai. Misalnya, tempat parkir yang luas, musala, toilet, dan pusat kuliner. Banyak juga gazebo untuk beristirahat di tengah panasnya Kota Gresik dan spot foto yang Instagramable . Di antara fasilitas yang ada, saya cukup tertarik dengan bangunan musala di sana. Berbeda dengan musala pada umumnya, musala di sana berdesain seperti kastil tua berwarna putih. Ditambah latar belakang bukit kapur yang indah. Daya tarik lain dari lokasi ini adalah gua-gua serta cerukan bekas tambang batu kapur di Bukit Sekapuk. Anda juga bisa menyaksikan aktivitas penambangan di sisi lain lokasi wisata ini. Tapi tenang saja, lokasi wisata dan penambangan sudah dipisahkan. Saran saja, kalau mau ke sini siang-siang, jangan lupa pakai sunblock atau bawa payung. Panas banget. Tapi, lima tahun mendatang saya yakin lokasi ini akan rindang. Karena banyak bibit tumbuhan yang baru ditanam. (*) Gresik, 26 Desember 2019

  • Main-Main ke Ladang Wagos, Gresik

    SOAL wisata, Surabaya lebih dikenal daripada Gresik. Meski letaknya bersebelahan. Tapi itu wajar. Sebab, tidak banyak destinasi wisata di bumi Sunan Giri tersebut. Itu dulu. Kini kawasan di pinggiran Gresik mulai memiliki objek wisata yang terus dikembangkan. Sebelum wisata Setigi di Desa Sekapuk, orang sudah berbondong-bondong ke Wagos (Wisata Alam Gosari) di Desa Gosari. Keduanya sama-sama berada di Kecamatan Ujung Pangkah. Wagos hanya berjarak sekitar 500 meter dari Setigi. Sebelum sampai di Wagos, Anda akan melewati perkampungan yang sangat asri. Halaman setiap rumah ditanami bunga dan tanaman yang meneduhkan. Setelah melewati ladang pohon jati, Anda akan sampai di lokasi tujuan. Untuk masuk kawasan ini, setiap pengunjung dikenai biaya Rp5.000,00. Biaya parkir motor Rp5.000,00 dan mobil Rp10.000,00. Sama dengan tiket Setigi. Berbeda dengan Setigi, suasana di Wagos lebih rindang. Sebab, daerah ini awalnya adalah kebun warga yang disulap menjadi kawasan wisata. Wahana yang ditawarkan di sini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan lokasi wisata lain. Banyak spot foto yang bagus. Sebut saja replika rumah Hobbit, kastil tua, jembatan kayu, tempat pemandian, dan taman bunga. Ada juga wahana ketangkasan untuk anak-anak. Fasilitasnya juga lengkap. Ada spot kuliner, musala, toilet, dan gazebo untuk bersantai. Namun, di sini ada yang unik. Dan sepertinya tidak bisa ditemukan di daerah lain. Apa itu? Tiga buah rumah kayu warna-warni di atas bukit kapur. Tapi, untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus mengeluarkan uang lagi. Per orang dikenai biaya Rp5.000,00. Tiket masuk diberlakukan karena pengelolanya sudah berbeda. Di lokasi ini kita bisa menikmati wahana ratusan kipas plastik berwarna-warni. Ada juga replika pintu gerbang kuil berupa pilar-pilar berwarna merah. Kalau haus, Anda bisa memesan minuman di kafe yang unik karena menempati cerukan bukit kapur dengan pemandangan lanskap bukit di sisi utara. Di sini juga ada gazebo untuk istirahat. Di bagian paling atas dari bukit ini, tepatnya di Gua Butulan, ada sebuah prasasti yang ditulis di dinding gua. Setelah proses penelitian, disimpulkan bahwa prasasti ini terkait dengan Kerajaan Majapahit dan ditulis pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Wagos cocok untuk wisata keluarga karena banyak wahana yang ramah anak. Kalau mau yang lebih menantang, coba menyambangi prasasti di Gua Butulan dengan sedikit nanjak ke atas bukit. (*) Gresik, 26 Desember 2019

  • Benteng Van Der Wijck Kebumen yang Jadi Lokasi Syuting Film The Raid 2: Berandal

    MUNGKIN tidak banyak yang tahu bahwa Kota Kebumen, Jawa Tengah, memiliki destinasi wisata yang bisa dibilang lengkap. Selain dikenal dengan wisata andalan berupa pantai, kota di pinggir Pantai Seletan itu juga mempunyai destinasi wisata sejarah. Saya sendiri baru tahu keberadaan situs atau peninggalan sejarah itu. Bentuknya berupa bangunan klasik dari batu bata. Khas arsitektur kolonial Belanda. Namanya Benteng Van Der Wijck. Mungkin orang lebih familier dengan nama Kapal Van Der Wijck yang karam di tengah samudra dalam novel Hamka. Nah, Kebumen memiliki bentuk lain dari ’’peninggalan’’ Van Der Wijck yang masih berdiri kukuh hingga kini. Benteng Van Der Wijck berada di Kecamatan Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Diyakini, Gombong pernah dijadikan pusat kegiatan tentara penjajah Belanda. Itu dibuktikan dengan peninggalan berupa benteng di Jalan Sapta Marga tersebut. Dari rumah istri di Desa Brecong, Buluspesantren, kami menempuh perjalanan sekitar 45 menit untuk sampai ke Benteng Van Der Wijck. Lokasinya sekitar 20 kilometer sebelah barat dari Ibu Kota Kabupaten Kebumen, 7 kilometer barat Kota Karanganyar, atau 100 kilometer dari Jogjakarta. Begitu masuk setelah melewati gerbang pemeriksaan tiket, pengunjung masih perlu berjalan beberapa meter untuk mencapai pintu masuk benteng. Namun, ada juga kereta mini yang akan mengantarkan Anda masuk benteng. Tinggal pilih. Begitu tiba di depan benteng, Anda akan disambut dua meriam dan dua tank di sisi kanan dan kiri benteng. Memasuki lorong masuk, Anda bisa langsung menuju ’’taman terbuka’’ di tengah-tengah benteng. Atau belok ke kiri dan kanan, ke ruangan yang menampilkan sejarah benteng. Di tengah-tengah benteng yang terbuka itu, berdiri patung kuda lengkap dengan keretanya. Dulunya, di tengah-tengah area itu, terdapat kolam kecil dengan air mancur. Dari situ, Anda bisa masuk benteng melalui pintu mana saja. Pintunya banyak. Benteng Van Der Wijck merupakan benteng pertahanan Hindia Belanda. Berdasarkan cerita sejarah dari berbagai sumber, benteng ini dibangun pada abad ke-19 atau sekitar tahun 1818. Benteng ini didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch. Dalam versi lain, Benteng Van Der Wijck disebutkan dibangun pada 1844. Sebelum dibangun benteng, gedung ini awalnya merupakan kantor kongsi dagang VOC (Vereenigde Ootindische Compagnie). Karena kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro yang berpusat di Bagelen Selatan (sekarang Kota Kebumen) cukup besar, Belanda mendatangkan tentaranya ke Gombong. Mereka kemudian ditempatkan di kantor VOC. Namun, tahun pembangunan benteng ini terkonfirmasi tahun 1818. Informasi itu dicantumkan pada papan di beberapa sudut benteng. Terutama di bangunan bagian depan. Nama benteng ini diambil dari Van Der Wijck. Itu kemungkinan nama komandan saat itu. Benteng ini kadang dihubungkan dengan nama Frans David Cochius (1787-1876), jenderal yang bertugas di daerah barat Bagelen. Namanya juga diabadikan menjadi nama Benteng Generaal Cochius. Benteng Van Der Wijck merupakan benteng persegi delapan satu-satunya di Indonesia. Secara fisik, bangunan ini memiliki luas 3606,625 meter persegi dengan tinggi 9,67 meter. Ditambah cerobong 3,33 meter. Dalam bangunan melingkar ini, terdapat 16 barak dengan ukuran masing-masing 7,5 x 11,32 meter. Di lantai 1 atau bangunan dasar, ada 27 ruangan kecil dengan 72 jendela dan 63 pintu. Sementara itu, di lantai 2, terdapat 70 pintu penghubung dan 84 jendela. Ruangan di lantai 1 difungsikan sebagai barak-barak untuk tempat istirahat para tentara Belanda. Selain itu, untuk menyimpan bahan makanan dan amunisi. Setelah penjajah Belanda diusir dari bumi pertiwi dan Indonesia mendapatkan kemerdekaan, Benteng Van Der Wijck pernah difungsikan untuk tempat melatih tentara Indonesia bentukan Jepang (PETA) sebagai pasukan tambahan untuk menghadapi Sekutu. Di zaman itulah, seluruh tulisan Belanda yang ada di benteng dicat hitam, kemudian dimanfaatkan untuk tentara Indonesia. Bahkan, semasa KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger), penguasa Orde Baru, Soeharto, menjadi salah satu penghuni benteng ini. Sejak tahun 1950-1984, benteng ini digunakan untuk barak tentara dan tahun 1984 menjadi tempat tinggal anggota TNI-AD sampai tahun 2000. Namun, sejak 5 Oktober 2000, bangunan ini dikelola pihak swasta, PT Indo Power Makmur Sejahtera, untuk dijadikan objek wisata sejarah. Setelah diambil alih swasta, kawasan ini dilengkapi dengan area bermain anak. Misalnya, kereta mini, perahu angsa, kincir putar, dan taman bunga. Ada juga water park . Bahkan, stasiun kereta api mini dibangun di bagian atas benteng. Pengunjung bisa menaiki kereta mini itu mengelilingi bagian atas benteng. Sayang, saat saya berkunjung ke benteng bersama istri pada hari Senin, banyak wahana yang tidak beroperasi. Seperti kolam renang atau water park dan kereta atas benteng. Bahkan, akses untuk menuju atas benteng digembok. Padahal, dua wahana itu masuk paket tiket masuk Benteng Van Der Wijck. Harganya pun cukup mahal Rp 25.000 per orang. Kalau semua wahana wisata dibuka, harga segitu cukup bersahabat lah . Ketenaran Benteng Van Der Wijck sebenarnya juga terdengar hingga ke Ibu Kota Jakarta. Buktinya, lokasi ini pernah dikunjungi beberapa artis. Misalnya, Chef Farah Quinn menjadikan benteng ini sebagai lokasi syuting acara masak-masuk di televisi nasional. Grup band legendaris Slank juga pernah perform di benteng ini. Yang lebih fenomenal, Benteng Van Der Wijck juga menjadi salah satu setting tempat dalam film kenamaan, The Raid 2: Berandal , yang dibintangi Iko Uwais. Dalam sebuah adegan film yang populer di Indonesia dan seluruh dunia pada tahun 2014 itu, ditampilkan pertarungan Rama di dalam penjara. Diceritakan, Rama menyamar sebagai penjahat dan masuk penjara untuk mendekati Ucok (diperankan Arifin Putra) yang merupakan salah satu anak bos mafia. Pertarungan di dalam penjara itu berlangsung di bawah hujan, berlumpur. Nah, penjara itu mengambil tempat di Benteng Van Der Wijck. Proses syuting itu diabadikan dalam foto-foto yang dipajang di salah satu ruangan di lantai 1 dekat pintu masuk benteng. Di sisi lain ruangan juga dipajang foto-foto beserta informasi tentang sejarah benteng ini. Di salah satu ruangan di lantai 2, dipampang foto-foto pahlawan nasional. Di ruangan lain ada pula foto-foto presiden pertama Soekarno hingga presiden saat ini Jokowi beserta wakil-wakilnya. Fasilitas di Benteng Van Der Wijck cukup lengkap seperti tempat parkir, warung makan, toko, toilet, dan musala. Tak jauh dari benteng, ada juga penginapan dan hotel yang bisa digunakan untuk beristirahat. (*) Kebumen, 22 Januari 2020

  • Kawah Sikidang, Loncat-Loncat Bagai Kijang

    TURUN dari Gunung Kembang, rasanya sayang sekali kalau tidak sekalian bertandang ke Dieng. Jaraknya tidak lebih dari satu jam. Di Dieng, sangat banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi. Tidak habis dalam sehari. Salah satu tempat wisata yang kami datangi bersama kawan-kawan adalah Kawah Sikidang. Lokasinya hanya berjarak 10 menit dengan naik mobil dari homestay tempat kami menginap. Kawah Sikidang berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Kawah ini dipercaya selalu berpindah-pindah tempat. Konon, pemberian nama Sikidang berasal dari karakter kawah di mana letupan-letupan lumpur panas selalu berpindah-pindah. Seperti melompat-lompat. Kawah Sikidang masih aktif dan mengeluarkan gas, uap air, dan material vulkanis lainnya. Meski begitu, lokasi ini cukup aman untuk dikunjungi karena kadar belerangnya rendah. Di kawah ini, ada satu kawah besar dengan suhu 80-90 derajat Celsius. Selain itu, terdapat juga kawah-kawah kecil di sekitarnya. Di dekat kawah besar tersebut, ada penjual telur rebus. Uniknya, telur itu direbus langsung dari kawah itu. Sebagaimana objek wisata lain, di Kawah Sikidang juga banyak spot berfoto. Ada juga wahana motorcross . Selain fakta ilmiah, objek wisata ini juga diselimuti mitos dan legenda. Yaitu kisah mengenai Pangeran Kidang dan Anak Gimbal. Zaman dulu kala, di sekitar kawasan Dieng, hiduplah gadis cantik bernama Shinta Dewi. Kabar tentang kecantikannya tersebar ke penjuru daerah. Sehingga banyak pemuda yang ingin meminangnya menjadi istri. Namun, tidak ada yang berhasil meminangnya karena maskawin yang disyaratkan tidak murah. Kidang Garungan pun mendengar kisah tentang Shinta Dewi itu. Pria kaya itu akhirnya mengutus pengawalnya untuk menyampaikan lamarannya kepada Shinta Dewi. Dia pun menerima pinangan Kidang Garungan yang menyanggupi syaratnya. Tetapi, Shinta Dewi sangat terkejut ketika melihat perwujudan Pangeran Kidang. Dia memiliki wujud seperti manusia, tetapi berkepala Kijang (Kidang) atau rusa. Shinta Dewi pun mencari akal untuk membatalkan lamaran sang pangeran. Ada persyaratan tambahan yang diminta Shinta Dewi. Berat. Pangeran Kidang harus membuat sumur besar karena masyarakat sekitar sangat kesulitan mendapatkan air. Sang pangeran harus membuatnya sendiri dalam satu hari. Pangeran pun menyanggupinya. Karena khawatir sang pangeran berhasil menyelesaikan sumur itu, Shinta Dewi lalu meminta pengawal dan dayang-dayangnya menimbun sumur beserta sang pangeran di dalamnya. Amarah sang pangeran membuncah. Amarah itulah, sumur itu kemudian membentuk sebuah kawah yang saat ini diberi nama Kawah Sikidang. Kidang Garungan tewas. Sebelum mengembuskan napas terakhir, dia bersumpah bahwa seluruh keturunan Shinta Dewi akan berambut gembel (gimbal). (*) Dieng, 14 Maret 2020

  • Mampir Sebentar ke Candi Arjuna

    TURUN dari Gunung Kembang, rasanya sayang sekali kalau tidak sekalian bertandang ke Dieng. Jaraknya tidak lebih dari satu jam. Di Dieng, sangat banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi. Tidak habis dalam sehari. Salah satu tempat wisata yang kami datangi bersama kawan-kawan adalah Candi Arjuna. Apalagi lokasinya hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari homestay tempat kami menginap. Candi Arjuna diperkirakan dibangun Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno pada abad ke-8 Masehi. Di kompleks ini, ada juga Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Candi Arjuna terletak paling utara dari deretan percandian di kompleks ini. Sementara itu, Candi Semar adalah candi perwara atau pelengkap dari Candi Arjuna. Kedua bangunan candi ini saling berhadapan. Seperti umumnya candi-candi di Dieng, masyarakat mengambil nama tokoh pewayangan Mahabarata sebagai nama candi. Secara arsitektur, Candi Arjuna menghadap ke barat. Ada tangga menuju pintu masuk candi yang berada di bagian barat candi. Terdapat delapan anak tangga menuju bagian pintu candi di mana di bagian pinggir tangga terdapat penil dengan ujung berkepala naga. Bagian pintu candi terdapat bilik penampil selebar 1 meter. Di atas pintu, terdapat ukiran kalamakara. Dan di bagian atap dari ruang penampil berbentuk lancip seperti rumah limasan pada umumnya. Bagian atap Candi Arjuna memiliki bentuk seperti piramida yang mengerucut, tetapi lebih tinggi. Semakin ke atas, ukurannya semakin kecil. Terdapat tiga tingkat, di mana setiap tingkat memiliki bilik penampil dengan ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan dengan bilik penampil di bagian dinding candi. Semakin ke atas, bilik penampil juga semakin kecil, yang berada tepat di tengah-tengah setiap sisi candi. Di setiap sudut bagian atap candi terdapat hiasan yang memiliki bentuk mahkota bulat dengan ujung runcing. Di bagian dalam candi ini terdapat ruang untuk menaruh sesaji atau yang biasa disebut dengan yoni. Di bagian atas terdapat lubang berbentuk segi empat. Lubang ini berfungsi untuk menampung air dari atap candi. Apabila air di lubang ini sudah penuh, air akan mengalir melalui jalur yang sudah disediakan, lalu dialirkan menuju bagian lingga yang kemudian dialirkan menuju bagian luar candi. Saat ini, para wisatawan yang mengunjungi Candi Arjuna atau candi-candi lainnya tak akan menjumpai arca atau patung yang biasa dijumpai di dalam candi. Sebagian besar arca-arca tersebut disimpan di Museum Kailasa. Mulai tahun 2010, Kompleks Candi Arjuna mulai digunakan untuk pengembangan wisata. Perayaan pembukaan wisata ini dinamai Dieng Culture Festival. Selain, itu acara tahunan lainnya yang dilaksanakan bersamaan dengan perayaan ini adalah Jazz Atas Awan. (*) Dieng, 14 Maret 2020

  • Dieng dalam Dua Hari Dua Malam

    TURUN dari Gunung Kembang, kami menyusun rencana dadakan. Tidak langsung balik ke Jakarta yang kami tinggal beberapa hari sudah ramai teror virus korona. Kami menanjak lagi. Tengah malam kami. Menuju Dataran Tinggi Dieng. Sialnya sinyal internet lagi ngaco . Mobil kami disasarkan ke jalan buntu setelah beberapa menit meninggalkan base camp . Malam semakin hitam. Kami terhenti di tanah tanpa nama. Kesunyian malam seperti sebuah ancaman. Hanya kami. Sedang jauh di bawah sana kemerlip lampu kota melena. Kami balik arah. Menuju rute base camp untuk menyusuri jalan pertama saat kami datang untuk mendaki gunung. Tapi, GPS mengarahkan kami melewati jalur yang lebih cepat. Kami ikuti saja. Beberapa lama kemudian kami sedikit menyesal. Kami diarahkan melalui jalan sepi. Beberapa ratus meter di depan, jalur di GPS berwarna merah. Wah, di desa ada kemacetan juga. Pikir kami. Kami sedikit lega. Setidaknya ada keramaian yang menunggu di depan. Tengah malam. Namun, itu ternyata bukan sinyal kemacetan. Tapi, jalur sedikit panjang melewati tanah kosong tanpa penerangan. Kami mulai cemas. Menyesal menghamba GPS. Tapi, mau bagaimana lagi. Kami baru pertama kali. Tidak ada yang tahu arah. Setelah ratusan meter melaju, kami merasa lega. Di kejauhan, ada lampu perkampungan yang terlihat. Kami memasuki desa yang entah apa namanya. Dua desa kami lalui. Di sebuah desa, saya melihat ada orang yang sedang melakukan siskamling menggunakan kentongan bambu. Saya terkesima. Masih ada siskamling yang menggunakan kentongan bambu di era seperti sekarang. Saya seperti digiring memasuki masa lalu. Di desa kelahiran. Sebelum meninggalkan desa itu, lamat-lamat saya mendengar tabuhan gamelan dari kejauhan. Saya diam saja saat itu. Mungkin ada warga yang sedang punya hajatan. Setelah memasuki jalan dengan tanah kosong, sorot lampu mobil tiba-tiba menangkap tiga orang yang muncul dari kegelapan. Saya sedikit merasa aman karena setidaknya masih ada aktivitas orang di tengah malam. Setelah kurang dari 30 menit, kami sudah tembus ke jalan raya. Kami menuju Dieng dan bermalam di homestay . Setelah reservasi penginapan, kami istirahat. Saya pun bertanya kepada teman-teman apakah mendengarkan alunan gamelan di desa yang kami lalui tadi. Tak ada satu pun yang mendengar. Baiklah. Kami menyewa homestay untuk dua malam dua hari. Daftar destinasi wisata yang patut dikunjungi di Dieng pun disusun. Esoknya kami hendak bertualang. Mengisi liburan dengan senang-senang. Hari pertama di Dieng kami mengunjungi Candi Arjuna. Jaraknya hanya 5 menit jalan kaki dari penginapan. Tiketnya cukup terjangkau. Rp 15 ribu per orang sudah termasuk tiket masuk ke wisata lain, Kawah Sikidang. Namun, untuk menjangkau lokasi itu, kami harus naik mobil. Sebelum Kawah Sikidang tutup jam 5 sore, kami sudah meninggalkan lokasi. Kami kembali ke penginapan untuk istirahat sebelum lanjut wisata malam. Namun, di Dieng wisata malam belum menjadi tren. Sebelum jam 11 malam sudah banyak kafe dan warung makan yang tutup. Jadi, tidak banyak pilihan meskipun masih ada beberapa yang tetap buka. Kami mencoba mencicipi Mie Ongklok khas Dieng. Makanan ini memiliki komposisi mie dan sayur dengan kuah sedikit kental plus sate ayam. Rasanya sedikit manis. Tidak cocok sebenarnya untuk lidah orang yang tidak terlalu suka dengan makan manis seperti saya. Tapi, manisnya masih bisa diterima. Saat jam sudah menanda jam 11 malam, kami melanjutkan langkah untuk mencari tempat ngopi yang nyaman. Tapi, jam segitu sudah banyak yang tutup. Saat berjalan balik ke arah penginapan, kami menemukan kafe yang masih buka. Kami mampir. Kafe itu sebenarnya sudah mau tutup. Tapi, mungkin karena wajah kami memelas, pemilik kafe bersedia buka lebih lama dan melayani pesanan kami. Di Dieng sudah cukup banyak kafe modern dengan peralatan yang mengikuti perkembangan zaman. Setelah puas ngopi, jam 12 malam kami kembali ke penginapan. Esoknya, pagi-pagi, kami hendak pergi ke desa tertinggi di Pulau Jawa. Desa Sembungan. Kami akan nanjak lagi. Mendaki Bukit Sikunir untuk menikmati sunrise . Sampai di sana, wisatawan membeludak. Maklum karena saat itu weekend . Hari Minggu. Dalam suasana seperti itu, saya sudah tidak terlalu berhasrat untuk memburu sunrise di puncak Sikunir. Saya dan istri berjalan santai saja. Matahari pun meletek jingga saat saya dan istri masih di tengah perjalanan menuju puncak bukit. Kepalang tanggung, saya tetap naik ke bukit. Ramai. Matahari juga sudah cukup tinggi. Jingganya sudah hilang. Setelah foto-foto sebentar, kami turun. Kami sempatkan sarapan di kios makanan yang banyak berdiri di kaki Bukit Sikunir sebelum pindah ke destinasi selanjutnya. Kami makan di warung dengan pemandangan Telaga Cebong yang tampak indah saat disaksikan dari atas bukit. Kabut naik dan turun di telaga. Setelah kenyang, kami bergeser ke Dieng Plateau Theatre. Gratis. Sudah termasuk tiket masuk kawasan Dieng. Kami mencoba nonton video sejarah Dieng sekitar 25 menit. Di dekat situ, sebenarnya primadona Dieng tersaji. Batu Ratapan Angin dengan view Telaga Warna di bawah sana. Itulah primadona Dieng. Tapi, karena kaki patah-patah setelah mendaki Kembang, rekan seperjalanan kesulitan untuk menuju Batu Ratapan Angin yang harus melalui beberapa anak tangga. Menanjak. Oke lah . Setelah mampir sejenak di Dieng Plateau Theatre, kami kembali ke penginapan jam 10. Siap-siap check out jam 12 siang. Kami mampir ngopi sebentar di Kedai Dieng sebelum kembali ke Jakarta. (*) Dieng, 14-15 Maret 2020

bottom of page