top of page

Search Results

165 results found with an empty search

  • Buka Puasa di Semeru, Sulitnya Mancing di Ranu Kumbolo

    KECANTIKAN Ranu Kumbolo di Gunung Semeru (3.676 mdpl) memang bisa dengan mudah membuat para pendaki jatuh cinta. Tidak terkecuali saya. Sebelum ini, saya sudah mencapai puncak Mahameru dua kali dan hanya mampir sebentar di Ranu Kumbolo. Karena ada target muncak , Ranu Kumbolo hanya menjadi tempat persinggahan. Begitu singkat. Karena itu, pada pendakian kali ini, saya hanya ingin menghabiskan tiga hari dua malam di Ranu Kumbolo. Dipuas-puasin menikmati keindahannya. Bulan ini juga merupakan bulan puasa. Jadi, saya ingin mencoba menikmati sensasi berbuka puasa di danau tertinggi di Jawa tersebut. Ranu Kumbolo berada di atas ketinggian 2.400 mdpl. Luasnya sekitar 14 hektare. Danau ini dikelilingi bukit-bukit. Sebagaimana Tanjakan Cinta, Ranu Kumbolo juga memiliki legendanya sendiri. Konon, ada suami dan istri sangat miskin bernama Marmoyo dan Sawitri. Ketika Sawitri hamil muda, dia sangat ingin makan ikan. Karena tidak punya cukup uang, sang suami memancing ikan di sungai. Setelah lama memancing, Marmoyo akhirnya berhasil menangkap ikan mas. Namun, itu ternyata ikan ajaib. Bisa berbicara dan sisiknya bisa berubah menjadi potongan emas. Marmoyo memelihara ikan itu dan merahasiakannya dari istrinya. Dia kemudian pergi ke pasar untuk menjual potongan emas dan membeli minyak sawit untuk memasak. Karena kelaparan, Sawitri yang menemukan ikan di rumah langsung menggorengnya. Sawitri pun mendapatkan kutukan sampai anak bersisik lahir bernama Kumbolo. Kumbolo terlahir sebagai bocah lelaki yang pintar berenang dan mampu menyelam cukup lama di air. Tapi, Kumbolo dianggap aneh dan terasing. Dia selalu diolok-olok teman-temannya. Kemudian ada seekor kucing yang memberi tahu Kumbolo bahwa sisik di tubuhnya bisa hilang dengan mutiara pelangi di puncak gunung. Kumbolo akhirnya mengembara ke Gunung Semeru untuk menemukan mutiara itu. Sesampainya di puncak gunung, Kumbolo berhasil menemukan mutiara itu. Namun, saat turun, Kumbolo dicegat tiga anak laki-laki nakal yang ingin merebut mutiara pelangi. Perdebatan yang sengit terjadi sampai mutiara jatuh dan runtuh. Ajaibnya tanah runtuh langsung memancarkan pegas besar. Dalam sekejap penyergapan tanah berubah menjadi danau dan ketiga bocah lelaki itu tenggelam di dalamnya. Sementara Kumbolo berhasil keluar dari danau dan sisiknya menghilang dari tubuhnya. Artikel tentang legenda Ranu Kumbolo ini saya copy dari rentalsewamobilmalang.com . 30 Juli 2013 Setidaknya ada tiga hal besar yang membuat saya tetap nekat melakukan pendakian Semeru meskipun dalam keadaan berpuasa. Buka puasa, mancing, dan menyambut matahari pertama bulan Agustus di Ranu Kumbolo. Mungkin alasannya tidak sederhana yang dipikirkan karena bulan Agustus menjadi bulan yang spesial bagi saya. Jadi sudah seharusnya seperti inilah cara merayakannya. Sebelum berangkat memang ada sedikit penolakan dari keluarga mengingat ini bulan puasa. Tapi, toh saya tetap memutuskan untuk berangkat. Bagi saya, puasa bukan halangan. Terbukti, selama pendakian, meskipun mengalami sedikit dehidrasi, kekuatan fisik saya tidak berkurang, tapi justru terasa lebih enteng dari biasanya. Namun, hal yang harus diperhatikan ketika melakukan pendakian dalam keadaan berpuasa adalah manajemen istirahat. Hal lain yang membuat saya tetap nekat mendaki adalah ketepatan waktu. Bulan puasa membuat Ranu Kumbolo menjadi sepi dari pendaki. Memang ada beberapa pendaki lokal dan mancanegara yang tetap melakukan pendakian, tapi tidak seramai seperti hari biasa. Belum lagi setelah bulan puasa, yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus, tentu banyak pendaki yang berjubel ingin mengadakan upacara kemerdekaan di sana. Benar saja, saat saya sampai di Ranu Kumbolo sekitar jam 5 sore, suasana begitu sepi dan tenang. Hanya ada tiga tenda pendaki di tepi danau. Langsung saja saya mendirikan tenda sambil menunggu waktu berbuka yang sebentar lagi tiba. Setelah perjalanan melelahkan dari Ranupani sekitar pukul 11 siang, akhirnya saya bisa melaksanakan buka puasa pertama di Ranu Kumbolo. Karena hanya mendaki sampai Ranu Kumbolo, dari rumah saya membawa ’’kulkas’’. Perlengkapan satu dapur saya angkut semua. Mulai wajan ukuran sedang sampai cobek. Tidak lupa bawa bumbu-bumbu dapur untuk bikin sambal dan bawa ikan asin. Tak ketinggalan buah pir dan apel. 31 Juli 2013 Misi pertama berbuka puasa di Ranu Kumbolo berhasil. Keesokan harinya, tanggal 31 Juli 2013, waktunya menjalankan misi kedua: mancing! Alat pancing dan umpan cacing sudah saya siapkan dari rumah. Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Membuat birunya air danau begitu cantik dengan kilatan cahaya. Mancing di Ranu Kumbolo memang terkenal sangat sulit. Beberapa porter yang saya tanyai dalam pendakian-pendakian sebelumnya juga mengamini hal tersebut. Sebagai penyuka kegiatan memancing, saya pun merasa penasaran dan ingin mencobanya sendiri. Pancingan sudah siap, umpan sudah terpasang, siap pasang kuda-kuda untuk melempar umpan sejauh mungkin. Sempurna! Umpan jatuh di kejauhan. Senar sedikit saya gulung agar mudah diketahui kalau-kalau umpan sudah dimakan ikan. Saya memilih tidak menggunakan pelampung. Kalau ada ikan yang menyambar, senar pancing akan bergetar. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu seperti berjalan sangat lama. Selama itu pula tidak ada tanda-tanda umpan cukup menarik ikan nila, mujair, atau ikan mas penghuni danau. Menjadi pemancing memang harus sabar, apalagi amatiran seperti saya. Bahkan pemancing-pemancing profesional seperti dalam program televisi Mancing Mania pun tidak berhasil menaklukkan satu ikan pun di sini! Saya tidak patah semangat. Umpan kembali saya tarik, ganti umpan lagi, lempar lagi. Umpan jatuh di kejauhan seperti yang saya harapkan. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu terus berjalan sampai hari menjelang siang. Matahari bersinar semakin terik, bibir dan tenggorokan terasa begitu kering, dan masih belum ada tanda-tanda umpan menarik perhatian ikan. Sampai waktu salat duhur datang, umpan yang saya lempar masih belum bisa menghasilkan apa-apa selain capek dan dahaga. Untuk mengusir rasa bosan dan memberi penyegaran pada semangat yang hampir tumpas, saya memutuskan mencoba menaiki Tanjakan Cinta. Berhasil. Setelah itu, saya menjenguk Oro-Oro Ombo sebentar. Namun, saya merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk turun. Jadi, saya hanya bisa menikmati hamparan ungu seperti bunga lavender dari atas dan sesekali melirik pada puncak Mahameru yang mengintip malu-malu dari balik bukit. Setelah puas menikmati hamparan Oro-Oro Ombo, saya tidak langsung turun. Saya lebih memilih beristirahat cukup lama di antara pohon-pohon cemara di atas Tanjakan Cinta. Dedaunan yang rimbun, angin sepoi, dan pemandangan yang cantik Ranu Kumbolo dari ketinggian membuat suasana menjadi damai dan tidur adalah pilihan yang tepat. Jadilah saya tidur beberapa menit dengan bersandar di antara dua pohon cemara besar. Setelah cukup lama berada di atas Tanjakan Cinta, saya memutuskan untuk turun. '’Strike!’’ Kata itulah yang ada di pikiran saya ketika saya langsung menghampiri pancingan yang saya pasang dan saya tinggal cukup lama. Namun, itu hanya menjadi angan-angan semata. Umpan tak sedikit pun menarik perhatian ikan. Sambil menggulung senar pancing, mata saya terus menatap hamparan permukaan danau yang berkilauan dan bergelombang kecil diterpa itu. Sinar matahari semakin menyengat. Semangat saya pun pupus. Tapi, umpan kembali saya lempar sebelum masuk ke tenda untuk tidur lagi sekitar pukul 12 siang. Setelah cukup beristirahat dan tidur, sekitar pukul 2 siang, saya kembali bangun untuk mengumpulkan serpihan-serpihan semangat dan kembali menghunus kail pancing. Pancingan saya angkat, kembali pasang umpan, dan dengan semangat melemparkannya sejauh mungkin. Umpan jatuh di tempat yang saya inginkan. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu berjalan sangat lamban. Umpan lagi-lagi tak menarik bagi ikan. Di sela-sela memancing, saya isi waktu dengan menyusuri pinggir-pinggir danau. Waktu terus berjalan sampai mendekati waktu berbuka. Dan, tetap pancingan tanpa hasil. Saya menyerah. Tidak sama dengan di Danau Segara Anak Gunung Rinjani, Memancing di Ranu Kumbolo memang sulit minta ampun. Sekitar pukul setengah 5 sore, saya mengakhiri ritual memancing dan segera menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Menu kali ini adalah nasi putih, sambal tomat, ikan asin, dan telur dadar. Sebagai takjil, dari rumah saya sudah menyiapkan satu buah apel. Satu buah apel itu kemudian saya belah menjadi empat bagian sesuai jumlah anggota kelompok pendakian kali ini. Untuk minuman, saya memilih teh jahe agar lebih hangat di badan. Sebelum waktu berbuka datang, semua hidangan sudah siap. Alhamdulillah, saya bisa menikmati buka puasa kedua di tepi Ranu Kumbolo. Malam Hari Setelah selesai berbuka puasa dan istirahat sejenak, jadwal selanjutnya adalah makan-makan snack yang begitu melimpah dan menyalakan api unggun. Logistik telah disiapkan untuk dihajar ramai-ramai. Melihat begitu banyak snack , seperti ada perasaan ingin ’’balas dendam” yang menari-nari di lambung yang seharian tak terisi di kondisi terik matahari akhir bulan Juli. Sekitar pukul 7 malam ranting-ranting dan batang kayu sudah siap untuk dijadikan api unggun. Bergabung juga kenalan dua pendaki dari Malang. Suasana menjadi begitu cair dan hangat. Kami berenam mengelilingi api unggun di tepi Ranu Kumbolo ditemani dingin dan taburan bintang di langit Semeru. Sesekali bintang jatuh membelah langit malam. Dinginnya udara Ranu Kumbolo bisa sedikit dihangatkan api unggun dan cengkerama. Tawa terus saja pecah dengan cerita-cerita, kekonyolan-kekonyolan, dan celetukan-celetukan lucu. Bahkan, ketika api unggun tinggal bara yang menyala, kami tak langsung beranjak. Dalam kondisi seperti itu, udara dingin semakin terasa. Kami semakin merapatkan lingkaran, mendekat ke bara. Kami mengakhiri acara makan-makan dan menghangatkan badan di dekat api unggun sekitar pukul 12 malam. Setelah menikmati mi instan dan sedikit camilan untuk pengganti sahur, saya dan kawan-kawan semua bergegas memasuki tenda untuk segera beristirahat. Tapi sayang, malam ini begitu dingin seperti malam sebelumnya hingga sleeping bag tidak banyak membantu. Saya menyambut Agustus dengan tidur yang tidak begitu nyenyak. 1 Agustus 2013 Sekitar pukul setengah 6 pagi saya bangun. Pintu tenda yang langsung menghadap ke danau saya buka lebar-lebar untuk menyambut sunrise pertama di bulan Agustus. Mendekati pukul 6 pagi, sedikit demi sedikit matahari pagi mengintip malu-malu di balik bukit. Warna emas berpendar di badan bukit dan permukaan danau. Selama itu pula saya tetap menikmati sunrise dari dalam tenda sampai matahari meninggi. Setelah matahari sedikit meninggi, saya keluar tenda untuk menikmati pagi pertama di bulan Agustus di Ranu Kumbolo. Lalu, apa yang membuat saya terkejut adalah butiran-butiran es yang membekukan rerumputan. Baru kali ini saya melihat es di Ranu Kumbolo. Pantas saja semalam udara begitu dingin. Lagi pula ini adalah hari terakhir saya di Ranu Kumbolo. Jadi, saya ingin menikmati hari pertama di bulan Agustus ini dengan baik. Udara yang dingin tapi sedikit hangat oleh sinar matahari membuat hati ini terasa berat meninggalkan tempat ini. Di atas sana, langit begitu cerah membiru. Sekitar pukul 8 pagi, saya sudah bersiap untuk mem- packing barang-barang dan membereskan tenda. Sambil menunggu kawan lain siap-siap, saya kembali menghunus kail pancingan. Kali ini saya bukan hendak serius memancing, tapi hanya ingin sedikit bersenang-senang untuk menikmati Ranu Kumbolo sebelum turun. Tidak seperti hari-hari kemarin, kali ini saya berhasil strike! Bukan satu, tapi triple strike! Tiga mata pancing dalam satu rangkaian berhasil mengait bibir ikan. Namun, bukan ikan nila, mujair, atau ikan mas yang berhasil saya angkat ke daratan, melainkan ikan asin! Ya sudahlah. Setidaknya saya bisa merasakan sensasi strike di Ranu Kumbolo meskipun cuma ikan asin! Haha… Setelah semua siap, sekitar pukul 10 kami mulai turun. Selamat tinggal Ranu Kumbolo. Sampai jumpa di lain hari. (*) Lumajang, 30 Juli–01 Agustus 2013

  • Kamping Semalam di Gunung Bromo

    SAAT kota terasa sumpek, tidur di gunung bisa menjadi alternatif untuk me- refresh pikiran dari kepenatan. Saya berdua bersama saudara pun meluncur ke Gunung Bromo. Setelah 2009, baru kali ini saya bisa kembali menyambangi Bromo. Karena akan kamping, perbekalan yang kami bawa tentu sedikit lebih banyak daripada sekadar traveling biasa. Namun, karena belum punya perlengkapan outdoor , untuk tenda, nesting , dan kompor portable kami harus menyewa. Seingat saya, tarif sewa tenda per hari kena Rp 25.000. Tarif peralatan yang lain saya lupa. Nah, saran saja, kalau Anda berniat naik gunung atau kamping outdoor dengan peralatan menyewa, coba cek dulu perlengkapannya saat masih berada di toko. Jangan sampai Anda senasib dengan saya. Saat kamping, hujan turun tidak begitu deras. Namun, tenda yang kami sewa ternyata bocor. Terdapat beberapa lubang kecil di beberapa bagian layer tenda. Ditambah kami tidak membawa lakban untuk menambalnya. Jadilah kami tidur meringkuk di sedikit area dalam tenda yang masih terselamatkan dari air. Tidak nyenyak memang, tapi itu masih lebih baik daripada tidur di luar tenda. Hehe… Saya berdua dengan saudara meluncur dari Surabaya dengan mengendarai motor Supra X-125 keluaran 2005. Motor ini juga saya pakai saat merayakan pergantian tahun 2009 lalu. Masih tangguh sih untuk ke kaldera Bromo. Kalau ke penanjakan, ampun. Bromo bisa dijangkau dari dua akses utama. Dari Probolinggo dan Pasuruan. Jarak dari Kota Probolinggo ke Bromo sekitar 45 kilometer. Rutenya ditempuh menuju Ketapang, lalu menuju Sukapura. Di daerah ini, banyak penginapan untuk melepas lelah. Dari Sukapura, perjalanan dilanjutkan menuju Ngadisari dan kemudian Cemoro Lawang. Tepat di bibir Kaldera. Perjalanan tersebut bisa ditempuh sekitar 1,5 jam. Nah, untuk menuju kaldera Bromo dari Pasuruan, Anda perlu menuju Tosari lewat Pastepan dengan jarak tempuh sekitar 45 kilometer. Dalam perjalanan ini, Anda bisa menggunakan transportasi bus maupun angkot. Dari Tosari, perjalanan dilanjutkan menuju Wonokitri dan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Bromo (jarak tempuh sekitar 14 kilometer). Bisa juga dengan naik Jeep. Kalau mau lebih mudah, naik motor saja. Tapi, diharuskan naik motor selain motor matik. Tanjakan di Bromo bisa menyiksa motor matik. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara administrasi, gunung api yang masih aktif ini berada di empat wilayah. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung yang selalu mengeluarkan asap dari kawahnya ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Ingat atau tahu film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastro dan Christine Hakim? Film itu mengambil setting di kaldera Bromo. Gunung Bromo mempunyai kawah aktif. Selama abad XX, Bromo meletus tiga kali dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1974. Nama Bromo berasal dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah satu Dewa Utama Hindu. Selain terkenal sebagai objek wisata, gunung ini dipercaya sebagai gunung suci bagi Suku Tengger, penduduk Bromo. Setahun sekali, masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Kami waktu itu mendirikan tenda di samping tembok Pura Luhur Poten. Berada di bawah kaki kawah Gunung Bromo, pura ini menjadi tempat ibadah yang sakral bagi Suku Tengger yang yang beragama Hindu. Suku Tengger adalah masyarakat yang menghuni kawasan Taman Nasional Bromo. Masyarakat setempat percaya bahwa Pura Luhur Poten menjadi kediaman Isa Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan perwujudan dari Dewa Brahma. Brahma adalah satu di antara tiga dewa besar dalam agama Hindu selain Siwa dan Wisnu. Menurut sejarah, Pura Luhur Poten didirikan pada tahun 2000 di kawasan kaldera atau lautan pasir Bromo. Arsitekturnya merupakan percampuran budaya Jawa dan Bali. Keduanya memang sangat kental dengan nuansa agama Hindu. Pura ini juga bisa menjadi objek wisata yang artistik bagi pengunjung. Namun, mengingat pura ini adalah tempat ibadah, pengunjuk hanya bisa menikmatinya dari luar pagar. Malam pun berganti pagi. Matahari menyembul di antara barisan bukit Bromo. Kabut tipis tampak menyelimuti. Udara dingin yang memeluk tubuh perlahan bercampur dengan kehangatan. Sungguh waktu yang pas untuk masak nasi dan menyeduh kopi. Setelah agak siang, kami bergegas menuju bibir kawah di atas sana. Kami perlu menaiki 250 anak tangga untuk menikmati keindahan di sekeliling Bromo. Dari atas sini, segala yang tampak di bawah sana terlihat sangat kecil. Termasuk Pura Luhur Poten yang tampak kecil di tengah lautan pasir. Setelah turun, kami mampir sejenak di penjual kopi di kaki gunung. Penjualnya perempuan tua. Ia berjualan sambil menikmati rokok. Ya, jangan heran kalau main ke sini dan melihat baik laki-laki maupun perempuan setempat merokok. Di sini, kopi dan rokok seperti sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan, baik laki-laki maupun perempuan. Di sini pelancong juga bisa membeli bunga abadi edelweiss . Saat mendaki gunung, haram hukumnya memetik edelweiss . Tapi di Bromo berbeda. Anda bisa membeli bunga edelweiss sebanyak yang Anda suka. Harganya bervariasi. Sebagian masyarakat Tengger memang sengaja membudidayakan bunga edelweiss sendiri untuk dijual kepada traveler . Jadi nggak perlu takut di- bully di media sosial kalau pamer foto bunga edelweiss dari Bromo. Halal. Kami hanya nge-camp semalam di Bromo. Takut tenda bocor kalau hujan lagi. Hehe… (*) Lumajang, 12 Maret 2013

  • Kali Pertama Kenal Gunung Bromo, Secuil Surga di Bumi Indonesia

    SEBAGAI anak rumahan, saya hampir tidak pernah berkegiatan outdoor . Apalagi traveling . Kegiatan outdoor atau kamping pertama saya adalah saat ikut Pramuka waktu SMP. Berkemah dalam kegiatan jambore. Dulu saya tergabung dalam Hizbul Wathan (HW). Pramukanya anak-anak Muhammadiyah. Saat kuliah pun sama saja. Saya jadi anak kos-kosan, mager nauzubillah. Hanya kamping saat ada kegiatan malam keakraban dalam menyambut mahasiswa baru. Begitu memasuki akhir-akhir kuliah, saya baru tertarik traveling. Tujuan saya kala itu adalah Gunung Bromo. Motoran bersama teman-teman kuliah. Berangkat dari Surabaya. Bromo bisa dijangkau dari dua akses utama. Dari Probolinggo dan Pasuruan. Jarak dari Kota Probolinggo ke Bromo sekitar 45 kilometer. Rutenya ditempuh menuju Ketapang, lalu menuju Sukapura. Di daerah ini, banyak penginapan untuk melepas lelah. Dari Sukapura, perjalanan dilanjutkan menuju Ngadisari dan kemudian Cemoro Lawang. Tepat di bibir Kaldera. Perjalanan tersebut bisa ditempuh sekitar 1,5 jam. Nah, untuk menuju kaldera Bromo dari Pasuruan, Anda perlu menuju Tosari lewat Pastepan dengan jarak tempuh sekitar 45 kilometer. Dalam perjalanan ini, Anda bisa menggunakan transportasi bus maupun angkot. Dari Tosari, perjalanan dilanjutkan menuju Wonokitri dan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Bromo (jarak tempuh sekitar 14 kilometer). Bisa juga dengan naik Jeep. Kalau mau lebih mudah, naik motor saja. Tapi, diharuskan naik motor selain motor matik. Tanjakan di Bromo bisa menyiksa motor matik. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara administrasi, gunung api yang masih aktif ini berada di empat wilayah. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung yang selalu mengeluarkan asap dari kawahnya ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Ingat atau tahu film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastro dan Christine Hakim? Film itu mengambil setting di kaldera Bromo. Gunung Bromo mempunyai kawah aktif. Selama abad XX, Bromo meletus tiga kali dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1974. Nama Bromo berasal dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah satu Dewa Utama Hindu. Selain terkenal sebagai objek wisata, gunung ini dipercaya sebagai gunung suci bagi Suku Tengger, penduduk Bromo. Setahun sekali, masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di Pura Luhur Poten yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Saya dan kawan-kawan datang dan kamping semalam di sini untuk merayakan pergantian tahun. Dari tahun 2008 berganti ke tahun 2009. Warga setempat membuat acara kesenian dan pawai obor untuk menyambut pergantian tahun. Ada juga acara bakar-bakar hasil bumi seperti ubi, jagung, dan singkong. Inilah awal mula perkenalan saya dengan gunung serta kamping di luar kepramukaan dan kegiatan kampus. Dari sini, di titik ini, perjalanan saya terus berlanjut. (*) Lumajang, 31 Desember 2008–01 Januari 2009

  • Dari Jakarta Menyambangi Semeru, Gagal Muncak

    SAYA telah merencanakan perjalanan jauh. Dari sepetak kamar kos sempit di wilayah Jakarta Barat, pikiran saya bertualang ke wilayah perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Di situlah si gagah Mahameru berdiri kukuh. Puncaknya memanggil-manggil dalam angan. Maka, saya rencanakan perjalanan ini. Kembali ke puncak 3.676 mdpl. Gunung Semeru. Tiga kali mendaki Semeru tidak membuat saya bosan untuk kembali menjenguk kabut dinginnya. Maka, tepat tanggal 25 Mei 2016, saya memesan tiket kereta tujuan Malang. Naik kereta Jayabaya dengan tiket seharga Rp 230.000. Kereta berangkat dari Stasiun Senen pada pukul 14.00 dan baru sampai di Stasiun Kota Malang Baru tanggal 26 Mei 2015 pukul 02.30 dini hari. Perjalanan kereta ekonomi Jakarta–Malang memakan waktu sekitar 14 jam. Sampai di stasiun, saudara saya yang kuliah di Malang sudah menunggu di pintu keluar. Bersama dialah saya akan mendaki Semeru kali ini. Kami sempatkan makan nasi bungkus di depan stasiun. Di Jakarta, menu nasi bungkus di warung kopi seperti ini tidak bisa dijumpai. Untuk menghangatkan badan di Kota Malang yang sedikit dingin pagi itu, saya memesan teh hangat. Tepat pukul 03.30, saya diajak menuju tempat kos saudara saya untuk bermalam. Esok paginya kami baru menuju Ranupani. Tanggal 26 Mei 2015 Sekitar pukul 09.30, kami berangkat ke Ranupani menggunakan motor Satria. Motor memang menjadi transportasi paling murah daripada harus naik Jeep. Tapi, naik motor dengan nenteng dua keril besar melalui tanjakan berliku memang tidak mudah. Sangat menantang dan menguras tenaga. Setelah melewati beberapa tikungan dan tanjakan, kami sampai di Desa Ranupani. Kami mencapainya dalam waktu satu setengah jam perjalanan. Di sana, banyak perubahan. Loket tiket yang dulu berada di samping musala kini dipindah ke tempat bekas mes tim SAR dekat Danau Ranupani. Di sana, ternyata ada aturan baru juga. Setiap pendaki yang ingin membeli tiket harus melalui tahap SIMAKSI dulu di gedung belakang loket tiket. Di sana, setiap pendaki diberi pengarahan oleh relawan Semeru tentang tata tertib selama pendakian. Pendaki juga diimbau tidak membuang sampah sembarangan. Bahkan, secara tegas pihak TNBTS memberlakukan peraturan ketat soal sampah. Jika pendaki tidak membawa sampahnya turun, petugas akan memberlakukan dua sanksi. Pertama, pendaki naik kembali ke Gunung Semeru untuk mengambil sampahnya. Atau kedua, pendaki di- blacklist , tidak boleh lagi mendaki Semeru untuk selama-lamanya. Dalam pengarahan tersebut, para pendaki juga diberi tahu soal adanya toilet-toilet yang didirikan di Ranu Kumbolo dan Kalimati. Selain itu, pihak TNBTS juga membuka jalur baru untuk menuju puncak Mahameru. Pendaki tidak diperbolehkan melewati jalur lama yang melewati Arcopodo. Jalur tersebut baru saja longsor sehingga demi keamanan pendaki dan recovery , jalur itu ditutup dan dibuat jalur baru. Setelah mendengar pemaparan dari relawan, saya dan saudara saya baru bisa membeli tiket. Persyaratannya masih sama. Tiap pendaki harus menyertakan fotokopi KTP, surat keterangan sehat dari dokter, dan satu meterai 6.000 untuk satu kelompok. Namun, untuk harga tiket masuk ada perubahan. Dulu sekitar tahun 2013, tiket masuk Semeru hanya Rp 10 ribu untuk 3–4 hari. Namun, kini tarifnya berubah. Setiap pendaki dikenai Rp 17.500 per hari! Setelah mengisi perut yang keroncongan di warung sekitar pos perizinan, kami baru mulai mendaki sekitar pukul 14.00. Seperti biasa, kami berjalan santai mulai plang selamat datang Semeru. Namun, hal yang mengagetkan saya terpampang di Pos 1. Apalagi kalau bukan penjual makanan. Penjual di Pos 1 menawarkan macam-macam makanan dan minuman. Mulai semangka, gorengan, nasi bungkus, Aqua, Pocari Sweatt, Ale-Ale, hingga madu. Yang membuat saya ’’terkesima’’, pedagang tersebar mulai dari Pos 1, 2, 3, 4, Ranu Kumbol, Cemoro Kandang, Jambangan, hingga Kalimati! Dalam cuaca panas Semeru yang membakar kulit dan mengeringkan kerongkongan, saya pun tergoda untuk sekadar mencicipi kesegaran semangka yang merona merah dengan cairan manis yang tersimpan di dalamnya. Saya beli dua iris untuk saya dan saudara saya. Dua iris semangka dihargai Rp 5 ribu. Setelah dahaga terbunuh, kami melanjutkan perjalanan yang kemudian disambut hujan saat kami berada di Pos 2. Di sini, ada beberapa pedagang yang mau turun dengan sisa semangka yang masih banyak. Saya kemudian sedikit mengobrol dengan mereka soal pedagang-pedagang di Semeru sampai gerimis tak lagi turun. Sebelum turun, pedagang laki-laki berusia sekitar 45-an tahun kemudian memberi saya satu plastik semangka yang masih segar. Dalam plastik tersebut, tidak kurang ada 20 iris semangka segar, meskipun ada beberapa yang mulai layu. Itu adalah sisa semangka yang tidak terjual. Ya, itu rezeki anak soleh dan ramah seperti saya. Hahaha… Dalam setiap perjalanan, ketika berpapasan dengan pendaki lain yang mau naik, saya menawarkan semangka pemberian tadi. Alhamdulillah, semangka habis setelah melewati Pos 3. Kami terus berjalan dan sampai di Ranu Kumbolo tepat pukul 18.30. Lampu-lampu dalam tenda yang kurang lebih berjumlah 30-an menyala remang bagai kunang-kunang di kegelapan malam. Dingin menyerang semakin brutal waktu kami mendirikan tenda. Setelah tenda siap, kami membongkar isi keril dan mulai memasak. Makanan wajib di gunung seperti mi instan pun kami masak. Lengkap dengan sarden dan tentu saja kopi hitam. Menu makan malam istimewa di pinggir Ranu Kumbolo yang memantulkan sinar gemintang yang menggantung di langit. Kabut dingin yang menyelimuti memang tidak bisa hanya diusir dengan kopi panas. Setelah makan, saya sempatkan sedikit ngobrol dengan pendaki lain yang kenal di perjalanan. Kami ngobrol sana-sini di luar tenda dengan kabut yang semakin turun hingga dingin tak mampu kami lawan. Tepat pukul 20.30, saya memutuskan istirahat. Dinginnya udara Ranu Kumbolo membuat tidur tak nyenyak. Baiklah, mata harus tetap dipejamkan agar tubuh kembali fit untuk melanjutkan pendakian esok harinya. Tanggal 27 Mei 2015 Saya sengaja memasang alarm pukul 05.12 untuk menyambut sunrise di Ranu Kumbolo. Dan memang saya bangun pada jam itu. Tapi, setelah menunggu lama, sunrise yang saya dambakan tak kunjung muncul. Ya, cuaca pagi itu berkabut sehingga wajah merona matahari pagi tak terlihat. Karena itu, saya memutuskan untuk tidur lagi dengan nyenyak dan baru bangun pada pukul 07.30. Pagi itu, matahari sudah terik. Sinarnya menghangatkan kulit. Para pendaki sudah memulai kegiatan masing-masing. Ada yang berfoto-foto di pinggir danau, di atas pohon yang tumbang menjorok ke danau, ada yang mengambil air, ada yang mencuci nesting, ada yang memasak. Saya dan saudara tentu juga tak ingin ketinggalan. Kami hunting spot-spot foto yang menarik dan indah. Setelah puas dan perut merasa lapar, kami kembali ke tenda untuk memasak mi instan dan roti bakar. Tepat pukul 10.00, kami mulai membongkar tenda dan packing untuk melanjutkan pendakian ke Kalimati. Tanjakan Cinta dan Oro-Oro Ombo tetap menjadi primadona yang tidak bisa dilewatkan begitu saja oleh setiap pendaki. Kami pun mengabadikan momen-momen keindahan itu dengan kamera. Begitu juga saat kami berada di Jambangan. Di sini pemandangannya malah lebih indah. Karena kami bisa melihat puncak Semeru dengan jelas, yang beberapa menit sekali mengeluarkan asap putih. Kami berjalan santai dan baru sampai di Kalimati pada pukul 03.30. Di Kalimati tak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan. Kami hanya masak, mengambil air di Sumber Mani yang jaraknya sekitar 30 menit dari tenda. Untuk persiapan mendaki, sekitar pukul 18.00, kami bersiap istirahat setelah makan malam. Tepat pukul 22.00, kami bangun untuk memasak mi instan lagi. Kami juga masak jelly . Setelah makan, kami menyiapkan air mineral dan snack untuk dibawa ke puncak Mahameru. Tepat pukul 23.30, saya, saudara, dan pendaki lain mulai mendaki lewat jalur baru. Busyet! Jalur baru ini ternyata sangat menyiksa karena didominasi jalur pasir berkerikil. Jalan seperti itu terus terhampar sampai puncak sehingga sangat menguras tenaga. Jalur itu jauh lebih berat daripada jalur lama yang melewati Arcopodo dengan jalur tanah padat. Tanggal 28 Mei 2015 Pada pukul 05.45 pagi, tenaga saya hampir terkuras habis. Tepat pukul 06.22, tenaga saya sudah benar-benar habis. Angin di musim ekstrem membuat perut saya bergejolak. Ada sesuatu yang ingin dimuntahkan. Kaki tak lagi mau diajak melangkah. Saat itu saya sudah melewati spot cemoro tunggal. Pilihannya hanya dua, bertahan di sana sambil menunggu tenaga pulih dengan terpaan angin dingin menusuk tulang. Atau turun dan meninggalkan puncak yang sudah berada di depan mata, tapi masih jauh dari langkah. Apa dikata, saya memilih untuk turun. Saya tak mau ambil risiko dengan memaksakan diri menuju puncak sementara kondisi tubuh sudah benar-benar drop. Saya pun turun, sedikit berselancar di pasir berbatu Semeru. Sampai di Kelik, saya pun tak sanggup menahan dingin. Dalam kesendirian di Kelik, di bawah tatapan Mahameru yang gagah, saya terkapar, makanan malam tadi keluar dengan rasa pahit di bibir. Jackpot! Dengan tenaga yang tersisa, saya kembali turun ke tenda dan tidur sambil menunggu saudara saya yang melanjutkan pendakian sampai ke puncak Mahameru. Meskipun tak sampai di puncak, saya merasa bersyukur. Saya tak bisa membayangkan bagaimana bila harus memaksakan diri ke puncak. Karena untuk turun ke tenda lewat jalur lama Arcopodo saja langkah saya terseok-seok. Saya pun bersyukur di Kalimati, di dekat tenda, ada pedagang makanan. Jadi, setelah tidur sejenak, perut yang sudah kosong ini harus diisi. Dua gorengan dan dua iris semangka benar-benar nikmat. Sambil makan gorengan dan semangka, saya banyak mengobrol dengan bapak penjualnya. Banyak hal yang disampaikan sehingga saya yang awalnya menyesalkan banyaknya pedagang di Semeru menjadi memaklumi keadaan seperti itu. Setelah saudara saya turun dan sejenak istirahat, kami makan nasi Rp 15 ribu per bungkus dengan lauk satu telur dadar dan sayur mi goreng. Kami harus memulihkan tenaga sebelum turun kembali ke Ranupani. Tepat pukul 12.00, kami mulai merobohkan tenda dan packing . Pada pukul 13.00, kami mulai turun dan sampai di Ranupani pukul 18.30. Setelah sedikit istirahat dan makan kari ayam Rp 12.000 dan teh panas Rp 3.000, kami siap melapor turun Semeru dan menyerahkan sampah. Kami turun ke Tumpang pukul 20.00. Sepanjang perjalanan, perasaan waswas sering menghampiri karena jalanan gelap dan sangat sepi kendaraan. Ya, kami terus menerobos gelap melewati jalan meliuk-liuk, naik dan turun, sampai akhirnya sampai di Tumpang, dan terus saja menuju kos saudara saya. Malam itu, saya tidur dengan tenang. Rindu saya pada Semeru telah tertunaikan, meski tak bisa mengecup puncaknya. Terima kasih, semesta. Tanggal 29 Mei 2015 Untuk menghemat waktu karena harus masuk kerja pukul 17.00 hari itu juga, saya memutuskan naik pesawat dari Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang. Harga tiket Rp 508.875 dengan jarak tempuh 1,5 jam menggunakan maskapai Sriwijaya Air. Tidak seperti LionAir yang sering saya naiki, maskapai Sriwijaya Air memberikan roti dan air mineral dalam kemasan gelas kepada para penumpang. Pesawat takeoff pukul 12.45 dan sampai di Jakarta pukul 13.45, tepat 1,5 jam. Dengan memperhitungkan lalu lintas yang macet pada jam-jam itu, saya pulang ke kos dengan menerima tawaran calo ’’taksi pelat hitam’’ Avanza dari Bandara Soekarno-Hatta. Saya ’’hanya’’ mengeluarkan Rp 200.000 sudah termasuk tiket tiga gerbang tol untuk sampai ke Rawa Belong. Harga itu saya anggap murah karena biasanya saya harus membayar Rp 170.000 bila naik taksi, itu belum termasuk tiket tol, belum lagi kalau jalanan macet parah seperti waktu itu. Argo bisa naik tinggi. Saya akhirnya sampai di kos sekitar pukul 16.30. Jadi, saya hanya punya waktu setengah jam untuk mandi, istirahat sejenak, dan bersiap masuk kerja. Selamat datang di realitas. Sampai jumpa pada perjalanan-perjalanan selanjutnya. Salam lestari. (*) Jakarta–Lumajang, 25–29 Mei 2015

  • Hampir Tersesat di Gunung Ciremai

    PENUH drama. Ini kata yang pas untuk menggambarkan pendakian ke Gunung Ciremai kali ini. Kami bertiga, saya dan dua teman kantor –Mud dan Cup– mendaki Gunung Ciremai via Linggarjati. Gunung ini memiliki tiga jalur resmi, yakni Linggarjati, Apuy, dan Palutungan. Nah, Linggarjati adalah jalur yang paling terjal. Anda yang menyukai tantangan dan ingin melatih fisik, jalur ini cocok sebagai pilihan. Drama itu dimulai dari Jakarta. Pagi itu, sekitar jam 2 dini hari pada 11 April 2016, kami masih bersantai di rumah salah satu teman tidak jauh dari Pasar Rebo. Kami memang berniat naik bus dari terminal bayangan Pasar Rebo. Biasanya bus ngetem lama di sana untuk menunggu penumpang. Sekitar jam 03 pagi kami sudah berada di terminal bayangan itu. Namun, saat itu sudah tidak ada bus yang berhenti. Saat bertanya kepada orang di sana, bus terakhir itu ternyata sudah jalan beberapa menit lalu. Di sini drama itu dimulai. Tidak ada ojek yang bisa mengejar bus itu. Kami harus berpikir cepat. Karena tidak ada lagi bus yang berangkat ke kota tujuan pagi itu. Sial-sial harus menunggu sampai siang. Dalam keadaan seperti itu ada sopir angkot yang datang bak pahlawan. Dia menawari kami naik dengan tarif sama. Dia pun ngebut untuk mengejar bus. Sampai-sampai dia melewatkan begitu saja saat ada penumpang yang mencegat di pinggir jalan. Dia terus melaju. Saat itu hanya kami bertiga di angkot. Setelah beberapa menit, bus yang kami cari terlihat di kejauhan. Sopir angkot semakin dalam menginjak gas. Kami pun sampai di belakang bus. Untung, saat itu bus tersebut sedang terjebak kemacetan. Thank you pak sopir angkot! Perjalanan dari Jakarta ke Kuningan menempuh waktu sekitar 4–5 jam tergantung arus lalu lintas, macet atau tidak. Sekitar jam 08 kami sudah masuk Kuningan. Kami pun turun di pertigaan Linggarjati. Untuk mencapai Base Camp Linggarjati dari sana, kami naik angkot dan dilanjutkan dengan naik ojek. Sampai di base camp , kami langsung mendaftar, menyerahkan KTP ketua kelompok, dan membayar retribusi Rp 50.000 per orang untuk tiga hari pendakian. Turunnya pendaki akan mendapatkan sertifikat pendakian. Kami memulai pendakian pagi itu juga setelah sarapan. Dari base camp , jalur yang terhampar masih berupa jalan aspal. Kami berjalan di aspal yang menanjak. Berat. Melewati ladang dan rumah-rumah penduduk. Kami pun sampai di Pos Cibunar. Di sini kita bisa melengkapi kekurangan logistik. Karena ada warung, toko aksesori. Lengkap dengan toilet dan pangkalan ojek. Nah, kalau tidak mau capek, Anda bisa naik ojek ke pos pertama di ketinggian 850 mdpl ini. Naik dari Cibunar, treknya berupa jalur berbatu yang menanjak. Masih ada sedikit bonusnya sih. Pendakian melewati hutan pinus. Setelah itu, jalur mulai terbuka. Jalur menanjak yang sempit kemudian tersaji hingga ke Pos Leuweung Datar. Pos yang berada di ketinggian 1.225 mdpl ini cukup untuk mendirikan 3–4 tenda. Kami menyempatkan istirahat sebentar di sini. Namun, di antara Pos Cibunar dan Leuweung Datar, masih ada satu warung. Terus naik ke atas, treknya masih sama. Tidak lama kemudian, kami tiba di Pos Kondang Amis. Sampai di sini, hari sudah sore. Gerimis juga mulai turun. Kami pun nge-camp semalam di pos ini. Pada 12 April pagi, setelah makan-makan dan packing tenda, kami melanjutkan pendakian menuju Pos Kuburan Kuda di ketinggian 1.450 mdpl. Jalurnya semakin sempit, rimbun, dan banyak akar-akaran. Karakter pos ini sama dengan Pos Kondang Amis. Cukup nyaman untuk mendirikan tenda. Tak lama beristirahat, kami melanjutkan langkah menuju Pos Pangalap dengan trek yang tak jauh berbeda. Begitu juga jalur menuju Tanjakan Seruni. Jalurnya semakin curam. Di jalur ini kami menemui Tanjakan Bin-Bin. Tanjakan Seruni berada di ketinggian 1.825 mdpl. Selepas Tanjakan Seruni, treknya semakin berat. Di depan sana ada tanjakan ekstrem yang menanti. Namanya tanjakan Bapa Tere. Saat itu tidak ada jalan lain selain harus naik melalui tanjakan itu. Untuk melalui tanjakan itu, kami harus memanjat dengan berpegang pada akar-akar pohon yang menjuntai. Di sini tidak ada area landai untuk mendirikan tenda. Di atasnya lagi, di Pos Batu Lingga, pendaki baru bisa menemukan area datar untuk mendirikan tenda. Area ini cukup untuk 3–4 tenda. Kami berhenti di pos ini dan mendirikan tenda. Kami sepakat nge-camp di Pos Batu Lingga di ketinggian 2.200 mdpl. Esok paginya baru nembak puncak. Jam 02 dini hari 13 April, kami mulai menuju puncak. Untuk menuju puncak, kami masih harus melalui Pos Sanggabuana 1 dan 2. Di sini pendaki juga bisa mendirikan tenda. Dari Sanggabuana 2 menuju Pos Pengasinan, treknya berupa tanah padat berbatu. Pepohonan semakin jarang sehingga pemandangan di sekitarnya mulai tampak terhampar. Pos Pengasinan berada di ketinggian 2.800 mdpl. Ini adalah pos terakhir sebelum mencapai puncak. Ini juga merupakan batas vegetasi. Dari pos ini, puncak Ciremai sudah bisa dilihat. Untuk sampai ke sana, kami menapaki jalur sempit dengan batuan terjal. Kami sampai di puncak sekitar jam 07 pagi. Total kami membutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk mencapai puncak dari Pos Batu Lingga. Gunung Ciremai memiliki ketinggian 3.078 mdpl. Ini adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung ini juga terkenal dengan jalur yang berat, terutama via Linggarjati. Ditambah, di gunung ini tidak ada sumber air. Sekadar catatan, selain memiliki trek yang terjal, Ciremai juga mempunyai banyak cerita mistis dan mitos yang dipercaya oleh beberapa kalangan pendaki. Salah satunya adalah pantangan untuk mendirikan tenda dan bermalam di Pos 4 atau Pos Kuburan Kuda. Pos itu dipercaya angker sehingga pendaki yang kemalaman di jalan disarankan bermalam di pos sesudahnya atau sebelumnya. Gunung Ciremai memiliki dua kawah ganda di bagian puncak, yakni kawah barat dan kawah timur. Kawah barat berbentuk setengah lingkaran dan terpotong oleh kawah timur. Pada tepi bagian barat ini, terdapat bukit lava yang biasa disebut Sunan Cirebon. Inilah titik tertinggi gunung Ciremai. Masih pada bagian barat, ada satu lagi titik tertinggi kedua, yakni Pangeran Talaga. Menurut catatan yang ada di buku pendakian gunung Ciremai, kawah barat terbentuk pada 1698. Sementara kawah timur terbentuk pada 1924. Setelah dua sampai tiga jam berada di puncak, kami turun. Rencananya, kami langsung turun menuju Base Camp Linggarjati. Setelah membongkar tenda dan makan, kami baru turun dari Pos Batu Lingga sekitar jam 01 siang. Kami berjalan santai sehingga di Pos Kondang Amis sudah ketemu gelap. Kami berjalan sangat pelan karena kaki Cup terkilir. Dia berjalan terseok-seok. Namun, kami terus saja berjalan sampai gerimis turun di tengah malam. Tenaga kami terkuras. Logistik menipis. Kami terus berjalan, tapi pos yang kami tuju belum juga ketemu. Kami merasa seperti tersesat. Seperti berputar-putar saja di area yang sama. Pada batas tenaga yang tersisa, Cup ingin menyerah. Di situ drama selanjutnya terjadi. Ada perdebatan. Cup ingin mendirikan tenda dan nge-camp semalam lagi. Sedangkan kami ingin terus melanjutkan turun. Pertimbangannya, logistik sudah habis. Lokasinya juga tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda. Jadi, tetap turun adalah pilihan terbaik. Setelah perdebatan cukup menegangkan di bawah guyuran gerimis, kami pun berhasil meyakinkan Cup untuk terus berjalan. Pelan-pelan saja, asal terus bergerak. Jangan sampai kedinginan hingga rawan terkena hipo. Dengan tenaga yang tersisa, kami akhirnya berhasil sampai di base camp . Waktu itu hampir jam 09 malam. Sudah tidak ada ojek. Berkat pertolongan penjaga base camp , ada warga setempat yang mau mengantarkan kami. Tarifnya disamakan dengan ojek biasa. Kami bermalam di rumah nenek Mud yang juga di Kuningan dan kembali ke Jakarta esok paginya. Pendakian yang berkesan dengan bumbu-bumbu drama. Pengalaman yang cukup mengesalkan saat dijalani, tapi cukup menarik untuk diingat. (*) Kuningan, 11–13 April 2016

  • Menghirup Sejuknya Kawasan Wisata Baturaden, Jawa Tengah

    KABUPATEN Banyumas punya objek wisata alam yang tak kalah indah dengan dataran tinggi Dieng. Namanya Baturaden, yang terletak persis di kaki Gunung Slamet. Udaranya sejuk, dan lanskapnya menawan. Angin sejuk langsung membelai kulit begitu tiba di Kawasan Wisata Baturaden, Jawa Tengah. Bukalah jendela mobil untuk menghirup udara segar, dan merekam indahnya lanskap hijau tanpa batas. Hanya 14 km dari Kota Purwokerto, kawasan ini berada di ketinggian 650 mdpl, persis di lereng Gunung Slamet. Udaranya cukup sejuk, dengan suhu 18-25 derajat Celcius. Panorama alam adalah suguhan utama di Baturaden. Hutan pinus seluas 200 hektar terbentang indah. Air terjun bersuara ganas, mengalir ke sungai yang meliuk cantik di lerengnya. Pemandian air panas alami tersedia untuk mengobati berbagai macam penyakit. Air Terjun Pancuran Tujuh adalah salah satu objek wisata favorit. Setelah itu, aliran airnya terpecah menjadi Pancuran Pitu kemudian pecah lagi menjadi Pancuran Telu. Deretan air terjun ini bisa Anda datangi dengan jarak 2,5 kilometer dari yang pertama sampai terakhir. Uniknya, ketiga air terjun ini berair hangat karena mengandung unsur belerang. Hutan pinus dan lanskap perbukitan menjadikan Baturaden lokasi cocok untuk trekking. Anda bisa ikut tur melintasi lanskap indah, serta melewati desa-desa setempat dengan penduduk yang ramah. Wisata satu ini adalah kegemaran para turis asal Eropa. Lokawisata Baturaden tersedia untuk rekreasi keluarga. Ini adalah taman rekreasi yang dilengkapi kolam renang, lengkap dengan beragam wahana. Di dalamnya ada pula taman bermain dengan komidi putar klasik. Anda bisa menghabiskan waktu dengan piknik di hamparan rumput nan hijau, serta bermain ditemani sejuknya angin. Untuk akomodasi, Baturaden punya lebih dari 70 hotel yang bisa dipilih sesuka hati. Ingin lebih dekat dengan alam? Tersedia Bumi Perkemahan Kaloka Widya Mandala yang pas untuk kemping dengan keluarga. Berkunjung Gratis Beruntung bagi saya bisa bisa mengunjungi wisata ini tanpa bayar alias gratis. Kunjungan wisata ini merupakan bagian dari acara Launching Kumpulan Cerpen “Lelaki yang Dibeli” tanggal 2-3 Mei 2011. Kumpulan cerpen ini merupakan hasil seleksi lomba cipta cerpen yang diselenggarakan oleh STAIN Purwokerto setahun sekali.  (*)

  • Melihat Tradisi Grebeg Maulud Jogjakarta

    SEKATEN atau upacara Sekaten (berasal dari kata  Syahadatain  atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammads.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam. Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi Dalem (punggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelan Jawa: Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendopo Ponconiti menuju masjid Agung di alun-alun utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari masjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton. Grebeg Muludan Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 (persis di hari ulang tahun Nabi Muhammad s.a.w.) mulai jam 8:00 pagi. Dengan dikawal oleh 10 macam (bregodo/kompi) prajurit Kraton: Wirobrojo, Daeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, Mantrijero, Surokarso, dan Bugis, sebuah Gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah dido’akan Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka. Tumplak Wajik Dua hari sebelum acara Grebeg Muludan, suatu upacara Tumplak Wajik diadakan di halaman istana Magangan pada jam 16:00 sore. Upacara ini berupa  kotekan  atau permainan lagu dengan memakai  kentongan , lumpang untuk menumbuk padi, dan semacamnya yang menandai awal dari pembuatan Gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Muludan nantinya. Lagu-lagu yang dimainkan dalam acara Tumplak Wajik ini adalah lagu Jawa populer seperti: Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal awil, atau lagu-lagu rakyat lainnya. (*) Jogjakarta

  • Mengenang Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949

    MONUMEN Serangan Umum 1 Maret berada di area sekitar Benteng Vredeburg yaitu tepat di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Monumen ini dibangun untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949. Ketika itu Negara Indonesia telah dianggap lumpuh dan tidak ada oleh Belanda. Untuk membuktikan bahwa Negara Indonesia masih ada maka dilakukan serangan besar-besaran. Serangan ini dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III. Dalam peperangan itu kota Yogyakarta saat itu berhasil diduduki oleh TNI selama 6 jam sampai dengan pukul 12.00, sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan berhasilnya Serangan Umum 1 Maret ini maka moril TNI semakin meningkat dan mampu mematahkan propaganda yang dilakukan Belanda. Saat ini Monumen Serangan Umum 1 Maret ini merupakan salah satu landmark dan cagar budaya provinsi DIY sebagai bangunan yang mengingatkan tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada masa lalu. Pada saat-saat tertentu terutama pada waktu hari besar Nasional misalnya hari Kemerdekaan atau hari Pahlawan, monumen ini sering digunakan sebagai tempat acara untuk memperingati hari besar tersebut. (*)

  • Merangkum Sejarah Panjang Kita di Museum Bank Mandiri

    CORAK bangunannya tampak sama dengan beberapa gedung di sampingnya. Bergaya neo-klasikal. Namun, begitu memasuki lobi, ada kemewahan yang menyambut. Dan tentu saja hawa dingin dari mesin pendingin ruangan. Cukup mengusir gerah di luar sana. Museum Bank Mandiri Jakarta tampak ramai siang itu. Museum Bank Mandiri hanya satu di antara sekian banyak museum sejarah di Jakarta. Museum BI berdiri kukuh di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Begitu memasuki lobi utama Museum Mandiri , terdapat kaca patri mozaik yang artistik. Kaca itu dibuat seniman Belanda bernama Ian Sihouten Frinsenhouf dengan total 1509 panel kaca patri. Di museum ini, kita bisa mendapat informasi tentang peran Bank Mandiri dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa Barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Mandiri pada tahun 1953. Ada pula informasi tentang kebijakan-kebijakan Bank Mandiri, yang meliputi latar belakang dan dampak kebijakannya bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Museum BI sudah bisa disebut sebagai museum modern. Beberapa informasi dikemas dan disajikan dengan teknologi modern dan multimedia. Seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama. Pengunjung bisa menikmati sejarah dalam bentuk audiovisual di ruangan yang mengusung konsep seperti teater mini. Menjelajahi setiap sudut ruangan museum ini seakan memasuki Indonesia di masa lalu. Selain mulimedia, museum ini menampilkan patung-patung yang menceritakan kegiatan perbankan pada zaman Belanda. Ada juga dermaga lama di bilik Batavia tempo doeloe . Lalu, khazanah numismatik, kursi koin, pintu baja, dan ruang numismatik. Karena namanya Museum BI, tentu di sini banyak koleksi uang dari zaman dulu. Museum ini tak ketinggalan memajang foto atau gambar para penjelajah asing yang singgah di Nusantara. Tak sekadar singgah, mereka juga memberikan pengaruh pada kolonisasi di Nusantara. Sebut saja Marcopolo (Italia, 1254–1324), Laksamana Cheng Ho (1371–1436), Afonso d’Alburquerque (Portugis, 1453–1515), Cornelis de Houtman (Belanda, 1565–1599), dan Sir Henry Middleton (Inggris, 1604). Nah, di tengah-tengah bangunan ini, terdapat taman atau tempat terbuka yang ditumbuhi beberapa pohon. Taman ini terlihat asri dan fotogenik. Namun sayang, tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu. Diperlukan izin khusus, kata penjaga di museum tersebut. Namun, Anda tidak perlu kecewa. Sebab, di belakang gedung, terdapat taman yang bisa dikunjungi siapa saja. Di halaman belakang juga terdapat musala yang tak kalah bagus. Secara garis besar, di Museum BI ada tujuh ruang utama. Antara lain,  Ruang Playmotion untuk simulasi permainan menangkap bayangan koin yang jatuh untuk para pengunjung sebelum masuk.  Ruang teater  untuk menonton film sejarah kebijakan BI dari masa ke masa. Kemudian, Ruang sejarah untuk memampang sejarah BI peranannya dalam sejarah bangsa. Setiap cerita dirangkai secara detail dengan dilengkapi  film pendek, patung, dan barang barang yang dulu digunakan.  Ruang perenungan hijau  dulu digunakan sebagai tempat para pimpinan merumuskan berbagai kebijakan. Lalu, Ruang emas moneter merupakan tempat mas murni yang pada masanya pernah berfungsi sebagai penjamin uang yang beredar di Indonesia terseimpan. Di ruangan ini terdapat pula uang dari berbagai negara.  Ruang numismatik  berisi koleksi uang yang beredar di Nusantara mulai dari berbagai bentuk dan jenis uang dari zaman kerajaan Hindu Budha, kerajaan Islam, kolonial hingga uang pasca kemerdekaan dan uang mancanegara.  (*)

  • Museum Nasional, Cermin Peradaban Indonesia

    MESKI terdapat patung gajah di depan gedung ini, percayalah bahwa ini bukan kebun binatang. Karena itu, Anda juga tidak akan menemukan tunggangan gajah atau tidak bisa memberi makan gajah. Namun, dari patung itu, tercetuslah nama Museum Gajah. Letaknya di Jalan Medan Merdeka Barat, Nomor 12, persis seberang Tugu Monas, Jakarta Pusat. Museum Gajah adalah nama beken dari Museum Nasional Indonesia. Patung gajah kecil dari perunggu itu merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn (Raja Rama V) –Raja Siam– untuk pemerintahan Kota Batavia. Patung itu adalah cenderamata saat sang raja berkunjung ke Batavia pada tahun 1871. Selain patung gajah, di depan gedung baru Museum Gajah, berdiri gagah seni berjudul Ku Yakin Sampai di Sana karya Nyoman Nuarta. Karya Nuarta telah menghiasi banyak kota. Karya lain Nuarta yang mempercantik Jakarta adalah Patung Arjuna Wijaya di dekat Monas. Dari luar, Kompleks Museum Gajah terlihat sangat megah, dengan gaya klasisisme. Aliran klasisisme muncul di Eropa sekitar tahun 3000 SM sampai abad ke-17 dan ke-18. Bangunan bergaya klasisisme tersebar di Eropa, dan Indonsia pada masa kolonial. Aliran ini biasanya mengacu pada Romawi dan Yunani. Karena itu, tidak heran jika tampak pilar-pilar silinder besar pada konstruksi bangunan depan Museum Gajah, terutama di Taman Arkeologi di bagian dalam gedung. Berbagai arca yang dikumpulkan dari Jawa, Bali, hingga Sumatera dan Kalimantan tertata rapi di area taman tersebut. Museum ini menyimpan banyak koleksi benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain, arca-arca kuno, prasasti, dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasi dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga. Pada 2006, total koleksi Museum Gajah mencapai 140.000 buah buah. Karena koleksinya begitu banyak, Museum Gajah disebut sebagai yang terlengkap di Indonesia. Namun, di antara jumlah itu, yang bisa dilihat pengunjung hanya sepertiganya. Termasuk kerajinan tekstil, keramik, nekara, miniatur rumah adat, hingga kerajinan dari perunggu. Menurut saya, yang paling menarik di museum ini adalah ruang etnografi. Bisa dibilang, ruangan ini adalah miniatur budaya Indonesia yang begitu beragam. Di sini terdapat kerajinan dan benda-benda yang berkaitan dengan adat suku tertentu. Yang paling mencolok adalah seperengkat gamelan serta wayang dari Jawa dan Bali. Secara garis besar, Museum Nasional terdiri atas dua bangunan. Yakni, bangunan A yang merupakan bangunan asli dan berdiri sejak 377 tahun lalu. Yang kedua adalah bangunan B yang baru diresmikan pada 2007. Di gedung A, dipamerkan barang-barang sejarah, prasejarah, arkeologi Hindu dan Buddha. Lalu, di gedung B, isinya lebih lengkap. Ada ruang pameran tetap, auditorium, pameran khusus temporer, ruang pameran tetap empat lantai. Selain itu, ruang manusia lingkungan, ilmu pengetahuan teknologi dan sistem ekonomi, organisasi sosial dan pola lingkungan, serta ruang khasanah untuk keramik dan emas. (*)

  • Semeru, Wajahmu Kini

    ANTARA Desember 2012 sampai Agustus 2013, saya tiga kali mendaki Semeru. Antara bulan dan tahun itu juga, saya masih bisa merasakan dan melihat kealamian gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Ia seperti gadis dengan kecantikan alami tanpa make-up dan aksesori yang dipaksakan. Entahlah, pertama mendaki Semeru, saya merasa jatuh cinta kepadanya, seperti jatuh cinta kepada perempuan yang memesona, dengan tampil apa adanya. Sampai akhirnya saya harus bekerja di Jakarta. Meski begitu, kerinduan saya pada Semeru tetap menyala. Tepat 1,5 tahun tinggal di Jakarta, saya pun memutuskan untuk menjenguk Semeru lagi. Ada ekspektasi yang begitu besar saat saya menempuh perjalanan jauh ke perbatasan Malang-Lumajang, tempat ia menunggu dalam balutan kabut dan angin dingin yang selalu menjaganya dalam rimba. Menyusuri lekuk tubuhnya, selangkah demi selangkah, memberikan kebahagiaan tersendiri, rindu yang tertunaikan. Namun, ada hal yang mengganggu saat saya singgah di pos-pos Semeru. Kealamian Semeru sedikit demi sedikit dipaksa hilang demi kepentingan segelintir pihak. Semeru berada dalam ancaman komersialisasi. Alih-alih menjaga keindahan, kealamian, dan kebersihan Semeru, beberapa pihak ­–tidak terkecuali pendaki yang tidak bertanggung jawab– justru merusaknya. Pedagang-Pedagang Semeru Tak disangka, ternyata di Semeru banyak pedagang yang berjualan. Saya di sini tidak menyalahkan mereka sebagai sumber masalah menumpuknya sampah di Semeru. Sepengatahuan saya, mereka justru lebih bisa menjaga kebersihan Semeru daripada pendaki sendiri. Para pedagang yang memang seluruhnya adalah warga setempat, Ranupani, selalu membawa satu karung untuk tempat sampah. Di satu sisi, mereka tidak bisa disalahkan bila akhirnya berjualan di beberapa sudut Semeru. Mulai pos 1, 2, 3, 4, Ranu Kumbolo, Cemoro Kandang, Jambangan, Kali Mati, bahkan di dekat Arcopodo. Di antara mereka, ada porter yang bila sedang tidak menerima tamu (sebutan untuk pendaki yang memakai jasa mereka) akan mengisi waktu kosongnya dengan berjualan. Ada juga warga yang kesehariannya menjadi petani kemudian memanfaatkan kondisi itu dengan berjualan sebagai pekerjaan sampingan untuk sekadar menambah penghasilan. Untuk pedagang Semeru ini, saya sempat ngobrol panjang lebar dengan salah seorang pedagang yang biasa berjualan di Kali Mati. Nama beliau sengaja saya rahasiakan. Beliau bercerita tentang sejarahnya bisa sampai banyak pedagang di Semeru. Beliau tidak tahu persisnya kapan, tetapi seingat beliau adalah sekitar akhir 2014 atau awal 2015. Ada beberapa rombongan pendaki yang mengeluh kehabisan logistik ketika mendaki. Hal itu diketahui pihak TNBTS. Kemudian, pihak TNBTS mengadakan pertemuan dengan warga setempat untuk membicarakan masalah tersebut. Akhirnya, dibentuklah kelompok pedagang Semeru. Namun, mereka tidak memiliki nama resmi perkumpulan. Awalnya, saya pikir berdagang adalah inisiatif warga sendiri untuk mencari penghasilan tambahan. Namun, ketika saya bertanya lebih jauh, ternyata mereka dikoordinir oleh pihak TNBTS. Karena itulah, setiap pedagang akan mematok tarif yang sama untuk jenis makanan, minuman, atau rokok yang dijual. Contohnya, semangka atau gorengan. Satu potong gorengan atau satu iris semangka dihargai Rp 2.500. Untuk nasi bungkus, harganya Rp 15.000 dengan lauk satu telur dadar dengan sedikit mie goreng. Harga yang sama akan ditawarkan pedagang untuk jenis minuman seperti Aqua, Pocari Sweat, Ale-Ale, hingga rokok. Lalu, bagaimana sistem pembagian upahnya? Menurut beliau, setiap seminggu sekali, seluruh penghasilan pedagang Semeru akan dikumpulkan kepada pihak TNBTS, kemudian dibagi rata untuk semua pedagang. Pedagang dengan penjualan terbanyak akan mendapat pendapatan berupa bonus yang nominalnya dirahasiakan. Di satu sisi, mereka tentu sah-sah saja berjualan di wilayah mereka sendiri. Namun, di sisi lain, keberadaan mereka tentu menghilangkan kealamian Semeru sebagai wisata alam liar dan pendakian. Hanya, di sini saya tidak ingin menghakimi para pedagang Semeru itu benar atau salah. Yang pasti, banyak pendaki yang merasa terbantu dengan keberadaan mereka. Pendaki yang kehabisan logistik bisa benapas lega karena bisa membeli di sepanjang jalur pendakian. Saya pun bisa memaklumi usaha mereka berjualan di Semeru. Bahkan, saya merasa kagum kepada mereka. Berdasar cerita pedagang di Kali Mati yang saya temui tadi, setiap hari beliau harus memikul dagangannya yang bisa saja beratnya menyamai atau bahkan melebihi barang-barang bawaan para pendaki. Setiap hari beliau naik dari Ranupani sekitar pukul 5 pagi dan sampai di Kali Mati sekitar pukul 9 menjelang siang. Bila barang bawaan lebih berat, beliau biasanya baru sampai di Kali Mati pukul 10–11 siang. Beliau baru turun ke Ranupani sekitar pukul 2 siang, saat seluruh pendaki sudah turun dari Mahameru. Jika melihat perjuangan lelaki yang kira-kira sudah berusia hamper 50-an tahun itu, hati pendaki mana yang tidak tergugah –kecuali mereka yang skeptis. Jadi, menurut saya, harga seiris semangka atau satu biji gorengan Rp 2.500 tentu tidak ada apa-apanya, dibanding dengan perjuangan mereka. Satu hal lagi yang membuat saya malu, yaitu saat saya melihat beliau dengan senang memungut uang receh Rp 200 yang tercecer di sekitar lapak dagangannya. Beliau lalu tersenyum kepada saya dengan berkata, ’’200 rupiah juga uang, Mas. Rezeki.’’ Mungkin kita –atau bahkan saya sendiri– menganggap uang 200 rupiah tidak ada apa-apanya. Tapi, bagi mereka yang pandai bersyukur, sekecil apa pun rezeki yang didapat, mereka akan tersenyum. Begitu juga pedagang di Kali Mati tersebut. Saya mendapat pelajaran berharga (lagi) dari lelaki sederhana itu di belantara Semeru. Mereka yang tak jarang dipandang sebelah mata dan dianggap menghilangkan kealamian Semeru, namun di sisi lain keberadaan mereka juga dibutuhkan. Jadi, terserah saja bagaimana kita menyikapinya. Batas Pendirian Tenda di Ranu Kumbolo Satu hal yang paling mengecewakan saya saat sampai di Ranu Kumbolo adalah lokasi pendirian tenda di pinggir ranu. Pihak TNBTS ternyata memasang sekat berupa tali rafia di sepanjang bibir sungai untuk memberikan batasan tegas lokasi pendirian tenda. Pendaki dilarang mendirikan tenda di area sungai yang tidak ditumbuhi rumput. Saya sendiri selama mendaki Semeru tak pernah mendirikan tenda di area itu, tetapi sedikit ke atas di tanah yang ditumbuhi rumput. Mungkin sebelumnya banyak pendaki yang mendirikan tenda tepat di bibir sungai sehingga peraturan dan batas tersebut dipasang. Selain bentangan tali rafia di sepanjang bibir Ranu Kumbolo, di situ juga dipasangi papan pengumuman berwarna kuning dengan tulisan berwarna hitam: BATAS PENDIRIAN TENDA. Belum cukup dengan itu. Di selter Ranu Kumbolo ternyata ada petugas TNBTS yang bersiaga di sana. Mereka akan menegur setiap pendaki yang dirasa akan melanggar peraturan. Seperti jika ada pendaki yang mengambil air atau mencuci alat masak di sisi depan Ranu Kumbolo. Dengan TOA, mereka akan menginstruksi mereka untuk mengambil air atau mencuci peralatan masak di sisi kanan atau kiri ranu. Petugas juga akan memberikan peringatan keras bila ada pendaki yang berfoto dengan naik ke atas pokok-pokok pohon cemara yang tumbang dan menjorok ke ranu. Saya rasa peraturan-peraturan seperti itu tidak akan diberlakukan jika para pendaki bisa menjaga sikap masing-masing. Dengan begitu, pendaki lain yang memiliki persiapan matang untuk bertualang di alam bebas seperti Semeru dan tidak berkeinginan berbuat aneh-aneh di ranu tidak ikut dirugikan. Kini setiap pendaki seperti murid taman kanak-kanak yang terus dipantau guru dan dilarang ini itu. Lalu, ini salah siapa? Toilet-Toilet Jorok Pada awal pendakian saya tahun 2012, bertepatan dengan pemutaran film 5cm yang mengambil setting Semeru. Bekas keperluan syuting berupa toilet yang terbuat dari tripleks dan atap rerumputan di dekat selter Ranu Kumbolo masih berdiri. Saat itu, toilet tersebut sudah tidak digunakan lagi. Di situ terdapat WC jongkok dari porselen yang mampet dengan kotoran manusia yang kering, bercampur tisu basah, botol Aqua, dan sampah plastik lainnya. Baunya? Jangan ditanya lagi. Lalu, pada pendakian saya selanjutnya, yakni tahun 2013, toilet tersebut sudah dibongkar dan sudah lumayan bersih. Namun, saat saya kembali ke Semeru pada 28-28 Mei kemarin, ternyata dibangun toilet baru di tempat yang sama di mana toilet lama berdiri. Tapi, toilet itu kini dibangun menggunakan rangka besi dengan dinding seng bercat hijau. Bedanya, yang dipasang bukan WC jongkok dari porselen seperti dulu, tetapi berupa papan kayu yang diberi lubang, dan di bawahnya adalah tanah galian yang tentu saja lama-kelamaan akan penuh juga. Bukannya lebih baik, toilet seperti itu justru membuat kawasan Semeru menjadi semakin jorok. Kotoran bercampur tisu basah, botol Aqua, dan sampah lainnya berserakan di sana. Toilet seperti itu juga bisa ditemui di Kali Mati. Seandainya pendaki bisa lebih paham bagaimana bertualang di alam bebas, kondisi seperti itu mungkin tidak terjadi di Semeru. Bukankah lebih baik pendaki menggali lubang beberapa sentimeter untuk membuang kotoran, lalu menimbunnya lagi. Sehingga kealamian dan kebersihan Semeru tetap terjaga, tidak seperti sekarang. Lalu, siapa yang harus disalahkan? *** Saat ini, seperti itulah kondisi Semeru, cinta pertama saya. Ia kini seperti perempuan yang ringkih, belepotan, dan bersedih. Kecantikan alaminya perlahan-lahan pudar. Kabut putih tak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi. Udara dingin tak mampu melindungi lekuk tubuhnya lagi. Semeru, wajahmu kini. (*) 25–29 Mei 2015

  • Main Remi di Air Terjun Cuban Rais

    COBAN Rais terletak di dusun Dresel, desa Oro oro Ombo, Batu. Coban Rais memiliki tinggi 20 Meter dan terletak di ketinggian sekitar 1025 meter dari permukaan laut di lereng Gunung Panderman. Dulunya, coban Rais terkenal dengan nama Coban Sabrangan karena harus menyebrangi 14 sungai saat harus mencapai air terjun ini. Perjalanan menuju ke Coban Rais begitu asri dengan suasana khas pegunungan yang masih dingin dan sejuk. Jarak dari bumi perkemahan sekitar 3,5 Km berjalan kaki. Suasannya sekitar air terjun masih sepi dan belum ada perumahan. Pada beberapa meter perjalanan, jalan yang di tempuh akan semakin menyempit dan menanjak, bahkan di beberap area berbatasan langsung dengan tebing yang curam. Untuk mereka yang suka tantangan diharapkan untuk tetap berhati-hati, karena setelah sampai ke puncak air terjun pengalaman berharga akan membayar semua peluh dalam perjalanan. (*)

  • Ubek-Ubek Mojokerto: Candi Brahu, Budha Tidur, dan Pendopo Trowulan

    CANDI Brahu merupakan salah satu candi yang terletak di dalam kawasan situs arkeologi Trowulan, bekas ibu kota Majapahit. Lokasi persisnya ada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, atau sekitar 2 kilometer utara jalan rayaMojokerto—Jombang. Candi Brahu dibangun dengan batu bata merah, menghadap ke arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan berketinggian 20 meter. Candi Brahu dibangun dengan gaya dan kultur Budha. Diperkirakan, candi ini didirikan pada abad ke-15 Masehi meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan candi ini berusia jauh lebih tua daripada candi-candi lain di sekitar Trowulan. Menurut buku Bagus Arnawa, kata Brahu berasal dari kata Wanaru atau Warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci seperti disebutkan dalam prasasti Alasantan, yang ditemukan tak jauh dari Candi Brahu. Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok bertanggal 9 September 939 (861 Saka), Candi Brahu disebut merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakar pun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Hal ini diverifikasi setelah dilakukan pemugaran candi pada tahun 1990 hingga 1995. Mengutip buku  Mengenal Peninggalan Majapahit di Daerah Trowulan  oleh IG Bagus Arnawa, diduga di sekitar candi ini banyak terdapat candi-candi kecil. Sisa-sisanya yang sebagian sudah runtuh masih ada, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar candi, banyak ditemukan benda benda kuno, semacam alat-alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca, dan lain-lainnya. Patung Budha Tidur di Mojokerto Patung Budha tidur  ( sleeping Budha ) menjadi salah satu tujuan wisata religi di  Bejijong – Mojokerto. Patung ini dibuat pada 31 Desember tahun 1989. Memasuki komplek Maha vihara ini hati merasa teduh dan damai. Pepohonan rindang dan suasana yang rapi pada komplek  Maha vihara ini membuat para pengunjung betah. Saya mengagumi kesahajaan dan kesucian para pemimpin umat Budha yang ada saat ini. Umat Budha dikenal sangat toleransi dengan berbagai agama di dunia. Di Indonesia sendiri ada banyak bukti betapa peradapan budaya dari agama Budha ini sangat tinggi sebagaimana ditemukan pada relief candi Borobudur. Memasuki tempat di mana patung Budha tidur, suasana begitu tenang.  Saya bertemu dengan beberapa wisatawan asing yang sedang berfoto dekat patung. Ada keinginan untuk segera mengabadikan patung Budha tidur ini. Kesulitan untuk mendapat posisi yang pas agar dapat memotret seluruh tubuh Budha tidur ini. Patung ini  berbahan fiber dengan rangka besi. Panjangnya 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4, 5meter. Merupakan patung Budha tidur terbesar ke tiga di Asia setelah Bangkok, dan terakhir patung Budha tidur yang di  Bandung ( Sumber Media Indonesia.com/2011) . Pemeliharaan patung ini dilakukan oleh para Bhiksu dan Bhiksuni. Saat pengambilan gambar dengan kamera saku beberapa kali gambar terpotong bagian kaki dan ujung kepala.  Seharusnya waktu itu saya menggunakan fitur panorama untuk memotret. Untunglah dengan segenap usaha akhirnya berhasil mendapat gambar utuh ini. Mengapa posisi patung Budha ini tidur? Ternyata  dari beberapa sumber disebutkan posisi tidur ini menggambarkan posisi Budha saat parinibanna. Dimana Sang Budha digambarkan seperti sang penguasa hutan yakni singa yang sedang tidur. Budha adalah penguasa segala mahkluk di bumi.Kemudian ada pula yang menyebutkan posisi ini adalah posisi meditasi sang Budha. Sumber lain menyebutkan posisi Budha tidur ini menggambarkan wafatnya sang Budha Gautama, dan kolam teratai  berada di sekitar patung ini menggambarkan laut dimana abu sang Budha Gautama larung. Di sini adalah salah satu tempat beribadah umat Budha dalam lokasi patung Budha tidur. Agama Budha merupakan salah satu agama tertua di dunia. Pendopo Agung Pendopo Agung Mojokerto adalah sebuah bangunan khusus khas nuansa Mojopahit dan sering difungsikan sebagai tempat pertunjukan kesenian, studi tour, lomba, tempat pertemuan dengan suasana yang teduh dan nyaman juga sebagai tempat untuk istirahat/rekreasi. Lokasinya berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Tempat tersebut diyakini sebagai pusat kerajaan Majapahit. Bagian bangunan asli yang masih tersisa dari Pendopo Agung hanya 26 buah umpak (batu penyangga tiang) saja, sedangkan bangunan Pendopo Agung yang sekarang berdiri merupakan bangunan baru. Di pendopo ini pula, diyakini Mahapatih Gajah Mada dahulu mengikrarkan Sumpah Palapa (Palapa kemudian dipakai sebagai nama satelit komunikasi pertama yang ‘menyatukan’ komunikasi di seluruh Indonesia). Di depan Pendopo Agung, di sebelah kiri, terdapat patung sang Mahapatih, dan di depan pendopo terdapat patung Raden Wijaya. (*)

bottom of page