top of page

Search Results

165 results found with an empty search

  • Pertama Kali Mendaki Gunung Semeru

    MASIH di tahun 2012. Belum genap satu bulan setelah pendakian Gunung Welirang, saya berkesempatan untuk mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Semeru. Gunung Semeru memiliki ketinggian 3.676 mdpl sekaligus menjadi gunung berapi tertinggi nomor 3 di Indonesia setelah Gunung Kerinci (3.805 mdpl) dan Gunung Rinjani (3.726 mdpl). Semeru hanya memiliki satu jalur pendakian, yaitu melalui Desa Ranupani, Lumajang. Untuk menuju Ranupani, dari arah Malang (Terminal Arjosari) pendaki bisa menggunakan angkutan umum jalur TA (Tumpang-Arjosari Rp 5.000) dan turun di pasar Tumpang. Di pasar Tumpang, pendaki bisa menggunakan hartop atau Jeep untuk menuju Desa Ranupani. Tarif kendaraan ini adalah Rp 450.000 per Jeep (September 2011). Satu Jeep bisa diisi 10–15 orang. Jika isi dompet pendaki terbilang tipis dan ingin mencari transportasi yang murah, bisa naik truk. Tarif menggunakan truk Rp 30.000 per orang, tapi harus bersedia ditempatkan dengan pupuk kandang atau sayur. Dalam perjalanan dari Tumpang ke Ranupani, truk akan beberapa kali berhenti untuk menurunkan pupuk-pupuk tersebut. Truk berangkat dari Tumpang ke Ranupani sekitar jam 5.00 sampai jam 7.00 pagi. Ranupani merupakan tempat untuk mengurus perizinan pendakian. Persyaratan yang diharuskan untuk mendaki adalah surat kesehatan (bisa disiapkan dari rumah atau minta di Puskesmas Tumpang/Rp 5.000). Karcis masuk TNBTS (Rp 2.500/orang), asuransi (Rp 2.000/orang), dan surat izin pendakian (Rp 5.000/kelompok). Ada juga syarat fotokopi KTP. Pendaki bisa mengurus surat izin pendakian di Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di dekat Pasar Tumpang atau di Pos Ranupani. Pendaki mulai berjalan kaki mulai dari Ranupani. Ranupani–Ranu Kumbolo Setelah selesai mengurus surat perizinan, pendaki sudah bisa mulai melakukan pendakian dari Ranupani. Jarak antara Ranupani sampai Ranu Kumbolo sekitar 4 jam. Dalam perjalanan, pendaki akan melewati 4 pos pemberhentian. Namun, pos 4 sudah sangat dekat dengan Ranu Kumbolo sehingga para pendaki lebih memilih untuk langsung turun ke ranu daripada berhenti di pos 4. Ranu Kumbolo adalah salah satu primadona Gunung Semeru. Ranu Kumbolo berada di ketinggian 2.400 mdpl, menjadi tempat peristirahatan dan berkemah bagi para pendaki. Setibanya di ranu, rasa lelah seolah impas dengan pesona yang akan Anda rasakan. Pemandangan di sekitar danau sangat meneduhkan mata. Perpaduan pohon cemara, semak-semak yang hijau, dan langit yang biru, menjadi refleksi tersendiri. Pesona Ranu Kumbolo akan mencuri hati Anda! Ranu Kumbolo seolah oase yang menyegarkan. Perpaduan alam yang hijau dan segarnya pemandangan danau, dijamin bisa merilis segala penat dan lelah Anda. Ditambah suasana yang dingin dan sejuk, Ranu Kumbolo pantas disebut sebagai tempat yang sempurna untuk bersantai. Tidak hanya itu, sunrise di Ranu Kumbolo akan menambah rasa kagum Anda. Panorama matahari terbitnya sangat cantik dan memesona. Warna cahaya mentari yang keemasan terpantul oleh permukaan danau. Tidak ada yang membantah kecantikan sunrise di Ranu Kumbolo. Sunrise di Ranu Kumbolo akan menambah rasa kagum Anda pada ciptaan Tuhan yang Maha Indah. Bagi pendaki yang nekat tidak membawa tenda (seperti saya dan tiga teman saya) bisa membawa sleeping bag saja dan bermalam di selter Ranu Kumbolo. Tapi, saran saya, lebih baik membawa tenda sendiri untuk jaga-jaga tidak kebagian tempat di selter. Saat saya naik, pendaki lain tidak banyak. Jadi, selter masih muat untuk bermalam. Ranu Kumbolo–Kalimati Setelah bersantai di Ranu Kumbolo, pendaki harus menyiapkan stamina ekstra lagi untuk melakukan pendakian selanjutnya menuju Kalimati (batas terakhir pendakian). Ujian pertama adalah tanjakan yang disebut dengan Tanjakan Cinta yang berada di sebelah barat danau Ranu Kumbolo. Kemiringannya sekitar 45 derajat. Julukan Tanjakan Cinta bermula dari mitos yang akrab di kalangan pendaki. Menurut beberapa sumber, mitos itu lahir dari kisah tragedi dua sejoli yang sudah bertunangan saat mendaki tanjakan tersebut. Konon, waktu itu, si cowok melewati tanjakan tersebut lebih dulu. Sementara calon istrinya kepayahan naik tanjakan. Cowok tadi cuma melihat dari atas sambil foto-foto. Nahas, pendaki cewek tiba-tiba pingsan dan jatuh terguling ke bawah, kemudian tewas. Karena itu, konon, bagi siapa saja yang berhasil menaiki Tanjakan Cinta tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, dipercaya kehidupan cintanya akan berakhir dengan bahagia. Yang percaya silakan dicoba, yang tidak percaya boleh mencoba juga. Terserah masing-masing. Setelah berhasil melewati tanjakan cinta, pendaki akan disuguhi pemandangan yang luar biasa indah di Jambangan dan Oro-Oro Ombo. Padang rumput Jambangan berada di ketinggian 3.200 mdpl dengan tumbuhan seperti cemara, mentigi, dan bunga edelweiss . Karena tempatnya datar alias tidak bergelombang, Jambangan menjadi tempat favorit para pendaki untuk beristirahat sambil menikmati udara sejuk. Di sini juga menjadi tempat ideal untuk mengabadikan Gunung Semeru dari kejauhan. Sedangkan padang rumput di Oro-oro Ombo membentang seluas 100 hektare. Tempat ini berada di lembah yang dikelilingi bukit-bukit gundul dengan tipe ekosistem asli tumbuhan rumput. Lokasinya berada di bagian atas tebing yang mengelilingi Ranu Kumbolo. Uniknya, padang rumput ini mirip sebuah mangkuk berisi hamparan rumput berwarna kekuning-kuningan. Pada waktu-waktu tertentu, di beberapa sudut Oro-Oro Ombo, air hujan menggenang. Di sini juga terdapat tanaman hama yang jika berbunga sangat indah. Ungu warnanya. Nama Oro-Oro Ombo dalam bahasa Jawa memiliki arti padang rumput yang luas. Warga setempat dan para pendaki sepakat bahwa panorama Oro-Oro Ombo terindah kedua setelah puncak Semeru. Keindahan itu membuatnya menjadi tempat yang cocok untuk orang-orang yang ingin menenangkan pikiran. Pohon pinus tumbuh subur di kawasan ini. Itu membuat pemandangannya tidak berbeda jauh dengan dataran sabana di Eropa. Ketika musim hujan, padang rumput ini tampak hijau dan menjadi waktu terindah di sepanjang musim di Indonesia. Titik-titik embun senantiasa berada di pucuk dedaunan. Menetes pelan dan memberikan nuansa eksotisme yang teramat sangat. Sayangnya, pendakian ke puncak Semeru lebih baik dilakukan pada musim kemarau, yakni bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, dan September. Mendaki di musim hujan sangat berbahaya karena sering terjadi badai dan tanah longsor. Setelah melewati keindahan Jambangan dan Oro-Oro Ombo, para pendaki bisa istirahat sejenak di Cemoro Kandang untuk kembali menikmati lanskap yang baru saja terlewati. Setelah merasa stamina sudah terkumpul kembali, pendaki bisa melanjutkan pendakian melewati rimbun pepohonan cemara untuk menuju Kalimati. Sepanjang perjalanan akan ditemukan jalan yang cukup mendaki, tetapi tidak terlalu curam. Setelah melakukan perjalanan jauh, rasa lelah akan sedikit terbayar ketika sudah mendekati Kalimati. Di sekitar perjalanan akan ditemukan ladang edelweiss. Namun, jika musim hujan/atau kebetulan sering hujan, bunga akan tampak tidak terlalu bagus. Sayangnya, ketika saya ke sana, beberapa kali turun hujan sehingga edelweiss-nya tidak terlalu bagus. Dari sini sudah dekat Kalimati dan bisa dengan jelas melihat puncak Mahameru. Bagi pendaki yang tidak membawa tenda bisa bermalam di selter Kalimati. Di selter Kalimati terdapat lima ruangan. Jadi, jika Anda takut tidak kebagian tempat, lebih baik membawa tenda sendiri. Beruntung, kami mendaki saat tidak banyak pendaki. Yang bawa tenda bisa mendirikannya di sebelah kanan selter di mana terdapat pohon cemara rindang yang bisa meminimalkan terpaan angin malam. Kalau mendirikan tenda di sebelah kiri selter, di situ merupakan hamparan pasir tanpa pepohonan. Angin bisa terasa kencang. Di Pos Kalimati kami melihat pendaki dari Inggris. Esoknya kami bertemu dia juga di puncak. Dia mendaki Semeru seorang diri dengan ditemani porter. Di Kalimati, pendaki bisa bersantai lebih dulu dan mendirikan tenda. Namun, terkadang ada juga pendaki yang nge-camp lebih ke atas, di Pos Arcopodo. Tapi, menurut aturannya, batas pendakian adalah sampai Kalimati. Setelah menikmati santapan makan sore/malam, pendaki disarankan untuk sesegera mungkin tidur untuk mengembalikan stamina. Sebab, kalau mau melihat sunrise di puncak Mahameru, pendaki harus bangun dini hari untuk memulai summit attack . Kalimati–Arcopodo Pagi itu udara di luar selter Kalimati begitu dingin. Udara menembus masuk ke dalam selter. Jam 2 dini hari kami sudah bangun. Kami harus bersiap untuk naik ke puncak. Dalam keadaan seperti itu, tidur kembali adalah pilihan surgawi. Enak betul. Namun, kami sadar tujuan kami naik gunung. Menggapai puncak selagi sanggup. Kalau tidak sanggup, jangan dipaksakan. Karena itu, kami siap-siap. Setelah mengisi perut dan menyiapkan segala perbekalan secukupnya, kami mulai mendaki sekitar jam 3 pagi. Dalam perjalanan menuju puncak, pendaki akan melewati Pos Arcopodo . Pos yang legendaris. Apa dan di manakah Arcopodo? Arcopodo adalah gabungan dua kosakata bahasa Jawa, archa (arca) dan padha (sama/kembar). Konon, di sana ada sepasang arca kembar. Berada di ketinggian 3.002 mdpl. Keberadaannya tersembunyi. Susah untuk menemukannya. Arcopodo–Puncak Mahameru Setelah batas vegetasi, yang terhampar menjulang ke atas adalah jalan pasir berbatu. Di samping kanan dan kiri adalah lereng yang curam. Di area itu, ada spot tengkorak bernama Blank 75. Tidak sedikit pendaki yang tersesat dan meninggal di sekitar area itu. Di sinilah stamina dan konsentrasi pendaki benar-benar dikuras habis. Jalur pendakian berupa pasir dan batu serta lereng yang curam tidak jarang membuat nyali pendaki ciut kemudian memutuskan kembali turun sebelum mencapai puncak abadi para dewa. Keuntungan saya ketika mendaki adalah pasir yang sedikit padat karena malamnya turun hujan. Tapi, usaha yang tak kenal putus asa akan terbayar ketika pendaki berhasil mencapai puncak. Kalian akan menjadi orang tertinggi di Pulau Jawa dan tentu saja melihat pemandangan sekitar yang begitu amazing! Rasa lelah pun seakan hilang begitu saja ketika melihat lukisan alam yang mahasempurna. Mahameru adalah sebutan terkenal puncak Gunung Semeru dengan ketinggian sekitar 3.676 mdpl. Itu menempatkannya sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Semeru termasuk salah satu gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur, terletak di antara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang. Saat berada di puncak, Anda perlu berhati-hati. Di sana ada kawah Jonggring Saloko yang masih rutin menyemburkan asap beracun. Karena itu, pendaki dilarang mendekati area kawah dan disarankan turun sebelum jam 12 siang. Gie, IN MEMORIAM Soe Hok Gie, seorang aktivis, penulis, dan pencinta alam. Dia tewas di puncak Mahameru karena (konon) menghirup asap beracun dari kawah Jonggring Saloko. Gie meninggal pada 16 Desember 1969, sehari menjelang ulang tahunnya yang ke-27 tahun. Intelectual abortus. Begitu dia dikenal. Seorang intelektual yang mati muda. Gie meninggalkan banyak cerita. Dia seorang mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, dia seorang pendiri Mapala UI, dia seorang penulis, seorang mahasiswa yang kritis dan juga seorang pendaki gunung. INDONESIAN GREEN RANGER MAHAMERU Yang mencintai udara jernih Yang mencintai terbang burung-burung Yang mencintai keleluasaan & kebebasan Yang mencintai bumi Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung Mereka tengadah & berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi Kembali ke pangkuan bintang-bintang Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi Sementara saputangan menahan tangis Sementara Desember menabur gerimis 24 Desember 1969 Sanento Yuliman Ketemu Fans Arsenal Asal Inggris Ketika mencapai puncak, saya melihat ada bule yang terus mengamati saya ketika saya berfoto-foto dengan bendera dan syal Man United. Ngomong-ngomong , saya fans Man United lho . Nah, di samping selter Kalimati, ada satu tenda. Itu adalah tenda milik bule tersebut. Ketika saya dekati dan saya tanya, dia mengaku berasal dari London dan mengaku fans Arsenal. Tanpa ba-bi-bu , langsung saja saya minta foto bareng. Hehe… Oke, ini sedikit catatan pendakian kedua saya dan untuk pertama kalinya ke Semeru. Total jarak antara Ranupani–Puncak Mahameru adalah sekitar 17 kilometer. Tapi, jangan anggap sama dengan kilometer jalan biasa. Ini adalah 17 kilometer yang sangat menakjubkan bagi saya. Sepanjang jarak itu, saya bisa menikmati sajian pemandangan dan panorama alam yang luar biasa. (*) Lumajang, 17–21 Oktober 2012

  • Kamping Semalam di Gunung Bromo

    SAAT kota terasa sumpek, tidur di gunung bisa menjadi alternatif untuk me- refresh pikiran dari kepenatan. Saya berdua bersama saudara pun meluncur ke Gunung Bromo. Setelah 2009, baru kali ini saya bisa kembali menyambangi Bromo. Karena akan kamping, perbekalan yang kami bawa tentu sedikit lebih banyak daripada sekadar traveling biasa. Namun, karena belum punya perlengkapan outdoor , untuk tenda, nesting , dan kompor portable kami harus menyewa. Seingat saya, tarif sewa tenda per hari kena Rp 25.000. Tarif peralatan yang lain saya lupa. Nah, saran saja, kalau Anda berniat naik gunung atau kamping outdoor dengan peralatan menyewa, coba cek dulu perlengkapannya saat masih berada di toko. Jangan sampai Anda senasib dengan saya. Saat kamping, hujan turun tidak begitu deras. Namun, tenda yang kami sewa ternyata bocor. Terdapat beberapa lubang kecil di beberapa bagian layer tenda. Ditambah kami tidak membawa lakban untuk menambalnya. Jadilah kami tidur meringkuk di sedikit area dalam tenda yang masih terselamatkan dari air. Tidak nyenyak memang, tapi itu masih lebih baik daripada tidur di luar tenda. Hehe… Saya berdua dengan saudara meluncur dari Surabaya dengan mengendarai motor Supra X-125 keluaran 2005. Motor ini juga saya pakai saat merayakan pergantian tahun 2009 lalu. Masih tangguh sih untuk ke kaldera Bromo. Kalau ke penanjakan, ampun. Bromo bisa dijangkau dari dua akses utama. Dari Probolinggo dan Pasuruan. Jarak dari Kota Probolinggo ke Bromo sekitar 45 kilometer. Rutenya ditempuh menuju Ketapang, lalu menuju Sukapura. Di daerah ini, banyak penginapan untuk melepas lelah. Dari Sukapura, perjalanan dilanjutkan menuju Ngadisari dan kemudian Cemoro Lawang. Tepat di bibir Kaldera. Perjalanan tersebut bisa ditempuh sekitar 1,5 jam. Nah, untuk menuju kaldera Bromo dari Pasuruan, Anda perlu menuju Tosari lewat Pastepan dengan jarak tempuh sekitar 45 kilometer. Dalam perjalanan ini, Anda bisa menggunakan transportasi bus maupun angkot. Dari Tosari, perjalanan dilanjutkan menuju Wonokitri dan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Bromo (jarak tempuh sekitar 14 kilometer). Bisa juga dengan naik Jeep. Kalau mau lebih mudah, naik motor saja. Tapi, diharuskan naik motor selain motor matik. Tanjakan di Bromo bisa menyiksa motor matik. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara administrasi, gunung api yang masih aktif ini berada di empat wilayah. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung yang selalu mengeluarkan asap dari kawahnya ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Ingat atau tahu film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastro dan Christine Hakim? Film itu mengambil setting di kaldera Bromo. Gunung Bromo mempunyai kawah aktif. Selama abad XX, Bromo meletus tiga kali dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1974. Nama Bromo berasal dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah satu Dewa Utama Hindu. Selain terkenal sebagai objek wisata, gunung ini dipercaya sebagai gunung suci bagi Suku Tengger, penduduk Bromo. Setahun sekali, masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Kami waktu itu mendirikan tenda di samping tembok Pura Luhur Poten. Berada di bawah kaki kawah Gunung Bromo, pura ini menjadi tempat ibadah yang sakral bagi Suku Tengger yang yang beragama Hindu. Suku Tengger adalah masyarakat yang menghuni kawasan Taman Nasional Bromo. Masyarakat setempat percaya bahwa Pura Luhur Poten menjadi kediaman Isa Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan perwujudan dari Dewa Brahma. Brahma adalah satu di antara tiga dewa besar dalam agama Hindu selain Siwa dan Wisnu. Menurut sejarah, Pura Luhur Poten didirikan pada tahun 2000 di kawasan kaldera atau lautan pasir Bromo. Arsitekturnya merupakan percampuran budaya Jawa dan Bali. Keduanya memang sangat kental dengan nuansa agama Hindu. Pura ini juga bisa menjadi objek wisata yang artistik bagi pengunjung. Namun, mengingat pura ini adalah tempat ibadah, pengunjuk hanya bisa menikmatinya dari luar pagar. Malam pun berganti pagi. Matahari menyembul di antara barisan bukit Bromo. Kabut tipis tampak menyelimuti. Udara dingin yang memeluk tubuh perlahan bercampur dengan kehangatan. Sungguh waktu yang pas untuk masak nasi dan menyeduh kopi. Setelah agak siang, kami bergegas menuju bibir kawah di atas sana. Kami perlu menaiki 250 anak tangga untuk menikmati keindahan di sekeliling Bromo. Dari atas sini, segala yang tampak di bawah sana terlihat sangat kecil. Termasuk Pura Luhur Poten yang tampak kecil di tengah lautan pasir. Setelah turun, kami mampir sejenak di penjual kopi di kaki gunung. Penjualnya perempuan tua. Ia berjualan sambil menikmati rokok. Ya, jangan heran kalau main ke sini dan melihat baik laki-laki maupun perempuan setempat merokok. Di sini, kopi dan rokok seperti sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan, baik laki-laki maupun perempuan. Di sini pelancong juga bisa membeli bunga abadi edelweiss . Saat mendaki gunung, haram hukumnya memetik edelweiss . Tapi di Bromo berbeda. Anda bisa membeli bunga edelweiss sebanyak yang Anda suka. Harganya bervariasi. Sebagian masyarakat Tengger memang sengaja membudidayakan bunga edelweiss sendiri untuk dijual kepada traveler . Jadi nggak perlu takut di- bully di media sosial kalau pamer foto bunga edelweiss dari Bromo. Halal. Kami hanya nge-camp semalam di Bromo. Takut tenda bocor kalau hujan lagi. Hehe… (*) Lumajang, 12 Maret 2013

  • Menengok Semeru Sekali Lagi

    KETAGIHAN. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan perasaan saya ketika pertama kali mendaki Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl itu. Karena itu pula, dua bulan setelah pendakian yang pertama, saya kembali ke Semeru. Semeru tidak akan pernah habis untuk dibicarakan dan tak akan pernah bosan untuk dijejaki. Pendakian Mahameru kali ini menjadi yang kedua bagi saya dan memiliki kesan berbeda dari pendakian pertama. Memasuki musim hujan, Semeru setiap harinya selalu diguyur hujan yang membuat jalur pendakian sedikit becek dan licin. Pendaki harus berhati-hati mencari pijakan yang aman agar tidak terpeleset mengingat sebelah kiri jalur adalah lereng. Pendaki juga perlu hati-hati dengan ranting-ranting yang menutup jalan maupun pohon yang setiap saat bisa tumbang. 22 Desember 2012 Pada Sabtu siang tanggal 22 Desember 2012 kami memulai pendakian. Namun, sebelum berangkat, kami mengisi perut dulu agar memiliki tenaga yang cukup untuk sampai di Ranu Kumbolo. Maka dari itu, kami memesan rawon di warung Ranupani. Rawon Ranupani ini kemudian menjadi makanan favorit saya saat mendaki Semeru. Baik saat akan naik maupun setelah turun gunung. Saat pendakian pertama, saya juga memesan rawon ini. Setelah kenyang, sekitar pukul 10 siang, kami bergegas memulai pendakian. Pendakian dari Pos Perizinan Ranupani sampai Pos 1, 2, dan 3 bisa dibilang tidak ada sesuatu yang berkesan, kecuali rasa lelah dan jalanan yang agak licin tentunya. Belum lagi kalau-kalau hujan mulai mengguyur. Namun, ketika mendekati Pos 4 yang berada di atas Ranu Kumbolo, pemandangan yang berbeda terhampar megah. Di bawah sana, terhampar Ranu Kumbolo dengan keteduhannya. Kami sampai di pos ini sekitar pukul 15.30. Ranu Kumbolo terlihat lebih cantik dengan padang rumput di sekelilingnya yang tampak lebih hijau. Sayangnya, ketika sampai di Ranu Kumbolo, hujan turun sehingga danau tertutup kabut. Kali ini pun Semeru dibanjiri banyak pendaki. Mungkin mereka merasa penasaran setelah melihat film 5cm yang mengambil setting Semeru. Karena hujan terus turun, kami berdiam cukup lama di Pos 4 sambil menikmati keindahan Ranu Kumbolo dari atas. Sekitar jam empat lebih, hujan mulai berhenti. Hanya menyisakan sedikit gerimis. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju selter Ranu Kumbolo untuk beristirahat. Di sekitar danau, banyak tenda yang berdiri. Sama dengan pendakian yang pertama, kali ini kami juga memilih untuk bermalam di dalam selter bersama pendaki lainnya. Kami sebenarnya membawa tenda. Tapi, kala itu rasanya malas mendirikan tenda di bawah gerimis. Jadi, kami tetap menyimpan tenda di keril dan tidur di selter hanya dengan menggunakan sleeping bag. Ingat ya, haram hukumnya mendirikan tenda di dalam selter atau pos. Tidak banyak yang kami lakukan di selter, kecuali ngobrol dengan sesama pendaki, masak-masak bareng. Dan, ketika di tengah malam sulit tidur karena dingin menembus masuk, kami luangkan waktu untuk bermain kartu sampai kantuk menyergap. Hawa dingin Semeru di musim hujan memang membuat tidur tidak terlalu nyenyak. Namun, sedikit tidur saja sudah merupakan anugerah. Itu sudah cukup mengembalikan tenaga untuk melanjutkan pendakian esok harinya. 23 Desember 2012 Pagi itu Ranu Kumbolo bertudung kabut tipis, berselimut hawa dingin. Matahari tampak sedikit di balik awan tebal berkabut. Itulah keindahan pagi hari yang menyambut kami. Hari Minggu waktu itu. Setelah berkemas dan selesai sarapan, kami menyiapkan mental untuk melanjutkan mendaki. Dari Ranu Kumbolo, kami harus melalui Tanjakan Cinta. Tentu kalian sudah tahu tentang mitos tanjakan ini. Kalian juga bebas menafsirkannya sendiri. Saya sendiri berhasil menaiki tanjakan itu tanpa berhenti sampai di atas tanjakan, tidak seperti pada pendakian pertama. Wow, setelah itu, padang Oro-Oro Ombo menyambut kami dengan hamparan rerumputan, bebunga, dan ilalang yang masih kering. Ada sebagian area lagi yang sudah menghijau. Perpaduan yang harmonis. Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan langkah. Menurun. Melintasi padang ini menjadi semakin nyaman karena tidak ada debu bertebaran seperti pada pendakian pertama. Tentu saja tidak lupa pose dulu. Foto-foto. Itu kan tujuan lain mendaki gunung? Jangan bohong! Sampai di Pos Cemoro Kandang, kami istirahat lagi. Santai saja. Nikmati perjalanan dan pendakian tanpa tergesa-gesa. Mendaki adalah hobi, sering istirahat adalah passion . Hehehe … Apalagi trek dari pos ini ke pos selanjutnya, Pos Kalimati, lumayan panjang dan berliku-liku, naik turun. Baiknya memang istirahat dulu. Menikmati camilan yang dibawa. Setelah badan oke, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos Kalimati. Begitu sampai di Kalimati, wow! Banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda di sana. Kami pun seakan berebut tempat ternyaman untuk mendirikan tenda. Baiklah, di sini kami mendirikan tenda, makan, ngrokok , dan istirahat. Kami santai-santai dulu. Nggak perlu buru-buru nanjak . Apalagi hari sudah sore. Selepas isya kami sudah tertidur pulas. 24 Desember 2012 Pukul 00.30 dini hari, alarm di handphone berbunyi. Pertanda kami sudah harus bangun untuk bersiap-siap mencium bau pasir Mahameru. Setelah berkemas, tanpa makan, kami memulai pendakian di tengah malam, sekitar pukul 01.00. Di sini mental saya kembali diuji. Jalur dari Kalimati menuju Arcopodo sangat menanjak dan sempit. Treknya juga licin karena banyak akar-akaran yang menyembul. Belum lagi ancaman longsoran yang membahayakan jika tidak berhati-hati. Jika berniat menapaki Mahameru, yang harus diperhatikan adalah jangan sampai tidak membawa air minum atau makanan ringan. Karena hawa dingin seperti saat itu cukup berpotensi menguras tenaga dengan cepat. Jika sudah begitu, dan perut dalam keadaan kosong, dijamin puyeng kepala ente . Perut kerucuk-kerucuk. Pucat pasi mukamu! Hahaha… Maaf, ini pengalaman saya yang tidak patut ditiru. Kejadian itu menimpa saya di trek pasir berbatu di atas Cemoro Tunggal. Medan mulai berat-beratnya. Saya lama duduk. Namun, terlalu lama duduk hanya akan menimbulkan rasa kantuk dan udara akan terasa semakin dingin. Dalam keadaan seperti itu, saya pun berusaha menghilangkan urat malu saya untuk sekadar meminta sedikit air minum kepada pendaki lainnya. Untungnya banyak pendaki yang baik. Kalau nggak ada bagaimana? Wassalam mungkin. Ini juga tidak patut ditiru. Sebelum mendaki dan muncak , siapkan segala sesuatunya. So , pendakian dari Blank 75 sampai ke Puncak Mahameru menjadi pendakian paling berat bagi saya. Pasti untuk pendaki lain juga. Cukup hati-hati dan bulatkan tekad. Namun, kalau sadar kondisi sudah tidak memungkinkan, segera balik kanan dan turun kembali. Tidak perlu memaksakan diri. Tak akan lari gunung dikejar. Masih ada waktu yang lain. Itu terjadi pada dua teman saya. Sekitar jam 7 pagi saya baru berhasil sampai puncak. Tentu saja dengan perjuangan yang berat. Belum lagi saya harus memungut cokelat milik pendaki lain yang jatuh di pasir dan terabaikan. Itu saya lakukan hanya untuk mengisi perut yang kerucuk-kerucuk. Hehe … Sampai di puncak, saya nggak bisa langsung berpose di plang Mahameru. Antreannya bukan main banyaknya. Maklum banyak sekali pendakinya. Kalau mau cepat sih bisa: bikin sendiri dari rumah. Sambil menunggu antrean foto, saya mencari pendaki yang mau memberi sedekah, ya sekadar minum dan sedikit makanan kecil. Alhamdulillah, ada pendaki dari Malang yang berbaik hati. Setelah mengusir dahaga dan perut kosong dengan meminta-minta dan para pendaki yang berfoto agak sepi, kami langsung saja berpose. Namun, ada pemandangan yang berbeda ketika sampai di puncak. Memoriam Gie dan Idhan Lubis sudah tidak ada. Ya, pihak Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru mengeluarkan peraturan untuk membongkar semua plang atau benda-benda memoriam yang ada di puncak. Pihak pengelola melakukannya demi kelestarian Mahameru dan hanya meninggalkan satu plang bertulisan Mahameru. Sekitar pukul 09.30 kami sudah harus turun gunung. Sebab, udara terasa semakin dingin hingga menusuk tulang. Belum lagi ancaman bahaya asap beracun dari kawah Jonggring Saloko. Tidak sama dengan saat naik yang membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam, waktu yang dibutuhkan saat turun hanya 2-3 jam. Kami kembali ke tenda di Kalimati. Tidak langsung pulang. Kami harus bermalam lagi di Kalimati. Hujan yang mengguyur menumpas semangat kami untuk segera turun ke Ranu Kumbolo. Tidak banyak yang kami lakukan selain masak, makan-makan, dan tidur sampai angin pagi membelai mesra. 25 Desember 2012 Selasa siang, setelah makan, membongkar tenda, dan packing selesai, kami bergegas turun menuju Ranu Kumbolo. Tidak ada yang paling menyenangkan selain perjalanan turun, canda tawa riang gembira tak jarang hinggap di sepanjang jalur. Bahkan, beberapa kali kami adu kecepatan dengan berlari! Tak terasa perjalanan begitu cepat saat tersadar kami sudah sampai di Ranu Kumbolo. Di sini kami berhenti sejenak untuk menghela napas. Memandangi danau ini untuk yang terakhir kali sebelum benar-benar turun. Tidak lama di sini, hujan kembali turun yang menunda niat kami untuk segera turun. Kami berteduh sebentar di selter, menunggu hujan reda. Hampir setengah jam kami menunggu, hujan akhirnya reda juga. Tanpa menunggu lama, kami segera bergegas meninggalkan Ranu Kumbolo. Selamat tinggal Semeru. Sampai jumpa lagi di lain waktu. (*) Semeru, 22-25 Desember 2012

  • Pendakian Gunung Rinjani

    SETELAH tahun lalu dua kali menapakkan kaki di Gunung Semeru, tahun ini saya mbolang ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, untuk menyapa Gunung Rinjani. Konon katanya, gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl ini adalah gunung terindah di Asia Tenggara! Barangkali itu ada benarnya. Sebab, saat naik Rinjani, saya bertemu dengan banyak orang dari luar negeri. Baik dari Asia maupun Eropa. Mantap. Saya harus memulai tulisan ini dari Surabaya. Alih-alih menunggu pengumuman hasil interview kerja, saya justru naik gunung. Kami memilih transportasi yang murah. Ngeteng naik bus dan ojek. Surabaya-Lombok. Saya dan dua teman lainnya, sebut saja Lin dan Bakh, memulai perjalanan dari Terminal Purabaya, Sidoarjo, tanggal 06 Juni 2013 pukul 12.13 WIB. Untuk menghemat biaya, kami memutuskan untuk membeli tiket bus ekonomi eceran. Jadi, sistem eceran yang saya maksud seperti ini. Dari Purabaya, kami membayar tiket bus biasa (tanpa AC) tujuan Probolinggo seharga Rp 20.000. Di Probolinggo, kami kembali membayar tiket Rp 15.000 untuk menuju Jember. Di Jember, kami kemudian dioper ke bus lain menuju Banyuwangi dengan biaya Rp 18.000. Nah, sistem tiket eceran juga dipakai untuk jaga-jaga apabila penumpang dioper dari satu bus ke bus lain. Jika sudah bayar penuh dan ternyata dioper, kita yang rugi karena harus bayar lagi. Sampai Terminal Blambangan Banyuwangi, jam sudah menunjukkan pukul 22.06 WIB. Pada jam seperti itu sudah tidak ada angkutan umum yang beroperasi. Angkutan yang ada tinggal ojek dan taksi. Karena bertiga, naik taksi bisa lebih murah karena patungan. Namun, kami tidak langsung memesan taksi. Uang yang tak seberapa harus dihemat. Agar bisa berpikir jernih, kami memutuskan untuk makan dulu di warung pinggir jalan sebelum meluncur ke Pelabuhan Ketapang. Nah, di warung tersebut kami berkenalan dengan seseorang yang bersedia membantu kami mendapatkan tiket murah dari Ketapang langsung menuju Mataram. Dia mengaku kenal baik dengan petugas di Ketapang sehingga dia menjamin hal itu. Setelah makan, kami pun berangkat ke Ketapang menggunakan taksi dengan ongkos Rp 50.000 diisi empat orang. Satu orang lagi adalah orang yang menawarkan angkutan tadi itu. Pukul 23.12 WIB kami sampai di Pelabuhan Ketapang. Di sana, kami bertemu sembilan pendaki lainnya (7 laki-laki dan 2 perempuan) dari Undip Semarang. Mereka kami ajak bergabung agar mendapatkan tiket bus murah menuju Terminal Mandalika, Mataram, Lombok. Petugas awalnya meminta harga Rp 175.000. Tapi, setelah tawar-menawar, disetujui harga Rp 150.000 per orang (harga resminya Rp 220.000). Di luar itu, kami hanya perlu membayar tiket kapal Rp 6.000 saja untuk menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Setelah mendapat tiket murah, kami yang kini menjadi ber-12 tidak langsung berangkat karena harus menunggu bus yang belum datang. Sekitar pukul 01.09 WIB kami baru bisa memasuki kapal. Tepat pada pukul 02.15 WITA, kapal bersandar di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, dan pukul 05.49 WITA bus memasuki Terminal Ubung, Denpasar. Di Terminal Ubung, bus ngetem cukup lama. Hampir satu jam lebih berhenti, bus akhirnya berangkat dan sampai di Pelabuhan Padang Bai, Bali, pada pukul 08.09 WITA. Saat bus parkir di lambung kapal, kami semua turun dari bus dan naik ke dek kapal. Kapal berlayar menuju Pelabuhan Lembar, Lombok. Sekitar empat jam lamanya kami berada di atas kapal. Waktu selama itu lebih banyak kami habiskan untuk istirahat atau tidur. Tepat pukul 13.30 WITA, kapal bersandar di Pelabuhan Lembar. Kami bertiga yang sudah membayar tiket bus sampai Terminal Mataram harus turun di Lembar. Karena Lin sudah janjian dengan temannya yang sudah berada di Lombok untuk nyarter mobil pikap. Kami bertiga turun di pelabuhan, sementara sembilan orang lain dari Undip Semarang yang bersama kami ikut bus ke Mataram. Tak disangka, awalnya biaya nyarter mobil yang kami pikir akan lebih murah ternyata lebih mahal. Mobilnya pun bukan pikap, melainkan mobil Kijang yang hanya diisi tujuh orang! Entah bagaimana ceritanya per anak kena Rp 100.000! Mau tidak mau kami ikut saja karena sudah telanjur turun dari bus. Pukul 14.30 WITA, kami tidak langsung menuju ke pos pendakian, tetapi perlu mampir dulu ke Bandara Lombok untuk menjemput satu teman lainnya yang terbang dari Jakarta. Dari pukul 16.10-17:37 WITA, penantian kami belum berujung. Akhirnya ada kabar, pesawat LionAir dari Jakarta menuju Lombok mengalami delay. Menerima kabar tersebut, kami langsung saja bertolak menuju base camp sebelum keesokan harinya mulai melakukan pendakian. Biar teman yang tadi naik mobil sendiri kalau tiba, entah jam berapa. Sebelum ke base camp, kami lebih dulu belanja logistik tambahan di Pasar Pancor, Lombok Timur. Setelah selesai berbelanja, kami langsung menuju tempat istirahat dan sampai pukul 18.12 WITA. Di sana kami (yang sudah berjumlah delapan orang karena satu orang yang dari Jakarta sudah tiba) sempat nonton bareng laga persahabatan antara Indonesia vs Belanda sebelum tidur. Pendakian Hari Pertama (8 Juni 2013) Untuk pendakian kali ini, kami memilih memulainya dari jalur Sembalun. Pagi pukul 05.39 WITA, kami bersiap-siap menuju Pos Rinjani Information Center (RIC) Sembalun. Sebelum berangkat, kami pesan nasi bungkus untuk sarapan dan makan siang. Harga per bungkusnya Rp 5.000. Bisa pilih lauk ayam atau telur. Tepat pukul 06.45 WIB, kami bergegas menuju RIC Sembalun. Pukul 08.37 kami tiba di Pos RIC Sembalun untuk melakukan pendaftaran. Namun, saya sedikit heran karena ternyata perizinan di Sembalun tidak seberapa ketat (tidak harus menyerahkan fotokopi KTP maupun surat keterangan sehat dari dokter). Biaya tiket pun terbilang murah. Kami berdelapan hanya Rp 20.000. Pukul 09.30 WITA, setelah sarapan dan beli satu bungkus lagi untuk bekal, kami memulai pendakian. Tidak lama setelah melangkahkan kaki menuju Pos I, kami disambut hamparan padang sabana hijau yang begitu indah. Bukit-bukit yang tampak manis dengan kabut tipis. Angin sepoi dan ketenangan alam Rinjani membuat perjalanan awal terasa begitu mendamaikan. Tapi tak lama setelah itu, kami disambut trek yang berkelok-kelok, naik-turun dan melewati dua jembatan beton untuk sampai di Pos I. Kami tiba di Pos I pukul 12.10 WITA. Tidak perlu lama-lama beristirahat, pada pukul 12.32 WITA, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Sampai di Pos II, jam digital di pergelangan tangan menunjukkan pukul 13.13 WITA. Di Pos ini, terdapat sebuah jembatan beton yang di bawahnya mengalir sungai. Banyak pendaki bule yang beristirahat di sisi kanan dan kiri jembatan. Dengan pohon yang rindang, pendaki bisa menikmati waktu istirahat dengan damai. Di sini juga terdapat sumber air bersih yang bisa langsung diminum. Di Pos II kami bergabung dengan kawan pendaki lainnya dari Patrapala (komunitas pencinta alam Pertamina Cilacap). Kami diberi makan, kopi, dan juga rokok. Jadi tak perlu bongkar keril. Hehe... Kejadian lucu cenderung tragis dimulai dari pos ini. Bakh yang merupakan tipe pendaki lamban berinisiatif untuk berjalan lebih dulu menuju Pos III, dengan asumsi saya dan Lin akan segera menyusul. Kami berdua mengiyakan. Cukup lama setelah Bakh jalan, kami baru akan melanjutkan perjalanan. Namun, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Kira-kira pukul 14.00 WITA. Kami berdua mencemaskan Bakh. Tapi, ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Akhirnya, kami dan pendaki lainnya saling berbagi tempat untuk berteduh di gardu Pos II. Sambil menunggu hujan reda, kami sempatkan memasak dan berbagi kopi dan rokok. Satu jam lebih kami berteduh dari hujan. Memasuki sekitar pukul 15.10 WITA, hujan mulai reda. Kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju Pos III. Sebelum sampai ke Pos III, masih ada pos ekstra/pos bayangan. Untuk menuju ke sana, trek yang kami lalui cukup terjal dan menanjak. Tepat pukul 16.28 WITA, kami sampai di Pos III. Kami pun bertemu dengan Bakh yang sudah bertelanjang dada setelah kehujanan. Jaket, baju, dan celananya basah. Ketika tas kerilnya saya angkat, beratnya juga semakin bertambah Nasibmu kawan. Hehe… Karena waktu sudah sore dan kondisi fisik yang sudah mulai melemah, kami memutuskan mendirikan tenda dan bermalam di Pos III. Di Pos III ada sedikit hiburan dari sekawanan monyet yang bisa sedikit menghilangkan rasa lelah. Salah satu monyet dari kawanan itu (kemungkinan kepala sukunya) sepertinya sudah terbiasa akrab dengan pendaki. Ia berani mendekat dan meminta makanan kepada pendaki. Dengan bermodal makanan ringan, kami bisa berdekatan dan membelai monyet liar itu. Setelah hari mulai malam, kami sempatkan makan malam terlebih dulu sebelum beristirahat untuk memulihkan tenaga. Pendakian Hari Kedua (09 Juni 2013) Pukul 08.00 WITA, kami sudah selesai makan. Sebelum berkemas, kami kembali memberi makanan kecil untuk monyet. Setelah membongkar tenda, packing , gosok gigi, dan buang air besar, pukul 10.00 WITA kami melanjutkan pendakian menuju Pos VI. Nah, tanjakan menuju POS VI inilah ujian yang sesungguhnya sedang menunggu. Pada fase ini, kami dipertemukan dengan tujuh bukit penyesalan yang melegenda itu! Kami harus melewati tanjakan dengan kemiringan yang ekstrem sebanyak tujuh bukit! Setelah melewati (mungkin) dua bukit, kami disambut pos bayangan (pukul 11.44 WITA) yang atapnya sudah rusak. Setelah tertatih-tatih, napas terputus-putus, kaki patah-patah, akhirnya kami sampai di plang Pos VI atau lebih dikenal dengan nama POS Plawangan Sembalun, tepat pukul 14.04 WITA. Di sini kami sempatkan istirahat beberapa menit sebelum berjalan lagi agak ke atas menuju ground untuk mendirikan tenda. Pukul 15.23 WITA, kami sudah berada di tempat untuk membangun tenda, bergabung dengan pendaki dari Pertamina dan kawan-kawan dari Undip Semarang yang bertemu lagi di sana. Kami menghabiskan waktu untuk istirahat, makan, ngobrol , dan bercanda dengan kawan-kawan pendaki lainnya. Tapi, jangan kaget kalau di pos ini kalian menemukan penjual minuman! Ya, di pos ini ada yang menjual soft drink dan rokok. Tapi, jangan kaget lagi kalau harganya melambung tinggi. Di pos dengan ketinggian 2.700 mdpl ini, harga soft drink dan rokok juga ikut melambung tinggi. Harga 1 kaleng Pocari Sweat Rp 40.000, Coca-Cola Rp 30.000, Bintang Rp 70.000. Baiklah, kalau tak ada uang –atau lebih tepatnya berhemat– tidak usah memaksakan diri untuk membeli. Lebih baik kita seduh kopi atau teh bawaan. Atau kalau kehabisan air, tinggal turun sekitar 100 meter dari ground. Di situ ada sumber air bersih yang jauh lebih menyegarkan dan gratis. Setelah itu, tak perlu berpikir Pocari Sweat, Coca-Cola, atau Bintang lagi. Lebih baik istirahat supaya tenaga bisa cepat kembali terkumpul untuk menuju puncak Rinjani dini hari nanti. Pendakian Hari Ketiga (10 Juni 2013) Sesuai kesepakatan bersama, kami, kawan-kawan pendaki dari Pertamina dan dari Undip Semarang bangun pukul 01.22 WITA untuk bersiap menuju puncak. Langit terlihat cerah dengan taburan bintang. Kami sempat khawatir karena malamnya hujan turun. Tapi, sebelum tengah malam, hujan sudah reda. Berkat hujan yang sebentar itu, trek menuju puncak juga tidak terlalu berdebu. Setelah mengisi perut secukupnya (bisa makan nasi, mi, atau agar-agar) kami checking perlengkapan. Setelah semua siap, kami tidak lupa memanjatkan doa bersama demi kelancaran dan keselamatan dalam pendakian menuju puncak kali ini. Sekitar pukul 02.03 WITA kami mulai perjalanan. Dari Pos Plawangan menuju puncak didominasi trek terjal berpasir. Mirip trek ke puncak Semeru. Kami harus melewati jalan berkelok-kelok, mendaki bukit dan trek yang mudah longsor jika dipijak. Kondisi yang gelap dan dingin mengharuskan kami untuk tetap waspada dan konsentrasi agar tetap aman. Sebelum benar-benar sampai puncak, tiba-tiba badai dan kabut menerjang sehingga cuaca menjadi sangat dingin. Angin kencang yang bertiup disertai kabut dingin sangat menguji mental dan ketahanan. Ada yang kemudian memutuskan turun sebelum sampai puncak. Tetapi banyak juga yang bisa menapakkan kakinya di puncak dengan ketinggian 3.726 mdpl. Saya sendiri tiba puncak kurang lebih pada pukul 08.13 WITA, setelah berjuang dengan lelah dan dingin. Di puncak kami tidak bisa leluasa dan berlama-lama mengambil gambar karena angin semakin kencang dan kabut tak kunjung pergi. Kabut membuat Danau Segara Anak di bawah sana tidak terlihat dari puncak. Sedikit terlihat, kemudian dengan cepat kembali menghilang di balik kabut. Tepat pukul 11.20 WITA saya memutuskan untuk turun. Jalan turun juga tidak semudah yang dibayangkan. Bisa dibilang turun dan mendaki memiliki penderitaannya sendiri-sendiri. Butuh sekitar satu jam setengah bagi saya untuk sampai ke Pos Plawangan . Sampai di tenda, saya tidur sebentar sebelum kembali melakukan perjalanan. Setelah membongkar tenda dan selesai packing , tepat pukul 14.14 WITA kami turun menuju Danau Segara Anak. Ternyata, untuk menuju danau tidak kalah menyiksa. Untuk turun kami harus menyusuri pinggir tebing curam dengan trek yang didominasi bebatuan. Setelah beberapa kali berhenti istirahat untuk menghimpun tenaga, kami akhirnya sampai di danau pukul 18.37 WITA. Setelah menentukan tempat, di samping tenda kawan Pertamina, kami langsung mendirikan tenda, masak, makan, dan tidur. Hari Kedua, Nge-Camp di Danau (11 Juni 2013) Pukul 07.20 WITA saya terbangun. Sinar matahari sudah mulai hangat menerpa tenda. Ketika membuka pintu tenda, mata yang masih belum sempurna terbuka langsung disambut angin sejuk serta pemandangan Danau Segara Anak yang indah berselimut kabut tipis. Sebelum beraktivitas (memasak, makan, dll) kami menyempatkan diri untuk mandi. Jangan takut kedinginan. Karena di sekitar danau ada sumber air panas. Letaknya tidak jauh dari camping ground . Sumber air panas yang bercampur dengan air terjun dari danau membuat air menjadi hangat. Di sana kami bisa berendam sesuka hati, tapi juga harus tahu diri. Karena masih banyak pendaki lain yang juga ingin berendam, terlebih turis-turis mancanegara. Jadi tidak perlu kaget jika berendam bersama turis-turis yang hanya mengenakan bikini. Enjoy saja. Jarang-jarang kan di gunung bisa seperti itu. Pukul 09.12 WITA kami selesai mandi dan berendam. Efek berendam di air hangat adalah rasa lelah bisa hilang dengan sendirinya, tapi juga kulit bisa menjadi kering karena habis kena dingin langsung kena panas. Tapi tak apa-apa lah , yang penting badan terasa segar kembali. Selain dimanjakan dengan sumber air hangat, di camping ground ini juga menjadi surga bagi para pemancing. Di danau pagi itu sudah banyak yang mulai memancing. Saya sempat menyesal karena tidak bawa pancingan. Tapi untung saja porter dari kawan Pertamina punya pancing yang bisa dipinjam. Waktunya mancing. Memancing di Danau Segara Anak sangat menyenangkan. Selain pemandangan yang menakjubkan, ikan-ikan di sini juga mudah dipancing. Cukup dengan umpan cacing yang bisa dicari di pinggir-pinggir danau, pemancing sudah bisa ’’memanen’’ ikan nila atau mujair. Atau jika beruntung, kalian bisa mendapatkan ikan mas atau orang setempat menyebutnya sebagai ikan kiper. Ikan yang didapat juga lumayan besar-besar sehingga pemancing akan merasa terpuaskan. Cukup lama saya memancing. Setelah merasa sudah cukup, akhirnya saya mengakhiri kegiatan mancing-memancing ini. Saya sendiri mendapatkan tiga ikan nila berukuran besar dan dua berukuran kecil. Setelah mencari kayu bakar, ikan-ikan tersebut saya bakar. Nikmat. Pukul 16.02 WITA kegiatan bakar-membakar dan santap-menyantap ikan bakar selesai sudah. Kegiatan berikutnya adalah kembali berendam di air hangat. Hehehe… Setelah cukup lama berendam di air hangat, kami memutuskan kembali ke tenda setelah merasa udara menjadi semakin dingin. Beruntung bagi kami. Malam ini kami tidak perlu masak karena porter turis Singapura yang mendirikan tenda di sebelah tenda kami dengan baik hati menawari kami makan. Sayur lodeh ikan tuna. Akhirnya makan enak di gunung! Persiapan Turun Gunung (12 Juni 2013) Kami bangun sekitar pukul 06.55 WITA dan lagi-lagi kami tak perlu masak karena porter yang semalam memberi kami makan kembali pagi ini. Saya pikir nasib kami memang beruntung pada pendakian kali ini. Tapi, kami juga buntung. Sebagian logistik yang kami taruh di luar tenda hilang dicuri babi hutan! Ya, hati-hati karena di sekitar danau ini masih banyak babi hutan liar yang berkeliaran di malam hari. Sekitar pukul 08.01 WITA kami sudah selesai makan. Selanjutnya yang akan kami lakukan adalah membongkar tenda dan packing barang-barang untuk persiapan turun gunung. Tepat pukul 09:08 WITA kami sudah melakukan perjalanan untuk turun gunung melalui jalur Senaru. Untuk keluar dari danau juga tidak mudah. Kami harus melewati trek menanjak melewati tebing curam yang rawan longsor. Tanjakan trek di jalur ini lebih menyiksa dari trek-trek sebelumnya. Kami benar-benar berjalan di pinggir-pinggir tebing. Bahkan, di beberapa ruas tanjakan harus dipasang pagar dan tangga dari besi demi keamanan pendaki dan porter. Setelah tubuh bercucuran keringat, napas tersengal-sengal, dan tenaga hampir tumpas, sekitar pukul 12.15 WITA, kami sampai di Pos Plawangan Senaru. Dari Pos ini kami bisa melihat pemandangan Danau Segara Anak dengan sangat jelas dan indah. Agar tidak menyesal, kami sempatkan sejenak untuk mengambil foto sambil istirahat sebelum melanjutkan turun gunung. Ketika mendaki lewat jalur Sembalun, kami disambut padang sabana. Sedangkan saat turun melewati jalur Senaru, kami disambut rimbun hutan yang minim sinar matahari. Tapi, sebelum memasuki hutan, jalur turun terasa gersang karena minim pepohonan sebelum sampai di Pos III (sekitar pukul 13.53 WITA). Dari pos inilah jalur yang kami lewati mulai berubah rimbun pepohonan dan semak belukar. Turun dari jalur ini memang lebih cepat daripada jalur Sembalun. Pada pukul 15.24 WITA kami sudah sampai di Pos II. Kami terus berjalan tanpa banyak berpikir tentang lelah karena kami ingin segera sampai. Meskipun kadang-kadang tengkuk terasa merinding ketika melewati rerimbun pepohonan yang cukup gelap. Tapi, saya tak peduli. Saya hanya ingin cepat turun! Sekitar pukul 16.26 WITA kami sudah sampai di pos ekstra. Di pos ini kami mulai kehabisan air. Terpaksa jalan dari pos ekstra menuju Pos II tanpa air minum. Masing-masing pos berjarak antara 1-1,5 km. Sampai di Pos I jam sudah menunjukkan pukul 17.13 WITA dan kami masih tanpa air minum. Berkat inisiatif Lin, akhirnya kami berjalan mengikuti rombongan pendaki yang menyewa jasa porter. Dengan begitu kami bisa mendapat setidaknya sedikit minuman dan makanan kecil dari mereka. Hehehe… Saat kami sampai di plang pintu masuk jalur Senaru, jam sudah menunjuk pukul 17.51 WITA, tapi itu belum selesai. Setelah istirahat sejenak, kami masih harus berjalan sekitar 1,5 km lagi untuk benar-benar menyelesaikan turun gunung. Kami harus turun ke Rinjani Trek Center (RTC) Senaru. Pos perizinan dan pelaporan pendakian via Senaru. Kami sampai di RTC Senaru pukul 18.35 WITA. Malam itu kami tidak langsung pulang, tapi menginap di RTC. Bukan satu malam, tapi dua malam! Di sana kami mengenal Bapak Simalam, penjaga Pos RTC Senaru yang berbaik hati. Beliau memberi kami tempat untuk istirahat, memberi makan, kopi, rokok, dan mengajak wisata gratis ke air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep. Kami juga diajak singgah ke rumah sederhana nan nyaman milik keluarganya di Desa Senaru. Sikap humoris yang beliau tunjukkan membuat kami cepat merasa nyaman dengan beliau. Pulang ke Surabaya (14 Juni 2013) Sekitar pukul 10.03 WITA saya, Lin, dan Paijo (kenalan di puncak) berpamitan untuk pulang ke Surabaya. Sementara Bakh malam harinya sudah meninggalkan RTC Senaru karena tergiur ikut berwisata ke Gili Trawangan dengan kawan Undip Semarang. Dari RTC Senaru, kami harus naik ojek untuk sampai ke Bayan (ongkos ojek Rp 20.000). Dari Bayan, kami naik angkutan L300 menuju Terminal Mataram dengan ongkos Rp 30.000. Sampai di Terminal Mataram sekitar pukul 13.45 WITA. Sebelum lanjut ke Pelabuhan Lembar, kami bertiga menyempatkan diri untuk mengisi perut di warung pinggir jalan. Di terminal ini kami berdua berpisah dengan Paijo yang akan menuju Mataram Kota. Tepat pukul 14.50 WITA kami berdua berangkat dengan angkutan umum menuju Pelabuhan Lembar dengan ongkos Rp 15.000. Sekitar pukul 15.06 WITA kami berdua sampai di Pelabuhan Lembar. Setelah membeli kapal Rp 36.000, kami memasuki kapal dan siap berlayar menuju Pelabuhan Padang Bai. Sekitar pukul 20.16 WITA, kapal bersandar di Pelabuhan Padang Bai. Kami tidak langsung menuju Terminal Ubung. Kami sempatkan makan nasi goreng lebih dulu sebelum melakukan perjalanan panjang. Setelah selesai makan dan tawar-menawar ongkos angkutan umum menuju Terminal Ubung, tepat pukul 21.22 WITA kami meluncur. Awalnya sopir minta Rp 50.000. Tapi, setelah kami pasang wajah memelas dan tahu kami pendaki, sang sopir yang berbadan tegap bertato akhirnya luluh dan memberi kami harga Rp 30.000 (penumpang lainnya tetap Rp 50.000). Sekitar pukul 22.38 WITA kami sampai di Terminal Ubung. Sampai di sana, kami langsung membeli tiket bus AC Rp 50.000 menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Sekitar pukul 23.00 WITA, kami berangkat dari Ubung menuju Ketapang. Sampai di Ketapang jam tangan sudah menunjukkan pukul 03.25 WIB. Kami tidak buang-buang waktu lagi dan langsung nangkring di kursi bus Akas menuju Jember (Rp 30.000). Di Terminal Jember, kami berpindah bus. Setelah sarapan ala kadarnya di bus yang baru kami naiki itu, kami langsung bergerak menuju Surabaya dengan ongkos Rp 28.000. Apes. Di daerah Lumajang terjadi kecelakaan sehingga perjalanan semakin lama, sampai-sampai sopir harus ngebut bukan main untuk mengejar jam setoran. Dan akhirnya pukul 14.33 WIB kami sampai di Terminal Purabaya, Sidoarjo. Di sini, saya dan Lin berpisah. Lin langsung menuju kos-kosannya di Madura, sedangkan saya menuju Wonocolo. Oke, sampai jumpa di pendakian selanjutnya. (*) Surabaya-Lombok, 08–12 Juni 2013

  • Buka Puasa di Semeru, Sulitnya Mancing di Ranu Kumbolo

    KECANTIKAN Ranu Kumbolo di Gunung Semeru (3.676 mdpl) memang bisa dengan mudah membuat para pendaki jatuh cinta. Tidak terkecuali saya. Sebelum ini, saya sudah mencapai puncak Mahameru dua kali dan hanya mampir sebentar di Ranu Kumbolo. Karena ada target muncak , Ranu Kumbolo hanya menjadi tempat persinggahan. Begitu singkat. Karena itu, pada pendakian kali ini, saya hanya ingin menghabiskan tiga hari dua malam di Ranu Kumbolo. Dipuas-puasin menikmati keindahannya. Bulan ini juga merupakan bulan puasa. Jadi, saya ingin mencoba menikmati sensasi berbuka puasa di danau tertinggi di Jawa tersebut. Ranu Kumbolo berada di atas ketinggian 2.400 mdpl. Luasnya sekitar 14 hektare. Danau ini dikelilingi bukit-bukit. Sebagaimana Tanjakan Cinta, Ranu Kumbolo juga memiliki legendanya sendiri. Konon, ada suami dan istri sangat miskin bernama Marmoyo dan Sawitri. Ketika Sawitri hamil muda, dia sangat ingin makan ikan. Karena tidak punya cukup uang, sang suami memancing ikan di sungai. Setelah lama memancing, Marmoyo akhirnya berhasil menangkap ikan mas. Namun, itu ternyata ikan ajaib. Bisa berbicara dan sisiknya bisa berubah menjadi potongan emas. Marmoyo memelihara ikan itu dan merahasiakannya dari istrinya. Dia kemudian pergi ke pasar untuk menjual potongan emas dan membeli minyak sawit untuk memasak. Karena kelaparan, Sawitri yang menemukan ikan di rumah langsung menggorengnya. Sawitri pun mendapatkan kutukan sampai anak bersisik lahir bernama Kumbolo. Kumbolo terlahir sebagai bocah lelaki yang pintar berenang dan mampu menyelam cukup lama di air. Tapi, Kumbolo dianggap aneh dan terasing. Dia selalu diolok-olok teman-temannya. Kemudian ada seekor kucing yang memberi tahu Kumbolo bahwa sisik di tubuhnya bisa hilang dengan mutiara pelangi di puncak gunung. Kumbolo akhirnya mengembara ke Gunung Semeru untuk menemukan mutiara itu. Sesampainya di puncak gunung, Kumbolo berhasil menemukan mutiara itu. Namun, saat turun, Kumbolo dicegat tiga anak laki-laki nakal yang ingin merebut mutiara pelangi. Perdebatan yang sengit terjadi sampai mutiara jatuh dan runtuh. Ajaibnya tanah runtuh langsung memancarkan pegas besar. Dalam sekejap penyergapan tanah berubah menjadi danau dan ketiga bocah lelaki itu tenggelam di dalamnya. Sementara Kumbolo berhasil keluar dari danau dan sisiknya menghilang dari tubuhnya. Artikel tentang legenda Ranu Kumbolo ini saya copy dari rentalsewamobilmalang.com . 30 Juli 2013 Setidaknya ada tiga hal besar yang membuat saya tetap nekat melakukan pendakian Semeru meskipun dalam keadaan berpuasa. Buka puasa, mancing, dan menyambut matahari pertama bulan Agustus di Ranu Kumbolo. Mungkin alasannya tidak sederhana yang dipikirkan karena bulan Agustus menjadi bulan yang spesial bagi saya. Jadi sudah seharusnya seperti inilah cara merayakannya. Sebelum berangkat memang ada sedikit penolakan dari keluarga mengingat ini bulan puasa. Tapi, toh saya tetap memutuskan untuk berangkat. Bagi saya, puasa bukan halangan. Terbukti, selama pendakian, meskipun mengalami sedikit dehidrasi, kekuatan fisik saya tidak berkurang, tapi justru terasa lebih enteng dari biasanya. Namun, hal yang harus diperhatikan ketika melakukan pendakian dalam keadaan berpuasa adalah manajemen istirahat. Hal lain yang membuat saya tetap nekat mendaki adalah ketepatan waktu. Bulan puasa membuat Ranu Kumbolo menjadi sepi dari pendaki. Memang ada beberapa pendaki lokal dan mancanegara yang tetap melakukan pendakian, tapi tidak seramai seperti hari biasa. Belum lagi setelah bulan puasa, yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus, tentu banyak pendaki yang berjubel ingin mengadakan upacara kemerdekaan di sana. Benar saja, saat saya sampai di Ranu Kumbolo sekitar jam 5 sore, suasana begitu sepi dan tenang. Hanya ada tiga tenda pendaki di tepi danau. Langsung saja saya mendirikan tenda sambil menunggu waktu berbuka yang sebentar lagi tiba. Setelah perjalanan melelahkan dari Ranupani sekitar pukul 11 siang, akhirnya saya bisa melaksanakan buka puasa pertama di Ranu Kumbolo. Karena hanya mendaki sampai Ranu Kumbolo, dari rumah saya membawa ’’kulkas’’. Perlengkapan satu dapur saya angkut semua. Mulai wajan ukuran sedang sampai cobek. Tidak lupa bawa bumbu-bumbu dapur untuk bikin sambal dan bawa ikan asin. Tak ketinggalan buah pir dan apel. 31 Juli 2013 Misi pertama berbuka puasa di Ranu Kumbolo berhasil. Keesokan harinya, tanggal 31 Juli 2013, waktunya menjalankan misi kedua: mancing! Alat pancing dan umpan cacing sudah saya siapkan dari rumah. Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Membuat birunya air danau begitu cantik dengan kilatan cahaya. Mancing di Ranu Kumbolo memang terkenal sangat sulit. Beberapa porter yang saya tanyai dalam pendakian-pendakian sebelumnya juga mengamini hal tersebut. Sebagai penyuka kegiatan memancing, saya pun merasa penasaran dan ingin mencobanya sendiri. Pancingan sudah siap, umpan sudah terpasang, siap pasang kuda-kuda untuk melempar umpan sejauh mungkin. Sempurna! Umpan jatuh di kejauhan. Senar sedikit saya gulung agar mudah diketahui kalau-kalau umpan sudah dimakan ikan. Saya memilih tidak menggunakan pelampung. Kalau ada ikan yang menyambar, senar pancing akan bergetar. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu seperti berjalan sangat lama. Selama itu pula tidak ada tanda-tanda umpan cukup menarik ikan nila, mujair, atau ikan mas penghuni danau. Menjadi pemancing memang harus sabar, apalagi amatiran seperti saya. Bahkan pemancing-pemancing profesional seperti dalam program televisi Mancing Mania pun tidak berhasil menaklukkan satu ikan pun di sini! Saya tidak patah semangat. Umpan kembali saya tarik, ganti umpan lagi, lempar lagi. Umpan jatuh di kejauhan seperti yang saya harapkan. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu terus berjalan sampai hari menjelang siang. Matahari bersinar semakin terik, bibir dan tenggorokan terasa begitu kering, dan masih belum ada tanda-tanda umpan menarik perhatian ikan. Sampai waktu salat duhur datang, umpan yang saya lempar masih belum bisa menghasilkan apa-apa selain capek dan dahaga. Untuk mengusir rasa bosan dan memberi penyegaran pada semangat yang hampir tumpas, saya memutuskan mencoba menaiki Tanjakan Cinta. Berhasil. Setelah itu, saya menjenguk Oro-Oro Ombo sebentar. Namun, saya merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk turun. Jadi, saya hanya bisa menikmati hamparan ungu seperti bunga lavender dari atas dan sesekali melirik pada puncak Mahameru yang mengintip malu-malu dari balik bukit. Setelah puas menikmati hamparan Oro-Oro Ombo, saya tidak langsung turun. Saya lebih memilih beristirahat cukup lama di antara pohon-pohon cemara di atas Tanjakan Cinta. Dedaunan yang rimbun, angin sepoi, dan pemandangan yang cantik Ranu Kumbolo dari ketinggian membuat suasana menjadi damai dan tidur adalah pilihan yang tepat. Jadilah saya tidur beberapa menit dengan bersandar di antara dua pohon cemara besar. Setelah cukup lama berada di atas Tanjakan Cinta, saya memutuskan untuk turun. '’Strike!’’ Kata itulah yang ada di pikiran saya ketika saya langsung menghampiri pancingan yang saya pasang dan saya tinggal cukup lama. Namun, itu hanya menjadi angan-angan semata. Umpan tak sedikit pun menarik perhatian ikan. Sambil menggulung senar pancing, mata saya terus menatap hamparan permukaan danau yang berkilauan dan bergelombang kecil diterpa itu. Sinar matahari semakin menyengat. Semangat saya pun pupus. Tapi, umpan kembali saya lempar sebelum masuk ke tenda untuk tidur lagi sekitar pukul 12 siang. Setelah cukup beristirahat dan tidur, sekitar pukul 2 siang, saya kembali bangun untuk mengumpulkan serpihan-serpihan semangat dan kembali menghunus kail pancing. Pancingan saya angkat, kembali pasang umpan, dan dengan semangat melemparkannya sejauh mungkin. Umpan jatuh di tempat yang saya inginkan. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu berjalan sangat lamban. Umpan lagi-lagi tak menarik bagi ikan. Di sela-sela memancing, saya isi waktu dengan menyusuri pinggir-pinggir danau. Waktu terus berjalan sampai mendekati waktu berbuka. Dan, tetap pancingan tanpa hasil. Saya menyerah. Tidak sama dengan di Danau Segara Anak Gunung Rinjani, Memancing di Ranu Kumbolo memang sulit minta ampun. Sekitar pukul setengah 5 sore, saya mengakhiri ritual memancing dan segera menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Menu kali ini adalah nasi putih, sambal tomat, ikan asin, dan telur dadar. Sebagai takjil, dari rumah saya sudah menyiapkan satu buah apel. Satu buah apel itu kemudian saya belah menjadi empat bagian sesuai jumlah anggota kelompok pendakian kali ini. Untuk minuman, saya memilih teh jahe agar lebih hangat di badan. Sebelum waktu berbuka datang, semua hidangan sudah siap. Alhamdulillah, saya bisa menikmati buka puasa kedua di tepi Ranu Kumbolo. Malam Hari Setelah selesai berbuka puasa dan istirahat sejenak, jadwal selanjutnya adalah makan-makan snack yang begitu melimpah dan menyalakan api unggun. Logistik telah disiapkan untuk dihajar ramai-ramai. Melihat begitu banyak snack , seperti ada perasaan ingin ’’balas dendam” yang menari-nari di lambung yang seharian tak terisi di kondisi terik matahari akhir bulan Juli. Sekitar pukul 7 malam ranting-ranting dan batang kayu sudah siap untuk dijadikan api unggun. Bergabung juga kenalan dua pendaki dari Malang. Suasana menjadi begitu cair dan hangat. Kami berenam mengelilingi api unggun di tepi Ranu Kumbolo ditemani dingin dan taburan bintang di langit Semeru. Sesekali bintang jatuh membelah langit malam. Dinginnya udara Ranu Kumbolo bisa sedikit dihangatkan api unggun dan cengkerama. Tawa terus saja pecah dengan cerita-cerita, kekonyolan-kekonyolan, dan celetukan-celetukan lucu. Bahkan, ketika api unggun tinggal bara yang menyala, kami tak langsung beranjak. Dalam kondisi seperti itu, udara dingin semakin terasa. Kami semakin merapatkan lingkaran, mendekat ke bara. Kami mengakhiri acara makan-makan dan menghangatkan badan di dekat api unggun sekitar pukul 12 malam. Setelah menikmati mi instan dan sedikit camilan untuk pengganti sahur, saya dan kawan-kawan semua bergegas memasuki tenda untuk segera beristirahat. Tapi sayang, malam ini begitu dingin seperti malam sebelumnya hingga sleeping bag tidak banyak membantu. Saya menyambut Agustus dengan tidur yang tidak begitu nyenyak. 1 Agustus 2013 Sekitar pukul setengah 6 pagi saya bangun. Pintu tenda yang langsung menghadap ke danau saya buka lebar-lebar untuk menyambut sunrise pertama di bulan Agustus. Mendekati pukul 6 pagi, sedikit demi sedikit matahari pagi mengintip malu-malu di balik bukit. Warna emas berpendar di badan bukit dan permukaan danau. Selama itu pula saya tetap menikmati sunrise dari dalam tenda sampai matahari meninggi. Setelah matahari sedikit meninggi, saya keluar tenda untuk menikmati pagi pertama di bulan Agustus di Ranu Kumbolo. Lalu, apa yang membuat saya terkejut adalah butiran-butiran es yang membekukan rerumputan. Baru kali ini saya melihat es di Ranu Kumbolo. Pantas saja semalam udara begitu dingin. Lagi pula ini adalah hari terakhir saya di Ranu Kumbolo. Jadi, saya ingin menikmati hari pertama di bulan Agustus ini dengan baik. Udara yang dingin tapi sedikit hangat oleh sinar matahari membuat hati ini terasa berat meninggalkan tempat ini. Di atas sana, langit begitu cerah membiru. Sekitar pukul 8 pagi, saya sudah bersiap untuk mem- packing barang-barang dan membereskan tenda. Sambil menunggu kawan lain siap-siap, saya kembali menghunus kail pancingan. Kali ini saya bukan hendak serius memancing, tapi hanya ingin sedikit bersenang-senang untuk menikmati Ranu Kumbolo sebelum turun. Tidak seperti hari-hari kemarin, kali ini saya berhasil strike! Bukan satu, tapi triple strike! Tiga mata pancing dalam satu rangkaian berhasil mengait bibir ikan. Namun, bukan ikan nila, mujair, atau ikan mas yang berhasil saya angkat ke daratan, melainkan ikan asin! Ya sudahlah. Setidaknya saya bisa merasakan sensasi strike di Ranu Kumbolo meskipun cuma ikan asin! Haha… Setelah semua siap, sekitar pukul 10 kami mulai turun. Selamat tinggal Ranu Kumbolo. Sampai jumpa di lain hari. (*) Lumajang, 30 Juli–01 Agustus 2013

  • Dari Jakarta Menyambangi Semeru, Gagal Muncak

    SAYA telah merencanakan perjalanan jauh. Dari sepetak kamar kos sempit di wilayah Jakarta Barat, pikiran saya bertualang ke wilayah perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Di situlah si gagah Mahameru berdiri kukuh. Puncaknya memanggil-manggil dalam angan. Maka, saya rencanakan perjalanan ini. Kembali ke puncak 3.676 mdpl. Gunung Semeru. Tiga kali mendaki Semeru tidak membuat saya bosan untuk kembali menjenguk kabut dinginnya. Maka, tepat tanggal 25 Mei 2016, saya memesan tiket kereta tujuan Malang. Naik kereta Jayabaya dengan tiket seharga Rp 230.000. Kereta berangkat dari Stasiun Senen pada pukul 14.00 dan baru sampai di Stasiun Kota Malang Baru tanggal 26 Mei 2015 pukul 02.30 dini hari. Perjalanan kereta ekonomi Jakarta–Malang memakan waktu sekitar 14 jam. Sampai di stasiun, saudara saya yang kuliah di Malang sudah menunggu di pintu keluar. Bersama dialah saya akan mendaki Semeru kali ini. Kami sempatkan makan nasi bungkus di depan stasiun. Di Jakarta, menu nasi bungkus di warung kopi seperti ini tidak bisa dijumpai. Untuk menghangatkan badan di Kota Malang yang sedikit dingin pagi itu, saya memesan teh hangat. Tepat pukul 03.30, saya diajak menuju tempat kos saudara saya untuk bermalam. Esok paginya kami baru menuju Ranupani. Tanggal 26 Mei 2015 Sekitar pukul 09.30, kami berangkat ke Ranupani menggunakan motor Satria. Motor memang menjadi transportasi paling murah daripada harus naik Jeep. Tapi, naik motor dengan nenteng dua keril besar melalui tanjakan berliku memang tidak mudah. Sangat menantang dan menguras tenaga. Setelah melewati beberapa tikungan dan tanjakan, kami sampai di Desa Ranupani. Kami mencapainya dalam waktu satu setengah jam perjalanan. Di sana, banyak perubahan. Loket tiket yang dulu berada di samping musala kini dipindah ke tempat bekas mes tim SAR dekat Danau Ranupani. Di sana, ternyata ada aturan baru juga. Setiap pendaki yang ingin membeli tiket harus melalui tahap SIMAKSI dulu di gedung belakang loket tiket. Di sana, setiap pendaki diberi pengarahan oleh relawan Semeru tentang tata tertib selama pendakian. Pendaki juga diimbau tidak membuang sampah sembarangan. Bahkan, secara tegas pihak TNBTS memberlakukan peraturan ketat soal sampah. Jika pendaki tidak membawa sampahnya turun, petugas akan memberlakukan dua sanksi. Pertama, pendaki naik kembali ke Gunung Semeru untuk mengambil sampahnya. Atau kedua, pendaki di- blacklist , tidak boleh lagi mendaki Semeru untuk selama-lamanya. Dalam pengarahan tersebut, para pendaki juga diberi tahu soal adanya toilet-toilet yang didirikan di Ranu Kumbolo dan Kalimati. Selain itu, pihak TNBTS juga membuka jalur baru untuk menuju puncak Mahameru. Pendaki tidak diperbolehkan melewati jalur lama yang melewati Arcopodo. Jalur tersebut baru saja longsor sehingga demi keamanan pendaki dan recovery , jalur itu ditutup dan dibuat jalur baru. Setelah mendengar pemaparan dari relawan, saya dan saudara saya baru bisa membeli tiket. Persyaratannya masih sama. Tiap pendaki harus menyertakan fotokopi KTP, surat keterangan sehat dari dokter, dan satu meterai 6.000 untuk satu kelompok. Namun, untuk harga tiket masuk ada perubahan. Dulu sekitar tahun 2013, tiket masuk Semeru hanya Rp 10 ribu untuk 3–4 hari. Namun, kini tarifnya berubah. Setiap pendaki dikenai Rp 17.500 per hari! Setelah mengisi perut yang keroncongan di warung sekitar pos perizinan, kami baru mulai mendaki sekitar pukul 14.00. Seperti biasa, kami berjalan santai mulai plang selamat datang Semeru. Namun, hal yang mengagetkan saya terpampang di Pos 1. Apalagi kalau bukan penjual makanan. Penjual di Pos 1 menawarkan macam-macam makanan dan minuman. Mulai semangka, gorengan, nasi bungkus, Aqua, Pocari Sweatt, Ale-Ale, hingga madu. Yang membuat saya ’’terkesima’’, pedagang tersebar mulai dari Pos 1, 2, 3, 4, Ranu Kumbol, Cemoro Kandang, Jambangan, hingga Kalimati! Dalam cuaca panas Semeru yang membakar kulit dan mengeringkan kerongkongan, saya pun tergoda untuk sekadar mencicipi kesegaran semangka yang merona merah dengan cairan manis yang tersimpan di dalamnya. Saya beli dua iris untuk saya dan saudara saya. Dua iris semangka dihargai Rp 5 ribu. Setelah dahaga terbunuh, kami melanjutkan perjalanan yang kemudian disambut hujan saat kami berada di Pos 2. Di sini, ada beberapa pedagang yang mau turun dengan sisa semangka yang masih banyak. Saya kemudian sedikit mengobrol dengan mereka soal pedagang-pedagang di Semeru sampai gerimis tak lagi turun. Sebelum turun, pedagang laki-laki berusia sekitar 45-an tahun kemudian memberi saya satu plastik semangka yang masih segar. Dalam plastik tersebut, tidak kurang ada 20 iris semangka segar, meskipun ada beberapa yang mulai layu. Itu adalah sisa semangka yang tidak terjual. Ya, itu rezeki anak soleh dan ramah seperti saya. Hahaha… Dalam setiap perjalanan, ketika berpapasan dengan pendaki lain yang mau naik, saya menawarkan semangka pemberian tadi. Alhamdulillah, semangka habis setelah melewati Pos 3. Kami terus berjalan dan sampai di Ranu Kumbolo tepat pukul 18.30. Lampu-lampu dalam tenda yang kurang lebih berjumlah 30-an menyala remang bagai kunang-kunang di kegelapan malam. Dingin menyerang semakin brutal waktu kami mendirikan tenda. Setelah tenda siap, kami membongkar isi keril dan mulai memasak. Makanan wajib di gunung seperti mi instan pun kami masak. Lengkap dengan sarden dan tentu saja kopi hitam. Menu makan malam istimewa di pinggir Ranu Kumbolo yang memantulkan sinar gemintang yang menggantung di langit. Kabut dingin yang menyelimuti memang tidak bisa hanya diusir dengan kopi panas. Setelah makan, saya sempatkan sedikit ngobrol dengan pendaki lain yang kenal di perjalanan. Kami ngobrol sana-sini di luar tenda dengan kabut yang semakin turun hingga dingin tak mampu kami lawan. Tepat pukul 20.30, saya memutuskan istirahat. Dinginnya udara Ranu Kumbolo membuat tidur tak nyenyak. Baiklah, mata harus tetap dipejamkan agar tubuh kembali fit untuk melanjutkan pendakian esok harinya. Tanggal 27 Mei 2015 Saya sengaja memasang alarm pukul 05.12 untuk menyambut sunrise di Ranu Kumbolo. Dan memang saya bangun pada jam itu. Tapi, setelah menunggu lama, sunrise yang saya dambakan tak kunjung muncul. Ya, cuaca pagi itu berkabut sehingga wajah merona matahari pagi tak terlihat. Karena itu, saya memutuskan untuk tidur lagi dengan nyenyak dan baru bangun pada pukul 07.30. Pagi itu, matahari sudah terik. Sinarnya menghangatkan kulit. Para pendaki sudah memulai kegiatan masing-masing. Ada yang berfoto-foto di pinggir danau, di atas pohon yang tumbang menjorok ke danau, ada yang mengambil air, ada yang mencuci nesting, ada yang memasak. Saya dan saudara tentu juga tak ingin ketinggalan. Kami hunting spot-spot foto yang menarik dan indah. Setelah puas dan perut merasa lapar, kami kembali ke tenda untuk memasak mi instan dan roti bakar. Tepat pukul 10.00, kami mulai membongkar tenda dan packing untuk melanjutkan pendakian ke Kalimati. Tanjakan Cinta dan Oro-Oro Ombo tetap menjadi primadona yang tidak bisa dilewatkan begitu saja oleh setiap pendaki. Kami pun mengabadikan momen-momen keindahan itu dengan kamera. Begitu juga saat kami berada di Jambangan. Di sini pemandangannya malah lebih indah. Karena kami bisa melihat puncak Semeru dengan jelas, yang beberapa menit sekali mengeluarkan asap putih. Kami berjalan santai dan baru sampai di Kalimati pada pukul 03.30. Di Kalimati tak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan. Kami hanya masak, mengambil air di Sumber Mani yang jaraknya sekitar 30 menit dari tenda. Untuk persiapan mendaki, sekitar pukul 18.00, kami bersiap istirahat setelah makan malam. Tepat pukul 22.00, kami bangun untuk memasak mi instan lagi. Kami juga masak jelly . Setelah makan, kami menyiapkan air mineral dan snack untuk dibawa ke puncak Mahameru. Tepat pukul 23.30, saya, saudara, dan pendaki lain mulai mendaki lewat jalur baru. Busyet! Jalur baru ini ternyata sangat menyiksa karena didominasi jalur pasir berkerikil. Jalan seperti itu terus terhampar sampai puncak sehingga sangat menguras tenaga. Jalur itu jauh lebih berat daripada jalur lama yang melewati Arcopodo dengan jalur tanah padat. Tanggal 28 Mei 2015 Pada pukul 05.45 pagi, tenaga saya hampir terkuras habis. Tepat pukul 06.22, tenaga saya sudah benar-benar habis. Angin di musim ekstrem membuat perut saya bergejolak. Ada sesuatu yang ingin dimuntahkan. Kaki tak lagi mau diajak melangkah. Saat itu saya sudah melewati spot cemoro tunggal. Pilihannya hanya dua, bertahan di sana sambil menunggu tenaga pulih dengan terpaan angin dingin menusuk tulang. Atau turun dan meninggalkan puncak yang sudah berada di depan mata, tapi masih jauh dari langkah. Apa dikata, saya memilih untuk turun. Saya tak mau ambil risiko dengan memaksakan diri menuju puncak sementara kondisi tubuh sudah benar-benar drop. Saya pun turun, sedikit berselancar di pasir berbatu Semeru. Sampai di Kelik, saya pun tak sanggup menahan dingin. Dalam kesendirian di Kelik, di bawah tatapan Mahameru yang gagah, saya terkapar, makanan malam tadi keluar dengan rasa pahit di bibir. Jackpot! Dengan tenaga yang tersisa, saya kembali turun ke tenda dan tidur sambil menunggu saudara saya yang melanjutkan pendakian sampai ke puncak Mahameru. Meskipun tak sampai di puncak, saya merasa bersyukur. Saya tak bisa membayangkan bagaimana bila harus memaksakan diri ke puncak. Karena untuk turun ke tenda lewat jalur lama Arcopodo saja langkah saya terseok-seok. Saya pun bersyukur di Kalimati, di dekat tenda, ada pedagang makanan. Jadi, setelah tidur sejenak, perut yang sudah kosong ini harus diisi. Dua gorengan dan dua iris semangka benar-benar nikmat. Sambil makan gorengan dan semangka, saya banyak mengobrol dengan bapak penjualnya. Banyak hal yang disampaikan sehingga saya yang awalnya menyesalkan banyaknya pedagang di Semeru menjadi memaklumi keadaan seperti itu. Setelah saudara saya turun dan sejenak istirahat, kami makan nasi Rp 15 ribu per bungkus dengan lauk satu telur dadar dan sayur mi goreng. Kami harus memulihkan tenaga sebelum turun kembali ke Ranupani. Tepat pukul 12.00, kami mulai merobohkan tenda dan packing . Pada pukul 13.00, kami mulai turun dan sampai di Ranupani pukul 18.30. Setelah sedikit istirahat dan makan kari ayam Rp 12.000 dan teh panas Rp 3.000, kami siap melapor turun Semeru dan menyerahkan sampah. Kami turun ke Tumpang pukul 20.00. Sepanjang perjalanan, perasaan waswas sering menghampiri karena jalanan gelap dan sangat sepi kendaraan. Ya, kami terus menerobos gelap melewati jalan meliuk-liuk, naik dan turun, sampai akhirnya sampai di Tumpang, dan terus saja menuju kos saudara saya. Malam itu, saya tidur dengan tenang. Rindu saya pada Semeru telah tertunaikan, meski tak bisa mengecup puncaknya. Terima kasih, semesta. Tanggal 29 Mei 2015 Untuk menghemat waktu karena harus masuk kerja pukul 17.00 hari itu juga, saya memutuskan naik pesawat dari Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang. Harga tiket Rp 508.875 dengan jarak tempuh 1,5 jam menggunakan maskapai Sriwijaya Air. Tidak seperti LionAir yang sering saya naiki, maskapai Sriwijaya Air memberikan roti dan air mineral dalam kemasan gelas kepada para penumpang. Pesawat takeoff pukul 12.45 dan sampai di Jakarta pukul 13.45, tepat 1,5 jam. Dengan memperhitungkan lalu lintas yang macet pada jam-jam itu, saya pulang ke kos dengan menerima tawaran calo ’’taksi pelat hitam’’ Avanza dari Bandara Soekarno-Hatta. Saya ’’hanya’’ mengeluarkan Rp 200.000 sudah termasuk tiket tiga gerbang tol untuk sampai ke Rawa Belong. Harga itu saya anggap murah karena biasanya saya harus membayar Rp 170.000 bila naik taksi, itu belum termasuk tiket tol, belum lagi kalau jalanan macet parah seperti waktu itu. Argo bisa naik tinggi. Saya akhirnya sampai di kos sekitar pukul 16.30. Jadi, saya hanya punya waktu setengah jam untuk mandi, istirahat sejenak, dan bersiap masuk kerja. Selamat datang di realitas. Sampai jumpa pada perjalanan-perjalanan selanjutnya. Salam lestari. (*) Jakarta–Lumajang, 25–29 Mei 2015

  • Menunggu Sunset di Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta

    JIKA Anda punya misi untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Jakarta, maka Pelabuhan Sunda Kelapa wajib masuk dalam daftar. Pelabuhan yang terletak di Ancol, Pademangan, Jakarta Tumur, ini menyimpan sejarah panjang sebelum hingga sesudah masa kolonialisme. Zaman dulu atau sekitar abad ke-12, Sunda Kelapa memiliki nama Pelabuhan Kalapa yang dikuasai Kerajaan Padjajaran (sekarang Bogor) dan menjadi lokasi perdagangan rempah dari berbagai penjuru dunia. Kemudian, pada masa masuknya Islam dan para penjajah Eropa, Kalapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Akhirnya, Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai lebih dari 300 tahun. Mereka lalu mengganti nama pelabuhan Kalapa dan daerah sekitarnya. Namun pada awal tahun 1970-an, nama kuno Kalapa kembali digunakan sebagai nama resmi pelabuhan tua ini dalam bentuk "Sunda Kelapa". Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini masih aktif digunakan untuk kapal-kapal kayu pengangkut barang kebutuhan pokok. Kapal-Kapal itu menghubungkan antar pulau di Indonesia. Keunikan serta sejarah panjang pelabuhan ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang masih bisa dinikmati masyarakat. Kawasan ini berfungsi sebagai objek wisata sejarah sebagai daya tarik utamanya. Cocok dikunjungi bagi pencinta peninggalan sejarah masa lampau. Bahkan, Sunda Kelapa kerap ramai menjelang sore untuk melihat sunset. Saat sore juga banyak kapal yang bersandar sehingga bisa menjadi foreground objek sunset yang manis. Di sini, kita bisa menyewa kapal nelayan. Tarifnya sekitar Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Tarif tersebut masih bisa ditawar. Wisatawan akan diajak berkeliling untuk melihat sudut-sudut pelabuhan dengan segala aktivitasnya dari sudut pandang yang berbeda. Kamu juga akan diajak melihat lebih dekat mercusuar tua berwarna merah dan hijau peninggalan Belanda. Mengunjungi objek wisata ini juga bisa dengan berjalan kaki. Kita bisa mengamati kapal-kapal kayu di sana. Melihat kesibukan aktivitas bongkar muat barang. Jika beruntung, kita bisa berpapasan dengan pedagang kopi keliling yang mengendarai sepeda motor. Enak kan ngopi sore ditemani sunset Sunda Kelapa. (*)

  • Sosok-Sosok Penyendiri di Balai Seni Rupa Jakarta

    UDARA sejuk langsung terasa ketika memasuki gedung dengan delapan tiang besar di teras depannya ini. Udara Jakarta di luar sana yang panas memang sudah bisa menciutkan semangat. Tetapi, ketika memasuki ruang-ruang di galeri ini, semacam ada ”kesejukan batin” yang terasa. Karya-karya seni, mulai dari lukisan, seni instalasi, hingga keramik tepekur di tempatnya masing-masing. Jika dilihat dari catatan sejarah, gedung ini dibangun tanggal 12 Januari 1870. Awalnya, gedung ini difungsikan sebagai Kantor Dewan Kehakiman Pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia) oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat ini dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI. Gedung ini dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi pada 10 Januari 1972. Pada tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Wali Kota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta tanggal 20 Agustus 1976. Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Museum ini terletak di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Fatahillah itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia. Setelah menapaki tiga anak tangga dan lewat di antara tiang-tiang besar, pengunjung akan disambut dua patung setengah badan di sisi kiri dan kanan pintu masuk galeri. Patung di sisi kiri adalah patung dada S. Sudjojono, sementara di sisi kanan ada patung dada Raden Saleh Sjarif Bustaman. Sindoedarsono Soedjojono (Kisaran, Sumatera Utara, Mei 1913–25 Maret, Jakarta, 1985) merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Dengan diawali oleh Trisno Soemardjo, Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Julukan ini diberikan kepadanya karena Sudjojono adalah senimaan pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Ia biasa menulis namanya dengan ”S. Sudjojono”. Sementara Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807 atau 1811–23 April 1880) adalah pelukis Indonesia beretnis Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis. Di dinding depan bangunan itu juga ada prasasti peresmian gedung oleh Presiden Soeharto dan prasasti berisi sedikit keterangan tentang Balai Seni Rupa atas nama Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Untuk bisa menikmati karya-karya seni yang disimpan di galeri, pengunjung bisa memilih pintu di sebelah kiri, yaitu pintu masuk. Setelah masuk, pengunjung langsung berada di ruang 1. Di sana ada dena ruangan-ruangan yang ada di galeri. Di ruang 2 ada beberapa cat lukis. Pengunjung bisa menikmati lukisan ketika masuk ke ruang 3. Menariknya, di ruang 3 ini ada tangga yang langsung menuju ke lantai dua, di sana terletak ruang 10 dan 11. Di lantai dua itu terpajang beberapa lukisan karya Raden Saleh di ruang 10, sedangkan di ruang 11 ada beberapa lukisan karya S. Sudjojono. Setelah turun dan keluar dari ruang 3, pengunjung akan memasuki ruang 4. Di sana ada beberapa karya lukis dengan tema perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 oleh beberapa pelukis. Di ruang itu juga ada beberapa lukisan karya pelukis legendaris Affandi serta beberapa keramik. Saat menelusuri seluruh ruangan, pengunjung akan dihidangkan beberapa sejarah seni lukis dari zaman awal kemunculannya hingga lukisan modern. Selain lukisan, galeri itu juga memasang beberapa keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni kreatif kontemporer. Selain itu ada koleksi keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20. Secara keseluruhan, museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga sekarang. Koleksi-koleksi itu kemudian dibagi menjadi beberapa ruangan berdasar periodisasi, yaitu: • Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 – 1890) • Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an) • Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an) • Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 – 1945) • Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 – 1950) • Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an) • Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 – sekarang) Setelah ”mengubek-ubek” isi galeri, pengunjung akan melewati ukiran patung-patung Totem Asmat dan lain-lain. Di sekitar patung-patung kayu itu terdapat kursi-kursi yang bisa dijadikan tempat istirahat setelah lelah mengelilingi museum. Selain itu, di sekitar museum ada dua taman kecil yang asri. Hanya saja karena tidak beratap, tidak ada orang yang istirahat di situ, karena siang itu udara Jakarta memang sedang panas-panasnya. Meski begitu, pengunjung yang datang ke Balai Seni Rupa Jakarta ini bisa dihitung dengan jari. Maka, karya seni berupa lukisan, keramik, dan patung-patung ukiran itu menjadi sosok-sosok penyendiri yang terkurung dalam tempat bernama museum. Semoga mereka tidak kecewa. (*) *Dari berbagai sumber Jakarta

  • Melepas Lelah di Berugak: Sedikit Mengenal Suku Sasak di Desa Senaru, Lombok Utara

    AWALNYA, satu-satunya hal yang menarik bagi saya dari Pulau Lombok hanyalah Gunung Rinjani yang menjulang tinggi di antara gunung-gunung lain yang banyak tersebar di Pulau Seribu Masjid itu. Tapi setelah satu minggu berada di sana, saya mulai menemukan banyak hal yang menarik untuk dilihat selain panorama singgasana Dewi Anjani. Salah satunya adalah keberadaan warga Suku Sasak yang tinggal di kaki gunung Rinjani, tepatnya di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Sekilas perkenalan saya dengan Suku Sasak hanya melalui literatur atau dari buku-buku hasil penelitian. Sedangkan perkenalan saya secara langsung dengan salah satu warga Suku Sasak di Desa Senaru terjadi sesaat setelah saya turun dari Gunung Rinjani. Bapak Simalam, nama beliau. Beliau adalah penjaga pos Rinjani Trek Center (RTC) Senaru dan mantan guide-porter untuk pendaki Gunung Rinjani. Tabiat beliau yang humoris membuat saya cepat merasa nyaman. Malam itu juga beliau mengizinkan saya dan dua kawan pendaki lainnya untuk bermalam di RTC Senaru, mengingat saat saya turun gunung jam sudah menunjukkan pukul 18:45 WITA. Rencananya, keesokan harinya saya akan langsung balik ke Surabaya. Namun, pada keesokan harinya, sambil membuatkan kopi Nescafe untuk saya dan dua kawan lainnya, beliau menawarkan kepada saya untuk mengunjungi wisata air terjun di Senaru dengan gratis dan menyarankan pulang keesokan harinya saja. Kami pun mengiyakan. Menjelang pukul 11:37 WITA kami mulai berjalan menjenguk kesejukan air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep tanpa bayar tiket masuk. Lokasinya tidak terlalu jauh, kira-kira hanya satu jam berjalan kaki dari pos RTC Senaru. Bukan hanya itu, beliau juga yang mengeluarkan uang untuk membeli minuman, makanan kecil, dan tak lupa rokoknya. Sepanjang jalan beliau tetap besikap humoris yang bisa membuat saya lupa akan rasa lelah. “Kalian hebat, naik ke Gunung Rinjani gak pakai guide-porter, tapi ke air terjun sini saja pake guide,” celetuk Pak Alam. Saya pun terkekeh sambil terus berjalan menuju air terjun, begitu juga dua kawan saya. Akses jalan menuju air terjun Sindang Gila sedang dibangun saat itu. Di lokasi ini sudah tersedia fasilitas kamar mandi, tempat yang nyaman untuk istirahat, dan juga kios penjual makanan ringan dan minuman. Cukup banyak warga lokal maupun turis mancanegara yang berkunjung di sini. Air terjun Sindang Gila terletak di ketianggian kurang lebih 600 mdpl dan memiliki ketinggian 31 meter. Tidak jauh dari situ terdapat pula air terjun yang jauh lebih indah, Tiu Kelep. Untuk mencapai lokasi air terjun Tiu Kelep cukup sulit mengingat pengunjung harus menyusuri anak sungai karena belum ada jalur resmi yang dibangun untuk mencapai lokasi tersebut. Namun, hal itu justru lebih indah karena kesan alaminya masih terjaga dari pembangunan dan menarik untuk dikunjungi. Tiu Kelep memiliki keyinggian 42 meter dengan panorama memukau. Kanan dan kiri dari air terun ini masih berupa hutan dengan pepohonan rindang. Air yang jatuh juga masih bersih dan jernih, tampak seperti sebuah hamparan tirai putih. Air yang jernih dan bebatuan besar sepanjang sungai membuat saya tidak ingin lekas beranjak. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, saya sempatkan sejenak kongkow di tengah aliran sungai yang dangkal – di atas kayu dari pohon yang tumbang dan bebatuan – sambil menikmati makanan kecil dn air minum yang sudah di tangan. Tak lupa, saya sempatkan menikmati asap Marlboro di tengah gemericik aliran sungai. Maka nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan? Melepas Lelah di Berugak Menjelang sore hari saya kembali ke RTC Senaru untuk mandi. Setelah ini Pak Alam akan mengajak saya dan kawan-kawan untuk singgah di rumahnya. Menjelang pukul 17:50 WITA kami turun dari RTC Senaru menuju rumah Pak Alam. Jalan menuju rumah Pak Alam bisa dibilang belum tersentuh pembangunan. Hal itu cukup kontras dengan jalan menuju RTC Senaru yang sudah berupa aspal. “Kami sebenarnya sudah meminta kepada pemerintah untuk membangun jalan. Tapi jawaban mereka ya hanya nanti dan naniti menunggu giliran. Akhirnya kami bangun secara swadaya,” jawab Pak Alam ketika salah satu kawan bertanya tentang jalan yang rusak ini. Di daerah ini juga belum sepenuhnya dialiri listrik, untuk itu mereka yang rumahnya ingin dialiri listrik harus swadaya. Selain itu, saluran televisi juga tidak bisa dinikmati dengan cuma-cuma seperti di Surabaya. Mereka harus memasang antena parabola untuk bisa mendapatkan siaran televisi. Untuk mencapai rumah Pak Alam saya harus melewati perkebunan yang banyak ditanami kopi dan coklat (kakau). Di Desa Senaru tidak seperti di desa-desa lain. Di sini satu desa terdiri dari petak-petak kawasan yang lebih kecil yang dibatasi oleh pagar melingkar yang terbuat dari kayu atau bamboo. Setiap petak kawasan dipisahkan oleh kebun. Satu petak kawasan terdiri dari satu keluarga yang bisa ditempati sekitar empat sampai lima rumah. Di setiap rumah terdapat satu bangunan yang terpisah dari rumah utama, namanya Berugak, semacam gubug kalau di Jawa. Secara fisik, Berugak seperti rumah panggung dan biasanya berbentuk persegi atau persegi panjang dengan atap terbuat dari ilalang atau daun kelapa dan letaknya terpisah dari rumah utama. Lantai dari Berugak terbuat dari kayu atau bambu dengan empat tiang (sekepat) atau enam tiang (sekenam). Berugak sekepat atau sekenam tidak ada bedanya, hanya saja kalau salah dalam peletakannya maka akan mengakibatkan bala. “Sebenarnya Berugak sekepat atau sekenam sama saja. Cuma, kalau salah meletakkannya maka salah satu dari keluarga kami akan terkena bala (penyakit),” terang Pak Alam ketika saya tanyakan perihal perbedaan Berugak sekepat dan sekenam. Adapun fungsi Berugak bagi Suku Sasak adalah sebagai tempat berkumpulnya keluarga, baik itu untuk kegiatan makan, pertemuan-pertemuan, atau menerima tamu. Sebagai tamu, saya dan kawan-kawan pun dipersilahkan naik ke Berugak dan dijamu dengan makanan dan minuman khas. Suasana begitu hangat mengingat keluarga Pak Alam sangat permisif dan juga humoris. Hampir di setiap rumah di Desa Senaru (atau di Lombok pada umumnya) memiliki Berugak. Selain memiliki hewan ternak (sapi atau kambing), Pak Alam juga memelihara anjing, seperti kebanyakan warga Senaru, baik sebagai hewan pemburu maupun hewan penjaga. Adapun anjing yang ada di rumah Pak Alam hanya menjadi anjing penjaga. Perihal kepercayaan, beliau mengaku sekeluarga beragama Islam. Sebelum mengenal Islam yang dibawa oleh sunan Prapen sekitar abad XVI setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, di Lombok mayoritas warganya memeluk agama Hindu. Adanya akulturasi agama dan kebudayaan setempat (sebelum Hindu masuk, kepercayaan di Lombok adalah animisme dan dinamisme) memunculkan kepercayaan baru yang dikenal dengan Wetu Telu. Wetu Telu (Waktu Tiga) disebut sebagai waktu beribadah/shalat yang dilakukan sebanyak tiga kali dalam sehari. Menurut referensi, daerah yang masih banyak menganut ajaran ini adalah daerah Bayan, termasuk desa Senaru. Namun, ketika hal itu saya tanyakan kepada Pak Alam, beliau membantah bahwa Wetu Telu adalah waktu ibadah/shalat yang hanya dilaksanakan tiga kali dalam sehari. “Dulu ada peneliti yang datang ke sini untuk menanyakan Wetu Telu,” kata Pak Alam mulai menjelaskan. “Saya katakan kepada dia bahwa Wetu Telu itu bukan soal ibadah. Ada filosofi yang mendalam dalam Wetu Telu tersebut. Di sini Wetu Telu itu bukan shalat tiga kali, tapi Wetu Telu itu adalah Matahari, Air, dan Tanaman. Ketiga unsur tersebut adalah penting bagi kehidupan manusia. Dengan sinar matahari dan air yang cukup tanaman bisa tumbuh subur dan dari tanaman itulah kita hidup,” tukas beliau. Penjelasan beliau saya terima dengan baik sebagai tambahan ilmu yang sangat berharga. Terlepas dari itu semua, keyakinan adalah hak individu dan tak ada seorang pun yang berhak memaksakannya. Merdeka! Makanan dan Minuman Khas Berada di Berugak, waktu sudah menunjukkan pukul 19:13 WITA. Perut kami masih penuh makanan karena sebelum pulang dari air terjun saya dan kawan-kawan sudah ditraktir makan oleh Pak Alam. Tapi mata kami kemudian terbelalak melihat satu bakul penuh nasi di keluarkan dari dalam rumah. “Wah, kita makan lagi??? Sudah gak sanggup Pak Alam.” “Sudah, terima saja. Ini rezeki untuk kalian. Ini adalah rezeki dari Yang Di Atas untuk kalian lewat saya. Coba bayangkan, kalian di puncak Rinjani tidak menemukan makanan sebanyak ini. Nah, di sini ada banyak makanan. Ya sudah, nikmati saja. Tidak baik menolak rezeki. Iya, kan?” Sambil menarik napas panjang saya mengiyakan tanpa suara. Mengingat apa yang saya lalui di atas Rinjani, harusnya saya memang bersyukur masih bisa makan banyak. Setelah nasi, makanan lain yang keluar adalah tiga piring sayur nangka muda (atau kalau di Jawa disebut “tewel”) yang diberi taburan kelapa dan tiga piring sayur komak lebih. Sayur komak lebih, atau sering disebut sayur komak, terbuat dari kacang komak. Kacang komak ini dijadikan sebagai lauk dan bisa juga dijadikan camilan. Setelah dipersilahkan, saya dan kawan-kawan langsung menyantap satu piring nasi dengan sayur nangka muda dan sayur komak yang ada di hadapan masing-masing. Makanan sederhana yang memiliki cita rasa berbeda dengan makanan yang biasa saya makan. Setelah perut kenyang, wisata kuliner kami belum selesai. Setelah piring-piring kosong dimasukkan (kecuali komak yang bisa dijadikan camilan) keluarlah minuman khas Lombok, Brem. Brem adalah minuman beralkohol khas Lombok. Minuman ini biasanya disajikan untuk menyambut tamu yang datang dan disarankan untuk tidak menolaknya karena itu dianggap tidak sopan oleh tuan rumah. Brem juga biasanya dikonsumsi untuk upacara adat, entah untuk acara pernikahan atau sunatan. Jika tuan rumah yang memiliki hajat tidak menyediakan Brem maka keluarga itu akan menjadi bahan pembicaraan di desa. Minuman ini dibuat dari bahan ketan yang diberi tambahan ragi tape dan didiamkan selama sekitar 3 minggu untuk proses fermentasi. Brem biasanya disimpan di lumbung padi atau dikubur di dalam tanah agar lebih enak karena suhu yang hangat. Semakin lama Brem disimpan, maka akan menghasilkan cita rasa yang berbeda dan lebih enak pastinya. Brem di Lombok ada yang berwarna merah dan putih serta memiliki rasa manis dan pahit, tergantung ketan yang digunakan. Ada Brem yang memiliki rasa manis dan ada juga yang pahit. Adapun Brem yang saya nikmati kali ini memiliki rasa yang manis dan enak. Kacang komak yang gurih nan lembut di lidah semakin menambah nikmat perjamuan malam ini. Di tengah menikmati Brem yang belum habis, dari dalam rumah nan sederhana dengan atap dari daun kelapa di samping Berugak, gadis kecil keluar dengan membawa empat gelas kopi sasak. Kopi sasak dari Lombok ini banyak dikenal oleh penikmat kopi sebagai kopi dengan cita rasa yang khas. Aromanya pun harum dan mantap. Beruntung bagi saya bisa menikmati kopi sasak dan diminum di tempatnya langsung. Sebelum pulang ke Surabaya, beliau memberi saya satu kantong plastik kopi bubuk khas Lombok untuk di bawa pulang ke Jawa sebagai oleh-oleh. Setelah kenyang, saya dan kawan-kawan masih bersantai di Berugak sambil ngobrol dan bergelak tawa. Awalnya saya dan kawan-kawan tidak diperbolehkan pulang ke Surabaya esok harinya dan disuruh tinggal satu hari lagi. Alasannya, di desa Senaru akan diadakan acara tari tradisional yang rutin diadakan setiap malam Jum’at, begitu menurut penuturan Pak Alam. Tapi dengan sangat menyesal kami harus tetap pulang keesokan harinya. Kebersamaan yang singkat tapi sudah cukup meninggalkan kesan mendalam. Semoga di lain waktu bisa kembali bersandar di Pulau Dewi Anjani. (*)

  • Mengintip Panorama Sindang Gila dan Tiu Kelep, Lombok

    " KAPAN -kapan kalau ke Lombok lagi bawa uang yang banyak!” kata seorang kawan yang saya kenal saat pendakian Gunung Rinjani. Bawa uang banyak memang gampang, tapi pertanyaannya adalah uang siapa yang musti saya bawa?? Lagi pula keberadaan saya di Lombok semata-mata hanya untuk menengok singgasana Dewi Anjani. Kalaupun saya bisa mengintip panorama air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep itu bukan karena saya memiliki kelebihan uang, tapi bonus. Saya dan kawan pendaki lainnya turun dari Rinjani tanggal 12 Juni 2013 sore. Saya tidak langsung pulang tapi bermalam di Rinjani Trek Center (RTC) Senaru yang saat itu dijaga oleh Pak Simalam, mantan guide-porter Gunung Rinjani. Keesokan paginya, ketika sedang menikmati kopi dan rokok A Mild yang beliau sajikan, tawaran untuk wisata gratis ke dua air terjun tersebut pun menghampiri. Saya dan dua kawan lainnya akhirnya menunda kepulangan dan tinggal sehari lagi di Lombok. Bagi pengunjung yang berangkat dari Mataram, untuk mencapai lokasi air terjun Anda harus menempuh perjalanan 2 hingga 3 jam menuju Desa Senaru. Anda bisa naik angkutan dari terminal Mataram menuju Kecamatan Bayan dengan ongkos kurang lebih Rp 30.000. Setelah itu naik ojek menuju Desa Senaru dengan ongkos Rp 20.000. Tapi bagi saya yang berada di RTC Senaru hanya perlu waktu sekitar satu jam dengan berjalan kaki untuk mencapai dua air terjun tersebut. Air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep masih berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Lebih tepatnya berada di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Untuk bisa menikmati air terjun ini pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang Rp 10.000 untuk membeli tiket. Tapi saya dan dua kawan lainnya tidak perlu membayar berkat kebaikan hati Pak Simalam, penjaga Pos RTC Senaru, yang mengajak kami melewati “jalur rahasia” sehingga tidak perlu bayar tiket. Air Terjun Sindang Gila Lokasi air terjun Sindang Gila berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan air terjunnya sendiri memiliki ketinggian 31 meter. Air terjun ini terdiri dari dua tingkatan. Tingkatan pertama, air terjun keluar dari tebing dan jatuh ke sebuah kolam kecil sebelum mengalir lagi dan jatuh ke tempat yang lebih datar dan membentuk aliran sungai. Kontur sungai ini relatif datar sehingga banyak pengunjug lokal yang bisa merasakan dingin airnya dengan mandi atau hanya sekadar membasuh muka. Di lokasi ini infrastrukturnya sudah cukup lengkap karena sudah dibangun toilet, mushola, kios penjual makanan dan minuman, dan juga tempat untuk bersantai (berugak) bersama kawan, pasangan, atau keluarga Anda. Akses untuk menuju kawasan ini juga sudah sangat mudah karena sudah dibuatkan tangga yang terbuat dari semen. Saat itu akses jalan menuju lokasi juga sedang dilakukan perbaikan sehingga nantinya diharapkan akan lebih memudahkan dan memberi kenyamanan kepada para pengunjung. Menurut cerita rakyat yang berkembang, nama Sindang Gila diambil dari cerita penduduk setempat yang secara tidak sengaja menemukan air terjun ini saat memburu singa gila yang mengacau di sebuah kampung dan kemudian lari masuk ke hutan. Selain asal-usul nama, warga setempat juga mempercayai sebuah mitos yang menyatakan bahwa bagi siapa saja yang membasuh muka atau mandi di situ maka dia bisa menjadi satu tahun lebih muda. Selain air terjun Sindang Gila, di lokasi ini terdapat dua air terjun lainnya, yaitu air terjun Tiu Kelep dan Betara Lejang. Kedua air terjun ini berada di atas lagi ke arah hulu. Namun, perjalanan saya kali ini hanya sampai pada Tiu Kelep. Air yang mengalir dan membentuk air terjun Tiu Kelep ini bersumber dari Danau Segara Anak yang berada di puncak Gunung Rinjani. Air Terjun Tiu Kelep Tidak seperti Sindang Gila, untuk mencapai air terjun Tiu Kelep jalur yang saya lalui sedikit lebih menantang. Dari Sindang Gila saya harus melalui jalan setapak cukup jauh. Melewati pinggiran aliran sungai dan naik melewati saluran irigasi yang juga difungsikan sebagai jembatan penyeberangan. Di tengah perjalanan saya menemui pintu air untuk mengatur aliran sungai. Sayang sekali, bangunan ini dipenuhi coretan tangan-tangan usil para pengunjung. Untuk benar-benar mencapai Tiu Kelep, saya harus menyusuri badan sungai mengingat belum ada jalur resmi yang dibangun untuk mempermudah akses menuju air terjun tersebut. Bebatuan yang agak licin dan aliran sungai yang cukup deras mengisyaratkan saya untuk hati-hati agar tidak tergelincir. Tapi justru hal itulah yang membuat perjalanan menuju air menjadi semakin seru. Ketika berada di hadapan air terjun Tiu Kelep, mata saya pun berbinar dan cenderung takjub akan keindahannya. Jika dibandingkan dengan Sindang Gila, air terjun Tiu Kelep lebih indah dan lebih tinggi dengan ketinggian 42 meter. Kapasitas air yang jatuh pun lebih banyak dan melebar seperti sebuah tirai putih yang menjuntai dari tebing-tebing hijau. Air dari Tiu Kepel inilah yang kemudian mengalir di pinggir tebing dan kemudian jatuh membentuk air terjun Sindang Gila. Lokasinya yang sedikit tersembunyi dan dipenuhi dengan bebatuan besar membuat tempat ini menjadi lebih indah dan natural. Belum lagi tebing di sisi kanan dan kiri yang begitu hijau, gemuruh air jatuh, serta derik serangga-serangga hutan menciptakan sebuah harmoni yang hanya bisa disajikan oleh orkestra alam semesta. Berbeda dengan Sindang Gila, di tempat ini pengunjung yang mendominasi adalah wisatawan mancanegara dengan guide-nya masing-masing. Seingat saya, pada saat itu wisatawan lokal hanya saya dan kedua kawan saya (dan juga Pak Simalam) yang ada di situ. Mereka pun (para turis asing) tidak mau melewatkan begitu saja keindahan Tiu Kelep dan ingin merasakan kesejukan airnya. Kebanyakan dari mereka kemudian menanggalkan baju dan kemudian mandi di bawah air terjun dengan hanya mengenakan bikini. Kolam yang terbentuk di bawahnya cukup luas dan datar. Kedalamannya pun hanya sepinggang orang dewasa sehingga masih aman dipakai untuk mandi. Pada saat seperti itu terjadi pergolakan batin pada diri saya untuk memutuskan mandi atau tidak. Setelah merasakan udara yang cukup dingin (dan juga tidak bawa baju ganti), akhirnya saya memutuskan untuk tidak mandi. Seperti Sindang Gila, air terjun Tiu Kelep juga memiliki mitosnya sendiri. Warga setempat mempercayai bahwa siapa pun yang mandi di sana bisa awet muda. Dalam bahasa sehari-hari Suku Sasak di Lombok, kata “Tiu” berarti ‘Kolam’, sedangkan “Kelep” berarti ‘Terbang’ sehingga dapat diambil terjemahan ‘kolam tempat buih-buih air beterbangan’. Pada saat-saat tertentu, butiran air yang beterbangan itu memunculkan pelangi di ujung air terjun. Namun, sayang sekali fenomena alam nan indah di bayangan itu tidak bisa saya saksikan pada saat itu. Jadi saya nikmati saja bule-bule yang sedang asik mandi di bawah air terjun. Sebelum kembali ke RTC Senaru, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri kongkow sebentar di tengah-tengah aliran sungai yang memiliki dataran lebih tinggi. Kami duduk-duduk di atas batu dan kayu sambil menikmati camilan dan tentu saja tidak lupa rokoknya. Dari kongkow sebentar ini saya tahu bahwa nasib air di kawasan ini sedang dipertaruhkan! “Berkali-kali datang permintaan untuk pengambilalihan air di sini oleh perusahaan tertentu. Mereka menjanjikan pengambilalihan ini demi kebaikan dan kesejahteraan bersama,” kata Pak Simalam memulai cerita. “Pemerintah kabupaten sudah menyetujui, tapi semuan warga di sini menolak.” “Bayangkan saja kalau semua air di sini dikelola perusahaan. Tidak semua orang bebas memanfaatkan air dan tidak semua orang bisa mendapatkan penghasilan. Contohnya, jika perusahaan air itu jadi dibangun maka tidak semua orang di desa ini bisa bekerja di perusahaan tersebut, paling pekerjanya berasal dari luar Senaru, atau dari luar Lombok. Lalu kami harus bekerja apa kalau perusahaan itu sampai dibangun?” Saya rasa itu hanya pertanyaan retoris dari Pak Simalam. Pertanyaan tanpa meminta jawaban. Saya pun hanya diam dan terus mendengarkan penuturan Pak Simalam. “Kalau kondisinya masih seperti ini, air masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat, kami semua bisa merasakan manfaatnya. Siapa saja bisa menjadi guide bagi turis-turis lokal maupun mancanegara sehingga memiliki penghasilan. Nah, ini tidak akan bisa kami lakukan kalau sampai air di sini dikuasai oleh perusahaan.” Baiklah. Saya megamini apa yang dikatakan Pak Alam – yang juga mewakili suara semua warga di sini. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka bisa mempertahankan ladang penghidupan mereka dari serobotan serigala-serigala liar yang hanya menginginkan keuntungan pribadi dengan eksploitasi yang berlebihan. Setelah hampir setengah jam saya dan kawan-kawan kongkow di tengah sungai, saya dan kawan-kawan pun bergegas kembali ke Pos RTC Senaru. (*) Lombok

  • Danau Segara Anak, Surga Para Pemancing di Ketinggian

    MASIH tentang Gunung Rinjani dan segala keindahannya. Kali ini saya ingin sedikit mengulas tentang danau segara anak, surga bagi para pemancing di ketinggian. Bagi para pendaki gunung Rinjani, danau segara anak bak oase di tengah gurun pasir, sementara bagi para pendaki yang juga memiliki hobi memancing, tempat ini bak surga yang berisi jutaan ikan. Banyak pendaki yang membawa perlengkapan pancing saat mendaki. Setelah mencapai puncak, pendaki akan langsung turun ke danau. Untuk mencapai danau, pendaki harus berjalan turun melewati tebing curam. Namun, beratnya medan akan terbayar lunas ketika sampai di bibir danau dengan permukaan air yang tampak biru seperti di laut. Berada di atas ketinggian 2.003 meter di atas permukaan laut (mdpl), danau segara anak memiliki luas 1.100 ha. Air di dalam danau tidak bisa dikonsumsi karena memiliki kadar belerang yang tinggi. Meskipun berada di ketinggian, air di danau ini tidak dingin tapi justru hangat. Ajaibnya, danau segara anak telah ditetapkan sebagai salah satu danau  panas vulkanik terbesar di dunia. Danau yang memiliki volume air 1,02 kilometer kubik ini memiliki temperatur harian air permukaan danau segara anak adalah 20-22 derajat Celsius. Hal ini disebabkan ada aktivitas vulkanik di dasar danau dekat gunung Baru Jari yang terletak di tengah danau. Dengan konsisi seperti itu, air danau tidak baik untuk konsumsi meskipun dimasak terlebih dahulu. Untuk menarik minat pendaki dan juga untuk mata pencaharian warga setempat, pada tahun 1985 Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat akhirnya menebar benih ikan di danau. Meskipun memiliki kadar kimia yang besar, danau dengan kedalaman 230 meter ini memiliki sirkulasi air yang sangat bagus. Sirkulasi yang bagus membuat perkembangbiakan ikan juga bagus, terutama ikan nila, mujaer, dan mas. Saat melakukan pendakian saya tidak membawa alat pancing, tapi beruntung karena di sana saya mengenal seorang porter yang berbaik hati mau meminjamkan pancing kepada saya. Menurut keterangan dia, hampir semua porter rinjani memiliki simpanan pancing yang ditaruh di bawah semak-semak. Menurut saran dia juga, waktu yang paling pas untuk mulai memancing adalah pada pagi hari. Benar saja, tidak sulit bagi saya untuk mendapatkan ikan dengan alat pancing seadanya; dengan kail terbuat dari bilah bambu. Setidaknya dalam waktu singkat saya sudah bisa mengangkat tujuh ekor ikan. Hanya saja, keberuntungan selalu bermain dalam kegiatan mancing-memancing. Mendapat ikan besar atau kecil tergantung pada nasib masing-masing. Untuk bisa menikmati sensasi strike di danau tertinggi di Pulau Lombok cukup dengan umpan cacing. Bagi yang tidak membawa persediaan cacing atau kehabisan tidak perlu khawatir atau panic. Di sepanjang pinggris danau kita bisa mengorek tanah untuk mendapatkan cacing yang melimpah. Tapi kita perlu hati-hati ketika akan mencari cacing karena di sepanjang bibir danau banyak kotoran manusia. Setelah memancing, kegiatan yang tak kalah istimewa adalah bakar ikan. Proses memasak dengan dibakar atau digoreng tentu saja terserah pada keinginan masing-masing. Tapi, dengan cara membakar menjadi lebih nikmat bagi saya. Cukup dengan mengumpulkan kayu bakar yang banyak tersedia di sana, sedikit spirtus atau minyak tanah, dan tentu saja korek api, ikan yang sudah ditusuk dengan kayu siap dibakar. Dengan begini saya benar-benar bisa merasakan nikmat yang sudah disediakan oleh alam untuk manusianya. Tak ada kenikmatan selain memperoleh ikan dari alam bebas, memasaknya di alam bebas, dan menikmatinya dengan keindahan panorama alam bebas danau segara anak dengan naungan kabut tipis dan angin sepoi. Yap, danau segara anak telah menjadi surga pemancing di ketinggian. Semoga suatu saat saya bisa kembali ke tempat terindah di Indonesia ini. Salam Lestari. (*) Lombok

  • Refresh Otak di Banten Rafting Ciberang, Banten

    AKHIR tahun 2014, setelah berbulan-bulan pikiran tergerus kepenatan aktivitas di kota Jakarta, tim Jawa Pos Jakarta mengadakan wisata alam di luar kota metropolitan. Tempat wisata tujuan pun ditentukan, Banten! Kami akan mencoba derasnya aliran dan tantangan jeram Sungai Ciberang. Wahana rafting itu terletak di Kampung Muara, Desa Banjar, Lebak, Banten. PT Banten Rafting sebagai pengelola satu-satunya mematok biaya cukup murah, itu pun sudah lengkap welcome drink, snack, makan siang, dan pemandian air panas. Sungai yang berhulu ke Gunung Halimun ini berada di pegunungan persis di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Selain pemandangan alam yang indah, udaranya juga sejuk. Dalam menikmati wisata arung jeram, pengunjung bisa memilih paket yang bisa dipilih. Paket yang tersedia mempengaruhi jarak arung jeram dan fasilitas yang disediakan. Rafting di Sungai Ciberang mendapat sertifikat riam dari Federasi Arum Jeram Indonesia (FAJI) dengan grade 2-3 tergantung ketinggian air dan arus. Panjang trek arung dibagi dua, yaitu 10 kilometer dengan jarak tempuh 2 jam dan 25 kilometer dengan waktu 5,5 jam. Untuk mencapai Sungai Ciberang, ada beberapa jalur alternatif yang bisa ditempuh. Yaitu lewat Rangkas Bitung atau Serang atau Bogor. Kami memilih alternatif pertama, Rangkas Bitung. Jarak tempuh dari Jakarta ke Sungai Ciberang (+macet-macet) sekitar 6 jam. (*)

  • Merangkum Sejarah Panjang Kita di Museum Bank Mandiri

    CORAK bangunannya tampak sama dengan beberapa gedung di sampingnya. Bergaya neo-klasikal. Namun, begitu memasuki lobi, ada kemewahan yang menyambut. Dan tentu saja hawa dingin dari mesin pendingin ruangan. Cukup mengusir gerah di luar sana. Museum Bank Mandiri Jakarta tampak ramai siang itu. Museum Bank Mandiri hanya satu di antara sekian banyak museum sejarah di Jakarta. Museum BI berdiri kukuh di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Begitu memasuki lobi utama Museum Mandiri , terdapat kaca patri mozaik yang artistik. Kaca itu dibuat seniman Belanda bernama Ian Sihouten Frinsenhouf dengan total 1509 panel kaca patri. Di museum ini, kita bisa mendapat informasi tentang peran Bank Mandiri dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa Barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Mandiri pada tahun 1953. Ada pula informasi tentang kebijakan-kebijakan Bank Mandiri, yang meliputi latar belakang dan dampak kebijakannya bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Museum BI sudah bisa disebut sebagai museum modern. Beberapa informasi dikemas dan disajikan dengan teknologi modern dan multimedia. Seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama. Pengunjung bisa menikmati sejarah dalam bentuk audiovisual di ruangan yang mengusung konsep seperti teater mini. Menjelajahi setiap sudut ruangan museum ini seakan memasuki Indonesia di masa lalu. Selain mulimedia, museum ini menampilkan patung-patung yang menceritakan kegiatan perbankan pada zaman Belanda. Ada juga dermaga lama di bilik Batavia tempo doeloe . Lalu, khazanah numismatik, kursi koin, pintu baja, dan ruang numismatik. Karena namanya Museum BI, tentu di sini banyak koleksi uang dari zaman dulu. Museum ini tak ketinggalan memajang foto atau gambar para penjelajah asing yang singgah di Nusantara. Tak sekadar singgah, mereka juga memberikan pengaruh pada kolonisasi di Nusantara. Sebut saja Marcopolo (Italia, 1254–1324), Laksamana Cheng Ho (1371–1436), Afonso d’Alburquerque (Portugis, 1453–1515), Cornelis de Houtman (Belanda, 1565–1599), dan Sir Henry Middleton (Inggris, 1604). Nah, di tengah-tengah bangunan ini, terdapat taman atau tempat terbuka yang ditumbuhi beberapa pohon. Taman ini terlihat asri dan fotogenik. Namun sayang, tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu. Diperlukan izin khusus, kata penjaga di museum tersebut. Namun, Anda tidak perlu kecewa. Sebab, di belakang gedung, terdapat taman yang bisa dikunjungi siapa saja. Di halaman belakang juga terdapat musala yang tak kalah bagus. Secara garis besar, di Museum BI ada tujuh ruang utama. Antara lain,  Ruang Playmotion untuk simulasi permainan menangkap bayangan koin yang jatuh untuk para pengunjung sebelum masuk.  Ruang teater  untuk menonton film sejarah kebijakan BI dari masa ke masa. Kemudian, Ruang sejarah untuk memampang sejarah BI peranannya dalam sejarah bangsa. Setiap cerita dirangkai secara detail dengan dilengkapi  film pendek, patung, dan barang barang yang dulu digunakan.  Ruang perenungan hijau  dulu digunakan sebagai tempat para pimpinan merumuskan berbagai kebijakan. Lalu, Ruang emas moneter merupakan tempat mas murni yang pada masanya pernah berfungsi sebagai penjamin uang yang beredar di Indonesia terseimpan. Di ruangan ini terdapat pula uang dari berbagai negara.  Ruang numismatik  berisi koleksi uang yang beredar di Nusantara mulai dari berbagai bentuk dan jenis uang dari zaman kerajaan Hindu Budha, kerajaan Islam, kolonial hingga uang pasca kemerdekaan dan uang mancanegara.  (*)

bottom of page