top of page

Search Results

Search this site

165 results found with an empty search

  • Dari Jakarta Menyambangi Semeru, Gagal Muncak

    SAYA telah merencanakan perjalanan jauh. Dari sepetak kamar kos sempit di wilayah Jakarta Barat, pikiran saya bertualang ke wilayah perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Di situlah si gagah Mahameru berdiri kukuh. Puncaknya memanggil-manggil dalam angan. Maka, saya rencanakan perjalanan ini. Kembali ke puncak 3.676 mdpl. Gunung Semeru. Tiga kali mendaki Semeru tidak membuat saya bosan untuk kembali menjenguk kabut dinginnya. Maka, tepat tanggal 25 Mei 2016, saya memesan tiket kereta tujuan Malang. Naik kereta Jayabaya dengan tiket seharga Rp 230.000. Kereta berangkat dari Stasiun Senen pada pukul 14.00 dan baru sampai di Stasiun Kota Malang Baru tanggal 26 Mei 2015 pukul 02.30 dini hari. Perjalanan kereta ekonomi Jakarta–Malang memakan waktu sekitar 14 jam. Sampai di stasiun, saudara saya yang kuliah di Malang sudah menunggu di pintu keluar. Bersama dialah saya akan mendaki Semeru kali ini. Kami sempatkan makan nasi bungkus di depan stasiun. Di Jakarta, menu nasi bungkus di warung kopi seperti ini tidak bisa dijumpai. Untuk menghangatkan badan di Kota Malang yang sedikit dingin pagi itu, saya memesan teh hangat. Tepat pukul 03.30, saya diajak menuju tempat kos saudara saya untuk bermalam. Esok paginya kami baru menuju Ranupani. Tanggal 26 Mei 2015 Sekitar pukul 09.30, kami berangkat ke Ranupani menggunakan motor Satria. Motor memang menjadi transportasi paling murah daripada harus naik Jeep. Tapi, naik motor dengan nenteng dua keril besar melalui tanjakan berliku memang tidak mudah. Sangat menantang dan menguras tenaga. Setelah melewati beberapa tikungan dan tanjakan, kami sampai di Desa Ranupani. Kami mencapainya dalam waktu satu setengah jam perjalanan. Di sana, banyak perubahan. Loket tiket yang dulu berada di samping musala kini dipindah ke tempat bekas mes tim SAR dekat Danau Ranupani. Di sana, ternyata ada aturan baru juga. Setiap pendaki yang ingin membeli tiket harus melalui tahap SIMAKSI dulu di gedung belakang loket tiket. Di sana, setiap pendaki diberi pengarahan oleh relawan Semeru tentang tata tertib selama pendakian. Pendaki juga diimbau tidak membuang sampah sembarangan. Bahkan, secara tegas pihak TNBTS memberlakukan peraturan ketat soal sampah. Jika pendaki tidak membawa sampahnya turun, petugas akan memberlakukan dua sanksi. Pertama, pendaki naik kembali ke Gunung Semeru untuk mengambil sampahnya. Atau kedua, pendaki di- blacklist , tidak boleh lagi mendaki Semeru untuk selama-lamanya. Dalam pengarahan tersebut, para pendaki juga diberi tahu soal adanya toilet-toilet yang didirikan di Ranu Kumbolo dan Kalimati. Selain itu, pihak TNBTS juga membuka jalur baru untuk menuju puncak Mahameru. Pendaki tidak diperbolehkan melewati jalur lama yang melewati Arcopodo. Jalur tersebut baru saja longsor sehingga demi keamanan pendaki dan recovery , jalur itu ditutup dan dibuat jalur baru. Setelah mendengar pemaparan dari relawan, saya dan saudara saya baru bisa membeli tiket. Persyaratannya masih sama. Tiap pendaki harus menyertakan fotokopi KTP, surat keterangan sehat dari dokter, dan satu meterai 6.000 untuk satu kelompok. Namun, untuk harga tiket masuk ada perubahan. Dulu sekitar tahun 2013, tiket masuk Semeru hanya Rp 10 ribu untuk 3–4 hari. Namun, kini tarifnya berubah. Setiap pendaki dikenai Rp 17.500 per hari! Setelah mengisi perut yang keroncongan di warung sekitar pos perizinan, kami baru mulai mendaki sekitar pukul 14.00. Seperti biasa, kami berjalan santai mulai plang selamat datang Semeru. Namun, hal yang mengagetkan saya terpampang di Pos 1. Apalagi kalau bukan penjual makanan. Penjual di Pos 1 menawarkan macam-macam makanan dan minuman. Mulai semangka, gorengan, nasi bungkus, Aqua, Pocari Sweatt, Ale-Ale, hingga madu. Yang membuat saya ’’terkesima’’, pedagang tersebar mulai dari Pos 1, 2, 3, 4, Ranu Kumbol, Cemoro Kandang, Jambangan, hingga Kalimati! Dalam cuaca panas Semeru yang membakar kulit dan mengeringkan kerongkongan, saya pun tergoda untuk sekadar mencicipi kesegaran semangka yang merona merah dengan cairan manis yang tersimpan di dalamnya. Saya beli dua iris untuk saya dan saudara saya. Dua iris semangka dihargai Rp 5 ribu. Setelah dahaga terbunuh, kami melanjutkan perjalanan yang kemudian disambut hujan saat kami berada di Pos 2. Di sini, ada beberapa pedagang yang mau turun dengan sisa semangka yang masih banyak. Saya kemudian sedikit mengobrol dengan mereka soal pedagang-pedagang di Semeru sampai gerimis tak lagi turun. Sebelum turun, pedagang laki-laki berusia sekitar 45-an tahun kemudian memberi saya satu plastik semangka yang masih segar. Dalam plastik tersebut, tidak kurang ada 20 iris semangka segar, meskipun ada beberapa yang mulai layu. Itu adalah sisa semangka yang tidak terjual. Ya, itu rezeki anak soleh dan ramah seperti saya. Hahaha… Dalam setiap perjalanan, ketika berpapasan dengan pendaki lain yang mau naik, saya menawarkan semangka pemberian tadi. Alhamdulillah, semangka habis setelah melewati Pos 3. Kami terus berjalan dan sampai di Ranu Kumbolo tepat pukul 18.30. Lampu-lampu dalam tenda yang kurang lebih berjumlah 30-an menyala remang bagai kunang-kunang di kegelapan malam. Dingin menyerang semakin brutal waktu kami mendirikan tenda. Setelah tenda siap, kami membongkar isi keril dan mulai memasak. Makanan wajib di gunung seperti mi instan pun kami masak. Lengkap dengan sarden dan tentu saja kopi hitam. Menu makan malam istimewa di pinggir Ranu Kumbolo yang memantulkan sinar gemintang yang menggantung di langit. Kabut dingin yang menyelimuti memang tidak bisa hanya diusir dengan kopi panas. Setelah makan, saya sempatkan sedikit ngobrol dengan pendaki lain yang kenal di perjalanan. Kami ngobrol sana-sini di luar tenda dengan kabut yang semakin turun hingga dingin tak mampu kami lawan. Tepat pukul 20.30, saya memutuskan istirahat. Dinginnya udara Ranu Kumbolo membuat tidur tak nyenyak. Baiklah, mata harus tetap dipejamkan agar tubuh kembali fit untuk melanjutkan pendakian esok harinya. Tanggal 27 Mei 2015 Saya sengaja memasang alarm pukul 05.12 untuk menyambut sunrise di Ranu Kumbolo. Dan memang saya bangun pada jam itu. Tapi, setelah menunggu lama, sunrise yang saya dambakan tak kunjung muncul. Ya, cuaca pagi itu berkabut sehingga wajah merona matahari pagi tak terlihat. Karena itu, saya memutuskan untuk tidur lagi dengan nyenyak dan baru bangun pada pukul 07.30. Pagi itu, matahari sudah terik. Sinarnya menghangatkan kulit. Para pendaki sudah memulai kegiatan masing-masing. Ada yang berfoto-foto di pinggir danau, di atas pohon yang tumbang menjorok ke danau, ada yang mengambil air, ada yang mencuci nesting, ada yang memasak. Saya dan saudara tentu juga tak ingin ketinggalan. Kami hunting spot-spot foto yang menarik dan indah. Setelah puas dan perut merasa lapar, kami kembali ke tenda untuk memasak mi instan dan roti bakar. Tepat pukul 10.00, kami mulai membongkar tenda dan packing untuk melanjutkan pendakian ke Kalimati. Tanjakan Cinta dan Oro-Oro Ombo tetap menjadi primadona yang tidak bisa dilewatkan begitu saja oleh setiap pendaki. Kami pun mengabadikan momen-momen keindahan itu dengan kamera. Begitu juga saat kami berada di Jambangan. Di sini pemandangannya malah lebih indah. Karena kami bisa melihat puncak Semeru dengan jelas, yang beberapa menit sekali mengeluarkan asap putih. Kami berjalan santai dan baru sampai di Kalimati pada pukul 03.30. Di Kalimati tak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan. Kami hanya masak, mengambil air di Sumber Mani yang jaraknya sekitar 30 menit dari tenda. Untuk persiapan mendaki, sekitar pukul 18.00, kami bersiap istirahat setelah makan malam. Tepat pukul 22.00, kami bangun untuk memasak mi instan lagi. Kami juga masak jelly . Setelah makan, kami menyiapkan air mineral dan snack untuk dibawa ke puncak Mahameru. Tepat pukul 23.30, saya, saudara, dan pendaki lain mulai mendaki lewat jalur baru. Busyet! Jalur baru ini ternyata sangat menyiksa karena didominasi jalur pasir berkerikil. Jalan seperti itu terus terhampar sampai puncak sehingga sangat menguras tenaga. Jalur itu jauh lebih berat daripada jalur lama yang melewati Arcopodo dengan jalur tanah padat. Tanggal 28 Mei 2015 Pada pukul 05.45 pagi, tenaga saya hampir terkuras habis. Tepat pukul 06.22, tenaga saya sudah benar-benar habis. Angin di musim ekstrem membuat perut saya bergejolak. Ada sesuatu yang ingin dimuntahkan. Kaki tak lagi mau diajak melangkah. Saat itu saya sudah melewati spot cemoro tunggal. Pilihannya hanya dua, bertahan di sana sambil menunggu tenaga pulih dengan terpaan angin dingin menusuk tulang. Atau turun dan meninggalkan puncak yang sudah berada di depan mata, tapi masih jauh dari langkah. Apa dikata, saya memilih untuk turun. Saya tak mau ambil risiko dengan memaksakan diri menuju puncak sementara kondisi tubuh sudah benar-benar drop. Saya pun turun, sedikit berselancar di pasir berbatu Semeru. Sampai di Kelik, saya pun tak sanggup menahan dingin. Dalam kesendirian di Kelik, di bawah tatapan Mahameru yang gagah, saya terkapar, makanan malam tadi keluar dengan rasa pahit di bibir. Jackpot! Dengan tenaga yang tersisa, saya kembali turun ke tenda dan tidur sambil menunggu saudara saya yang melanjutkan pendakian sampai ke puncak Mahameru. Meskipun tak sampai di puncak, saya merasa bersyukur. Saya tak bisa membayangkan bagaimana bila harus memaksakan diri ke puncak. Karena untuk turun ke tenda lewat jalur lama Arcopodo saja langkah saya terseok-seok. Saya pun bersyukur di Kalimati, di dekat tenda, ada pedagang makanan. Jadi, setelah tidur sejenak, perut yang sudah kosong ini harus diisi. Dua gorengan dan dua iris semangka benar-benar nikmat. Sambil makan gorengan dan semangka, saya banyak mengobrol dengan bapak penjualnya. Banyak hal yang disampaikan sehingga saya yang awalnya menyesalkan banyaknya pedagang di Semeru menjadi memaklumi keadaan seperti itu. Setelah saudara saya turun dan sejenak istirahat, kami makan nasi Rp 15 ribu per bungkus dengan lauk satu telur dadar dan sayur mi goreng. Kami harus memulihkan tenaga sebelum turun kembali ke Ranupani. Tepat pukul 12.00, kami mulai merobohkan tenda dan packing . Pada pukul 13.00, kami mulai turun dan sampai di Ranupani pukul 18.30. Setelah sedikit istirahat dan makan kari ayam Rp 12.000 dan teh panas Rp 3.000, kami siap melapor turun Semeru dan menyerahkan sampah. Kami turun ke Tumpang pukul 20.00. Sepanjang perjalanan, perasaan waswas sering menghampiri karena jalanan gelap dan sangat sepi kendaraan. Ya, kami terus menerobos gelap melewati jalan meliuk-liuk, naik dan turun, sampai akhirnya sampai di Tumpang, dan terus saja menuju kos saudara saya. Malam itu, saya tidur dengan tenang. Rindu saya pada Semeru telah tertunaikan, meski tak bisa mengecup puncaknya. Terima kasih, semesta. Tanggal 29 Mei 2015 Untuk menghemat waktu karena harus masuk kerja pukul 17.00 hari itu juga, saya memutuskan naik pesawat dari Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang. Harga tiket Rp 508.875 dengan jarak tempuh 1,5 jam menggunakan maskapai Sriwijaya Air. Tidak seperti LionAir yang sering saya naiki, maskapai Sriwijaya Air memberikan roti dan air mineral dalam kemasan gelas kepada para penumpang. Pesawat takeoff pukul 12.45 dan sampai di Jakarta pukul 13.45, tepat 1,5 jam. Dengan memperhitungkan lalu lintas yang macet pada jam-jam itu, saya pulang ke kos dengan menerima tawaran calo ’’taksi pelat hitam’’ Avanza dari Bandara Soekarno-Hatta. Saya ’’hanya’’ mengeluarkan Rp 200.000 sudah termasuk tiket tiga gerbang tol untuk sampai ke Rawa Belong. Harga itu saya anggap murah karena biasanya saya harus membayar Rp 170.000 bila naik taksi, itu belum termasuk tiket tol, belum lagi kalau jalanan macet parah seperti waktu itu. Argo bisa naik tinggi. Saya akhirnya sampai di kos sekitar pukul 16.30. Jadi, saya hanya punya waktu setengah jam untuk mandi, istirahat sejenak, dan bersiap masuk kerja. Selamat datang di realitas. Sampai jumpa pada perjalanan-perjalanan selanjutnya. Salam lestari. (*) Jakarta–Lumajang, 25–29 Mei 2015

  • Mengabadikan Keindahan Gunung Merbabu

    KAMI mendaki Gunung Merbabu dengan skuad yang sama saat mendaki Gunung Ciremai. Bertiga. Saya, Mud, dan Cup. Jalur yang kami pilih dalam pendakian kali ini adalah via Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Dari Jakarta ke Boyolali, kami memilih naik bus. Pada 22 Agustus siang, kami naik bus Rosalia Indah dari pool di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dengan tujuan Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah. Perjalanan kami tempuh sekitar 10–11 jam. Dari terminal Solo, kami masih harus naik bus lagi menuju Terminal Boyolali. Kami sampai di Terminal Boyolali tengah malam. Sudah tidak ada angkutan umum yang beroperasi. Ada tukang ojek yang menawari kami untuk pergi ke Base Camp Selo. Tarifnya kalau tidak salah lebih dari Rp 100 ribu. Namun, ojek bukan transport yang pas. Mahal juga. Maka, kami tawar-menawar dengan sopir pikap yang juga menghampiri kami. Awalnya dia meminta Rp 100 ribu per orang. Karena saat itu hanya ada kami bertiga. Setelah tawar-menawar, kami pun sepakat membayar Rp 75 ribu per orang. Jadilah kami tancap gas menuju Base Camp Selo dengan naik mobil bak terbuka. Cuma bertiga. Angin dingin menerpa badan selama perjalanan. Setelah sekitar dua jam perjalanan, kami sampai di homestay berupa rumah warga. Gratis. Kami hanya perlu memesan makanan atau kopi di sana. Saat itu sudah lepas tengah malam. Sekitar jam 3 dini hari. Tapi, dalam pendakian kali tidak ada drama seperti di Ciremai dulu. Tanggal 23 Agustus pagi kami memulai pendakian setelah mendaftar di pos perizinan Selo. Dari homestay, kami masih harus berjalan sekitar 500 meter untuk menuju pos perizinan. Kami pun melewati pos demi pos dengan trek sebagaimana umumnya gunung. Namun, menurut saya, trek Merbabu tidak seberat Linggarjati-nya Ciremai. Saat beristirahat dan menyeduh kopi di Pos 1, gerimis tiba-tiba turun. Tidak terlalu deras. Jadi, kami tidak perlu membuka flysheet , apalagi sampai membongkar tenda. Kami cukup berteduh di antara rimbun pohon-pohon kecil di sana. Tak lama setelah gerimis, dari kejauhan, muncul beberapa ekor monyet di kejauhan. Mereka hanya mengamati dari jauh. Tidak sampai mendekat. Saat gerimis reda dan kopi sudah habis, kami melanjutkan pendakian ke pos selanjutnya. Gerimis tidak sampai membuat trek menjadi liat. Hanya sedikit basah sehingga jalan tak terlalu berdebu. Kami terus berjalan dalam sepi. Hanya desau angin, tarikan napas, dan derap langkah kami yang terdengar. Diiringi derik serangga-serangga belantara dan kicau burung-burung. Gunung Merbabu tidak terlalu ramai pendaki kali ini. Sesekali terdengar auman lutung abu dari kejauhan. Terutama saat melewati Pos 2. Alam Merbabu masih dihuni hewan eksotis yang terancam punah itu. Kami pun tiba di Pos 3. Pos dengan area terbuka yang cukup luas. Di depan kami, sedikit ke arah kanan dari arah kedatangan kami, tanjakan dengan kemiringan ekstrem tersaji di depan mata. Beberapa pendaki yang sedang nanjak di sana masih bisa terlihat dari sini. Kecil-kecil. Bergerak perlahan-lahan. Itu adalah trek yang harus kami lalui untuk mencapai Pos Sabana 1. Kami sempatkan untuk beristirahat dulu di Pos 3. Merilekskan napas. Mengumpulkan kembali tenaga yang terkuras. Dari posisi saya duduk, saya bisa menikmati kegagahan Merapi di samping sana. Puncaknya yang tandus selalu diselimuti awan. Saya pernah ingin mendaki Merapi. Namun, saat ingin mendaki Merapi, tiba-tiba ia batuk. Meletus. Mengeluarkan wedus gembel dan dahaknya. Sampai sekarang keinginan itu belum muncul kembali. Cukuplah saat ini saya mengaguminya dari Merbabu. Begitu tenaga sudah pulih, ada wacana untuk nge-camp di Pos 3. Tapi, mengingat hari belum terlalu sore, kami akhirnya memutuskan berjalan terus ke pos selanjutnya. Apalagi, menurut saya, Pos 3 bukan area yang enak untuk mendirikan tenda. Areanya yang terbuka tanpa pepohonan membuat angin yang menerjang menjadi begitu kencang. Tenaga juga masih ada untuk menggapai Sabana 1. Kecuali tenaga sudah payah, boleh lah nge-camp di mana saja. Kami akhirnya naik ke Sabana 1. Melewati tanjakan yang tadi. Perlahan-lahan, selangkah demi selangkah. Sejenak beristirahat untuk mengatur napas setiap sepuluh langkah. Tidak harus dihitung juga. Tapi, saya rata-rata di angka itu. Trek yang berat. Tapi, saat istirahat dan berbalik arah, ada keindahan yang terhampar di depan sana. Itu bisa cukup meneduhkan. Dan, percaya tidak percaya, pemandangan yang indah seperti itu seakan bisa nge-cas tenaga kembali dengan cepat. Itulah seninya naik gunung. Capek, tapi terpuaskan dengan view-view menakjubkan yang tidak bisa kita saksikan jika berdiam diri saja di rumah. ’’Kalau mau melihat pemandangan yang indah, nggak perlu capek-capek mendaki gunung. Lihat saja fotonya di internet. Bisa lihat pemandangan-pemandangan indah di seluruh dunia.’’ Suka kesal nggak kalau ada orang yang bilang seperti itu? Kalau saya tidak. Orang yang bilang seperti itu memang bisa melihat pemandangan indah yang diinginkan di internet. Di mana saja. Sambil tiduran juga bisa. Tapi, dia tidak bisa merasakan udara yang berembus di keindahan itu, tidak merasakan kehangatan sinar matahari di sana, tidak bisa merasakan dinginnya saat malam tiba, dan yang paling penting dia tidak bisa merasa menjadi bagian dari keindahan itu. Tidak menjadi kesatuan dengannya. Saat mendaki gunung atau traveling, kamu bisa merasakan itu semua. Sampailah kami di Sabana 1. Sebelum gelap, tenda sudah berdiri. Di antara pohon-pohon kecil yang banyak tumbuh di pos ini. Sebenarnya masih ada Pos Sabana 2 di atas sana. Lebih dekat dengan puncak. Tapi, kali ini kami menyerah karena tenaga hanya tinggal sisa. Nge-camp di sini saja. Untuk mengusir lelah dan lapar, kami merebus mi instan. Saya adalah tipe yang menjadikan mi sebagai menu wajib saat mendaki. Nggak perlu nasi. Dan belum lengkap kalau tidak ngopi . Kuseduhlah kopi hitam seperti biasa. Mendirikan tenda di antara rimbun pohon-pohon kecil melindungi kami dari terpaan angin malam di Sabana. Di dalam tenda, malam itu, kami tidur dengan nyenyak sampai pagi tiba. Saya buka pintu tenda. Angin pun menampar wajah yang masih sembap. Angin nyelonong masuk ke dalam tenda. Udara pagi itu terasa begitu dingin. Di bingkai lengkung pintu tenda, di depan sana, puncak Merapi tampak teduh berselimut awan putih. Langit biru bersih. Cuaca cerah pagi itu. Langsung saja saya tarik kompor. Bikin kopi untuk menghangatkan diri dan mi instan untuk menumpas perih di lambung. Setelah sarapan, ngopi , dan beres-beres, kami bergegas naik ke puncak sekitar pukul 09 pagi. Kami sengaja tidak memburu sunrise . Tenda kami tinggal di Sabana 1. Untuk mencapai puncak, kami harus melewati setidaknya dua pos lagi. Pos Sabana 2 dan Pos Watu Lumpang. Trek untuk mencapai dua pos itu tentu saja nanjak terus. Sampai ke puncak. Dari Sabana 1, Sabana 2, dan Pos Watu Lumpang, banyak sekali bunga edelweiss di sisi kanan dan kiri jalan. Terutama di atas Sabana 2. Hanya saja, kali ini belum semua bunga mekar. Kebanyakan bunganya masih kecil-kecil. Setelah sekitar 3 jam pendakian, kami sampai di puncak Merbabu. Namanya Puncak Kenteng Songo. Kenteng Songo berasal dari bahasa Jawa, kenteng (wadah seperti baskom) dan songo (sembilan). Di puncak sana memang ada sembilan batu berlubang yang bentuknya mirip dengan kenteng . Bisa menampung air. Konon, menurut cerita rakyat, di Merbabu terdapat sebuah kerajaan. Menurut salah satu versi cerita masyarakat yang berkembang, pada zaman dulu (masa Mataram), kawasan Gunung Merbabu merupakan kerajaan yang pusat pemerintahannya berada di puncak Kenteng Songo. Sembilan batu berlubang itu adalah umpak atau batu fondasi tiang pendapa Istana Merbabu. Salah satu tokoh kerajaan ini adalah Ratu Dewi Retno Asih. Kerajaan tersebut mempunyai dua kelompok pasukan, yaitu pasukan yang berseragam merah dan pasukan yang berseragam hijau. Konon siapa pun yang menyamai atau memakai pakaian berwarna merah akan diusir oleh pasukan merah. Karena itu, para pendaki disarankan tidak menggunakan baju berwarna merah. Percaya tidak percaya, semua kembali kepada Anda masing-masing. Dari atas sini, kita bisa melihat pos pemancar dengan antena tinggi seperti menembus langit. Pemandangan yang terhampar di depan mata tak terbantahkan keindahannya. Terlihat puncak-puncak lain Merbabu di kejauhan. Bergunung-gunung. Biru gelap. Seperti siluet dengan background langit biru. Gunung Merbabu memang memiliki tujuh puncak. Watu Gubuk (2.729 mdpl), Watu Tulis/Pemancar (2.920 mdpl), Geger Sapi (2.987 mdpl), Syarif (3.142 mdpl), Ondo Rante (3.110 mdpl), Kenteng Songo (3.145 mdpl), dan Triangulasi (3.122 mdpl). Itu dikenal juga dengan seven summit Merbabu. Semuanya bisa lebih muda dicapai melalui jalur Kopeng Thekelan. Merbabu sendiri memiliki lima jalur pendakian. Yaitu, Kopeng Thekelan, Wekas, Kopeng Cunthel, Selo, dan Suwanting. Selo adalah jalur favorit pendaki yang akan naik Merbabu. Merbabu adalah gunung api yang secara administratif berada di Kabupaten Magelang di lereng barat dan Kabupaten Boyolali di lereng timur dan selatan, Kabupaten Semarang di lereng utara, Jawa Tengah. Gunung ini dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya, pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, ’’ merbabu ’’ berasal dari gabungan kata ’’meru’’ (gunung) dan ’ ’abu’’ (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda. Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Puncak tertinggi gunung Merbabu berada di ketinggian 3.145 mdpl (Kenteng Songo). Puas di puncak, kami pun turun. Semakin siang angin juga semakin bertiup kencang. Dinginnya tak tertahankan. Kami turun perlahan. Tidak tergesa-gesa. Karena trek turun juga menyajikan pemandangan yang menakjubkan. Jalur berkelok-kelok, berbukit-bukit. Jalur menuju Sabana 2 dan Sabana 1 tampak sempurna dari atas sini. Ditambah puncak Merapi yang seperti melambai-lambai minta didaki. Menggoda. Sampai di tenda, kami beristirahat dulu sebelum turun hari itu juga. Kami kemudian turun sekitar jam 01 siang dan sampai base camp sekitar jam 04 sore. Di sana kami mandi-mandi dulu, memesan nasi telur sayur lodeh. Perbaikan gizi. Kami pulang dengan menyewa mobil base camp dengan pendaki lain. Menuju Stasiun Solo Jebres. Malam itu kami naik kereta kembali ke Jakarta. (*) Jakarta–Boyolali, 22–25 Agustus 2016

  • Hampir Tersesat di Gunung Ciremai

    PENUH drama. Ini kata yang pas untuk menggambarkan pendakian ke Gunung Ciremai kali ini. Kami bertiga, saya dan dua teman kantor –Mud dan Cup– mendaki Gunung Ciremai via Linggarjati. Gunung ini memiliki tiga jalur resmi, yakni Linggarjati, Apuy, dan Palutungan. Nah, Linggarjati adalah jalur yang paling terjal. Anda yang menyukai tantangan dan ingin melatih fisik, jalur ini cocok sebagai pilihan. Drama itu dimulai dari Jakarta. Pagi itu, sekitar jam 2 dini hari pada 11 April 2016, kami masih bersantai di rumah salah satu teman tidak jauh dari Pasar Rebo. Kami memang berniat naik bus dari terminal bayangan Pasar Rebo. Biasanya bus ngetem lama di sana untuk menunggu penumpang. Sekitar jam 03 pagi kami sudah berada di terminal bayangan itu. Namun, saat itu sudah tidak ada bus yang berhenti. Saat bertanya kepada orang di sana, bus terakhir itu ternyata sudah jalan beberapa menit lalu. Di sini drama itu dimulai. Tidak ada ojek yang bisa mengejar bus itu. Kami harus berpikir cepat. Karena tidak ada lagi bus yang berangkat ke kota tujuan pagi itu. Sial-sial harus menunggu sampai siang. Dalam keadaan seperti itu ada sopir angkot yang datang bak pahlawan. Dia menawari kami naik dengan tarif sama. Dia pun ngebut untuk mengejar bus. Sampai-sampai dia melewatkan begitu saja saat ada penumpang yang mencegat di pinggir jalan. Dia terus melaju. Saat itu hanya kami bertiga di angkot. Setelah beberapa menit, bus yang kami cari terlihat di kejauhan. Sopir angkot semakin dalam menginjak gas. Kami pun sampai di belakang bus. Untung, saat itu bus tersebut sedang terjebak kemacetan. Thank you pak sopir angkot! Perjalanan dari Jakarta ke Kuningan menempuh waktu sekitar 4–5 jam tergantung arus lalu lintas, macet atau tidak. Sekitar jam 08 kami sudah masuk Kuningan. Kami pun turun di pertigaan Linggarjati. Untuk mencapai Base Camp Linggarjati dari sana, kami naik angkot dan dilanjutkan dengan naik ojek. Sampai di base camp , kami langsung mendaftar, menyerahkan KTP ketua kelompok, dan membayar retribusi Rp 50.000 per orang untuk tiga hari pendakian. Turunnya pendaki akan mendapatkan sertifikat pendakian. Kami memulai pendakian pagi itu juga setelah sarapan. Dari base camp , jalur yang terhampar masih berupa jalan aspal. Kami berjalan di aspal yang menanjak. Berat. Melewati ladang dan rumah-rumah penduduk. Kami pun sampai di Pos Cibunar. Di sini kita bisa melengkapi kekurangan logistik. Karena ada warung, toko aksesori. Lengkap dengan toilet dan pangkalan ojek. Nah, kalau tidak mau capek, Anda bisa naik ojek ke pos pertama di ketinggian 850 mdpl ini. Naik dari Cibunar, treknya berupa jalur berbatu yang menanjak. Masih ada sedikit bonusnya sih. Pendakian melewati hutan pinus. Setelah itu, jalur mulai terbuka. Jalur menanjak yang sempit kemudian tersaji hingga ke Pos Leuweung Datar. Pos yang berada di ketinggian 1.225 mdpl ini cukup untuk mendirikan 3–4 tenda. Kami menyempatkan istirahat sebentar di sini. Namun, di antara Pos Cibunar dan Leuweung Datar, masih ada satu warung. Terus naik ke atas, treknya masih sama. Tidak lama kemudian, kami tiba di Pos Kondang Amis. Sampai di sini, hari sudah sore. Gerimis juga mulai turun. Kami pun nge-camp semalam di pos ini. Pada 12 April pagi, setelah makan-makan dan packing tenda, kami melanjutkan pendakian menuju Pos Kuburan Kuda di ketinggian 1.450 mdpl. Jalurnya semakin sempit, rimbun, dan banyak akar-akaran. Karakter pos ini sama dengan Pos Kondang Amis. Cukup nyaman untuk mendirikan tenda. Tak lama beristirahat, kami melanjutkan langkah menuju Pos Pangalap dengan trek yang tak jauh berbeda. Begitu juga jalur menuju Tanjakan Seruni. Jalurnya semakin curam. Di jalur ini kami menemui Tanjakan Bin-Bin. Tanjakan Seruni berada di ketinggian 1.825 mdpl. Selepas Tanjakan Seruni, treknya semakin berat. Di depan sana ada tanjakan ekstrem yang menanti. Namanya tanjakan Bapa Tere. Saat itu tidak ada jalan lain selain harus naik melalui tanjakan itu. Untuk melalui tanjakan itu, kami harus memanjat dengan berpegang pada akar-akar pohon yang menjuntai. Di sini tidak ada area landai untuk mendirikan tenda. Di atasnya lagi, di Pos Batu Lingga, pendaki baru bisa menemukan area datar untuk mendirikan tenda. Area ini cukup untuk 3–4 tenda. Kami berhenti di pos ini dan mendirikan tenda. Kami sepakat nge-camp di Pos Batu Lingga di ketinggian 2.200 mdpl. Esok paginya baru nembak puncak. Jam 02 dini hari 13 April, kami mulai menuju puncak. Untuk menuju puncak, kami masih harus melalui Pos Sanggabuana 1 dan 2. Di sini pendaki juga bisa mendirikan tenda. Dari Sanggabuana 2 menuju Pos Pengasinan, treknya berupa tanah padat berbatu. Pepohonan semakin jarang sehingga pemandangan di sekitarnya mulai tampak terhampar. Pos Pengasinan berada di ketinggian 2.800 mdpl. Ini adalah pos terakhir sebelum mencapai puncak. Ini juga merupakan batas vegetasi. Dari pos ini, puncak Ciremai sudah bisa dilihat. Untuk sampai ke sana, kami menapaki jalur sempit dengan batuan terjal. Kami sampai di puncak sekitar jam 07 pagi. Total kami membutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk mencapai puncak dari Pos Batu Lingga. Gunung Ciremai memiliki ketinggian 3.078 mdpl. Ini adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung ini juga terkenal dengan jalur yang berat, terutama via Linggarjati. Ditambah, di gunung ini tidak ada sumber air. Sekadar catatan, selain memiliki trek yang terjal, Ciremai juga mempunyai banyak cerita mistis dan mitos yang dipercaya oleh beberapa kalangan pendaki. Salah satunya adalah pantangan untuk mendirikan tenda dan bermalam di Pos 4 atau Pos Kuburan Kuda. Pos itu dipercaya angker sehingga pendaki yang kemalaman di jalan disarankan bermalam di pos sesudahnya atau sebelumnya. Gunung Ciremai memiliki dua kawah ganda di bagian puncak, yakni kawah barat dan kawah timur. Kawah barat berbentuk setengah lingkaran dan terpotong oleh kawah timur. Pada tepi bagian barat ini, terdapat bukit lava yang biasa disebut Sunan Cirebon. Inilah titik tertinggi gunung Ciremai. Masih pada bagian barat, ada satu lagi titik tertinggi kedua, yakni Pangeran Talaga. Menurut catatan yang ada di buku pendakian gunung Ciremai, kawah barat terbentuk pada 1698. Sementara kawah timur terbentuk pada 1924. Setelah dua sampai tiga jam berada di puncak, kami turun. Rencananya, kami langsung turun menuju Base Camp Linggarjati. Setelah membongkar tenda dan makan, kami baru turun dari Pos Batu Lingga sekitar jam 01 siang. Kami berjalan santai sehingga di Pos Kondang Amis sudah ketemu gelap. Kami berjalan sangat pelan karena kaki Cup terkilir. Dia berjalan terseok-seok. Namun, kami terus saja berjalan sampai gerimis turun di tengah malam. Tenaga kami terkuras. Logistik menipis. Kami terus berjalan, tapi pos yang kami tuju belum juga ketemu. Kami merasa seperti tersesat. Seperti berputar-putar saja di area yang sama. Pada batas tenaga yang tersisa, Cup ingin menyerah. Di situ drama selanjutnya terjadi. Ada perdebatan. Cup ingin mendirikan tenda dan nge-camp semalam lagi. Sedangkan kami ingin terus melanjutkan turun. Pertimbangannya, logistik sudah habis. Lokasinya juga tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda. Jadi, tetap turun adalah pilihan terbaik. Setelah perdebatan cukup menegangkan di bawah guyuran gerimis, kami pun berhasil meyakinkan Cup untuk terus berjalan. Pelan-pelan saja, asal terus bergerak. Jangan sampai kedinginan hingga rawan terkena hipo. Dengan tenaga yang tersisa, kami akhirnya berhasil sampai di base camp . Waktu itu hampir jam 09 malam. Sudah tidak ada ojek. Berkat pertolongan penjaga base camp , ada warga setempat yang mau mengantarkan kami. Tarifnya disamakan dengan ojek biasa. Kami bermalam di rumah nenek Mud yang juga di Kuningan dan kembali ke Jakarta esok paginya. Pendakian yang berkesan dengan bumbu-bumbu drama. Pengalaman yang cukup mengesalkan saat dijalani, tapi cukup menarik untuk diingat. (*) Kuningan, 11–13 April 2016

  • Belajar Sejarah Surabaya di Museum Tugu Pahlawan

    TUGU Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Saat itu arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Tinggi monumen ini adalah 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (canalures) sebanyak 10 lengkungan dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Tanggal bersejarah Indonesia. Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa sekaligus arsitek monumen yang terletak di Jalan Pahlawan Surabaya ini. Menurut Gatot Barnowo, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Wali kota Surabaya Doel Arnowo. Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 November 1952. Biaya pembangunan Tugu Pahlawan berasal dari sumbangan para dermawan, termasuk rakyat yang ikut menyumbangkan dana. Konstruksi dimulai pada 20 Februari 1952 dan selesai pada 3 Juni 1952. Di bawah tanah lahan Tugu Pahlawan sedalam 7 meter, terdapat sebuah museum untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang berjuang di Surabaya. Di museum ini juga terdapat foto-foto dokumentasi pembangunan Tugu Pahlawan. Museum ini diresmikan pada tanggal 19 Februari 2000 oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Pada tahun 1991-1996, dilakukan pembenahan kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Perjuangan 10 November Surabaya yang dipimpin oleh arsitek Ir. Sugeng Gunadi, MLA dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Monumen ini berada di tengah-tengah kota di Jalan Pahlawan, Surabaya. Tugu Pahlawan merupakan salah satu ikon Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan. (*)

  • Ngedate di Pantai Ancol Jakarta

    BERAWAL dari keinginan untuk merayakan hari jadian, maka kami pilih Pantai Ancol sebagai saksi perayaannya. Bukan perayaan sebenarnya. Cuma jalan-jalan biasa. Hanya momennya yang tidak biasa. Saya sudah dua tahun tinggal di Jakarta, tapi belum tahu mana-mana. Lebih hobi semedi di kosan. Jadi, adanya aplikasi Waze sangat membantu pergerakan saya. Termasuk saat ingin berangkat ke Ancol. Pantai Ancol berada di Jalan Lodan Timur Nomor 7, Ancol, Jakarta Utara. Sementara kos saya di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Cukup jauh, apalagi jalanan Jakarta sering macet. Ancol memiliki beberapa objek wisata pantai andalan. Sebut saja Beach Pool (Lagoon), Pantai Festival, Pantai Marina, Ancol Beach City (ABC), Pantai Indah Ancol, Pantai Ria, Pantai Bende, dan Pantai Karnaval. Tidak mungkin mengunjungi semuanya seharian. Kami memilih satu tempat saja: Beach Pool (Lagoon). Pantai ini adalah salah satu destinasi favorit wisatawan. Pantai ini menjadi tujuan favorit untuk berburu foto, menikmati momen liburan, serta melepas kepenatan. Atau bahkan untuk berolahraga. Pantai Lagoon Ancol menyediakan berbagai macam wahana permainan yang seru, salah satunya adalah menyewa perahu kayu untuk menikmati setiap sudut pantai yang indah. Selain itu, di kawasan pantai juga tersedia taman bermain dengan aneka jenis permainan di dalamnya. Mulai dari ayunan, perosotan, hingga kesempatan berkeliling pantai menggunakan kereta mini. Bahkan, di taman juga ada kolam ikan dan anak-anak bisa memberi makan ikan. Satu lagi yang menarik dan yang disukai para penghobi fotografi: Restoran di tengah laut. Restoran itu memiliki atap unik dari kain khusus yang tahan panas dan air hujan. Untuk mencapai tempat itu, pengunjung harus melewati jembatan kayu yang di kanan dan kirinya adalah air laut. Restoran itu akan jauh lebih indah saat malam hari. (*)

  • Menunggu Sunset di Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta

    JIKA Anda punya misi untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Jakarta, maka Pelabuhan Sunda Kelapa wajib masuk dalam daftar. Pelabuhan yang terletak di Ancol, Pademangan, Jakarta Tumur, ini menyimpan sejarah panjang sebelum hingga sesudah masa kolonialisme. Zaman dulu atau sekitar abad ke-12, Sunda Kelapa memiliki nama Pelabuhan Kalapa yang dikuasai Kerajaan Padjajaran (sekarang Bogor) dan menjadi lokasi perdagangan rempah dari berbagai penjuru dunia. Kemudian, pada masa masuknya Islam dan para penjajah Eropa, Kalapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Akhirnya, Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai lebih dari 300 tahun. Mereka lalu mengganti nama pelabuhan Kalapa dan daerah sekitarnya. Namun pada awal tahun 1970-an, nama kuno Kalapa kembali digunakan sebagai nama resmi pelabuhan tua ini dalam bentuk "Sunda Kelapa". Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini masih aktif digunakan untuk kapal-kapal kayu pengangkut barang kebutuhan pokok. Kapal-Kapal itu menghubungkan antar pulau di Indonesia. Keunikan serta sejarah panjang pelabuhan ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang masih bisa dinikmati masyarakat. Kawasan ini berfungsi sebagai objek wisata sejarah sebagai daya tarik utamanya. Cocok dikunjungi bagi pencinta peninggalan sejarah masa lampau. Bahkan, Sunda Kelapa kerap ramai menjelang sore untuk melihat sunset. Saat sore juga banyak kapal yang bersandar sehingga bisa menjadi foreground objek sunset yang manis. Di sini, kita bisa menyewa kapal nelayan. Tarifnya sekitar Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Tarif tersebut masih bisa ditawar. Wisatawan akan diajak berkeliling untuk melihat sudut-sudut pelabuhan dengan segala aktivitasnya dari sudut pandang yang berbeda. Kamu juga akan diajak melihat lebih dekat mercusuar tua berwarna merah dan hijau peninggalan Belanda. Mengunjungi objek wisata ini juga bisa dengan berjalan kaki. Kita bisa mengamati kapal-kapal kayu di sana. Melihat kesibukan aktivitas bongkar muat barang. Jika beruntung, kita bisa berpapasan dengan pedagang kopi keliling yang mengendarai sepeda motor. Enak kan ngopi sore ditemani sunset Sunda Kelapa. (*)

  • Sosok-Sosok Penyendiri di Balai Seni Rupa Jakarta

    UDARA sejuk langsung terasa ketika memasuki gedung dengan delapan tiang besar di teras depannya ini. Udara Jakarta di luar sana yang panas memang sudah bisa menciutkan semangat. Tetapi, ketika memasuki ruang-ruang di galeri ini, semacam ada ”kesejukan batin” yang terasa. Karya-karya seni, mulai dari lukisan, seni instalasi, hingga keramik tepekur di tempatnya masing-masing. Jika dilihat dari catatan sejarah, gedung ini dibangun tanggal 12 Januari 1870. Awalnya, gedung ini difungsikan sebagai Kantor Dewan Kehakiman Pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia) oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat ini dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI. Gedung ini dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi pada 10 Januari 1972. Pada tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Wali Kota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta tanggal 20 Agustus 1976. Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Museum ini terletak di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Fatahillah itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia. Setelah menapaki tiga anak tangga dan lewat di antara tiang-tiang besar, pengunjung akan disambut dua patung setengah badan di sisi kiri dan kanan pintu masuk galeri. Patung di sisi kiri adalah patung dada S. Sudjojono, sementara di sisi kanan ada patung dada Raden Saleh Sjarif Bustaman. Sindoedarsono Soedjojono (Kisaran, Sumatera Utara, Mei 1913–25 Maret, Jakarta, 1985) merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Dengan diawali oleh Trisno Soemardjo, Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Julukan ini diberikan kepadanya karena Sudjojono adalah senimaan pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Ia biasa menulis namanya dengan ”S. Sudjojono”. Sementara Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807 atau 1811–23 April 1880) adalah pelukis Indonesia beretnis Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis. Di dinding depan bangunan itu juga ada prasasti peresmian gedung oleh Presiden Soeharto dan prasasti berisi sedikit keterangan tentang Balai Seni Rupa atas nama Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Untuk bisa menikmati karya-karya seni yang disimpan di galeri, pengunjung bisa memilih pintu di sebelah kiri, yaitu pintu masuk. Setelah masuk, pengunjung langsung berada di ruang 1. Di sana ada dena ruangan-ruangan yang ada di galeri. Di ruang 2 ada beberapa cat lukis. Pengunjung bisa menikmati lukisan ketika masuk ke ruang 3. Menariknya, di ruang 3 ini ada tangga yang langsung menuju ke lantai dua, di sana terletak ruang 10 dan 11. Di lantai dua itu terpajang beberapa lukisan karya Raden Saleh di ruang 10, sedangkan di ruang 11 ada beberapa lukisan karya S. Sudjojono. Setelah turun dan keluar dari ruang 3, pengunjung akan memasuki ruang 4. Di sana ada beberapa karya lukis dengan tema perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 oleh beberapa pelukis. Di ruang itu juga ada beberapa lukisan karya pelukis legendaris Affandi serta beberapa keramik. Saat menelusuri seluruh ruangan, pengunjung akan dihidangkan beberapa sejarah seni lukis dari zaman awal kemunculannya hingga lukisan modern. Selain lukisan, galeri itu juga memasang beberapa keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni kreatif kontemporer. Selain itu ada koleksi keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20. Secara keseluruhan, museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga sekarang. Koleksi-koleksi itu kemudian dibagi menjadi beberapa ruangan berdasar periodisasi, yaitu: • Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 – 1890) • Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an) • Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an) • Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 – 1945) • Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 – 1950) • Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an) • Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 – sekarang) Setelah ”mengubek-ubek” isi galeri, pengunjung akan melewati ukiran patung-patung Totem Asmat dan lain-lain. Di sekitar patung-patung kayu itu terdapat kursi-kursi yang bisa dijadikan tempat istirahat setelah lelah mengelilingi museum. Selain itu, di sekitar museum ada dua taman kecil yang asri. Hanya saja karena tidak beratap, tidak ada orang yang istirahat di situ, karena siang itu udara Jakarta memang sedang panas-panasnya. Meski begitu, pengunjung yang datang ke Balai Seni Rupa Jakarta ini bisa dihitung dengan jari. Maka, karya seni berupa lukisan, keramik, dan patung-patung ukiran itu menjadi sosok-sosok penyendiri yang terkurung dalam tempat bernama museum. Semoga mereka tidak kecewa. (*) *Dari berbagai sumber Jakarta

  • Melepas Lelah di Berugak: Sedikit Mengenal Suku Sasak di Desa Senaru, Lombok Utara

    AWALNYA, satu-satunya hal yang menarik bagi saya dari Pulau Lombok hanyalah Gunung Rinjani yang menjulang tinggi di antara gunung-gunung lain yang banyak tersebar di Pulau Seribu Masjid itu. Tapi setelah satu minggu berada di sana, saya mulai menemukan banyak hal yang menarik untuk dilihat selain panorama singgasana Dewi Anjani. Salah satunya adalah keberadaan warga Suku Sasak yang tinggal di kaki gunung Rinjani, tepatnya di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Sekilas perkenalan saya dengan Suku Sasak hanya melalui literatur atau dari buku-buku hasil penelitian. Sedangkan perkenalan saya secara langsung dengan salah satu warga Suku Sasak di Desa Senaru terjadi sesaat setelah saya turun dari Gunung Rinjani. Bapak Simalam, nama beliau. Beliau adalah penjaga pos Rinjani Trek Center (RTC) Senaru dan mantan guide-porter untuk pendaki Gunung Rinjani. Tabiat beliau yang humoris membuat saya cepat merasa nyaman. Malam itu juga beliau mengizinkan saya dan dua kawan pendaki lainnya untuk bermalam di RTC Senaru, mengingat saat saya turun gunung jam sudah menunjukkan pukul 18:45 WITA. Rencananya, keesokan harinya saya akan langsung balik ke Surabaya. Namun, pada keesokan harinya, sambil membuatkan kopi Nescafe untuk saya dan dua kawan lainnya, beliau menawarkan kepada saya untuk mengunjungi wisata air terjun di Senaru dengan gratis dan menyarankan pulang keesokan harinya saja. Kami pun mengiyakan. Menjelang pukul 11:37 WITA kami mulai berjalan menjenguk kesejukan air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep tanpa bayar tiket masuk. Lokasinya tidak terlalu jauh, kira-kira hanya satu jam berjalan kaki dari pos RTC Senaru. Bukan hanya itu, beliau juga yang mengeluarkan uang untuk membeli minuman, makanan kecil, dan tak lupa rokoknya. Sepanjang jalan beliau tetap besikap humoris yang bisa membuat saya lupa akan rasa lelah. “Kalian hebat, naik ke Gunung Rinjani gak pakai guide-porter, tapi ke air terjun sini saja pake guide,” celetuk Pak Alam. Saya pun terkekeh sambil terus berjalan menuju air terjun, begitu juga dua kawan saya. Akses jalan menuju air terjun Sindang Gila sedang dibangun saat itu. Di lokasi ini sudah tersedia fasilitas kamar mandi, tempat yang nyaman untuk istirahat, dan juga kios penjual makanan ringan dan minuman. Cukup banyak warga lokal maupun turis mancanegara yang berkunjung di sini. Air terjun Sindang Gila terletak di ketianggian kurang lebih 600 mdpl dan memiliki ketinggian 31 meter. Tidak jauh dari situ terdapat pula air terjun yang jauh lebih indah, Tiu Kelep. Untuk mencapai lokasi air terjun Tiu Kelep cukup sulit mengingat pengunjung harus menyusuri anak sungai karena belum ada jalur resmi yang dibangun untuk mencapai lokasi tersebut. Namun, hal itu justru lebih indah karena kesan alaminya masih terjaga dari pembangunan dan menarik untuk dikunjungi. Tiu Kelep memiliki keyinggian 42 meter dengan panorama memukau. Kanan dan kiri dari air terun ini masih berupa hutan dengan pepohonan rindang. Air yang jatuh juga masih bersih dan jernih, tampak seperti sebuah hamparan tirai putih. Air yang jernih dan bebatuan besar sepanjang sungai membuat saya tidak ingin lekas beranjak. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, saya sempatkan sejenak kongkow di tengah aliran sungai yang dangkal – di atas kayu dari pohon yang tumbang dan bebatuan – sambil menikmati makanan kecil dn air minum yang sudah di tangan. Tak lupa, saya sempatkan menikmati asap Marlboro di tengah gemericik aliran sungai. Maka nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan? Melepas Lelah di Berugak Menjelang sore hari saya kembali ke RTC Senaru untuk mandi. Setelah ini Pak Alam akan mengajak saya dan kawan-kawan untuk singgah di rumahnya. Menjelang pukul 17:50 WITA kami turun dari RTC Senaru menuju rumah Pak Alam. Jalan menuju rumah Pak Alam bisa dibilang belum tersentuh pembangunan. Hal itu cukup kontras dengan jalan menuju RTC Senaru yang sudah berupa aspal. “Kami sebenarnya sudah meminta kepada pemerintah untuk membangun jalan. Tapi jawaban mereka ya hanya nanti dan naniti menunggu giliran. Akhirnya kami bangun secara swadaya,” jawab Pak Alam ketika salah satu kawan bertanya tentang jalan yang rusak ini. Di daerah ini juga belum sepenuhnya dialiri listrik, untuk itu mereka yang rumahnya ingin dialiri listrik harus swadaya. Selain itu, saluran televisi juga tidak bisa dinikmati dengan cuma-cuma seperti di Surabaya. Mereka harus memasang antena parabola untuk bisa mendapatkan siaran televisi. Untuk mencapai rumah Pak Alam saya harus melewati perkebunan yang banyak ditanami kopi dan coklat (kakau). Di Desa Senaru tidak seperti di desa-desa lain. Di sini satu desa terdiri dari petak-petak kawasan yang lebih kecil yang dibatasi oleh pagar melingkar yang terbuat dari kayu atau bamboo. Setiap petak kawasan dipisahkan oleh kebun. Satu petak kawasan terdiri dari satu keluarga yang bisa ditempati sekitar empat sampai lima rumah. Di setiap rumah terdapat satu bangunan yang terpisah dari rumah utama, namanya Berugak, semacam gubug kalau di Jawa. Secara fisik, Berugak seperti rumah panggung dan biasanya berbentuk persegi atau persegi panjang dengan atap terbuat dari ilalang atau daun kelapa dan letaknya terpisah dari rumah utama. Lantai dari Berugak terbuat dari kayu atau bambu dengan empat tiang (sekepat) atau enam tiang (sekenam). Berugak sekepat atau sekenam tidak ada bedanya, hanya saja kalau salah dalam peletakannya maka akan mengakibatkan bala. “Sebenarnya Berugak sekepat atau sekenam sama saja. Cuma, kalau salah meletakkannya maka salah satu dari keluarga kami akan terkena bala (penyakit),” terang Pak Alam ketika saya tanyakan perihal perbedaan Berugak sekepat dan sekenam. Adapun fungsi Berugak bagi Suku Sasak adalah sebagai tempat berkumpulnya keluarga, baik itu untuk kegiatan makan, pertemuan-pertemuan, atau menerima tamu. Sebagai tamu, saya dan kawan-kawan pun dipersilahkan naik ke Berugak dan dijamu dengan makanan dan minuman khas. Suasana begitu hangat mengingat keluarga Pak Alam sangat permisif dan juga humoris. Hampir di setiap rumah di Desa Senaru (atau di Lombok pada umumnya) memiliki Berugak. Selain memiliki hewan ternak (sapi atau kambing), Pak Alam juga memelihara anjing, seperti kebanyakan warga Senaru, baik sebagai hewan pemburu maupun hewan penjaga. Adapun anjing yang ada di rumah Pak Alam hanya menjadi anjing penjaga. Perihal kepercayaan, beliau mengaku sekeluarga beragama Islam. Sebelum mengenal Islam yang dibawa oleh sunan Prapen sekitar abad XVI setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, di Lombok mayoritas warganya memeluk agama Hindu. Adanya akulturasi agama dan kebudayaan setempat (sebelum Hindu masuk, kepercayaan di Lombok adalah animisme dan dinamisme) memunculkan kepercayaan baru yang dikenal dengan Wetu Telu. Wetu Telu (Waktu Tiga) disebut sebagai waktu beribadah/shalat yang dilakukan sebanyak tiga kali dalam sehari. Menurut referensi, daerah yang masih banyak menganut ajaran ini adalah daerah Bayan, termasuk desa Senaru. Namun, ketika hal itu saya tanyakan kepada Pak Alam, beliau membantah bahwa Wetu Telu adalah waktu ibadah/shalat yang hanya dilaksanakan tiga kali dalam sehari. “Dulu ada peneliti yang datang ke sini untuk menanyakan Wetu Telu,” kata Pak Alam mulai menjelaskan. “Saya katakan kepada dia bahwa Wetu Telu itu bukan soal ibadah. Ada filosofi yang mendalam dalam Wetu Telu tersebut. Di sini Wetu Telu itu bukan shalat tiga kali, tapi Wetu Telu itu adalah Matahari, Air, dan Tanaman. Ketiga unsur tersebut adalah penting bagi kehidupan manusia. Dengan sinar matahari dan air yang cukup tanaman bisa tumbuh subur dan dari tanaman itulah kita hidup,” tukas beliau. Penjelasan beliau saya terima dengan baik sebagai tambahan ilmu yang sangat berharga. Terlepas dari itu semua, keyakinan adalah hak individu dan tak ada seorang pun yang berhak memaksakannya. Merdeka! Makanan dan Minuman Khas Berada di Berugak, waktu sudah menunjukkan pukul 19:13 WITA. Perut kami masih penuh makanan karena sebelum pulang dari air terjun saya dan kawan-kawan sudah ditraktir makan oleh Pak Alam. Tapi mata kami kemudian terbelalak melihat satu bakul penuh nasi di keluarkan dari dalam rumah. “Wah, kita makan lagi??? Sudah gak sanggup Pak Alam.” “Sudah, terima saja. Ini rezeki untuk kalian. Ini adalah rezeki dari Yang Di Atas untuk kalian lewat saya. Coba bayangkan, kalian di puncak Rinjani tidak menemukan makanan sebanyak ini. Nah, di sini ada banyak makanan. Ya sudah, nikmati saja. Tidak baik menolak rezeki. Iya, kan?” Sambil menarik napas panjang saya mengiyakan tanpa suara. Mengingat apa yang saya lalui di atas Rinjani, harusnya saya memang bersyukur masih bisa makan banyak. Setelah nasi, makanan lain yang keluar adalah tiga piring sayur nangka muda (atau kalau di Jawa disebut “tewel”) yang diberi taburan kelapa dan tiga piring sayur komak lebih. Sayur komak lebih, atau sering disebut sayur komak, terbuat dari kacang komak. Kacang komak ini dijadikan sebagai lauk dan bisa juga dijadikan camilan. Setelah dipersilahkan, saya dan kawan-kawan langsung menyantap satu piring nasi dengan sayur nangka muda dan sayur komak yang ada di hadapan masing-masing. Makanan sederhana yang memiliki cita rasa berbeda dengan makanan yang biasa saya makan. Setelah perut kenyang, wisata kuliner kami belum selesai. Setelah piring-piring kosong dimasukkan (kecuali komak yang bisa dijadikan camilan) keluarlah minuman khas Lombok, Brem. Brem adalah minuman beralkohol khas Lombok. Minuman ini biasanya disajikan untuk menyambut tamu yang datang dan disarankan untuk tidak menolaknya karena itu dianggap tidak sopan oleh tuan rumah. Brem juga biasanya dikonsumsi untuk upacara adat, entah untuk acara pernikahan atau sunatan. Jika tuan rumah yang memiliki hajat tidak menyediakan Brem maka keluarga itu akan menjadi bahan pembicaraan di desa. Minuman ini dibuat dari bahan ketan yang diberi tambahan ragi tape dan didiamkan selama sekitar 3 minggu untuk proses fermentasi. Brem biasanya disimpan di lumbung padi atau dikubur di dalam tanah agar lebih enak karena suhu yang hangat. Semakin lama Brem disimpan, maka akan menghasilkan cita rasa yang berbeda dan lebih enak pastinya. Brem di Lombok ada yang berwarna merah dan putih serta memiliki rasa manis dan pahit, tergantung ketan yang digunakan. Ada Brem yang memiliki rasa manis dan ada juga yang pahit. Adapun Brem yang saya nikmati kali ini memiliki rasa yang manis dan enak. Kacang komak yang gurih nan lembut di lidah semakin menambah nikmat perjamuan malam ini. Di tengah menikmati Brem yang belum habis, dari dalam rumah nan sederhana dengan atap dari daun kelapa di samping Berugak, gadis kecil keluar dengan membawa empat gelas kopi sasak. Kopi sasak dari Lombok ini banyak dikenal oleh penikmat kopi sebagai kopi dengan cita rasa yang khas. Aromanya pun harum dan mantap. Beruntung bagi saya bisa menikmati kopi sasak dan diminum di tempatnya langsung. Sebelum pulang ke Surabaya, beliau memberi saya satu kantong plastik kopi bubuk khas Lombok untuk di bawa pulang ke Jawa sebagai oleh-oleh. Setelah kenyang, saya dan kawan-kawan masih bersantai di Berugak sambil ngobrol dan bergelak tawa. Awalnya saya dan kawan-kawan tidak diperbolehkan pulang ke Surabaya esok harinya dan disuruh tinggal satu hari lagi. Alasannya, di desa Senaru akan diadakan acara tari tradisional yang rutin diadakan setiap malam Jum’at, begitu menurut penuturan Pak Alam. Tapi dengan sangat menyesal kami harus tetap pulang keesokan harinya. Kebersamaan yang singkat tapi sudah cukup meninggalkan kesan mendalam. Semoga di lain waktu bisa kembali bersandar di Pulau Dewi Anjani. (*)

  • Mengintip Panorama Sindang Gila dan Tiu Kelep, Lombok

    " KAPAN -kapan kalau ke Lombok lagi bawa uang yang banyak!” kata seorang kawan yang saya kenal saat pendakian Gunung Rinjani. Bawa uang banyak memang gampang, tapi pertanyaannya adalah uang siapa yang musti saya bawa?? Lagi pula keberadaan saya di Lombok semata-mata hanya untuk menengok singgasana Dewi Anjani. Kalaupun saya bisa mengintip panorama air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep itu bukan karena saya memiliki kelebihan uang, tapi bonus. Saya dan kawan pendaki lainnya turun dari Rinjani tanggal 12 Juni 2013 sore. Saya tidak langsung pulang tapi bermalam di Rinjani Trek Center (RTC) Senaru yang saat itu dijaga oleh Pak Simalam, mantan guide-porter Gunung Rinjani. Keesokan paginya, ketika sedang menikmati kopi dan rokok A Mild yang beliau sajikan, tawaran untuk wisata gratis ke dua air terjun tersebut pun menghampiri. Saya dan dua kawan lainnya akhirnya menunda kepulangan dan tinggal sehari lagi di Lombok. Bagi pengunjung yang berangkat dari Mataram, untuk mencapai lokasi air terjun Anda harus menempuh perjalanan 2 hingga 3 jam menuju Desa Senaru. Anda bisa naik angkutan dari terminal Mataram menuju Kecamatan Bayan dengan ongkos kurang lebih Rp 30.000. Setelah itu naik ojek menuju Desa Senaru dengan ongkos Rp 20.000. Tapi bagi saya yang berada di RTC Senaru hanya perlu waktu sekitar satu jam dengan berjalan kaki untuk mencapai dua air terjun tersebut. Air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep masih berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Lebih tepatnya berada di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Untuk bisa menikmati air terjun ini pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang Rp 10.000 untuk membeli tiket. Tapi saya dan dua kawan lainnya tidak perlu membayar berkat kebaikan hati Pak Simalam, penjaga Pos RTC Senaru, yang mengajak kami melewati “jalur rahasia” sehingga tidak perlu bayar tiket. Air Terjun Sindang Gila Lokasi air terjun Sindang Gila berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan air terjunnya sendiri memiliki ketinggian 31 meter. Air terjun ini terdiri dari dua tingkatan. Tingkatan pertama, air terjun keluar dari tebing dan jatuh ke sebuah kolam kecil sebelum mengalir lagi dan jatuh ke tempat yang lebih datar dan membentuk aliran sungai. Kontur sungai ini relatif datar sehingga banyak pengunjug lokal yang bisa merasakan dingin airnya dengan mandi atau hanya sekadar membasuh muka. Di lokasi ini infrastrukturnya sudah cukup lengkap karena sudah dibangun toilet, mushola, kios penjual makanan dan minuman, dan juga tempat untuk bersantai (berugak) bersama kawan, pasangan, atau keluarga Anda. Akses untuk menuju kawasan ini juga sudah sangat mudah karena sudah dibuatkan tangga yang terbuat dari semen. Saat itu akses jalan menuju lokasi juga sedang dilakukan perbaikan sehingga nantinya diharapkan akan lebih memudahkan dan memberi kenyamanan kepada para pengunjung. Menurut cerita rakyat yang berkembang, nama Sindang Gila diambil dari cerita penduduk setempat yang secara tidak sengaja menemukan air terjun ini saat memburu singa gila yang mengacau di sebuah kampung dan kemudian lari masuk ke hutan. Selain asal-usul nama, warga setempat juga mempercayai sebuah mitos yang menyatakan bahwa bagi siapa saja yang membasuh muka atau mandi di situ maka dia bisa menjadi satu tahun lebih muda. Selain air terjun Sindang Gila, di lokasi ini terdapat dua air terjun lainnya, yaitu air terjun Tiu Kelep dan Betara Lejang. Kedua air terjun ini berada di atas lagi ke arah hulu. Namun, perjalanan saya kali ini hanya sampai pada Tiu Kelep. Air yang mengalir dan membentuk air terjun Tiu Kelep ini bersumber dari Danau Segara Anak yang berada di puncak Gunung Rinjani. Air Terjun Tiu Kelep Tidak seperti Sindang Gila, untuk mencapai air terjun Tiu Kelep jalur yang saya lalui sedikit lebih menantang. Dari Sindang Gila saya harus melalui jalan setapak cukup jauh. Melewati pinggiran aliran sungai dan naik melewati saluran irigasi yang juga difungsikan sebagai jembatan penyeberangan. Di tengah perjalanan saya menemui pintu air untuk mengatur aliran sungai. Sayang sekali, bangunan ini dipenuhi coretan tangan-tangan usil para pengunjung. Untuk benar-benar mencapai Tiu Kelep, saya harus menyusuri badan sungai mengingat belum ada jalur resmi yang dibangun untuk mempermudah akses menuju air terjun tersebut. Bebatuan yang agak licin dan aliran sungai yang cukup deras mengisyaratkan saya untuk hati-hati agar tidak tergelincir. Tapi justru hal itulah yang membuat perjalanan menuju air menjadi semakin seru. Ketika berada di hadapan air terjun Tiu Kelep, mata saya pun berbinar dan cenderung takjub akan keindahannya. Jika dibandingkan dengan Sindang Gila, air terjun Tiu Kelep lebih indah dan lebih tinggi dengan ketinggian 42 meter. Kapasitas air yang jatuh pun lebih banyak dan melebar seperti sebuah tirai putih yang menjuntai dari tebing-tebing hijau. Air dari Tiu Kepel inilah yang kemudian mengalir di pinggir tebing dan kemudian jatuh membentuk air terjun Sindang Gila. Lokasinya yang sedikit tersembunyi dan dipenuhi dengan bebatuan besar membuat tempat ini menjadi lebih indah dan natural. Belum lagi tebing di sisi kanan dan kiri yang begitu hijau, gemuruh air jatuh, serta derik serangga-serangga hutan menciptakan sebuah harmoni yang hanya bisa disajikan oleh orkestra alam semesta. Berbeda dengan Sindang Gila, di tempat ini pengunjung yang mendominasi adalah wisatawan mancanegara dengan guide-nya masing-masing. Seingat saya, pada saat itu wisatawan lokal hanya saya dan kedua kawan saya (dan juga Pak Simalam) yang ada di situ. Mereka pun (para turis asing) tidak mau melewatkan begitu saja keindahan Tiu Kelep dan ingin merasakan kesejukan airnya. Kebanyakan dari mereka kemudian menanggalkan baju dan kemudian mandi di bawah air terjun dengan hanya mengenakan bikini. Kolam yang terbentuk di bawahnya cukup luas dan datar. Kedalamannya pun hanya sepinggang orang dewasa sehingga masih aman dipakai untuk mandi. Pada saat seperti itu terjadi pergolakan batin pada diri saya untuk memutuskan mandi atau tidak. Setelah merasakan udara yang cukup dingin (dan juga tidak bawa baju ganti), akhirnya saya memutuskan untuk tidak mandi. Seperti Sindang Gila, air terjun Tiu Kelep juga memiliki mitosnya sendiri. Warga setempat mempercayai bahwa siapa pun yang mandi di sana bisa awet muda. Dalam bahasa sehari-hari Suku Sasak di Lombok, kata “Tiu” berarti ‘Kolam’, sedangkan “Kelep” berarti ‘Terbang’ sehingga dapat diambil terjemahan ‘kolam tempat buih-buih air beterbangan’. Pada saat-saat tertentu, butiran air yang beterbangan itu memunculkan pelangi di ujung air terjun. Namun, sayang sekali fenomena alam nan indah di bayangan itu tidak bisa saya saksikan pada saat itu. Jadi saya nikmati saja bule-bule yang sedang asik mandi di bawah air terjun. Sebelum kembali ke RTC Senaru, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri kongkow sebentar di tengah-tengah aliran sungai yang memiliki dataran lebih tinggi. Kami duduk-duduk di atas batu dan kayu sambil menikmati camilan dan tentu saja tidak lupa rokoknya. Dari kongkow sebentar ini saya tahu bahwa nasib air di kawasan ini sedang dipertaruhkan! “Berkali-kali datang permintaan untuk pengambilalihan air di sini oleh perusahaan tertentu. Mereka menjanjikan pengambilalihan ini demi kebaikan dan kesejahteraan bersama,” kata Pak Simalam memulai cerita. “Pemerintah kabupaten sudah menyetujui, tapi semuan warga di sini menolak.” “Bayangkan saja kalau semua air di sini dikelola perusahaan. Tidak semua orang bebas memanfaatkan air dan tidak semua orang bisa mendapatkan penghasilan. Contohnya, jika perusahaan air itu jadi dibangun maka tidak semua orang di desa ini bisa bekerja di perusahaan tersebut, paling pekerjanya berasal dari luar Senaru, atau dari luar Lombok. Lalu kami harus bekerja apa kalau perusahaan itu sampai dibangun?” Saya rasa itu hanya pertanyaan retoris dari Pak Simalam. Pertanyaan tanpa meminta jawaban. Saya pun hanya diam dan terus mendengarkan penuturan Pak Simalam. “Kalau kondisinya masih seperti ini, air masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat, kami semua bisa merasakan manfaatnya. Siapa saja bisa menjadi guide bagi turis-turis lokal maupun mancanegara sehingga memiliki penghasilan. Nah, ini tidak akan bisa kami lakukan kalau sampai air di sini dikuasai oleh perusahaan.” Baiklah. Saya megamini apa yang dikatakan Pak Alam – yang juga mewakili suara semua warga di sini. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka bisa mempertahankan ladang penghidupan mereka dari serobotan serigala-serigala liar yang hanya menginginkan keuntungan pribadi dengan eksploitasi yang berlebihan. Setelah hampir setengah jam saya dan kawan-kawan kongkow di tengah sungai, saya dan kawan-kawan pun bergegas kembali ke Pos RTC Senaru. (*) Lombok

  • Danau Segara Anak, Surga Para Pemancing di Ketinggian

    MASIH tentang Gunung Rinjani dan segala keindahannya. Kali ini saya ingin sedikit mengulas tentang danau segara anak, surga bagi para pemancing di ketinggian. Bagi para pendaki gunung Rinjani, danau segara anak bak oase di tengah gurun pasir, sementara bagi para pendaki yang juga memiliki hobi memancing, tempat ini bak surga yang berisi jutaan ikan. Banyak pendaki yang membawa perlengkapan pancing saat mendaki. Setelah mencapai puncak, pendaki akan langsung turun ke danau. Untuk mencapai danau, pendaki harus berjalan turun melewati tebing curam. Namun, beratnya medan akan terbayar lunas ketika sampai di bibir danau dengan permukaan air yang tampak biru seperti di laut. Berada di atas ketinggian 2.003 meter di atas permukaan laut (mdpl), danau segara anak memiliki luas 1.100 ha. Air di dalam danau tidak bisa dikonsumsi karena memiliki kadar belerang yang tinggi. Meskipun berada di ketinggian, air di danau ini tidak dingin tapi justru hangat. Ajaibnya, danau segara anak telah ditetapkan sebagai salah satu danau  panas vulkanik terbesar di dunia. Danau yang memiliki volume air 1,02 kilometer kubik ini memiliki temperatur harian air permukaan danau segara anak adalah 20-22 derajat Celsius. Hal ini disebabkan ada aktivitas vulkanik di dasar danau dekat gunung Baru Jari yang terletak di tengah danau. Dengan konsisi seperti itu, air danau tidak baik untuk konsumsi meskipun dimasak terlebih dahulu. Untuk menarik minat pendaki dan juga untuk mata pencaharian warga setempat, pada tahun 1985 Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat akhirnya menebar benih ikan di danau. Meskipun memiliki kadar kimia yang besar, danau dengan kedalaman 230 meter ini memiliki sirkulasi air yang sangat bagus. Sirkulasi yang bagus membuat perkembangbiakan ikan juga bagus, terutama ikan nila, mujaer, dan mas. Saat melakukan pendakian saya tidak membawa alat pancing, tapi beruntung karena di sana saya mengenal seorang porter yang berbaik hati mau meminjamkan pancing kepada saya. Menurut keterangan dia, hampir semua porter rinjani memiliki simpanan pancing yang ditaruh di bawah semak-semak. Menurut saran dia juga, waktu yang paling pas untuk mulai memancing adalah pada pagi hari. Benar saja, tidak sulit bagi saya untuk mendapatkan ikan dengan alat pancing seadanya; dengan kail terbuat dari bilah bambu. Setidaknya dalam waktu singkat saya sudah bisa mengangkat tujuh ekor ikan. Hanya saja, keberuntungan selalu bermain dalam kegiatan mancing-memancing. Mendapat ikan besar atau kecil tergantung pada nasib masing-masing. Untuk bisa menikmati sensasi strike di danau tertinggi di Pulau Lombok cukup dengan umpan cacing. Bagi yang tidak membawa persediaan cacing atau kehabisan tidak perlu khawatir atau panic. Di sepanjang pinggris danau kita bisa mengorek tanah untuk mendapatkan cacing yang melimpah. Tapi kita perlu hati-hati ketika akan mencari cacing karena di sepanjang bibir danau banyak kotoran manusia. Setelah memancing, kegiatan yang tak kalah istimewa adalah bakar ikan. Proses memasak dengan dibakar atau digoreng tentu saja terserah pada keinginan masing-masing. Tapi, dengan cara membakar menjadi lebih nikmat bagi saya. Cukup dengan mengumpulkan kayu bakar yang banyak tersedia di sana, sedikit spirtus atau minyak tanah, dan tentu saja korek api, ikan yang sudah ditusuk dengan kayu siap dibakar. Dengan begini saya benar-benar bisa merasakan nikmat yang sudah disediakan oleh alam untuk manusianya. Tak ada kenikmatan selain memperoleh ikan dari alam bebas, memasaknya di alam bebas, dan menikmatinya dengan keindahan panorama alam bebas danau segara anak dengan naungan kabut tipis dan angin sepoi. Yap, danau segara anak telah menjadi surga pemancing di ketinggian. Semoga suatu saat saya bisa kembali ke tempat terindah di Indonesia ini. Salam Lestari. (*) Lombok

  • Outing ke Curug Bidadari, Bogor

    OUTING kantor tahun ini memilih Curug Bidadari sebagai lokasinya. Air terjun tertinggi dan terbesar di kawasan Sentul, Bogor. Curug ini dipadukan dengan kolam buatan untuk berenang yang aman bagi anak-anak hingga dewasa. Curug Bidadari memiliki ketinggian sekitar 40 meter hingga 75 meter dengan lebar 7 meter. Dulunya Curug Bidadari terkenal dengan sebutan Curug Bojongkoneng sesuai dengan nama desa tempat air terjun ini. Curug ini berada di Jalan Sentul Paradise Park, Desa Bojongkoneng, Gunung Geulis, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebagaimana tempat wisata lain, Curug Bidadari juga tidak terlepas dari mitos yang dipercaya warga. Air terjun ini dipercaya sebagai tempat persinggahan dan pemandian para bidadari. Kepercayaan ini muncul karena seringnya terlihat pelangi di sekitar curug yang dianggap sebagai jembatan bagi bidadari untuk turun. Mitos lain menyebutkan airnya memiliki khasiat penyembuhan dan keindahan, serta kadang terdengar suara tawa wanita yang tidak terlihat wujudnya. (*)

  • Refresh Otak di Banten Rafting Ciberang, Banten

    AKHIR tahun 2014, setelah berbulan-bulan pikiran tergerus kepenatan aktivitas di kota Jakarta, tim Jawa Pos Jakarta mengadakan wisata alam di luar kota metropolitan. Tempat wisata tujuan pun ditentukan, Banten! Kami akan mencoba derasnya aliran dan tantangan jeram Sungai Ciberang. Wahana rafting itu terletak di Kampung Muara, Desa Banjar, Lebak, Banten. PT Banten Rafting sebagai pengelola satu-satunya mematok biaya cukup murah, itu pun sudah lengkap welcome drink, snack, makan siang, dan pemandian air panas. Sungai yang berhulu ke Gunung Halimun ini berada di pegunungan persis di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Selain pemandangan alam yang indah, udaranya juga sejuk. Dalam menikmati wisata arung jeram, pengunjung bisa memilih paket yang bisa dipilih. Paket yang tersedia mempengaruhi jarak arung jeram dan fasilitas yang disediakan. Rafting di Sungai Ciberang mendapat sertifikat riam dari Federasi Arum Jeram Indonesia (FAJI) dengan grade 2-3 tergantung ketinggian air dan arus. Panjang trek arung dibagi dua, yaitu 10 kilometer dengan jarak tempuh 2 jam dan 25 kilometer dengan waktu 5,5 jam. Untuk mencapai Sungai Ciberang, ada beberapa jalur alternatif yang bisa ditempuh. Yaitu lewat Rangkas Bitung atau Serang atau Bogor. Kami memilih alternatif pertama, Rangkas Bitung. Jarak tempuh dari Jakarta ke Sungai Ciberang (+macet-macet) sekitar 6 jam. (*)

  • Merangkum Sejarah Panjang Kita di Museum Bank Mandiri

    CORAK bangunannya tampak sama dengan beberapa gedung di sampingnya. Bergaya neo-klasikal. Namun, begitu memasuki lobi, ada kemewahan yang menyambut. Dan tentu saja hawa dingin dari mesin pendingin ruangan. Cukup mengusir gerah di luar sana. Museum Bank Mandiri Jakarta tampak ramai siang itu. Museum Bank Mandiri hanya satu di antara sekian banyak museum sejarah di Jakarta. Museum BI berdiri kukuh di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Begitu memasuki lobi utama Museum Mandiri , terdapat kaca patri mozaik yang artistik. Kaca itu dibuat seniman Belanda bernama Ian Sihouten Frinsenhouf dengan total 1509 panel kaca patri. Di museum ini, kita bisa mendapat informasi tentang peran Bank Mandiri dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa Barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Mandiri pada tahun 1953. Ada pula informasi tentang kebijakan-kebijakan Bank Mandiri, yang meliputi latar belakang dan dampak kebijakannya bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Museum BI sudah bisa disebut sebagai museum modern. Beberapa informasi dikemas dan disajikan dengan teknologi modern dan multimedia. Seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama. Pengunjung bisa menikmati sejarah dalam bentuk audiovisual di ruangan yang mengusung konsep seperti teater mini. Menjelajahi setiap sudut ruangan museum ini seakan memasuki Indonesia di masa lalu. Selain mulimedia, museum ini menampilkan patung-patung yang menceritakan kegiatan perbankan pada zaman Belanda. Ada juga dermaga lama di bilik Batavia tempo doeloe . Lalu, khazanah numismatik, kursi koin, pintu baja, dan ruang numismatik. Karena namanya Museum BI, tentu di sini banyak koleksi uang dari zaman dulu. Museum ini tak ketinggalan memajang foto atau gambar para penjelajah asing yang singgah di Nusantara. Tak sekadar singgah, mereka juga memberikan pengaruh pada kolonisasi di Nusantara. Sebut saja Marcopolo (Italia, 1254–1324), Laksamana Cheng Ho (1371–1436), Afonso d’Alburquerque (Portugis, 1453–1515), Cornelis de Houtman (Belanda, 1565–1599), dan Sir Henry Middleton (Inggris, 1604). Nah, di tengah-tengah bangunan ini, terdapat taman atau tempat terbuka yang ditumbuhi beberapa pohon. Taman ini terlihat asri dan fotogenik. Namun sayang, tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu. Diperlukan izin khusus, kata penjaga di museum tersebut. Namun, Anda tidak perlu kecewa. Sebab, di belakang gedung, terdapat taman yang bisa dikunjungi siapa saja. Di halaman belakang juga terdapat musala yang tak kalah bagus. Secara garis besar, di Museum BI ada tujuh ruang utama. Antara lain,  Ruang Playmotion untuk simulasi permainan menangkap bayangan koin yang jatuh untuk para pengunjung sebelum masuk.  Ruang teater  untuk menonton film sejarah kebijakan BI dari masa ke masa. Kemudian, Ruang sejarah untuk memampang sejarah BI peranannya dalam sejarah bangsa. Setiap cerita dirangkai secara detail dengan dilengkapi  film pendek, patung, dan barang barang yang dulu digunakan.  Ruang perenungan hijau  dulu digunakan sebagai tempat para pimpinan merumuskan berbagai kebijakan. Lalu, Ruang emas moneter merupakan tempat mas murni yang pada masanya pernah berfungsi sebagai penjamin uang yang beredar di Indonesia terseimpan. Di ruangan ini terdapat pula uang dari berbagai negara.  Ruang numismatik  berisi koleksi uang yang beredar di Nusantara mulai dari berbagai bentuk dan jenis uang dari zaman kerajaan Hindu Budha, kerajaan Islam, kolonial hingga uang pasca kemerdekaan dan uang mancanegara.  (*)

bottom of page