Search Results
Search this site
165 results found with an empty search
- One Day Trip: Melipir Sejenak ke Pulau Kelor, Onrust, Cipir
SELAIN masalah yang kompleks, Jakarta juga memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Sebagai ibu kota, Jakarta tentu memiliki banyak bangunan cagar budaya. Selain wisata sejarah, Batavia memiliki kekayaan bahari di sisi utara. Lepas dengan daratan utama, gugusan pulau-pulau dari Teluk Jakarta hingga laut lepas terhampar. Orang menyebutnya Kepulauan Seribu. Menyeberang ke pulau pun, kita tak hanya disuguhi keindahan laut lepas. Ada pula wisata sejarahnya. Sebagaimana orang lain yang tinggal dan bekerja di Jakarta, ketika merasa penat dengan pekerjaan dan kemacetan di tengah kota, saya memilih melipir sejenak, menyeberang ke pulau. Sehari setelah peringatan Sumpah Pemuda, pada 29 Oktober 2017 saya ikut bergabung dengan salah satu agen perjalanan yang mengadakan one day trip ke tiga pulau terdekat dari daratan Jakarta. Pulau Kelor, Onrust, dan Cipir. Harga tentu tergantung agen yang mengadakan trip. Titik kumpul dipusatkan di Dermaga Muara Kamal, Penjaringan, Jakarta Utara. Untuk mencapai lokasi ini bisa menggunakan KRL atau bus Transjakarta. Tetapi, memang lebih simpel naik ojek online atau naik motor sendiri. Dermaga yang terletak di samping pasar ikan ini tidak menyediakan perjalanan per orang per tiket. Kita harus menyewa satu kapal nelayan dengan biaya yang bervariasi. Satu kapal bisa dikenai tarif Rp 1 juta untuk sehari, bisa kurang tergantung jumlah rombongan dan kelihaian nego. Kapal bermuatan sekitar 50 orang yang saya tumpangi awal sandar di Pulau Kelor. Pulau Kelor dahulu dikenal dengan nama Pulau Kherkof. Di sini, berdiri sebuah benteng bersejarah. Benteng Martello. Lokasi ini cocok untuk pecinta fotografi. Sebagaimana benteng-benteng sisa zaman penjajahan, Benteng Martello sangat artistik dan menawan untuk diabadikan. Sayang, papan peringatan untuk tidak memanjat benteng tak diindahkan para pengunjung. Kids zaman now, lebih mementingkan dapat foto bagus (menurut mereka) tanpa memerdulikan etika dan aturan. Namun, kawasan ini tidak cocok bagi Anda yang tidak suka dengan keramaian. Karena banyak agen perjalanan yang menawarkan trip ke tiga pulau ini dalam sehari sehingga pengunjung tentu saja membeludak. Tapi, kalau hanya untuk mengobati rasa penasaran seperti saya, boleh lah . Kapal kemudian bergerak ke Pulau Onrust, hanya sekitar 5 menit dari pulau pertama. Di sini lebih kaya sejarah lagi, dan cocok bagi pencinta fotografi bangunan tua. Meski hanya tersisa tembok-tembok dan pilar, sisa bangunan rumah sakit dan asrama haji di pulau ini masih menimbulkan kesan ”angker” dan tentu saja artistik. Ditambah adanya makam-makam orang Belanda dan tentu saja museum sejarah. Pulau terakhir adalah Cipir. Andalan di pulau ini adalah pantai pasir putih, banana boat, dan dermaga yang lumayan indah. Di sini, kalau beruntung, kita juga bisa menikmati sunset. Menikmati matahari tenggelam di tengah laut, sejauh mata memandang. (*) Jakarta, 30 Oktober 2017
- Pantai Menganti dengan Tebing Karst yang Eksotis
PANTAI Menganti adalah satu di antara sedikit pantai pasir putih di Kebumen, Jawa Tengah. Sebab, kebanyakan pantai di jalur selatan Kebumen berpasir hitam. Pantai ini terkenal dengan pemandangan tebing karst, mercusuar, dan jembatan merahnya. Mercusuar yang ada di sini merupakan peninggalan Belanda yang berdiri sejak tahun 1915. Lokasinya berjarak sekitar 40 km dari pusat kota, dengan rute seperti Kebumen-Gombong-Jatijajar-Menganti. Yakni, di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, dengan akses yang perlu melewati jalan perbukitan yang berkelok. Sebelum tahun 2011, Pantai Menganti hanya dimanfaatkan oleh nelayan sebagai pelabuhan dan tempat pelelangan ikan. Kemudian, pada tahun 2011, pantai ini ditetapkan sebagai tempat wisata bagi masyarakat umum. Bersamaan dengan fungsinya sebagai tempat wisata, Pantai Menganti juga menjadi tempat selancar oleh komunitas peselancar dari Kabupaten Sukabumi maupun dari Pulau Bali. (*)
- Bukit Sikunir, Spot Sempurna untuk Menikmati Golden Sunrise
KEINGINAN untuk traveling kadang bisa muncul dengan tiba-tiba. Dan seringnya, kalau sudah muncul keinginan seperti itu, saya berangkat. Kali ini saya tidak ingin mendaki gunung. Yang pendek-pendek saja. Bukit. Tujuan saya adalah Bukit Sikunir di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Karena nggak asyik traveling sendiri, saya menghubungi saudara saya yang tinggal di Surabaya. Saya ajak dia menjelajahi Dieng barang beberapa hari. Dia mengiyakan. Saya pun cuti kerja. Begitu juga dia. Awal bulan Februari itu kami menentukan tanggal. Saya berangkat dari Stasiun Senen, Jakarta Pusat. Sedangkan saudara saya bertolak dari Stasiun Gubeng, Surabaya. Kami janjian bertemu di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Setelah delapan jam perjalanan Jakarta–Jogja, saya akhirnya berjumpa saudara saya. Waktu perjalanan Surabaya-Jogja terpaut sekitar dua jam dengan Jakarta–Jogja. Dia sudah saya minta bawa tenda dari Surabaya. Kami akan nge-camp karena kalau menyewa homestay perlu mengeluarkan uang lebih. Kami tidak langsung berangkat ke Dieng, tapi mampir dulu ke kos-kosan teman saudara saya yang kebetulan studi di Jogja. Dia sebelumnya sudah bilang mau minjam motor temannya itu. Kami ke Dieng naik motor berdua. Setelah istirahat, sore itu juga kami tancap gas. Estimasi waktu perjalanan Jogja–Wonosobo adalah sekitar tiga jam. Kami mengaspal dengan bermodal Google Maps . Di perjalanan sesekali mampir ngopi dan makan di angkringan. Hujan kadang deras, kadang berhenti. Tiga jam berlalu. Tapi, belum ada tanda-tanda kami masuk kawasan Wonosobo. Sinyal naik turun sehingga arahan Google Maps tidak presisi. Kami kesasar . Untuk me- refresh pikiran dan tenaga, kami mampir dulu di angkringan pinggir jalan sekalian tanya jalan menuju Wonosobo kepada bapak penjualnya. Benar saja kami kesasar . Ternyata perjalanan kami masih kurang dua jam lagi untuk masuk Dieng. Kami salah belok sehingga sedikit menjauh dari arah tujuan kami. Setelah kopi habis, saat hujan belum benar-benar reda, kami melanjutkan perjalanan ke Dieng mengikuti petunjuk bapak pemilik angkringan tadi. Dalam perjalanan, hujan masih turun cukup lebat. Kurang dari dua jam akhirnya kami sampai di gerbang masuk kawasan Dataran Tinggi Dieng. Pengunjung harus membayar tiket masuk di situ. Tiketnya Rp 10.000 per orang. Tapi, kami belum sampai di tempat tujuan. Kami masih harus naik lagi sekitar 30 menit. Berhubung hampir tengah malam. Kami memutuskan tidur di dekat loket. Penjaga loket berbaik hati mengizinkan kami tidur di musala dekat situ. Jadi, nggak perlu buka tenda. Esok paginya, penjelajahan dimulai. Kami baru benar-benar sampai di tujuan kami saat motor melalui gapura bertulisan Kawasan Dieng Plateau. Tujuan kami cukup banyak. Bukit Sikunir, Candi Arjuna, Batu Ratapan Angin, Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan Telaga Menjer. Untuk naik ke Bukit Sikunir, kami harus menunggu esoknya lagi. Karena kami ingin memburu sunrise . Kami mendirikan tenda di tepi Telaga Cebong, Desa Sembungan. Sembungan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Desa itu terletak di ketinggian 2.306 mdpl. Telaga seluas sekitar 12 hektare itu merupakan bekas kawah purba. Telaga ini berada di kaki Bukit Sikunir. Telaga Cebong terlihat cantik saat disaksikan dari atas bukit. Malam itu hanya kami yang nge-camp di tepi Telaga Cebong. Fasilitas di sana terbilang lengkap. Mulai tempat parkir, toilet, musala, hingga warung. Telaga ini berada di dekat perkampungan warga. Jam 04 pagi kami mulai berjalan menanjak ke Bukit Sikunir. Kami melalui jalur setapak di tengah perkampungan. Di sisi kanan dan kiri banyak yang membuka usaha seperti berjualan makanan, aksesori, makanan khas Wonosobo, hingga WC umum. Kami membeli gorengan yang masih hangat untuk dibawa ke puncak bukit. Apalagi kami hanya sarapan mi instan. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit–1 jam untuk mencapai Bukit Sikunir. Kontur treknya adalah perpaduan jalan setapak dan anak-anak tangga. Di atas sana, kami disuguhi pemandangan berupa gunung-gunung. Ada Gunung Sindoro yang bersanding dengan Gunung Kembang dan Gunung Sumbing. Tidak jauh dari tiga puncak itu, bisa juga dilihat Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan Gunung Ungaran. Puncak gunung-gunung itu menjulang. Berselimut awan berkabut. Ya, cuaca saat itu berkabut. Kami tidak mendapatkan golden sunrise Sikunir. Namun, view yang terhampar sudah membuat kami takjub. Wisatawan yang ingin mendapatkan golden sunrise dengan jelas disarankan untuk datang pada musim kemarau. Antara bulan Juli sampai Oktober. Cuaca jarang mendung pada bulan-bulan itu. Kabut juga tidak terlalu tebal. Bukit Sikunir memiliki ketinggian 2.463 mdpl. Objek wisata ini baru ramai dikunjungi traveler sekitar tahun 2009. Konon, asal usul nama Bukit Sikunir berasal dari bumbu dapur. Kunir merupakan salah satu jenis rempah. Atau orang modern menyebutnya kunyit. Alasannya, saat matahari muncul dari balik bukit itu, tempat-tempat di sekitarnya menjadi berwarna kuning sebagaimana warna kunir. (*) Surabaya–Jogja–Dieng, 16 Januari 2017
- Telaga Warna Mirip dengan Telaga pada Umumnya
PADA kesempatan pertama ke Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, saya penasaran untuk melihat Telaga Warna dari jarak dekat. Sebab, jika dilihat dari Batu Pandang Ratapan Angin, telaga itu terlihat indah. Warna telaga juga tampak bersih seperti lantai hijau yang terhampar luas. Dua petak telaga. Konon, musim mempengaruhi perubahan warna telaga. Warnanya akan lebih indah pada musim kemarau. Saat banyak sinar matahari yang jatuh di permukaan air dan menciptakan warna lain yang megah. Setelah turun dari Batu Pandang Ratapan Angin, kami tancap gas ke Telaga Warna. Begitu masuk area telaga, pertama yang menyambut adalah pepohonan yang dibiarkan tumbuh sebagaimana mestinya. Tidak banyak fasilitas umum yang dibagun di area telaga. Hanya ada tempat sampah di beberapa titik. Toilet dan lainnya berada di satu bangunan dengan loket tiket. Kami mengelilingi telaga itu. Kesan pertama saya adalah: sama saja dengan telaga pada umumnya. Biasa saja. Menang lokasinya saja. Berada di Dataran Tinggi Dieng, hawanya sejuk, dan dikelilingi pepohonan rindang. Saat menyusuri tepi telaga, saya tertarik pada bangunan kayu yang tampak ditinggalkan. Bangunan itu rusak di segala sisi. Pertanda sudah tidak dimanfaatkan lagi. Di depan gubuk itu, ada jembatan kayu yang menjorok ke telaga. Cukup bagus untuk foto. Mungkin awalnya gubuk itu memang sengaja dibangun untuk lokasi foto pengunjung. Kami beristirahat dan santai-santai dulu di gubuk itu. Setelah tenaga kembali pulih, kami beranjak pergi. (*)
- Asyik Bermain Ikon Lewat Karya-Karya Yuswantoro Adi
YUSWANTORO Adi hidup dari dan untuk dunia lukis. Melukis bagi dia adalah pekerjaan utama. Seniman kelahiran Semarang, 11 November 1966, itu banyak menjadikan anak-anak dan kritik sosial sebagai tema karya-karyanya. Tema-tema itu juga masih begitu kental dalam karya-karyanya yang dipamerka di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta, pada 10-22 November 2017, dengan tajuk ICONIC. Pameran tunggal Yuswantoro bekerja sama GNI itu mengeksposisi sekitar 20 karya, dan puluhan karya lukis anak-anak didik Yuswantoro. Ya, setiap hari Minggu, dia mengajar seni lukis untuk anak-anak di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Sebagaimana temanya, karya-karya Yuswantoro yang dipamerkan kali ini merupakan gambaran ulang dari tokoh-tokoh atau ikon yang sudah lekat dengan ingatan masyarakat. Uniknya, sosok-sosok tersebut digambar ulang dalam tubuh anak-anak. Misalnya saja sosok superhero Superman dan Sang Proklamator Bung Karno. Ada juga lukisan Perjamuan Kudus karya Leonardo Da Vinci yang dihadirkan Yuswantoro dengan sosok anak-anak. Namun, ada sosok lain yang dibiarkan apa adanya. Misalnya, Adolf Hitler, komedian Jojon, dan Charlie Chaplin. Hal ini saya kira adalah kesengajaan dari Yuswantoro untuk menghadirkan keberagaman, agar tak monoton dalam dunia anak-anak. Atau juga simbol bahwa anak-anak pun akan tumbuh dewasa dan bebas memilih menjadi seperti apa; Hitler yang pemimpin sekaligus ikon antagonis dunia? Atau Jojon yang komedian? Kritik paling tajam soal dunia anak dihadirkan Yuswantoro dalam sebuah lukisan besar. Di mana anak-anak bermain di atas gedung. Hal ini merupakan kritik seniman atas minimnya lahan terbuka untuk anak-anak berinteraksi di kota-kota besar, khususnya Jakarta. Ikon-ikon yang menjadi napas ke-Indonesia-an tak ketinggalan. Yuswantoro menghadirkan lukisan peta Indonesia, Candi Borobudur, dan lambang Pancasila dalam puzzle kotak-kotak. “Di sini Yuswantoro Adi berusaha untuk mempersoalkan, menanyakan ulang, atau justru menggiring publik agar medefinisikan ulang ikon yang sudah ada dan populer,” tulis situs GNI. Pameran ini juga menyertakan karya yang sekan menjadi ciri khas lain dari Yuswantoro, yakni lembaran uang rupiah. Dengan karya berupa lembaran uang, dia pernah membuat gebrakan pada tahun 1998, saat reformasi mulai didengungkan secara perlahan-lahan. Saat itu, Yuswantoro menggebrak lewat karyanya yang berupa lembaran uang Rp 50.000-an, dengan lubang pada gambar wajah Soeharto. Karya ini bermaksud membaca keadaan pada masa itu bahwa setiap orang bisa menjadi presiden. Di GNI kali ini, Yuswantoro menghadirkan lembaran uang pecahan Rp 100 dengan wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ada juga suvenir lembaran uang yang sama untuk setiap pengunjung yang datang. Ini mungkin sikap si pelukis terhadap rencana Bank Indonesia yang akan meredenominasi rupiah beberapa waktu lalu. Selama berkecimpung di dunia lukis, Yuswantoro pernah meraih beberapa penghargaan. Antara lain, grand prize Winner Phillip Morris ASEAN Art Award 1997 di Manila, Philipina, lewat lukisan “Masterpieces of Indonesia”. Lalu, sketsa terbaik dan lukisan cat minyak terbaik ISI Yogyakarta tahun 1987, Juara II Lomba Karikatur Pariwisata dari Pemda DIY tahun 1990, dan Lima Besar Utama Lomba Lukis YSRI PMIAA 1997. (*)
- Membongkar ”Harta Karun” Friedrich Silaban, Sang Arsitek Masjid Istiqlal
FRIEDRICH Silaban. Barangkalai ada yang masih asing dengan nama itu. Namun, bagi Anda –khususnya orang Jakarta– yang pernah mengunjungi Masjid Istiqlal, beliau adalah arsitek masjid termegah di tanah air tersebut. Pada 7-24 November 2017, ”harta karun” Silaban dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta. Begitu memasuki ruang pamer, pengunjung disuguhi ornamen dan interior minimalis yang artistik. Barang koleksi dan karya Silaban ditata sedemikian rupa hingga membuatnya seperti galeri seni, yang bernilai tinggi. Di ruang utama yang dominan berwarna putih, dipajang foto-foto pertemuan Silaban dengan tokoh-tokoh penting, termasuk Bung Karno. Ada pula buku catatan, artefak, hingga sketsa yang disimpan di balik kaca. Di ruang pamer kedua, yang dominan dengan warna hitam, sketsa rancangan Silaban untuk Masjid Istiqlal dari beberapa sisi ditampilkan. Pembagian ruang antara hitam dan putih, menurut saya, tidak menyimbolkan apa-apa. Hanya bentuk artistik. Di situ pula terdapat quote Silaban tentang awal pembuatan Masjid Istiglal. Quote-quote Silaban memang banyak menghiasi dinding ruang pamer. Ruang hitam dan putih, seakan menjadi kata pengantar pameran bertajuk Friedrich Silaban, Arsitek 1912-1984 itu. Ada pula foto besar dirinya bersama Presiden Sokarno. Senyum lebar mereka mencerminkan harapan masa depan yang cerah. “Arsitektur kita membentuk diri kita. Saat kita memerlukan sesuatu untuk mengerti kembali ke–Indonesia–an kita, maka itu bisa dipelajari dari arsitektur kita ,” kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Ahmad Djuhara dalam sambutannya sebagaimana ditulis di GNI. Pameran ini dikonsep dalam lima fragmen. Fragmen pertama merupakan kisah sosok Silaban yang dibentuk dari latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman, dan peran yang diambil semasa hidupnya. Kedua, interaksi Silaban dan Soekarno, termasuk yang memengaruhi rancangan maupun karya Silaban. Ketiga, rancangan Silaban, baik yang telah dibangun maupun yang tidak terbangun. Keempat merupakan fragmen yang menggambarkan puncak karir Silaban, dalam hal ini difokuskan pada Masjid Istiqlal sebagai proyek monumental yang pembangunannya diselesaikan dalam waktu cukup panjang. Fragmen terakhir menggambarkan dinamika dan kesulitan-kesulitan dalam bagian hidup Silaban setelah berakhirnya Orde Lama. Dari Protestan untuk Islam Pada tahun 1955, Preside Soekarno mengadakan sayembara membuat desain maket Masjid Istiqlal. Sebanyak 22 dari 30 arsitek lolos persyaratan. Bung Karno sebagai ketua dewan juri mengumumkan Silaban dengan karya berjudul Ketuhanan sebagai pemegang sayembara itu. Karena itu, Bung Karno menjuluki Silaban sebagai By The Grace of God. Pada 1961, penanaman tiang pancang baru dilakukan. Pembangunan baru selesai 17 tahun kemudian dan resmi digunakan sejak tanggal 22 Februari 1978. Dikutip dari Kompas edisi 21 Februari 1978, enam tahun setelah Masjid Istiqlal selesai dibangun, Silaban mengatakan, “Arsitektur Istiqlal itu asli, tidak meniru dari mana-mana, tetapi juga tidak tahu dari mana datangnya.” “Patokan saya dalam merancang hanyalah kaidah-kaidah arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid,” lanjutnya. Hidup Silaban terbilang cemerlang dan gemilang. Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, dia hanya bersekolah di HIS Narumonda, Tapanuli, Sumatera Utara, dan Koningin Wilhelmina School, sebuah sekolah teknik di Jakarta. Penganut Kristen Protestan dan anak seorang pendeta miskin itu telah melahirkan berbagai bangunan modern pada masanya hingga kini menjadi bangunan bersejarah. Salah satu yang monumental tentu saja Masjid Istiglal. Dari Protestan untuk Islam, dan persatuan. (*)
- Main ke Gereja Ayam Rhema, Tapi Bukan Rangga dan Cinta
GEREJA Ayam di Bukit Rhema, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, populer setelah muncul dalam salah satu adegan film Ada Apa dengan Cinta 2 pada April 2016. Sejak saat itu, hampir semua agen tur & travel tujuan Jogjakarta memasukkan gereja itu dalam daftar paket kunjungan. Pada bulan November di tahun yang sama, saya ditunjuk kantor untuk melakukan kerja sama liputan ke Jogja bersama beberapa media lain di Jakarta. Di sela-sela kerja liputan, ada acara bebas atau jalan-jalan. Salah satu yang dikunjungi adalah Gereja Ayam Rhema. Gereja Ayam adalah sebuah tempat doa umat Kristen. Bangunan ini populer disebut Gereja Ayam karena bentuk kepalanya menyerupai ayam. Meskipun perancangnya, Daniel Alamsyah, menegaskan bahwa bentuknya sebenarnya adalah burung merpati sebagai simbol perdamaian dan doa bagi segala bangsa. Bangunan ini mulai digagas pada awal tahun 1990-an dan kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi dan wisata alternatif di kawasan Bukit Rhema, tidak jauh dari Candi Borobudur. Jika langit cerah, Candi Borobudur bisa dilihat dari puncak gereja. Pembangunan Gereja Ayam berawal dari pengalaman rohani Daniel, pengusaha asal Jakarta, yang mengaku mendapat panggilan doa saat berkunjung ke Bukit Rhema pada tahun 1988. Dalam doanya, dia merasa menerima wahyu untuk mendirikan sebuah tempat doa yang terbuka untuk segala bangsa tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun golongan. Pembangunan dimulai pada awal 1990-an. Proses pembangunan sempat terhenti pada akhir 1990-an karena keterbatasan dana. Meski demikian, seiring berjalannya waktu, kawasan ini kembali dibuka untuk umum, dan mulai berkembang menjadi tempat doa, wisata edukasi, sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat lokal. Gereja Ayam terletak di Bukit Rhema, sekitar 3 km dari Candi Borobudur. Lokasi ini berada di dua desa, yaitu Karangrejo dan Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Magelang. Akses menuju Gereja Ayam dapat ditempuh melalui jalur darat dengan kendaraan pribadi atau transportasi lokal dari kawasan wisata Borobudur. Pengunjung biasanya harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan shuttle lokal karena letaknya di perbukitan. (*)
- Kali Pertama Kenal Gunung Bromo, Secuil Surga di Bumi Indonesia
SEBAGAI anak rumahan, saya hampir tidak pernah berkegiatan outdoor . Apalagi traveling . Kegiatan outdoor atau kamping pertama saya adalah saat ikut Pramuka waktu SMP. Berkemah dalam kegiatan jambore. Dulu saya tergabung dalam Hizbul Wathan (HW). Pramukanya anak-anak Muhammadiyah. Saat kuliah pun sama saja. Saya jadi anak kos-kosan, mager nauzubillah. Hanya kamping saat ada kegiatan malam keakraban dalam menyambut mahasiswa baru. Begitu memasuki akhir-akhir kuliah, saya baru tertarik traveling. Tujuan saya kala itu adalah Gunung Bromo. Motoran bersama teman-teman kuliah. Berangkat dari Surabaya. Bromo bisa dijangkau dari dua akses utama. Dari Probolinggo dan Pasuruan. Jarak dari Kota Probolinggo ke Bromo sekitar 45 kilometer. Rutenya ditempuh menuju Ketapang, lalu menuju Sukapura. Di daerah ini, banyak penginapan untuk melepas lelah. Dari Sukapura, perjalanan dilanjutkan menuju Ngadisari dan kemudian Cemoro Lawang. Tepat di bibir Kaldera. Perjalanan tersebut bisa ditempuh sekitar 1,5 jam. Nah, untuk menuju kaldera Bromo dari Pasuruan, Anda perlu menuju Tosari lewat Pastepan dengan jarak tempuh sekitar 45 kilometer. Dalam perjalanan ini, Anda bisa menggunakan transportasi bus maupun angkot. Dari Tosari, perjalanan dilanjutkan menuju Wonokitri dan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Bromo (jarak tempuh sekitar 14 kilometer). Bisa juga dengan naik Jeep. Kalau mau lebih mudah, naik motor saja. Tapi, diharuskan naik motor selain motor matik. Tanjakan di Bromo bisa menyiksa motor matik. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara administrasi, gunung api yang masih aktif ini berada di empat wilayah. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung yang selalu mengeluarkan asap dari kawahnya ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Ingat atau tahu film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastro dan Christine Hakim? Film itu mengambil setting di kaldera Bromo. Gunung Bromo mempunyai kawah aktif. Selama abad XX, Bromo meletus tiga kali dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1974. Nama Bromo berasal dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah satu Dewa Utama Hindu. Selain terkenal sebagai objek wisata, gunung ini dipercaya sebagai gunung suci bagi Suku Tengger, penduduk Bromo. Setahun sekali, masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di Pura Luhur Poten yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Saya dan kawan-kawan datang dan kamping semalam di sini untuk merayakan pergantian tahun. Dari tahun 2008 berganti ke tahun 2009. Warga setempat membuat acara kesenian dan pawai obor untuk menyambut pergantian tahun. Ada juga acara bakar-bakar hasil bumi seperti ubi, jagung, dan singkong. Inilah awal mula perkenalan saya dengan gunung serta kamping di luar kepramukaan dan kegiatan kampus. Dari sini, di titik ini, perjalanan saya terus berlanjut. (*) Lumajang, 31 Desember 2008–01 Januari 2009
- Pertama Kali Mendaki Gunung Semeru
MASIH di tahun 2012. Belum genap satu bulan setelah pendakian Gunung Welirang, saya berkesempatan untuk mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Semeru. Gunung Semeru memiliki ketinggian 3.676 mdpl sekaligus menjadi gunung berapi tertinggi nomor 3 di Indonesia setelah Gunung Kerinci (3.805 mdpl) dan Gunung Rinjani (3.726 mdpl). Semeru hanya memiliki satu jalur pendakian, yaitu melalui Desa Ranupani, Lumajang. Untuk menuju Ranupani, dari arah Malang (Terminal Arjosari) pendaki bisa menggunakan angkutan umum jalur TA (Tumpang-Arjosari Rp 5.000) dan turun di pasar Tumpang. Di pasar Tumpang, pendaki bisa menggunakan hartop atau Jeep untuk menuju Desa Ranupani. Tarif kendaraan ini adalah Rp 450.000 per Jeep (September 2011). Satu Jeep bisa diisi 10–15 orang. Jika isi dompet pendaki terbilang tipis dan ingin mencari transportasi yang murah, bisa naik truk. Tarif menggunakan truk Rp 30.000 per orang, tapi harus bersedia ditempatkan dengan pupuk kandang atau sayur. Dalam perjalanan dari Tumpang ke Ranupani, truk akan beberapa kali berhenti untuk menurunkan pupuk-pupuk tersebut. Truk berangkat dari Tumpang ke Ranupani sekitar jam 5.00 sampai jam 7.00 pagi. Ranupani merupakan tempat untuk mengurus perizinan pendakian. Persyaratan yang diharuskan untuk mendaki adalah surat kesehatan (bisa disiapkan dari rumah atau minta di Puskesmas Tumpang/Rp 5.000). Karcis masuk TNBTS (Rp 2.500/orang), asuransi (Rp 2.000/orang), dan surat izin pendakian (Rp 5.000/kelompok). Ada juga syarat fotokopi KTP. Pendaki bisa mengurus surat izin pendakian di Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di dekat Pasar Tumpang atau di Pos Ranupani. Pendaki mulai berjalan kaki mulai dari Ranupani. Ranupani–Ranu Kumbolo Setelah selesai mengurus surat perizinan, pendaki sudah bisa mulai melakukan pendakian dari Ranupani. Jarak antara Ranupani sampai Ranu Kumbolo sekitar 4 jam. Dalam perjalanan, pendaki akan melewati 4 pos pemberhentian. Namun, pos 4 sudah sangat dekat dengan Ranu Kumbolo sehingga para pendaki lebih memilih untuk langsung turun ke ranu daripada berhenti di pos 4. Ranu Kumbolo adalah salah satu primadona Gunung Semeru. Ranu Kumbolo berada di ketinggian 2.400 mdpl, menjadi tempat peristirahatan dan berkemah bagi para pendaki. Setibanya di ranu, rasa lelah seolah impas dengan pesona yang akan Anda rasakan. Pemandangan di sekitar danau sangat meneduhkan mata. Perpaduan pohon cemara, semak-semak yang hijau, dan langit yang biru, menjadi refleksi tersendiri. Pesona Ranu Kumbolo akan mencuri hati Anda! Ranu Kumbolo seolah oase yang menyegarkan. Perpaduan alam yang hijau dan segarnya pemandangan danau, dijamin bisa merilis segala penat dan lelah Anda. Ditambah suasana yang dingin dan sejuk, Ranu Kumbolo pantas disebut sebagai tempat yang sempurna untuk bersantai. Tidak hanya itu, sunrise di Ranu Kumbolo akan menambah rasa kagum Anda. Panorama matahari terbitnya sangat cantik dan memesona. Warna cahaya mentari yang keemasan terpantul oleh permukaan danau. Tidak ada yang membantah kecantikan sunrise di Ranu Kumbolo. Sunrise di Ranu Kumbolo akan menambah rasa kagum Anda pada ciptaan Tuhan yang Maha Indah. Bagi pendaki yang nekat tidak membawa tenda (seperti saya dan tiga teman saya) bisa membawa sleeping bag saja dan bermalam di selter Ranu Kumbolo. Tapi, saran saya, lebih baik membawa tenda sendiri untuk jaga-jaga tidak kebagian tempat di selter. Saat saya naik, pendaki lain tidak banyak. Jadi, selter masih muat untuk bermalam. Ranu Kumbolo–Kalimati Setelah bersantai di Ranu Kumbolo, pendaki harus menyiapkan stamina ekstra lagi untuk melakukan pendakian selanjutnya menuju Kalimati (batas terakhir pendakian). Ujian pertama adalah tanjakan yang disebut dengan Tanjakan Cinta yang berada di sebelah barat danau Ranu Kumbolo. Kemiringannya sekitar 45 derajat. Julukan Tanjakan Cinta bermula dari mitos yang akrab di kalangan pendaki. Menurut beberapa sumber, mitos itu lahir dari kisah tragedi dua sejoli yang sudah bertunangan saat mendaki tanjakan tersebut. Konon, waktu itu, si cowok melewati tanjakan tersebut lebih dulu. Sementara calon istrinya kepayahan naik tanjakan. Cowok tadi cuma melihat dari atas sambil foto-foto. Nahas, pendaki cewek tiba-tiba pingsan dan jatuh terguling ke bawah, kemudian tewas. Karena itu, konon, bagi siapa saja yang berhasil menaiki Tanjakan Cinta tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, dipercaya kehidupan cintanya akan berakhir dengan bahagia. Yang percaya silakan dicoba, yang tidak percaya boleh mencoba juga. Terserah masing-masing. Setelah berhasil melewati tanjakan cinta, pendaki akan disuguhi pemandangan yang luar biasa indah di Jambangan dan Oro-Oro Ombo. Padang rumput Jambangan berada di ketinggian 3.200 mdpl dengan tumbuhan seperti cemara, mentigi, dan bunga edelweiss . Karena tempatnya datar alias tidak bergelombang, Jambangan menjadi tempat favorit para pendaki untuk beristirahat sambil menikmati udara sejuk. Di sini juga menjadi tempat ideal untuk mengabadikan Gunung Semeru dari kejauhan. Sedangkan padang rumput di Oro-oro Ombo membentang seluas 100 hektare. Tempat ini berada di lembah yang dikelilingi bukit-bukit gundul dengan tipe ekosistem asli tumbuhan rumput. Lokasinya berada di bagian atas tebing yang mengelilingi Ranu Kumbolo. Uniknya, padang rumput ini mirip sebuah mangkuk berisi hamparan rumput berwarna kekuning-kuningan. Pada waktu-waktu tertentu, di beberapa sudut Oro-Oro Ombo, air hujan menggenang. Di sini juga terdapat tanaman hama yang jika berbunga sangat indah. Ungu warnanya. Nama Oro-Oro Ombo dalam bahasa Jawa memiliki arti padang rumput yang luas. Warga setempat dan para pendaki sepakat bahwa panorama Oro-Oro Ombo terindah kedua setelah puncak Semeru. Keindahan itu membuatnya menjadi tempat yang cocok untuk orang-orang yang ingin menenangkan pikiran. Pohon pinus tumbuh subur di kawasan ini. Itu membuat pemandangannya tidak berbeda jauh dengan dataran sabana di Eropa. Ketika musim hujan, padang rumput ini tampak hijau dan menjadi waktu terindah di sepanjang musim di Indonesia. Titik-titik embun senantiasa berada di pucuk dedaunan. Menetes pelan dan memberikan nuansa eksotisme yang teramat sangat. Sayangnya, pendakian ke puncak Semeru lebih baik dilakukan pada musim kemarau, yakni bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, dan September. Mendaki di musim hujan sangat berbahaya karena sering terjadi badai dan tanah longsor. Setelah melewati keindahan Jambangan dan Oro-Oro Ombo, para pendaki bisa istirahat sejenak di Cemoro Kandang untuk kembali menikmati lanskap yang baru saja terlewati. Setelah merasa stamina sudah terkumpul kembali, pendaki bisa melanjutkan pendakian melewati rimbun pepohonan cemara untuk menuju Kalimati. Sepanjang perjalanan akan ditemukan jalan yang cukup mendaki, tetapi tidak terlalu curam. Setelah melakukan perjalanan jauh, rasa lelah akan sedikit terbayar ketika sudah mendekati Kalimati. Di sekitar perjalanan akan ditemukan ladang edelweiss. Namun, jika musim hujan/atau kebetulan sering hujan, bunga akan tampak tidak terlalu bagus. Sayangnya, ketika saya ke sana, beberapa kali turun hujan sehingga edelweiss-nya tidak terlalu bagus. Dari sini sudah dekat Kalimati dan bisa dengan jelas melihat puncak Mahameru. Bagi pendaki yang tidak membawa tenda bisa bermalam di selter Kalimati. Di selter Kalimati terdapat lima ruangan. Jadi, jika Anda takut tidak kebagian tempat, lebih baik membawa tenda sendiri. Beruntung, kami mendaki saat tidak banyak pendaki. Yang bawa tenda bisa mendirikannya di sebelah kanan selter di mana terdapat pohon cemara rindang yang bisa meminimalkan terpaan angin malam. Kalau mendirikan tenda di sebelah kiri selter, di situ merupakan hamparan pasir tanpa pepohonan. Angin bisa terasa kencang. Di Pos Kalimati kami melihat pendaki dari Inggris. Esoknya kami bertemu dia juga di puncak. Dia mendaki Semeru seorang diri dengan ditemani porter. Di Kalimati, pendaki bisa bersantai lebih dulu dan mendirikan tenda. Namun, terkadang ada juga pendaki yang nge-camp lebih ke atas, di Pos Arcopodo. Tapi, menurut aturannya, batas pendakian adalah sampai Kalimati. Setelah menikmati santapan makan sore/malam, pendaki disarankan untuk sesegera mungkin tidur untuk mengembalikan stamina. Sebab, kalau mau melihat sunrise di puncak Mahameru, pendaki harus bangun dini hari untuk memulai summit attack . Kalimati–Arcopodo Pagi itu udara di luar selter Kalimati begitu dingin. Udara menembus masuk ke dalam selter. Jam 2 dini hari kami sudah bangun. Kami harus bersiap untuk naik ke puncak. Dalam keadaan seperti itu, tidur kembali adalah pilihan surgawi. Enak betul. Namun, kami sadar tujuan kami naik gunung. Menggapai puncak selagi sanggup. Kalau tidak sanggup, jangan dipaksakan. Karena itu, kami siap-siap. Setelah mengisi perut dan menyiapkan segala perbekalan secukupnya, kami mulai mendaki sekitar jam 3 pagi. Dalam perjalanan menuju puncak, pendaki akan melewati Pos Arcopodo . Pos yang legendaris. Apa dan di manakah Arcopodo? Arcopodo adalah gabungan dua kosakata bahasa Jawa, archa (arca) dan padha (sama/kembar). Konon, di sana ada sepasang arca kembar. Berada di ketinggian 3.002 mdpl. Keberadaannya tersembunyi. Susah untuk menemukannya. Arcopodo–Puncak Mahameru Setelah batas vegetasi, yang terhampar menjulang ke atas adalah jalan pasir berbatu. Di samping kanan dan kiri adalah lereng yang curam. Di area itu, ada spot tengkorak bernama Blank 75. Tidak sedikit pendaki yang tersesat dan meninggal di sekitar area itu. Di sinilah stamina dan konsentrasi pendaki benar-benar dikuras habis. Jalur pendakian berupa pasir dan batu serta lereng yang curam tidak jarang membuat nyali pendaki ciut kemudian memutuskan kembali turun sebelum mencapai puncak abadi para dewa. Keuntungan saya ketika mendaki adalah pasir yang sedikit padat karena malamnya turun hujan. Tapi, usaha yang tak kenal putus asa akan terbayar ketika pendaki berhasil mencapai puncak. Kalian akan menjadi orang tertinggi di Pulau Jawa dan tentu saja melihat pemandangan sekitar yang begitu amazing! Rasa lelah pun seakan hilang begitu saja ketika melihat lukisan alam yang mahasempurna. Mahameru adalah sebutan terkenal puncak Gunung Semeru dengan ketinggian sekitar 3.676 mdpl. Itu menempatkannya sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Semeru termasuk salah satu gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur, terletak di antara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang. Saat berada di puncak, Anda perlu berhati-hati. Di sana ada kawah Jonggring Saloko yang masih rutin menyemburkan asap beracun. Karena itu, pendaki dilarang mendekati area kawah dan disarankan turun sebelum jam 12 siang. Gie, IN MEMORIAM Soe Hok Gie, seorang aktivis, penulis, dan pencinta alam. Dia tewas di puncak Mahameru karena (konon) menghirup asap beracun dari kawah Jonggring Saloko. Gie meninggal pada 16 Desember 1969, sehari menjelang ulang tahunnya yang ke-27 tahun. Intelectual abortus. Begitu dia dikenal. Seorang intelektual yang mati muda. Gie meninggalkan banyak cerita. Dia seorang mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, dia seorang pendiri Mapala UI, dia seorang penulis, seorang mahasiswa yang kritis dan juga seorang pendaki gunung. INDONESIAN GREEN RANGER MAHAMERU Yang mencintai udara jernih Yang mencintai terbang burung-burung Yang mencintai keleluasaan & kebebasan Yang mencintai bumi Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung Mereka tengadah & berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi Kembali ke pangkuan bintang-bintang Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi Sementara saputangan menahan tangis Sementara Desember menabur gerimis 24 Desember 1969 Sanento Yuliman Ketemu Fans Arsenal Asal Inggris Ketika mencapai puncak, saya melihat ada bule yang terus mengamati saya ketika saya berfoto-foto dengan bendera dan syal Man United. Ngomong-ngomong , saya fans Man United lho . Nah, di samping selter Kalimati, ada satu tenda. Itu adalah tenda milik bule tersebut. Ketika saya dekati dan saya tanya, dia mengaku berasal dari London dan mengaku fans Arsenal. Tanpa ba-bi-bu , langsung saja saya minta foto bareng. Hehe… Oke, ini sedikit catatan pendakian kedua saya dan untuk pertama kalinya ke Semeru. Total jarak antara Ranupani–Puncak Mahameru adalah sekitar 17 kilometer. Tapi, jangan anggap sama dengan kilometer jalan biasa. Ini adalah 17 kilometer yang sangat menakjubkan bagi saya. Sepanjang jarak itu, saya bisa menikmati sajian pemandangan dan panorama alam yang luar biasa. (*) Lumajang, 17–21 Oktober 2012
- Kamping Semalam di Gunung Bromo
SAAT kota terasa sumpek, tidur di gunung bisa menjadi alternatif untuk me- refresh pikiran dari kepenatan. Saya berdua bersama saudara pun meluncur ke Gunung Bromo. Setelah 2009, baru kali ini saya bisa kembali menyambangi Bromo. Karena akan kamping, perbekalan yang kami bawa tentu sedikit lebih banyak daripada sekadar traveling biasa. Namun, karena belum punya perlengkapan outdoor , untuk tenda, nesting , dan kompor portable kami harus menyewa. Seingat saya, tarif sewa tenda per hari kena Rp 25.000. Tarif peralatan yang lain saya lupa. Nah, saran saja, kalau Anda berniat naik gunung atau kamping outdoor dengan peralatan menyewa, coba cek dulu perlengkapannya saat masih berada di toko. Jangan sampai Anda senasib dengan saya. Saat kamping, hujan turun tidak begitu deras. Namun, tenda yang kami sewa ternyata bocor. Terdapat beberapa lubang kecil di beberapa bagian layer tenda. Ditambah kami tidak membawa lakban untuk menambalnya. Jadilah kami tidur meringkuk di sedikit area dalam tenda yang masih terselamatkan dari air. Tidak nyenyak memang, tapi itu masih lebih baik daripada tidur di luar tenda. Hehe… Saya berdua dengan saudara meluncur dari Surabaya dengan mengendarai motor Supra X-125 keluaran 2005. Motor ini juga saya pakai saat merayakan pergantian tahun 2009 lalu. Masih tangguh sih untuk ke kaldera Bromo. Kalau ke penanjakan, ampun. Bromo bisa dijangkau dari dua akses utama. Dari Probolinggo dan Pasuruan. Jarak dari Kota Probolinggo ke Bromo sekitar 45 kilometer. Rutenya ditempuh menuju Ketapang, lalu menuju Sukapura. Di daerah ini, banyak penginapan untuk melepas lelah. Dari Sukapura, perjalanan dilanjutkan menuju Ngadisari dan kemudian Cemoro Lawang. Tepat di bibir Kaldera. Perjalanan tersebut bisa ditempuh sekitar 1,5 jam. Nah, untuk menuju kaldera Bromo dari Pasuruan, Anda perlu menuju Tosari lewat Pastepan dengan jarak tempuh sekitar 45 kilometer. Dalam perjalanan ini, Anda bisa menggunakan transportasi bus maupun angkot. Dari Tosari, perjalanan dilanjutkan menuju Wonokitri dan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Bromo (jarak tempuh sekitar 14 kilometer). Bisa juga dengan naik Jeep. Kalau mau lebih mudah, naik motor saja. Tapi, diharuskan naik motor selain motor matik. Tanjakan di Bromo bisa menyiksa motor matik. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara administrasi, gunung api yang masih aktif ini berada di empat wilayah. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung yang selalu mengeluarkan asap dari kawahnya ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Ingat atau tahu film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastro dan Christine Hakim? Film itu mengambil setting di kaldera Bromo. Gunung Bromo mempunyai kawah aktif. Selama abad XX, Bromo meletus tiga kali dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1974. Nama Bromo berasal dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah satu Dewa Utama Hindu. Selain terkenal sebagai objek wisata, gunung ini dipercaya sebagai gunung suci bagi Suku Tengger, penduduk Bromo. Setahun sekali, masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Kami waktu itu mendirikan tenda di samping tembok Pura Luhur Poten. Berada di bawah kaki kawah Gunung Bromo, pura ini menjadi tempat ibadah yang sakral bagi Suku Tengger yang yang beragama Hindu. Suku Tengger adalah masyarakat yang menghuni kawasan Taman Nasional Bromo. Masyarakat setempat percaya bahwa Pura Luhur Poten menjadi kediaman Isa Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan perwujudan dari Dewa Brahma. Brahma adalah satu di antara tiga dewa besar dalam agama Hindu selain Siwa dan Wisnu. Menurut sejarah, Pura Luhur Poten didirikan pada tahun 2000 di kawasan kaldera atau lautan pasir Bromo. Arsitekturnya merupakan percampuran budaya Jawa dan Bali. Keduanya memang sangat kental dengan nuansa agama Hindu. Pura ini juga bisa menjadi objek wisata yang artistik bagi pengunjung. Namun, mengingat pura ini adalah tempat ibadah, pengunjuk hanya bisa menikmatinya dari luar pagar. Malam pun berganti pagi. Matahari menyembul di antara barisan bukit Bromo. Kabut tipis tampak menyelimuti. Udara dingin yang memeluk tubuh perlahan bercampur dengan kehangatan. Sungguh waktu yang pas untuk masak nasi dan menyeduh kopi. Setelah agak siang, kami bergegas menuju bibir kawah di atas sana. Kami perlu menaiki 250 anak tangga untuk menikmati keindahan di sekeliling Bromo. Dari atas sini, segala yang tampak di bawah sana terlihat sangat kecil. Termasuk Pura Luhur Poten yang tampak kecil di tengah lautan pasir. Setelah turun, kami mampir sejenak di penjual kopi di kaki gunung. Penjualnya perempuan tua. Ia berjualan sambil menikmati rokok. Ya, jangan heran kalau main ke sini dan melihat baik laki-laki maupun perempuan setempat merokok. Di sini, kopi dan rokok seperti sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan, baik laki-laki maupun perempuan. Di sini pelancong juga bisa membeli bunga abadi edelweiss . Saat mendaki gunung, haram hukumnya memetik edelweiss . Tapi di Bromo berbeda. Anda bisa membeli bunga edelweiss sebanyak yang Anda suka. Harganya bervariasi. Sebagian masyarakat Tengger memang sengaja membudidayakan bunga edelweiss sendiri untuk dijual kepada traveler . Jadi nggak perlu takut di- bully di media sosial kalau pamer foto bunga edelweiss dari Bromo. Halal. Kami hanya nge-camp semalam di Bromo. Takut tenda bocor kalau hujan lagi. Hehe… (*) Lumajang, 12 Maret 2013
- Menengok Semeru Sekali Lagi
KETAGIHAN. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan perasaan saya ketika pertama kali mendaki Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl itu. Karena itu pula, dua bulan setelah pendakian yang pertama, saya kembali ke Semeru. Semeru tidak akan pernah habis untuk dibicarakan dan tak akan pernah bosan untuk dijejaki. Pendakian Mahameru kali ini menjadi yang kedua bagi saya dan memiliki kesan berbeda dari pendakian pertama. Memasuki musim hujan, Semeru setiap harinya selalu diguyur hujan yang membuat jalur pendakian sedikit becek dan licin. Pendaki harus berhati-hati mencari pijakan yang aman agar tidak terpeleset mengingat sebelah kiri jalur adalah lereng. Pendaki juga perlu hati-hati dengan ranting-ranting yang menutup jalan maupun pohon yang setiap saat bisa tumbang. 22 Desember 2012 Pada Sabtu siang tanggal 22 Desember 2012 kami memulai pendakian. Namun, sebelum berangkat, kami mengisi perut dulu agar memiliki tenaga yang cukup untuk sampai di Ranu Kumbolo. Maka dari itu, kami memesan rawon di warung Ranupani. Rawon Ranupani ini kemudian menjadi makanan favorit saya saat mendaki Semeru. Baik saat akan naik maupun setelah turun gunung. Saat pendakian pertama, saya juga memesan rawon ini. Setelah kenyang, sekitar pukul 10 siang, kami bergegas memulai pendakian. Pendakian dari Pos Perizinan Ranupani sampai Pos 1, 2, dan 3 bisa dibilang tidak ada sesuatu yang berkesan, kecuali rasa lelah dan jalanan yang agak licin tentunya. Belum lagi kalau-kalau hujan mulai mengguyur. Namun, ketika mendekati Pos 4 yang berada di atas Ranu Kumbolo, pemandangan yang berbeda terhampar megah. Di bawah sana, terhampar Ranu Kumbolo dengan keteduhannya. Kami sampai di pos ini sekitar pukul 15.30. Ranu Kumbolo terlihat lebih cantik dengan padang rumput di sekelilingnya yang tampak lebih hijau. Sayangnya, ketika sampai di Ranu Kumbolo, hujan turun sehingga danau tertutup kabut. Kali ini pun Semeru dibanjiri banyak pendaki. Mungkin mereka merasa penasaran setelah melihat film 5cm yang mengambil setting Semeru. Karena hujan terus turun, kami berdiam cukup lama di Pos 4 sambil menikmati keindahan Ranu Kumbolo dari atas. Sekitar jam empat lebih, hujan mulai berhenti. Hanya menyisakan sedikit gerimis. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju selter Ranu Kumbolo untuk beristirahat. Di sekitar danau, banyak tenda yang berdiri. Sama dengan pendakian yang pertama, kali ini kami juga memilih untuk bermalam di dalam selter bersama pendaki lainnya. Kami sebenarnya membawa tenda. Tapi, kala itu rasanya malas mendirikan tenda di bawah gerimis. Jadi, kami tetap menyimpan tenda di keril dan tidur di selter hanya dengan menggunakan sleeping bag. Ingat ya, haram hukumnya mendirikan tenda di dalam selter atau pos. Tidak banyak yang kami lakukan di selter, kecuali ngobrol dengan sesama pendaki, masak-masak bareng. Dan, ketika di tengah malam sulit tidur karena dingin menembus masuk, kami luangkan waktu untuk bermain kartu sampai kantuk menyergap. Hawa dingin Semeru di musim hujan memang membuat tidur tidak terlalu nyenyak. Namun, sedikit tidur saja sudah merupakan anugerah. Itu sudah cukup mengembalikan tenaga untuk melanjutkan pendakian esok harinya. 23 Desember 2012 Pagi itu Ranu Kumbolo bertudung kabut tipis, berselimut hawa dingin. Matahari tampak sedikit di balik awan tebal berkabut. Itulah keindahan pagi hari yang menyambut kami. Hari Minggu waktu itu. Setelah berkemas dan selesai sarapan, kami menyiapkan mental untuk melanjutkan mendaki. Dari Ranu Kumbolo, kami harus melalui Tanjakan Cinta. Tentu kalian sudah tahu tentang mitos tanjakan ini. Kalian juga bebas menafsirkannya sendiri. Saya sendiri berhasil menaiki tanjakan itu tanpa berhenti sampai di atas tanjakan, tidak seperti pada pendakian pertama. Wow, setelah itu, padang Oro-Oro Ombo menyambut kami dengan hamparan rerumputan, bebunga, dan ilalang yang masih kering. Ada sebagian area lagi yang sudah menghijau. Perpaduan yang harmonis. Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan langkah. Menurun. Melintasi padang ini menjadi semakin nyaman karena tidak ada debu bertebaran seperti pada pendakian pertama. Tentu saja tidak lupa pose dulu. Foto-foto. Itu kan tujuan lain mendaki gunung? Jangan bohong! Sampai di Pos Cemoro Kandang, kami istirahat lagi. Santai saja. Nikmati perjalanan dan pendakian tanpa tergesa-gesa. Mendaki adalah hobi, sering istirahat adalah passion . Hehehe … Apalagi trek dari pos ini ke pos selanjutnya, Pos Kalimati, lumayan panjang dan berliku-liku, naik turun. Baiknya memang istirahat dulu. Menikmati camilan yang dibawa. Setelah badan oke, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos Kalimati. Begitu sampai di Kalimati, wow! Banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda di sana. Kami pun seakan berebut tempat ternyaman untuk mendirikan tenda. Baiklah, di sini kami mendirikan tenda, makan, ngrokok , dan istirahat. Kami santai-santai dulu. Nggak perlu buru-buru nanjak . Apalagi hari sudah sore. Selepas isya kami sudah tertidur pulas. 24 Desember 2012 Pukul 00.30 dini hari, alarm di handphone berbunyi. Pertanda kami sudah harus bangun untuk bersiap-siap mencium bau pasir Mahameru. Setelah berkemas, tanpa makan, kami memulai pendakian di tengah malam, sekitar pukul 01.00. Di sini mental saya kembali diuji. Jalur dari Kalimati menuju Arcopodo sangat menanjak dan sempit. Treknya juga licin karena banyak akar-akaran yang menyembul. Belum lagi ancaman longsoran yang membahayakan jika tidak berhati-hati. Jika berniat menapaki Mahameru, yang harus diperhatikan adalah jangan sampai tidak membawa air minum atau makanan ringan. Karena hawa dingin seperti saat itu cukup berpotensi menguras tenaga dengan cepat. Jika sudah begitu, dan perut dalam keadaan kosong, dijamin puyeng kepala ente . Perut kerucuk-kerucuk. Pucat pasi mukamu! Hahaha… Maaf, ini pengalaman saya yang tidak patut ditiru. Kejadian itu menimpa saya di trek pasir berbatu di atas Cemoro Tunggal. Medan mulai berat-beratnya. Saya lama duduk. Namun, terlalu lama duduk hanya akan menimbulkan rasa kantuk dan udara akan terasa semakin dingin. Dalam keadaan seperti itu, saya pun berusaha menghilangkan urat malu saya untuk sekadar meminta sedikit air minum kepada pendaki lainnya. Untungnya banyak pendaki yang baik. Kalau nggak ada bagaimana? Wassalam mungkin. Ini juga tidak patut ditiru. Sebelum mendaki dan muncak , siapkan segala sesuatunya. So , pendakian dari Blank 75 sampai ke Puncak Mahameru menjadi pendakian paling berat bagi saya. Pasti untuk pendaki lain juga. Cukup hati-hati dan bulatkan tekad. Namun, kalau sadar kondisi sudah tidak memungkinkan, segera balik kanan dan turun kembali. Tidak perlu memaksakan diri. Tak akan lari gunung dikejar. Masih ada waktu yang lain. Itu terjadi pada dua teman saya. Sekitar jam 7 pagi saya baru berhasil sampai puncak. Tentu saja dengan perjuangan yang berat. Belum lagi saya harus memungut cokelat milik pendaki lain yang jatuh di pasir dan terabaikan. Itu saya lakukan hanya untuk mengisi perut yang kerucuk-kerucuk. Hehe … Sampai di puncak, saya nggak bisa langsung berpose di plang Mahameru. Antreannya bukan main banyaknya. Maklum banyak sekali pendakinya. Kalau mau cepat sih bisa: bikin sendiri dari rumah. Sambil menunggu antrean foto, saya mencari pendaki yang mau memberi sedekah, ya sekadar minum dan sedikit makanan kecil. Alhamdulillah, ada pendaki dari Malang yang berbaik hati. Setelah mengusir dahaga dan perut kosong dengan meminta-minta dan para pendaki yang berfoto agak sepi, kami langsung saja berpose. Namun, ada pemandangan yang berbeda ketika sampai di puncak. Memoriam Gie dan Idhan Lubis sudah tidak ada. Ya, pihak Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru mengeluarkan peraturan untuk membongkar semua plang atau benda-benda memoriam yang ada di puncak. Pihak pengelola melakukannya demi kelestarian Mahameru dan hanya meninggalkan satu plang bertulisan Mahameru. Sekitar pukul 09.30 kami sudah harus turun gunung. Sebab, udara terasa semakin dingin hingga menusuk tulang. Belum lagi ancaman bahaya asap beracun dari kawah Jonggring Saloko. Tidak sama dengan saat naik yang membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam, waktu yang dibutuhkan saat turun hanya 2-3 jam. Kami kembali ke tenda di Kalimati. Tidak langsung pulang. Kami harus bermalam lagi di Kalimati. Hujan yang mengguyur menumpas semangat kami untuk segera turun ke Ranu Kumbolo. Tidak banyak yang kami lakukan selain masak, makan-makan, dan tidur sampai angin pagi membelai mesra. 25 Desember 2012 Selasa siang, setelah makan, membongkar tenda, dan packing selesai, kami bergegas turun menuju Ranu Kumbolo. Tidak ada yang paling menyenangkan selain perjalanan turun, canda tawa riang gembira tak jarang hinggap di sepanjang jalur. Bahkan, beberapa kali kami adu kecepatan dengan berlari! Tak terasa perjalanan begitu cepat saat tersadar kami sudah sampai di Ranu Kumbolo. Di sini kami berhenti sejenak untuk menghela napas. Memandangi danau ini untuk yang terakhir kali sebelum benar-benar turun. Tidak lama di sini, hujan kembali turun yang menunda niat kami untuk segera turun. Kami berteduh sebentar di selter, menunggu hujan reda. Hampir setengah jam kami menunggu, hujan akhirnya reda juga. Tanpa menunggu lama, kami segera bergegas meninggalkan Ranu Kumbolo. Selamat tinggal Semeru. Sampai jumpa lagi di lain waktu. (*) Semeru, 22-25 Desember 2012
- Pendakian Gunung Rinjani
SETELAH tahun lalu dua kali menapakkan kaki di Gunung Semeru, tahun ini saya mbolang ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, untuk menyapa Gunung Rinjani. Konon katanya, gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl ini adalah gunung terindah di Asia Tenggara! Barangkali itu ada benarnya. Sebab, saat naik Rinjani, saya bertemu dengan banyak orang dari luar negeri. Baik dari Asia maupun Eropa. Mantap. Saya harus memulai tulisan ini dari Surabaya. Alih-alih menunggu pengumuman hasil interview kerja, saya justru naik gunung. Kami memilih transportasi yang murah. Ngeteng naik bus dan ojek. Surabaya-Lombok. Saya dan dua teman lainnya, sebut saja Lin dan Bakh, memulai perjalanan dari Terminal Purabaya, Sidoarjo, tanggal 06 Juni 2013 pukul 12.13 WIB. Untuk menghemat biaya, kami memutuskan untuk membeli tiket bus ekonomi eceran. Jadi, sistem eceran yang saya maksud seperti ini. Dari Purabaya, kami membayar tiket bus biasa (tanpa AC) tujuan Probolinggo seharga Rp 20.000. Di Probolinggo, kami kembali membayar tiket Rp 15.000 untuk menuju Jember. Di Jember, kami kemudian dioper ke bus lain menuju Banyuwangi dengan biaya Rp 18.000. Nah, sistem tiket eceran juga dipakai untuk jaga-jaga apabila penumpang dioper dari satu bus ke bus lain. Jika sudah bayar penuh dan ternyata dioper, kita yang rugi karena harus bayar lagi. Sampai Terminal Blambangan Banyuwangi, jam sudah menunjukkan pukul 22.06 WIB. Pada jam seperti itu sudah tidak ada angkutan umum yang beroperasi. Angkutan yang ada tinggal ojek dan taksi. Karena bertiga, naik taksi bisa lebih murah karena patungan. Namun, kami tidak langsung memesan taksi. Uang yang tak seberapa harus dihemat. Agar bisa berpikir jernih, kami memutuskan untuk makan dulu di warung pinggir jalan sebelum meluncur ke Pelabuhan Ketapang. Nah, di warung tersebut kami berkenalan dengan seseorang yang bersedia membantu kami mendapatkan tiket murah dari Ketapang langsung menuju Mataram. Dia mengaku kenal baik dengan petugas di Ketapang sehingga dia menjamin hal itu. Setelah makan, kami pun berangkat ke Ketapang menggunakan taksi dengan ongkos Rp 50.000 diisi empat orang. Satu orang lagi adalah orang yang menawarkan angkutan tadi itu. Pukul 23.12 WIB kami sampai di Pelabuhan Ketapang. Di sana, kami bertemu sembilan pendaki lainnya (7 laki-laki dan 2 perempuan) dari Undip Semarang. Mereka kami ajak bergabung agar mendapatkan tiket bus murah menuju Terminal Mandalika, Mataram, Lombok. Petugas awalnya meminta harga Rp 175.000. Tapi, setelah tawar-menawar, disetujui harga Rp 150.000 per orang (harga resminya Rp 220.000). Di luar itu, kami hanya perlu membayar tiket kapal Rp 6.000 saja untuk menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Setelah mendapat tiket murah, kami yang kini menjadi ber-12 tidak langsung berangkat karena harus menunggu bus yang belum datang. Sekitar pukul 01.09 WIB kami baru bisa memasuki kapal. Tepat pada pukul 02.15 WITA, kapal bersandar di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, dan pukul 05.49 WITA bus memasuki Terminal Ubung, Denpasar. Di Terminal Ubung, bus ngetem cukup lama. Hampir satu jam lebih berhenti, bus akhirnya berangkat dan sampai di Pelabuhan Padang Bai, Bali, pada pukul 08.09 WITA. Saat bus parkir di lambung kapal, kami semua turun dari bus dan naik ke dek kapal. Kapal berlayar menuju Pelabuhan Lembar, Lombok. Sekitar empat jam lamanya kami berada di atas kapal. Waktu selama itu lebih banyak kami habiskan untuk istirahat atau tidur. Tepat pukul 13.30 WITA, kapal bersandar di Pelabuhan Lembar. Kami bertiga yang sudah membayar tiket bus sampai Terminal Mataram harus turun di Lembar. Karena Lin sudah janjian dengan temannya yang sudah berada di Lombok untuk nyarter mobil pikap. Kami bertiga turun di pelabuhan, sementara sembilan orang lain dari Undip Semarang yang bersama kami ikut bus ke Mataram. Tak disangka, awalnya biaya nyarter mobil yang kami pikir akan lebih murah ternyata lebih mahal. Mobilnya pun bukan pikap, melainkan mobil Kijang yang hanya diisi tujuh orang! Entah bagaimana ceritanya per anak kena Rp 100.000! Mau tidak mau kami ikut saja karena sudah telanjur turun dari bus. Pukul 14.30 WITA, kami tidak langsung menuju ke pos pendakian, tetapi perlu mampir dulu ke Bandara Lombok untuk menjemput satu teman lainnya yang terbang dari Jakarta. Dari pukul 16.10-17:37 WITA, penantian kami belum berujung. Akhirnya ada kabar, pesawat LionAir dari Jakarta menuju Lombok mengalami delay. Menerima kabar tersebut, kami langsung saja bertolak menuju base camp sebelum keesokan harinya mulai melakukan pendakian. Biar teman yang tadi naik mobil sendiri kalau tiba, entah jam berapa. Sebelum ke base camp, kami lebih dulu belanja logistik tambahan di Pasar Pancor, Lombok Timur. Setelah selesai berbelanja, kami langsung menuju tempat istirahat dan sampai pukul 18.12 WITA. Di sana kami (yang sudah berjumlah delapan orang karena satu orang yang dari Jakarta sudah tiba) sempat nonton bareng laga persahabatan antara Indonesia vs Belanda sebelum tidur. Pendakian Hari Pertama (8 Juni 2013) Untuk pendakian kali ini, kami memilih memulainya dari jalur Sembalun. Pagi pukul 05.39 WITA, kami bersiap-siap menuju Pos Rinjani Information Center (RIC) Sembalun. Sebelum berangkat, kami pesan nasi bungkus untuk sarapan dan makan siang. Harga per bungkusnya Rp 5.000. Bisa pilih lauk ayam atau telur. Tepat pukul 06.45 WIB, kami bergegas menuju RIC Sembalun. Pukul 08.37 kami tiba di Pos RIC Sembalun untuk melakukan pendaftaran. Namun, saya sedikit heran karena ternyata perizinan di Sembalun tidak seberapa ketat (tidak harus menyerahkan fotokopi KTP maupun surat keterangan sehat dari dokter). Biaya tiket pun terbilang murah. Kami berdelapan hanya Rp 20.000. Pukul 09.30 WITA, setelah sarapan dan beli satu bungkus lagi untuk bekal, kami memulai pendakian. Tidak lama setelah melangkahkan kaki menuju Pos I, kami disambut hamparan padang sabana hijau yang begitu indah. Bukit-bukit yang tampak manis dengan kabut tipis. Angin sepoi dan ketenangan alam Rinjani membuat perjalanan awal terasa begitu mendamaikan. Tapi tak lama setelah itu, kami disambut trek yang berkelok-kelok, naik-turun dan melewati dua jembatan beton untuk sampai di Pos I. Kami tiba di Pos I pukul 12.10 WITA. Tidak perlu lama-lama beristirahat, pada pukul 12.32 WITA, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Sampai di Pos II, jam digital di pergelangan tangan menunjukkan pukul 13.13 WITA. Di Pos ini, terdapat sebuah jembatan beton yang di bawahnya mengalir sungai. Banyak pendaki bule yang beristirahat di sisi kanan dan kiri jembatan. Dengan pohon yang rindang, pendaki bisa menikmati waktu istirahat dengan damai. Di sini juga terdapat sumber air bersih yang bisa langsung diminum. Di Pos II kami bergabung dengan kawan pendaki lainnya dari Patrapala (komunitas pencinta alam Pertamina Cilacap). Kami diberi makan, kopi, dan juga rokok. Jadi tak perlu bongkar keril. Hehe... Kejadian lucu cenderung tragis dimulai dari pos ini. Bakh yang merupakan tipe pendaki lamban berinisiatif untuk berjalan lebih dulu menuju Pos III, dengan asumsi saya dan Lin akan segera menyusul. Kami berdua mengiyakan. Cukup lama setelah Bakh jalan, kami baru akan melanjutkan perjalanan. Namun, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Kira-kira pukul 14.00 WITA. Kami berdua mencemaskan Bakh. Tapi, ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Akhirnya, kami dan pendaki lainnya saling berbagi tempat untuk berteduh di gardu Pos II. Sambil menunggu hujan reda, kami sempatkan memasak dan berbagi kopi dan rokok. Satu jam lebih kami berteduh dari hujan. Memasuki sekitar pukul 15.10 WITA, hujan mulai reda. Kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju Pos III. Sebelum sampai ke Pos III, masih ada pos ekstra/pos bayangan. Untuk menuju ke sana, trek yang kami lalui cukup terjal dan menanjak. Tepat pukul 16.28 WITA, kami sampai di Pos III. Kami pun bertemu dengan Bakh yang sudah bertelanjang dada setelah kehujanan. Jaket, baju, dan celananya basah. Ketika tas kerilnya saya angkat, beratnya juga semakin bertambah Nasibmu kawan. Hehe… Karena waktu sudah sore dan kondisi fisik yang sudah mulai melemah, kami memutuskan mendirikan tenda dan bermalam di Pos III. Di Pos III ada sedikit hiburan dari sekawanan monyet yang bisa sedikit menghilangkan rasa lelah. Salah satu monyet dari kawanan itu (kemungkinan kepala sukunya) sepertinya sudah terbiasa akrab dengan pendaki. Ia berani mendekat dan meminta makanan kepada pendaki. Dengan bermodal makanan ringan, kami bisa berdekatan dan membelai monyet liar itu. Setelah hari mulai malam, kami sempatkan makan malam terlebih dulu sebelum beristirahat untuk memulihkan tenaga. Pendakian Hari Kedua (09 Juni 2013) Pukul 08.00 WITA, kami sudah selesai makan. Sebelum berkemas, kami kembali memberi makanan kecil untuk monyet. Setelah membongkar tenda, packing , gosok gigi, dan buang air besar, pukul 10.00 WITA kami melanjutkan pendakian menuju Pos VI. Nah, tanjakan menuju POS VI inilah ujian yang sesungguhnya sedang menunggu. Pada fase ini, kami dipertemukan dengan tujuh bukit penyesalan yang melegenda itu! Kami harus melewati tanjakan dengan kemiringan yang ekstrem sebanyak tujuh bukit! Setelah melewati (mungkin) dua bukit, kami disambut pos bayangan (pukul 11.44 WITA) yang atapnya sudah rusak. Setelah tertatih-tatih, napas terputus-putus, kaki patah-patah, akhirnya kami sampai di plang Pos VI atau lebih dikenal dengan nama POS Plawangan Sembalun, tepat pukul 14.04 WITA. Di sini kami sempatkan istirahat beberapa menit sebelum berjalan lagi agak ke atas menuju ground untuk mendirikan tenda. Pukul 15.23 WITA, kami sudah berada di tempat untuk membangun tenda, bergabung dengan pendaki dari Pertamina dan kawan-kawan dari Undip Semarang yang bertemu lagi di sana. Kami menghabiskan waktu untuk istirahat, makan, ngobrol , dan bercanda dengan kawan-kawan pendaki lainnya. Tapi, jangan kaget kalau di pos ini kalian menemukan penjual minuman! Ya, di pos ini ada yang menjual soft drink dan rokok. Tapi, jangan kaget lagi kalau harganya melambung tinggi. Di pos dengan ketinggian 2.700 mdpl ini, harga soft drink dan rokok juga ikut melambung tinggi. Harga 1 kaleng Pocari Sweat Rp 40.000, Coca-Cola Rp 30.000, Bintang Rp 70.000. Baiklah, kalau tak ada uang –atau lebih tepatnya berhemat– tidak usah memaksakan diri untuk membeli. Lebih baik kita seduh kopi atau teh bawaan. Atau kalau kehabisan air, tinggal turun sekitar 100 meter dari ground. Di situ ada sumber air bersih yang jauh lebih menyegarkan dan gratis. Setelah itu, tak perlu berpikir Pocari Sweat, Coca-Cola, atau Bintang lagi. Lebih baik istirahat supaya tenaga bisa cepat kembali terkumpul untuk menuju puncak Rinjani dini hari nanti. Pendakian Hari Ketiga (10 Juni 2013) Sesuai kesepakatan bersama, kami, kawan-kawan pendaki dari Pertamina dan dari Undip Semarang bangun pukul 01.22 WITA untuk bersiap menuju puncak. Langit terlihat cerah dengan taburan bintang. Kami sempat khawatir karena malamnya hujan turun. Tapi, sebelum tengah malam, hujan sudah reda. Berkat hujan yang sebentar itu, trek menuju puncak juga tidak terlalu berdebu. Setelah mengisi perut secukupnya (bisa makan nasi, mi, atau agar-agar) kami checking perlengkapan. Setelah semua siap, kami tidak lupa memanjatkan doa bersama demi kelancaran dan keselamatan dalam pendakian menuju puncak kali ini. Sekitar pukul 02.03 WITA kami mulai perjalanan. Dari Pos Plawangan menuju puncak didominasi trek terjal berpasir. Mirip trek ke puncak Semeru. Kami harus melewati jalan berkelok-kelok, mendaki bukit dan trek yang mudah longsor jika dipijak. Kondisi yang gelap dan dingin mengharuskan kami untuk tetap waspada dan konsentrasi agar tetap aman. Sebelum benar-benar sampai puncak, tiba-tiba badai dan kabut menerjang sehingga cuaca menjadi sangat dingin. Angin kencang yang bertiup disertai kabut dingin sangat menguji mental dan ketahanan. Ada yang kemudian memutuskan turun sebelum sampai puncak. Tetapi banyak juga yang bisa menapakkan kakinya di puncak dengan ketinggian 3.726 mdpl. Saya sendiri tiba puncak kurang lebih pada pukul 08.13 WITA, setelah berjuang dengan lelah dan dingin. Di puncak kami tidak bisa leluasa dan berlama-lama mengambil gambar karena angin semakin kencang dan kabut tak kunjung pergi. Kabut membuat Danau Segara Anak di bawah sana tidak terlihat dari puncak. Sedikit terlihat, kemudian dengan cepat kembali menghilang di balik kabut. Tepat pukul 11.20 WITA saya memutuskan untuk turun. Jalan turun juga tidak semudah yang dibayangkan. Bisa dibilang turun dan mendaki memiliki penderitaannya sendiri-sendiri. Butuh sekitar satu jam setengah bagi saya untuk sampai ke Pos Plawangan . Sampai di tenda, saya tidur sebentar sebelum kembali melakukan perjalanan. Setelah membongkar tenda dan selesai packing , tepat pukul 14.14 WITA kami turun menuju Danau Segara Anak. Ternyata, untuk menuju danau tidak kalah menyiksa. Untuk turun kami harus menyusuri pinggir tebing curam dengan trek yang didominasi bebatuan. Setelah beberapa kali berhenti istirahat untuk menghimpun tenaga, kami akhirnya sampai di danau pukul 18.37 WITA. Setelah menentukan tempat, di samping tenda kawan Pertamina, kami langsung mendirikan tenda, masak, makan, dan tidur. Hari Kedua, Nge-Camp di Danau (11 Juni 2013) Pukul 07.20 WITA saya terbangun. Sinar matahari sudah mulai hangat menerpa tenda. Ketika membuka pintu tenda, mata yang masih belum sempurna terbuka langsung disambut angin sejuk serta pemandangan Danau Segara Anak yang indah berselimut kabut tipis. Sebelum beraktivitas (memasak, makan, dll) kami menyempatkan diri untuk mandi. Jangan takut kedinginan. Karena di sekitar danau ada sumber air panas. Letaknya tidak jauh dari camping ground . Sumber air panas yang bercampur dengan air terjun dari danau membuat air menjadi hangat. Di sana kami bisa berendam sesuka hati, tapi juga harus tahu diri. Karena masih banyak pendaki lain yang juga ingin berendam, terlebih turis-turis mancanegara. Jadi tidak perlu kaget jika berendam bersama turis-turis yang hanya mengenakan bikini. Enjoy saja. Jarang-jarang kan di gunung bisa seperti itu. Pukul 09.12 WITA kami selesai mandi dan berendam. Efek berendam di air hangat adalah rasa lelah bisa hilang dengan sendirinya, tapi juga kulit bisa menjadi kering karena habis kena dingin langsung kena panas. Tapi tak apa-apa lah , yang penting badan terasa segar kembali. Selain dimanjakan dengan sumber air hangat, di camping ground ini juga menjadi surga bagi para pemancing. Di danau pagi itu sudah banyak yang mulai memancing. Saya sempat menyesal karena tidak bawa pancingan. Tapi untung saja porter dari kawan Pertamina punya pancing yang bisa dipinjam. Waktunya mancing. Memancing di Danau Segara Anak sangat menyenangkan. Selain pemandangan yang menakjubkan, ikan-ikan di sini juga mudah dipancing. Cukup dengan umpan cacing yang bisa dicari di pinggir-pinggir danau, pemancing sudah bisa ’’memanen’’ ikan nila atau mujair. Atau jika beruntung, kalian bisa mendapatkan ikan mas atau orang setempat menyebutnya sebagai ikan kiper. Ikan yang didapat juga lumayan besar-besar sehingga pemancing akan merasa terpuaskan. Cukup lama saya memancing. Setelah merasa sudah cukup, akhirnya saya mengakhiri kegiatan mancing-memancing ini. Saya sendiri mendapatkan tiga ikan nila berukuran besar dan dua berukuran kecil. Setelah mencari kayu bakar, ikan-ikan tersebut saya bakar. Nikmat. Pukul 16.02 WITA kegiatan bakar-membakar dan santap-menyantap ikan bakar selesai sudah. Kegiatan berikutnya adalah kembali berendam di air hangat. Hehehe… Setelah cukup lama berendam di air hangat, kami memutuskan kembali ke tenda setelah merasa udara menjadi semakin dingin. Beruntung bagi kami. Malam ini kami tidak perlu masak karena porter turis Singapura yang mendirikan tenda di sebelah tenda kami dengan baik hati menawari kami makan. Sayur lodeh ikan tuna. Akhirnya makan enak di gunung! Persiapan Turun Gunung (12 Juni 2013) Kami bangun sekitar pukul 06.55 WITA dan lagi-lagi kami tak perlu masak karena porter yang semalam memberi kami makan kembali pagi ini. Saya pikir nasib kami memang beruntung pada pendakian kali ini. Tapi, kami juga buntung. Sebagian logistik yang kami taruh di luar tenda hilang dicuri babi hutan! Ya, hati-hati karena di sekitar danau ini masih banyak babi hutan liar yang berkeliaran di malam hari. Sekitar pukul 08.01 WITA kami sudah selesai makan. Selanjutnya yang akan kami lakukan adalah membongkar tenda dan packing barang-barang untuk persiapan turun gunung. Tepat pukul 09:08 WITA kami sudah melakukan perjalanan untuk turun gunung melalui jalur Senaru. Untuk keluar dari danau juga tidak mudah. Kami harus melewati trek menanjak melewati tebing curam yang rawan longsor. Tanjakan trek di jalur ini lebih menyiksa dari trek-trek sebelumnya. Kami benar-benar berjalan di pinggir-pinggir tebing. Bahkan, di beberapa ruas tanjakan harus dipasang pagar dan tangga dari besi demi keamanan pendaki dan porter. Setelah tubuh bercucuran keringat, napas tersengal-sengal, dan tenaga hampir tumpas, sekitar pukul 12.15 WITA, kami sampai di Pos Plawangan Senaru. Dari Pos ini kami bisa melihat pemandangan Danau Segara Anak dengan sangat jelas dan indah. Agar tidak menyesal, kami sempatkan sejenak untuk mengambil foto sambil istirahat sebelum melanjutkan turun gunung. Ketika mendaki lewat jalur Sembalun, kami disambut padang sabana. Sedangkan saat turun melewati jalur Senaru, kami disambut rimbun hutan yang minim sinar matahari. Tapi, sebelum memasuki hutan, jalur turun terasa gersang karena minim pepohonan sebelum sampai di Pos III (sekitar pukul 13.53 WITA). Dari pos inilah jalur yang kami lewati mulai berubah rimbun pepohonan dan semak belukar. Turun dari jalur ini memang lebih cepat daripada jalur Sembalun. Pada pukul 15.24 WITA kami sudah sampai di Pos II. Kami terus berjalan tanpa banyak berpikir tentang lelah karena kami ingin segera sampai. Meskipun kadang-kadang tengkuk terasa merinding ketika melewati rerimbun pepohonan yang cukup gelap. Tapi, saya tak peduli. Saya hanya ingin cepat turun! Sekitar pukul 16.26 WITA kami sudah sampai di pos ekstra. Di pos ini kami mulai kehabisan air. Terpaksa jalan dari pos ekstra menuju Pos II tanpa air minum. Masing-masing pos berjarak antara 1-1,5 km. Sampai di Pos I jam sudah menunjukkan pukul 17.13 WITA dan kami masih tanpa air minum. Berkat inisiatif Lin, akhirnya kami berjalan mengikuti rombongan pendaki yang menyewa jasa porter. Dengan begitu kami bisa mendapat setidaknya sedikit minuman dan makanan kecil dari mereka. Hehehe… Saat kami sampai di plang pintu masuk jalur Senaru, jam sudah menunjuk pukul 17.51 WITA, tapi itu belum selesai. Setelah istirahat sejenak, kami masih harus berjalan sekitar 1,5 km lagi untuk benar-benar menyelesaikan turun gunung. Kami harus turun ke Rinjani Trek Center (RTC) Senaru. Pos perizinan dan pelaporan pendakian via Senaru. Kami sampai di RTC Senaru pukul 18.35 WITA. Malam itu kami tidak langsung pulang, tapi menginap di RTC. Bukan satu malam, tapi dua malam! Di sana kami mengenal Bapak Simalam, penjaga Pos RTC Senaru yang berbaik hati. Beliau memberi kami tempat untuk istirahat, memberi makan, kopi, rokok, dan mengajak wisata gratis ke air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep. Kami juga diajak singgah ke rumah sederhana nan nyaman milik keluarganya di Desa Senaru. Sikap humoris yang beliau tunjukkan membuat kami cepat merasa nyaman dengan beliau. Pulang ke Surabaya (14 Juni 2013) Sekitar pukul 10.03 WITA saya, Lin, dan Paijo (kenalan di puncak) berpamitan untuk pulang ke Surabaya. Sementara Bakh malam harinya sudah meninggalkan RTC Senaru karena tergiur ikut berwisata ke Gili Trawangan dengan kawan Undip Semarang. Dari RTC Senaru, kami harus naik ojek untuk sampai ke Bayan (ongkos ojek Rp 20.000). Dari Bayan, kami naik angkutan L300 menuju Terminal Mataram dengan ongkos Rp 30.000. Sampai di Terminal Mataram sekitar pukul 13.45 WITA. Sebelum lanjut ke Pelabuhan Lembar, kami bertiga menyempatkan diri untuk mengisi perut di warung pinggir jalan. Di terminal ini kami berdua berpisah dengan Paijo yang akan menuju Mataram Kota. Tepat pukul 14.50 WITA kami berdua berangkat dengan angkutan umum menuju Pelabuhan Lembar dengan ongkos Rp 15.000. Sekitar pukul 15.06 WITA kami berdua sampai di Pelabuhan Lembar. Setelah membeli kapal Rp 36.000, kami memasuki kapal dan siap berlayar menuju Pelabuhan Padang Bai. Sekitar pukul 20.16 WITA, kapal bersandar di Pelabuhan Padang Bai. Kami tidak langsung menuju Terminal Ubung. Kami sempatkan makan nasi goreng lebih dulu sebelum melakukan perjalanan panjang. Setelah selesai makan dan tawar-menawar ongkos angkutan umum menuju Terminal Ubung, tepat pukul 21.22 WITA kami meluncur. Awalnya sopir minta Rp 50.000. Tapi, setelah kami pasang wajah memelas dan tahu kami pendaki, sang sopir yang berbadan tegap bertato akhirnya luluh dan memberi kami harga Rp 30.000 (penumpang lainnya tetap Rp 50.000). Sekitar pukul 22.38 WITA kami sampai di Terminal Ubung. Sampai di sana, kami langsung membeli tiket bus AC Rp 50.000 menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Sekitar pukul 23.00 WITA, kami berangkat dari Ubung menuju Ketapang. Sampai di Ketapang jam tangan sudah menunjukkan pukul 03.25 WIB. Kami tidak buang-buang waktu lagi dan langsung nangkring di kursi bus Akas menuju Jember (Rp 30.000). Di Terminal Jember, kami berpindah bus. Setelah sarapan ala kadarnya di bus yang baru kami naiki itu, kami langsung bergerak menuju Surabaya dengan ongkos Rp 28.000. Apes. Di daerah Lumajang terjadi kecelakaan sehingga perjalanan semakin lama, sampai-sampai sopir harus ngebut bukan main untuk mengejar jam setoran. Dan akhirnya pukul 14.33 WIB kami sampai di Terminal Purabaya, Sidoarjo. Di sini, saya dan Lin berpisah. Lin langsung menuju kos-kosannya di Madura, sedangkan saya menuju Wonocolo. Oke, sampai jumpa di pendakian selanjutnya. (*) Surabaya-Lombok, 08–12 Juni 2013
- Buka Puasa di Semeru, Sulitnya Mancing di Ranu Kumbolo
KECANTIKAN Ranu Kumbolo di Gunung Semeru (3.676 mdpl) memang bisa dengan mudah membuat para pendaki jatuh cinta. Tidak terkecuali saya. Sebelum ini, saya sudah mencapai puncak Mahameru dua kali dan hanya mampir sebentar di Ranu Kumbolo. Karena ada target muncak , Ranu Kumbolo hanya menjadi tempat persinggahan. Begitu singkat. Karena itu, pada pendakian kali ini, saya hanya ingin menghabiskan tiga hari dua malam di Ranu Kumbolo. Dipuas-puasin menikmati keindahannya. Bulan ini juga merupakan bulan puasa. Jadi, saya ingin mencoba menikmati sensasi berbuka puasa di danau tertinggi di Jawa tersebut. Ranu Kumbolo berada di atas ketinggian 2.400 mdpl. Luasnya sekitar 14 hektare. Danau ini dikelilingi bukit-bukit. Sebagaimana Tanjakan Cinta, Ranu Kumbolo juga memiliki legendanya sendiri. Konon, ada suami dan istri sangat miskin bernama Marmoyo dan Sawitri. Ketika Sawitri hamil muda, dia sangat ingin makan ikan. Karena tidak punya cukup uang, sang suami memancing ikan di sungai. Setelah lama memancing, Marmoyo akhirnya berhasil menangkap ikan mas. Namun, itu ternyata ikan ajaib. Bisa berbicara dan sisiknya bisa berubah menjadi potongan emas. Marmoyo memelihara ikan itu dan merahasiakannya dari istrinya. Dia kemudian pergi ke pasar untuk menjual potongan emas dan membeli minyak sawit untuk memasak. Karena kelaparan, Sawitri yang menemukan ikan di rumah langsung menggorengnya. Sawitri pun mendapatkan kutukan sampai anak bersisik lahir bernama Kumbolo. Kumbolo terlahir sebagai bocah lelaki yang pintar berenang dan mampu menyelam cukup lama di air. Tapi, Kumbolo dianggap aneh dan terasing. Dia selalu diolok-olok teman-temannya. Kemudian ada seekor kucing yang memberi tahu Kumbolo bahwa sisik di tubuhnya bisa hilang dengan mutiara pelangi di puncak gunung. Kumbolo akhirnya mengembara ke Gunung Semeru untuk menemukan mutiara itu. Sesampainya di puncak gunung, Kumbolo berhasil menemukan mutiara itu. Namun, saat turun, Kumbolo dicegat tiga anak laki-laki nakal yang ingin merebut mutiara pelangi. Perdebatan yang sengit terjadi sampai mutiara jatuh dan runtuh. Ajaibnya tanah runtuh langsung memancarkan pegas besar. Dalam sekejap penyergapan tanah berubah menjadi danau dan ketiga bocah lelaki itu tenggelam di dalamnya. Sementara Kumbolo berhasil keluar dari danau dan sisiknya menghilang dari tubuhnya. Artikel tentang legenda Ranu Kumbolo ini saya copy dari rentalsewamobilmalang.com . 30 Juli 2013 Setidaknya ada tiga hal besar yang membuat saya tetap nekat melakukan pendakian Semeru meskipun dalam keadaan berpuasa. Buka puasa, mancing, dan menyambut matahari pertama bulan Agustus di Ranu Kumbolo. Mungkin alasannya tidak sederhana yang dipikirkan karena bulan Agustus menjadi bulan yang spesial bagi saya. Jadi sudah seharusnya seperti inilah cara merayakannya. Sebelum berangkat memang ada sedikit penolakan dari keluarga mengingat ini bulan puasa. Tapi, toh saya tetap memutuskan untuk berangkat. Bagi saya, puasa bukan halangan. Terbukti, selama pendakian, meskipun mengalami sedikit dehidrasi, kekuatan fisik saya tidak berkurang, tapi justru terasa lebih enteng dari biasanya. Namun, hal yang harus diperhatikan ketika melakukan pendakian dalam keadaan berpuasa adalah manajemen istirahat. Hal lain yang membuat saya tetap nekat mendaki adalah ketepatan waktu. Bulan puasa membuat Ranu Kumbolo menjadi sepi dari pendaki. Memang ada beberapa pendaki lokal dan mancanegara yang tetap melakukan pendakian, tapi tidak seramai seperti hari biasa. Belum lagi setelah bulan puasa, yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus, tentu banyak pendaki yang berjubel ingin mengadakan upacara kemerdekaan di sana. Benar saja, saat saya sampai di Ranu Kumbolo sekitar jam 5 sore, suasana begitu sepi dan tenang. Hanya ada tiga tenda pendaki di tepi danau. Langsung saja saya mendirikan tenda sambil menunggu waktu berbuka yang sebentar lagi tiba. Setelah perjalanan melelahkan dari Ranupani sekitar pukul 11 siang, akhirnya saya bisa melaksanakan buka puasa pertama di Ranu Kumbolo. Karena hanya mendaki sampai Ranu Kumbolo, dari rumah saya membawa ’’kulkas’’. Perlengkapan satu dapur saya angkut semua. Mulai wajan ukuran sedang sampai cobek. Tidak lupa bawa bumbu-bumbu dapur untuk bikin sambal dan bawa ikan asin. Tak ketinggalan buah pir dan apel. 31 Juli 2013 Misi pertama berbuka puasa di Ranu Kumbolo berhasil. Keesokan harinya, tanggal 31 Juli 2013, waktunya menjalankan misi kedua: mancing! Alat pancing dan umpan cacing sudah saya siapkan dari rumah. Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Membuat birunya air danau begitu cantik dengan kilatan cahaya. Mancing di Ranu Kumbolo memang terkenal sangat sulit. Beberapa porter yang saya tanyai dalam pendakian-pendakian sebelumnya juga mengamini hal tersebut. Sebagai penyuka kegiatan memancing, saya pun merasa penasaran dan ingin mencobanya sendiri. Pancingan sudah siap, umpan sudah terpasang, siap pasang kuda-kuda untuk melempar umpan sejauh mungkin. Sempurna! Umpan jatuh di kejauhan. Senar sedikit saya gulung agar mudah diketahui kalau-kalau umpan sudah dimakan ikan. Saya memilih tidak menggunakan pelampung. Kalau ada ikan yang menyambar, senar pancing akan bergetar. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu seperti berjalan sangat lama. Selama itu pula tidak ada tanda-tanda umpan cukup menarik ikan nila, mujair, atau ikan mas penghuni danau. Menjadi pemancing memang harus sabar, apalagi amatiran seperti saya. Bahkan pemancing-pemancing profesional seperti dalam program televisi Mancing Mania pun tidak berhasil menaklukkan satu ikan pun di sini! Saya tidak patah semangat. Umpan kembali saya tarik, ganti umpan lagi, lempar lagi. Umpan jatuh di kejauhan seperti yang saya harapkan. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu terus berjalan sampai hari menjelang siang. Matahari bersinar semakin terik, bibir dan tenggorokan terasa begitu kering, dan masih belum ada tanda-tanda umpan menarik perhatian ikan. Sampai waktu salat duhur datang, umpan yang saya lempar masih belum bisa menghasilkan apa-apa selain capek dan dahaga. Untuk mengusir rasa bosan dan memberi penyegaran pada semangat yang hampir tumpas, saya memutuskan mencoba menaiki Tanjakan Cinta. Berhasil. Setelah itu, saya menjenguk Oro-Oro Ombo sebentar. Namun, saya merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk turun. Jadi, saya hanya bisa menikmati hamparan ungu seperti bunga lavender dari atas dan sesekali melirik pada puncak Mahameru yang mengintip malu-malu dari balik bukit. Setelah puas menikmati hamparan Oro-Oro Ombo, saya tidak langsung turun. Saya lebih memilih beristirahat cukup lama di antara pohon-pohon cemara di atas Tanjakan Cinta. Dedaunan yang rimbun, angin sepoi, dan pemandangan yang cantik Ranu Kumbolo dari ketinggian membuat suasana menjadi damai dan tidur adalah pilihan yang tepat. Jadilah saya tidur beberapa menit dengan bersandar di antara dua pohon cemara besar. Setelah cukup lama berada di atas Tanjakan Cinta, saya memutuskan untuk turun. '’Strike!’’ Kata itulah yang ada di pikiran saya ketika saya langsung menghampiri pancingan yang saya pasang dan saya tinggal cukup lama. Namun, itu hanya menjadi angan-angan semata. Umpan tak sedikit pun menarik perhatian ikan. Sambil menggulung senar pancing, mata saya terus menatap hamparan permukaan danau yang berkilauan dan bergelombang kecil diterpa itu. Sinar matahari semakin menyengat. Semangat saya pun pupus. Tapi, umpan kembali saya lempar sebelum masuk ke tenda untuk tidur lagi sekitar pukul 12 siang. Setelah cukup beristirahat dan tidur, sekitar pukul 2 siang, saya kembali bangun untuk mengumpulkan serpihan-serpihan semangat dan kembali menghunus kail pancing. Pancingan saya angkat, kembali pasang umpan, dan dengan semangat melemparkannya sejauh mungkin. Umpan jatuh di tempat yang saya inginkan. Tik-tok, tik-tok, tik-tok . Waktu berjalan sangat lamban. Umpan lagi-lagi tak menarik bagi ikan. Di sela-sela memancing, saya isi waktu dengan menyusuri pinggir-pinggir danau. Waktu terus berjalan sampai mendekati waktu berbuka. Dan, tetap pancingan tanpa hasil. Saya menyerah. Tidak sama dengan di Danau Segara Anak Gunung Rinjani, Memancing di Ranu Kumbolo memang sulit minta ampun. Sekitar pukul setengah 5 sore, saya mengakhiri ritual memancing dan segera menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Menu kali ini adalah nasi putih, sambal tomat, ikan asin, dan telur dadar. Sebagai takjil, dari rumah saya sudah menyiapkan satu buah apel. Satu buah apel itu kemudian saya belah menjadi empat bagian sesuai jumlah anggota kelompok pendakian kali ini. Untuk minuman, saya memilih teh jahe agar lebih hangat di badan. Sebelum waktu berbuka datang, semua hidangan sudah siap. Alhamdulillah, saya bisa menikmati buka puasa kedua di tepi Ranu Kumbolo. Malam Hari Setelah selesai berbuka puasa dan istirahat sejenak, jadwal selanjutnya adalah makan-makan snack yang begitu melimpah dan menyalakan api unggun. Logistik telah disiapkan untuk dihajar ramai-ramai. Melihat begitu banyak snack , seperti ada perasaan ingin ’’balas dendam” yang menari-nari di lambung yang seharian tak terisi di kondisi terik matahari akhir bulan Juli. Sekitar pukul 7 malam ranting-ranting dan batang kayu sudah siap untuk dijadikan api unggun. Bergabung juga kenalan dua pendaki dari Malang. Suasana menjadi begitu cair dan hangat. Kami berenam mengelilingi api unggun di tepi Ranu Kumbolo ditemani dingin dan taburan bintang di langit Semeru. Sesekali bintang jatuh membelah langit malam. Dinginnya udara Ranu Kumbolo bisa sedikit dihangatkan api unggun dan cengkerama. Tawa terus saja pecah dengan cerita-cerita, kekonyolan-kekonyolan, dan celetukan-celetukan lucu. Bahkan, ketika api unggun tinggal bara yang menyala, kami tak langsung beranjak. Dalam kondisi seperti itu, udara dingin semakin terasa. Kami semakin merapatkan lingkaran, mendekat ke bara. Kami mengakhiri acara makan-makan dan menghangatkan badan di dekat api unggun sekitar pukul 12 malam. Setelah menikmati mi instan dan sedikit camilan untuk pengganti sahur, saya dan kawan-kawan semua bergegas memasuki tenda untuk segera beristirahat. Tapi sayang, malam ini begitu dingin seperti malam sebelumnya hingga sleeping bag tidak banyak membantu. Saya menyambut Agustus dengan tidur yang tidak begitu nyenyak. 1 Agustus 2013 Sekitar pukul setengah 6 pagi saya bangun. Pintu tenda yang langsung menghadap ke danau saya buka lebar-lebar untuk menyambut sunrise pertama di bulan Agustus. Mendekati pukul 6 pagi, sedikit demi sedikit matahari pagi mengintip malu-malu di balik bukit. Warna emas berpendar di badan bukit dan permukaan danau. Selama itu pula saya tetap menikmati sunrise dari dalam tenda sampai matahari meninggi. Setelah matahari sedikit meninggi, saya keluar tenda untuk menikmati pagi pertama di bulan Agustus di Ranu Kumbolo. Lalu, apa yang membuat saya terkejut adalah butiran-butiran es yang membekukan rerumputan. Baru kali ini saya melihat es di Ranu Kumbolo. Pantas saja semalam udara begitu dingin. Lagi pula ini adalah hari terakhir saya di Ranu Kumbolo. Jadi, saya ingin menikmati hari pertama di bulan Agustus ini dengan baik. Udara yang dingin tapi sedikit hangat oleh sinar matahari membuat hati ini terasa berat meninggalkan tempat ini. Di atas sana, langit begitu cerah membiru. Sekitar pukul 8 pagi, saya sudah bersiap untuk mem- packing barang-barang dan membereskan tenda. Sambil menunggu kawan lain siap-siap, saya kembali menghunus kail pancingan. Kali ini saya bukan hendak serius memancing, tapi hanya ingin sedikit bersenang-senang untuk menikmati Ranu Kumbolo sebelum turun. Tidak seperti hari-hari kemarin, kali ini saya berhasil strike! Bukan satu, tapi triple strike! Tiga mata pancing dalam satu rangkaian berhasil mengait bibir ikan. Namun, bukan ikan nila, mujair, atau ikan mas yang berhasil saya angkat ke daratan, melainkan ikan asin! Ya sudahlah. Setidaknya saya bisa merasakan sensasi strike di Ranu Kumbolo meskipun cuma ikan asin! Haha… Setelah semua siap, sekitar pukul 10 kami mulai turun. Selamat tinggal Ranu Kumbolo. Sampai jumpa di lain hari. (*) Lumajang, 30 Juli–01 Agustus 2013












