top of page

Search Results

165 results found with an empty search

  • Mengintip Panorama Sindang Gila dan Tiu Kelep, Lombok

    " KAPAN -kapan kalau ke Lombok lagi bawa uang yang banyak!” kata seorang kawan yang saya kenal saat pendakian Gunung Rinjani. Bawa uang banyak memang gampang, tapi pertanyaannya adalah uang siapa yang musti saya bawa?? Lagi pula keberadaan saya di Lombok semata-mata hanya untuk menengok singgasana Dewi Anjani. Kalaupun saya bisa mengintip panorama air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep itu bukan karena saya memiliki kelebihan uang, tapi bonus. Saya dan kawan pendaki lainnya turun dari Rinjani tanggal 12 Juni 2013 sore. Saya tidak langsung pulang tapi bermalam di Rinjani Trek Center (RTC) Senaru yang saat itu dijaga oleh Pak Simalam, mantan guide-porter Gunung Rinjani. Keesokan paginya, ketika sedang menikmati kopi dan rokok A Mild yang beliau sajikan, tawaran untuk wisata gratis ke dua air terjun tersebut pun menghampiri. Saya dan dua kawan lainnya akhirnya menunda kepulangan dan tinggal sehari lagi di Lombok. Bagi pengunjung yang berangkat dari Mataram, untuk mencapai lokasi air terjun Anda harus menempuh perjalanan 2 hingga 3 jam menuju Desa Senaru. Anda bisa naik angkutan dari terminal Mataram menuju Kecamatan Bayan dengan ongkos kurang lebih Rp 30.000. Setelah itu naik ojek menuju Desa Senaru dengan ongkos Rp 20.000. Tapi bagi saya yang berada di RTC Senaru hanya perlu waktu sekitar satu jam dengan berjalan kaki untuk mencapai dua air terjun tersebut. Air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep masih berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Lebih tepatnya berada di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Untuk bisa menikmati air terjun ini pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang Rp 10.000 untuk membeli tiket. Tapi saya dan dua kawan lainnya tidak perlu membayar berkat kebaikan hati Pak Simalam, penjaga Pos RTC Senaru, yang mengajak kami melewati “jalur rahasia” sehingga tidak perlu bayar tiket. Air Terjun Sindang Gila Lokasi air terjun Sindang Gila berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan air terjunnya sendiri memiliki ketinggian 31 meter. Air terjun ini terdiri dari dua tingkatan. Tingkatan pertama, air terjun keluar dari tebing dan jatuh ke sebuah kolam kecil sebelum mengalir lagi dan jatuh ke tempat yang lebih datar dan membentuk aliran sungai. Kontur sungai ini relatif datar sehingga banyak pengunjug lokal yang bisa merasakan dingin airnya dengan mandi atau hanya sekadar membasuh muka. Di lokasi ini infrastrukturnya sudah cukup lengkap karena sudah dibangun toilet, mushola, kios penjual makanan dan minuman, dan juga tempat untuk bersantai (berugak) bersama kawan, pasangan, atau keluarga Anda. Akses untuk menuju kawasan ini juga sudah sangat mudah karena sudah dibuatkan tangga yang terbuat dari semen. Saat itu akses jalan menuju lokasi juga sedang dilakukan perbaikan sehingga nantinya diharapkan akan lebih memudahkan dan memberi kenyamanan kepada para pengunjung. Menurut cerita rakyat yang berkembang, nama Sindang Gila diambil dari cerita penduduk setempat yang secara tidak sengaja menemukan air terjun ini saat memburu singa gila yang mengacau di sebuah kampung dan kemudian lari masuk ke hutan. Selain asal-usul nama, warga setempat juga mempercayai sebuah mitos yang menyatakan bahwa bagi siapa saja yang membasuh muka atau mandi di situ maka dia bisa menjadi satu tahun lebih muda. Selain air terjun Sindang Gila, di lokasi ini terdapat dua air terjun lainnya, yaitu air terjun Tiu Kelep dan Betara Lejang. Kedua air terjun ini berada di atas lagi ke arah hulu. Namun, perjalanan saya kali ini hanya sampai pada Tiu Kelep. Air yang mengalir dan membentuk air terjun Tiu Kelep ini bersumber dari Danau Segara Anak yang berada di puncak Gunung Rinjani. Air Terjun Tiu Kelep Tidak seperti Sindang Gila, untuk mencapai air terjun Tiu Kelep jalur yang saya lalui sedikit lebih menantang. Dari Sindang Gila saya harus melalui jalan setapak cukup jauh. Melewati pinggiran aliran sungai dan naik melewati saluran irigasi yang juga difungsikan sebagai jembatan penyeberangan. Di tengah perjalanan saya menemui pintu air untuk mengatur aliran sungai. Sayang sekali, bangunan ini dipenuhi coretan tangan-tangan usil para pengunjung. Untuk benar-benar mencapai Tiu Kelep, saya harus menyusuri badan sungai mengingat belum ada jalur resmi yang dibangun untuk mempermudah akses menuju air terjun tersebut. Bebatuan yang agak licin dan aliran sungai yang cukup deras mengisyaratkan saya untuk hati-hati agar tidak tergelincir. Tapi justru hal itulah yang membuat perjalanan menuju air menjadi semakin seru. Ketika berada di hadapan air terjun Tiu Kelep, mata saya pun berbinar dan cenderung takjub akan keindahannya. Jika dibandingkan dengan Sindang Gila, air terjun Tiu Kelep lebih indah dan lebih tinggi dengan ketinggian 42 meter. Kapasitas air yang jatuh pun lebih banyak dan melebar seperti sebuah tirai putih yang menjuntai dari tebing-tebing hijau. Air dari Tiu Kepel inilah yang kemudian mengalir di pinggir tebing dan kemudian jatuh membentuk air terjun Sindang Gila. Lokasinya yang sedikit tersembunyi dan dipenuhi dengan bebatuan besar membuat tempat ini menjadi lebih indah dan natural. Belum lagi tebing di sisi kanan dan kiri yang begitu hijau, gemuruh air jatuh, serta derik serangga-serangga hutan menciptakan sebuah harmoni yang hanya bisa disajikan oleh orkestra alam semesta. Berbeda dengan Sindang Gila, di tempat ini pengunjung yang mendominasi adalah wisatawan mancanegara dengan guide-nya masing-masing. Seingat saya, pada saat itu wisatawan lokal hanya saya dan kedua kawan saya (dan juga Pak Simalam) yang ada di situ. Mereka pun (para turis asing) tidak mau melewatkan begitu saja keindahan Tiu Kelep dan ingin merasakan kesejukan airnya. Kebanyakan dari mereka kemudian menanggalkan baju dan kemudian mandi di bawah air terjun dengan hanya mengenakan bikini. Kolam yang terbentuk di bawahnya cukup luas dan datar. Kedalamannya pun hanya sepinggang orang dewasa sehingga masih aman dipakai untuk mandi. Pada saat seperti itu terjadi pergolakan batin pada diri saya untuk memutuskan mandi atau tidak. Setelah merasakan udara yang cukup dingin (dan juga tidak bawa baju ganti), akhirnya saya memutuskan untuk tidak mandi. Seperti Sindang Gila, air terjun Tiu Kelep juga memiliki mitosnya sendiri. Warga setempat mempercayai bahwa siapa pun yang mandi di sana bisa awet muda. Dalam bahasa sehari-hari Suku Sasak di Lombok, kata “Tiu” berarti ‘Kolam’, sedangkan “Kelep” berarti ‘Terbang’ sehingga dapat diambil terjemahan ‘kolam tempat buih-buih air beterbangan’. Pada saat-saat tertentu, butiran air yang beterbangan itu memunculkan pelangi di ujung air terjun. Namun, sayang sekali fenomena alam nan indah di bayangan itu tidak bisa saya saksikan pada saat itu. Jadi saya nikmati saja bule-bule yang sedang asik mandi di bawah air terjun. Sebelum kembali ke RTC Senaru, saya dan kawan-kawan menyempatkan diri kongkow sebentar di tengah-tengah aliran sungai yang memiliki dataran lebih tinggi. Kami duduk-duduk di atas batu dan kayu sambil menikmati camilan dan tentu saja tidak lupa rokoknya. Dari kongkow sebentar ini saya tahu bahwa nasib air di kawasan ini sedang dipertaruhkan! “Berkali-kali datang permintaan untuk pengambilalihan air di sini oleh perusahaan tertentu. Mereka menjanjikan pengambilalihan ini demi kebaikan dan kesejahteraan bersama,” kata Pak Simalam memulai cerita. “Pemerintah kabupaten sudah menyetujui, tapi semuan warga di sini menolak.” “Bayangkan saja kalau semua air di sini dikelola perusahaan. Tidak semua orang bebas memanfaatkan air dan tidak semua orang bisa mendapatkan penghasilan. Contohnya, jika perusahaan air itu jadi dibangun maka tidak semua orang di desa ini bisa bekerja di perusahaan tersebut, paling pekerjanya berasal dari luar Senaru, atau dari luar Lombok. Lalu kami harus bekerja apa kalau perusahaan itu sampai dibangun?” Saya rasa itu hanya pertanyaan retoris dari Pak Simalam. Pertanyaan tanpa meminta jawaban. Saya pun hanya diam dan terus mendengarkan penuturan Pak Simalam. “Kalau kondisinya masih seperti ini, air masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat, kami semua bisa merasakan manfaatnya. Siapa saja bisa menjadi guide bagi turis-turis lokal maupun mancanegara sehingga memiliki penghasilan. Nah, ini tidak akan bisa kami lakukan kalau sampai air di sini dikuasai oleh perusahaan.” Baiklah. Saya megamini apa yang dikatakan Pak Alam – yang juga mewakili suara semua warga di sini. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka bisa mempertahankan ladang penghidupan mereka dari serobotan serigala-serigala liar yang hanya menginginkan keuntungan pribadi dengan eksploitasi yang berlebihan. Setelah hampir setengah jam saya dan kawan-kawan kongkow di tengah sungai, saya dan kawan-kawan pun bergegas kembali ke Pos RTC Senaru. (*) Lombok

  • Danau Segara Anak, Surga Para Pemancing di Ketinggian

    MASIH tentang Gunung Rinjani dan segala keindahannya. Kali ini saya ingin sedikit mengulas tentang danau segara anak, surga bagi para pemancing di ketinggian. Bagi para pendaki gunung Rinjani, danau segara anak bak oase di tengah gurun pasir, sementara bagi para pendaki yang juga memiliki hobi memancing, tempat ini bak surga yang berisi jutaan ikan. Banyak pendaki yang membawa perlengkapan pancing saat mendaki. Setelah mencapai puncak, pendaki akan langsung turun ke danau. Untuk mencapai danau, pendaki harus berjalan turun melewati tebing curam. Namun, beratnya medan akan terbayar lunas ketika sampai di bibir danau dengan permukaan air yang tampak biru seperti di laut. Berada di atas ketinggian 2.003 meter di atas permukaan laut (mdpl), danau segara anak memiliki luas 1.100 ha. Air di dalam danau tidak bisa dikonsumsi karena memiliki kadar belerang yang tinggi. Meskipun berada di ketinggian, air di danau ini tidak dingin tapi justru hangat. Ajaibnya, danau segara anak telah ditetapkan sebagai salah satu danau  panas vulkanik terbesar di dunia. Danau yang memiliki volume air 1,02 kilometer kubik ini memiliki temperatur harian air permukaan danau segara anak adalah 20-22 derajat Celsius. Hal ini disebabkan ada aktivitas vulkanik di dasar danau dekat gunung Baru Jari yang terletak di tengah danau. Dengan konsisi seperti itu, air danau tidak baik untuk konsumsi meskipun dimasak terlebih dahulu. Untuk menarik minat pendaki dan juga untuk mata pencaharian warga setempat, pada tahun 1985 Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat akhirnya menebar benih ikan di danau. Meskipun memiliki kadar kimia yang besar, danau dengan kedalaman 230 meter ini memiliki sirkulasi air yang sangat bagus. Sirkulasi yang bagus membuat perkembangbiakan ikan juga bagus, terutama ikan nila, mujaer, dan mas. Saat melakukan pendakian saya tidak membawa alat pancing, tapi beruntung karena di sana saya mengenal seorang porter yang berbaik hati mau meminjamkan pancing kepada saya. Menurut keterangan dia, hampir semua porter rinjani memiliki simpanan pancing yang ditaruh di bawah semak-semak. Menurut saran dia juga, waktu yang paling pas untuk mulai memancing adalah pada pagi hari. Benar saja, tidak sulit bagi saya untuk mendapatkan ikan dengan alat pancing seadanya; dengan kail terbuat dari bilah bambu. Setidaknya dalam waktu singkat saya sudah bisa mengangkat tujuh ekor ikan. Hanya saja, keberuntungan selalu bermain dalam kegiatan mancing-memancing. Mendapat ikan besar atau kecil tergantung pada nasib masing-masing. Untuk bisa menikmati sensasi strike di danau tertinggi di Pulau Lombok cukup dengan umpan cacing. Bagi yang tidak membawa persediaan cacing atau kehabisan tidak perlu khawatir atau panic. Di sepanjang pinggris danau kita bisa mengorek tanah untuk mendapatkan cacing yang melimpah. Tapi kita perlu hati-hati ketika akan mencari cacing karena di sepanjang bibir danau banyak kotoran manusia. Setelah memancing, kegiatan yang tak kalah istimewa adalah bakar ikan. Proses memasak dengan dibakar atau digoreng tentu saja terserah pada keinginan masing-masing. Tapi, dengan cara membakar menjadi lebih nikmat bagi saya. Cukup dengan mengumpulkan kayu bakar yang banyak tersedia di sana, sedikit spirtus atau minyak tanah, dan tentu saja korek api, ikan yang sudah ditusuk dengan kayu siap dibakar. Dengan begini saya benar-benar bisa merasakan nikmat yang sudah disediakan oleh alam untuk manusianya. Tak ada kenikmatan selain memperoleh ikan dari alam bebas, memasaknya di alam bebas, dan menikmatinya dengan keindahan panorama alam bebas danau segara anak dengan naungan kabut tipis dan angin sepoi. Yap, danau segara anak telah menjadi surga pemancing di ketinggian. Semoga suatu saat saya bisa kembali ke tempat terindah di Indonesia ini. Salam Lestari. (*) Lombok

  • Arcopodo Tak Pernah Pergi dari Semeru

    ”Di bawah rerimbun pohon cemara dua arca itu berdiri. Satu arca kepalanya hilang, seperti dipenggal … Jalur menuju Arcopodo itu memang seperti jalan rahasia yang dijaga alam dan para pemujanya.” Kompas, 21 januari 2012 TEKA-TEKI keberadaan arca kembar atau yang lebih dikenal dengan Arcopodo memang sering diperdebatkan oleh banyak pendaki. Ada yang mengatakan arca kembar itu masih ada dan keberadaannya tersebunyi. Namun, ada juga yang yakin bahwa arca pemujaan tertinggi di Pulau Jawa itu sudah hilang dari dekapan Semeru. Bagi saya kebenaran tentang keberadaan arca kembar itu masih berupa tanda tanya. Sudah dua kali saya melakukan pendakian gunung Semeru dan tak pernah menjumpai sosok arca kembar legendaris itu di pos Arcopodo. Memang pendakian menuju puncak Mahameru saya lakukan pada dini hari dan sampai di pos Arcopodo sekitar pukul tiga pagi sehingga keadaannya masih gelap. Tapi bukan gelaplah yang menjadi alasan tidak bisa dijumpainya dua arca kembar tersebut. Mengapa? karena keberadaan arca kembar itu bukan di pos Arcopodo yang banyak dikenal pendaki saat ini. Menurut sedikit cerita penjaga pos perizinan di Ranupane dan saya baca di banyak literatur, dua arca kembar itu tersembunyi di sebuah tempat di ketinggian 3.092 mdpl. Untuk mencapai lokasi tersebut tidak mudah. Dari pos Arcopodo (2.903 mdpl) yang dikenal saat ini, pendaki masih harus naik lagi menuju arah puncak sampai di batas vegetasi. Di batas itu pendaki harus berbelok ke arah timur dengan bentangan lembah bekas aliran lahar yang rapuh. Sekitar 20 menuju bawah terdapat jurang dalam seperti muara. Untuk itu pendaki harus dilengkapi peralatan secukupnya untuk menjejakkan kaki di tepi jurang agar tidak tergelincir. Setelah bisa melewati tantangan yang pertama, pendaki akan dihadapkan dengan tantangan berikutnya; lembah lainnya yang lebih curam. Berada pada kondisi semacam ini pendaki harus cepat berpikir untuk memutuskan lanjut atau kembali. Karena keragu-raguan hanya akan membahayakan nyawa pendaki dalam kondisi semacam ini. Dan keputusan terbaik adalah terus berjalan menyusuri punggung tipis tebing yang menjulur di bawah rerimbun pohon cemara. “Ini jalur orang tersesat. Korban biasanya hilang di sekitar sini ketika turun dari puncak. Dia berjalan menyimpang, menuruni lembah ini,” kata Ningot, anggota Search and Rescue (SAR) Lumajang ( Kompas, 21 Januari 2012). “Begitu sampai di lembah ini, pendaki yang kelelahan biasanya sudah putus asa dan sulit mencari jalan kembali. Padahal, di bawah jurang sangat curam, yang terkenal adalah Blank 75,” lanjut Ningot. Setelah melewati dua lembah lagi, pendaki baru bisa mencapai punggung tebing dan di lokasi itulah dua arca kembar berdiri di bawah rerimbun pohon cemara. Tempat dua arca kembar itu beratapkan seng yang sudah keropos dan lantainya terbuat dari keramik. Dari dulu, dua arca itu tak pernah dipindahkan kemana-mana dan masih menyetiai Semeru. Adapun yang dipindah adalah pos Arcopodo yang sekarang dilewati oleh para pendaki. Dulu jalur pendakian melewati dua arca ini, tapi kemudian dipindah. “Dulu jalan pendakian itu melewati dua arca itu. Sekitar tahun 1979, jalurnya berubah dan tak lagi melewatinya,” kata Sumarto (58), Pemangku Pura Mandaragiri di Senduro, Lumajang. Adapun alasan pemindahan, Sumarto tidak mau mengungkapkan alasannya. Yang pasti jalur menuju Arcopodo begitu tersembunyi, seperti jalur yang dijaga oleh para dewa. Arcopodo Bukan Sekadar Dongeng Konon awalnya Pulau Jawa adalah sebuah daratan yang megambang di lautan, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para Dewa kemudian memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa. Dewa Wisnu yang menjelma menjadi kura-kura raksasa dan Dewa Brahma yang menjelma menjadi ular raksasa bekerja sama untuk memindahkan Gunung Meru ke Pulau Jawa. Pertama, para Dewa meletakkan gunung di bagian barat Pulau Jawa. Karena ujung Pulau Jawa bagian timur terangkat, maka para Dewa memindahkan ke bagian timur. Dalam proses memindahkan gunung inilah serpihan gunung Meru tercecer dan menciptakan jajawan gunung di Pulau Jawa yang memanhang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring sehingga para Dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan. Sementara bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa. Dalam kepercayaan Hindu, gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara bumi (manusia) dan Kayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus. Sejarah terciptanya gunung Semeru boleh saja dianggap sebagai keyakianan atau hanya sekadar dongeng semata. Namun, mengacu pada keyakinan masyarakat Hindu Jawa dan Bali tentang kesakralan Semeru, maka bukan hal yang mustahil jika terdapat arca kembar di ketinggian 3.092 di atas permukaan laut (mdpl) itu. Arca adalah benda yang sakral bagi masyarakat Hindu karena menjadi medium yang bisa menjadi penghubung antara dirinya dengan Sang Hyang (Tuhan). Maka keberadaan Arcopodo yang berdiri berdampingan di senyapnya rerimbun cemara itu bukanlah sekadar dongeng. Kebenaran itu juga bisa dibuktikan lewat dokumentasi foto dari para pendaki (atau yang memang sengaja mencari keberadaan arca kembar tersebut). Arca yang awalnya dianggap hanya sebagai dongeng itu “ditemukan” oleh mendiang Norman Edwin dan Herman O Lantang dari Mapala Universitas Indonesia pada tahun 1984. Dua tahun kemudian, Norman kembali mendatangi dua arca itu dan menuliskan temuannya di majalah Swara Alam, ”Arca ini sulit dikenali karena kepala dan separuh badannya hilang.” Sejak itu keberadaan kedua arca itu tak pernah lagi diketahui. Dalam tulisannya di buku Soe Hok-Gie: Sekali Lagi (2009), Herman O Lantang mencoba mencari dua arca itu pada pendakian tahun 1999, tapi ia gagal menemukannya. ”Di jalur menuju tempat arca itu, saya mendapati jurang pasir yang dalam dan sulit diseberangi. Ketika itu saya sampai jatuh ke dalam jurang sehingga saya memutuskan tidak mengunjungi arca itu.” Selain itu, ada pula dokumentasi terbaru dari Ekspedisi Cincin Api Kompas medio April 2012 dalam rangka menggali informasi mengenai pengaruh aktifitas vulkano-tektonik terhadap peradaban manusia. Namun, bagi para pendaki yang mencoba mencari dua arca di Pos Arcopodo yang saat ini sering dilalui para pendaki pasti akan kecele dan mengira kedua arca itu sudah hilang, atau percaya itu hanya berupa dongeng, karena memang bukan di situ tempatnya. Dua arca kembar itu tak pernah kemana-mana. Mereka masih berdiri berdampingan di dalam dekapan hutan senyap nan damai; menatap puncak Mahameru, puncak abadi para Dewa. (*)

  • Spesial, Kopi Joss dari Jogjakarta

    SAAT mengunjungi Yogyakarta, sempatkanlah mengunjungi Angkringan Lik Man. Ada kopi joss yang sangat terkenal di kalangan para traveler karena rasa dan cara pembuatannya yang khas. Berjalanlah ke utara dari arah Malioboro atau Stasiun Tugu hingga menemukan jalan kecil ke arah barat, kemudian berbelok. Di sana Anda akan menemukan Angkringan Lik Man yang berada di sebelah kiri jalan. Cirinya, ada dua buah bakul yang dihubungkan dengan bambu, anglo dengan arang yang membara, serta deretan gelas yang ditata. Angkringan Lik Man menyajikan banyak makanan dan minuman khas Yogyakarta. Harganya memang jauh lebih murah dari harga makanan dan minuman di restoran mewah. Namun, kualitasnya dijamin tidak kalah lezat dan nikmat. Apalagi suasannya yang sangat bersahabat, berbeda dengan suasana yang kaku di restoran. Minuman khas di Angkringan Lik Man dan menjadi favorit bagi traveler jika berkunjung ke Yogyakarta adalah kopi joss. Kopi joss dibuat dengan gula, kopi bubuk dan diseduh dengan air mendidih, lalu ditambahkan dengan arang panas. Saat arang panas dicelupkan, maka terdengarlah bunyi josss pada kopi Anda. Rasanya yang khas dan panas akan menemani Anda menikmati kota Yogyakarta di malam hari. Kopi joss telah menjadi minuman khas Angkringan lik Man dari tahun 1960-an. Kopi ini berkhasiat menghilangkan penyakit seperti kembung, mules, dan telah menjadi obat sakit perut. Bahkan ada beberapa tokoh yang datang ke Angkringan Lik Man untuk mencoba sendiri kopi joss, yaitu Emha Ainun Nadjib, Bondan ‘Maknyuss’ Winarno, bahkan Butet Kertarajasa. Dengan membawa uang Rp 10.000, sudah lebih dari cukup untuk menikmati sajian hangat dan berkhasiat dari kopi joss, mengisi perut dengan sego kucing, dan bercengkrama dengan teman baru. Tempat yang sempurna untuk menutup malam Anda di Yogyakarta. (travel.detik.com)

  • Menziarahi Mereka yang Beristirahat dalam Dekapan Semeru

    ”Ukuran kesuksesan dalam mendaki gunung bukanlah ketika berhasil mencapai puncak, tetapi ketika berhasil kembali ke rumah dalam keadaan selamat.” PENGGALAN kalimat di atas sudah menjai pegangan para pendaki untuk selalu berhati-hati dalam setiap pendakian yang mereka lakukan. Bagi para pendaki yang melakukan pendakian ke gunung Semeru, mereka tidak hanya disuguhi keindahan panorama danau Ranu Kumbolo, hamparan Oro-oro Ombo, atau puncak Mahameru. Tapi mereka juga akan mendapati prasasti-prasasti mereka yang beristirahat dalam dekapan Semeru. Di tepi danau Ranu Kumbolo terdapat beberapa prasasti, setidaknya tiga prasasti dari keramik. Satu prasasti berukuran lebih besar dari dua prasasti lainnya. Prasasti itu berada lebih dekat dengan danau, dibatasi dengan pagar besi, dan sempat saya lihat terdapat semacam sesajen di sampingnya. Dua prasasti lainnya berada agak jauh dari danau. Satu prasasti keramik berwarna hitam berukuran 2×60 centimeter, satu prasasti lainnya berada tidak jauh dari situ berwarna putih. Salah satu penanda yang berada di Ranu Kumbolo tertulis: Dalam kenangan saudara kami Andika Listyono Putra, jejakmu tertinggal di sini, senyummu kubawa pergi. Juli 2009 Andika menjadi korban ganasnya alam Semeru pada Juli 2009 lalu. Sebelumnya, pada 2000 juga tercatat ada dua pendaki yang meninggal dunia. Pada 2001 satu pendaki hilang, serta pada 2005 satu orang pendaki meninggal dunia. Tidak sedikit pendaki yang menyempatkan diri menziarahi mereka yang telah beristirahat dengan tenang dan menyatu dengan Semeru. Mereka menyempatkan diri untuk mendoakan mereka atau sebagai refleksi diri untuk selalu berhati-hati dalam pendakian. Ukuran kesuksesan dalam mendaki gunung bukanlah ketika berhasil mencapai puncak, tapi ketika berhasil kembali ke rumah. Karena selain sampah, nyawa juga tidak boleh ditinggalkan di gunung. Ada banyak penyebab pendaki menjadi korban Semeru, terutama faktor alam dan kondisi pendaki. Menurut Kepala Resor Ranu Pane, Cahyo, rata-rata para pendaki yang meninggal karena terjatuh atau tersesat ketika mereka turun dari puncak. Foktor lelah membuat konsentrasi berkurang sedang jalur yang dilalui sangat curam. ( okezone.com , 16 Juni 2013) Menurut data di Pos Ranu Pane, sejak tahun 1996 – di mana Soe Hok Gie dan Idan Lubis meninggal dunia di puncak karena menghirup gas beracun – tercatat ada 28 pendaki yang meninggal dunia (3 orang tidak ditemukan/meninggal), serta ada 25 pendaki lainnya yang mengalami luka-luka/selamat. Data ini belum termasuk pendaki asal Gresik pada 6 Juni 2013 lalu yang terkena serangan jantung di Pos 1. Selain di Ranu Kumbolo, prasasti untuk mengenang mereka yang telah menyatu dengan Semeru banyak terdapat di Arcopodo, Kelik, dan batas vegetasi menuju puncak Mahameru. Bahkan, dulu prasati untuk mengormati tokoh pergerakan mahasiswa dan pencetus MAPALA FIB UI, Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis yang meninggal tanggal 16 Desember 1969 ditempatkan di pos Arcopodo sebelum dipindahkan ke puncak Mahameru tahun 2002. “Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad kedua tersebut sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.” Dikutip dari buku: Soe Hok-Gie: Sekali Lagi (2009) Beruntung bagi saya masih sempat menziarahi mereka yang telah menyatu dengan Semeru, terutama prasasti Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis di puncak Mahameru. Saya memulai pendakian tanggal 18 Oktober 2012 dari pos Ranu Pane dan sampai di puncak Mahameru tanggal 20 Oktober 2012. Di puncak tertinggi Pulau Jawa inilah tubuh Gie dan Idhan membujur kaku beralas pasir, berselimut dingin, peratapkan langit; pergi menuju keabadian. IN MEMORIAM SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS Puncak MAHAMERU MAHAMERU Yang mencintai udara jernih Yang mencintai terbang burung-burung Yang mencintai keleluasaan & kebebasan Yang mencintai bumi Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung Mereka tengadah & berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi Kembali ke pangkuan bintang-bintang Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi Sementara saputangan menahan tangis Sementara Desember menabur gerimis 24 Desember 1969 Sanento Yuliman Sebelum menikmati keindahan alam dari puncak Mahameru, saya sempatkan sejenak mengirim seuntai doa untuk mereka yang abadi di puncak tertinggi; menyatu dengan Semeru. Memasuki bulan Desember 2012, saat keinginan untuk kembali menjejakkan kaki di pasir tertinggi di Pulau Jawa membuncah, tersiar kabar bahwa pihak Badan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru akan melakukan pembersihan segala atribut yang tidak perlu di puncak Mahameru untuk kepentingan pelestarian. Tanggal 20 Desember 2012 saya melakukan pendakian lagi ke gunung Semeru untuk kedua kalinya. Saat mencapai puncak tanggal 21 Desember 2012, saya tak lagi menemukan prasasti Gie dan Idhan Lubis dan hanya mendapati lubang pasir bekas galian. Demi kelestarian Mahameru, benda yang boleh ada di puncak hanya berupa plakat bertuliskan MAHAMERU 3676 MDPL dan bendera Merah Putih yang terus berkibar di puncak tertinggi. Aku tidak pernah berniat menaklukan gunung! Mendaki gunung hanyalah bagian kecil dari pengabdian… … pengabdianku kepada Yang Maha Kuasa! Idhan Lubis, 10 Maret 1969 (*)

  • Refresh Otak di Banten Rafting Ciberang, Banten

    AKHIR tahun 2014, setelah berbulan-bulan pikiran tergerus kepenatan aktivitas di kota Jakarta, tim Jawa Pos Jakarta mengadakan wisata alam di luar kota metropolitan. Tempat wisata tujuan pun ditentukan, Banten! Kami akan mencoba derasnya aliran dan tantangan jeram Sungai Ciberang. Wahana rafting itu terletak di Kampung Muara, Desa Banjar, Lebak, Banten. PT Banten Rafting sebagai pengelola satu-satunya mematok biaya cukup murah, itu pun sudah lengkap welcome drink, snack, makan siang, dan pemandian air panas. Sungai yang berhulu ke Gunung Halimun ini berada di pegunungan persis di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Selain pemandangan alam yang indah, udaranya juga sejuk. Dalam menikmati wisata arung jeram, pengunjung bisa memilih paket yang bisa dipilih. Paket yang tersedia mempengaruhi jarak arung jeram dan fasilitas yang disediakan. Rafting di Sungai Ciberang mendapat sertifikat riam dari Federasi Arum Jeram Indonesia (FAJI) dengan grade 2-3 tergantung ketinggian air dan arus. Panjang trek arung dibagi dua, yaitu 10 kilometer dengan jarak tempuh 2 jam dan 25 kilometer dengan waktu 5,5 jam. Untuk mencapai Sungai Ciberang, ada beberapa jalur alternatif yang bisa ditempuh. Yaitu lewat Rangkas Bitung atau Serang atau Bogor. Kami memilih alternatif pertama, Rangkas Bitung. Jarak tempuh dari Jakarta ke Sungai Ciberang (+macet-macet) sekitar 6 jam. (*)

  • Menghirup Kesejukan Kebun Raya Bogor

    KEBUN Raya Bogor masuk dalam daftar tempat yang ingin kami datangi kali ini. Naik motor memang enak. Tapi, kali ini kami ingin naik angkutan umum. Pagi hari kami berangkat dari kos di Jakarta Selatan ke Stasiun Palmerah. Motor kami parkir di stasiun dan melanjutkan perjalanan ke Bogor dengan naik kereta rel listrik. Jarak yang kami tempuh dari Palmerah ke Bogor sekitar 1 setengah jam. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan naik angkot. Untuk memasuki area Kebun Raya Bogor, pengunjung perlu membeli tiket. Memasuki kebun raya, suasananya terasa sangat berbeda dari di luar. Yang awalnya panas dan gerah berubah menjadi sejuk dan adem. Wajar. Karena Kebun Raya Bogor yang luasnya mencapai 87 hektar memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan. Kebun raya ini didirikan pada tahun 1817 oleh pemerintah Hindia Belanda. Jalan-jalan di kebun raya memerlukan energi yang ekstra. Sehari itu kami belum menjelajahi setengahnya. Kami hanya mengunjungi beberapa tempat saja. Misalnya Istana Presiden dan Danau Gunting. (*)

  • Menunggu Sunset di Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta

    JIKA Anda punya misi untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Jakarta, maka Pelabuhan Sunda Kelapa wajib masuk dalam daftar. Pelabuhan yang terletak di Ancol, Pademangan, Jakarta Tumur, ini menyimpan sejarah panjang sebelum hingga sesudah masa kolonialisme. Zaman dulu atau sekitar abad ke-12, Sunda Kelapa memiliki nama Pelabuhan Kalapa yang dikuasai Kerajaan Padjajaran (sekarang Bogor) dan menjadi lokasi perdagangan rempah dari berbagai penjuru dunia. Kemudian, pada masa masuknya Islam dan para penjajah Eropa, Kalapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Akhirnya, Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai lebih dari 300 tahun. Mereka lalu mengganti nama pelabuhan Kalapa dan daerah sekitarnya. Namun pada awal tahun 1970-an, nama kuno Kalapa kembali digunakan sebagai nama resmi pelabuhan tua ini dalam bentuk "Sunda Kelapa". Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini masih aktif digunakan untuk kapal-kapal kayu pengangkut barang kebutuhan pokok. Kapal-Kapal itu menghubungkan antar pulau di Indonesia. Keunikan serta sejarah panjang pelabuhan ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang masih bisa dinikmati masyarakat. Kawasan ini berfungsi sebagai objek wisata sejarah sebagai daya tarik utamanya. Cocok dikunjungi bagi pencinta peninggalan sejarah masa lampau. Bahkan, Sunda Kelapa kerap ramai menjelang sore untuk melihat sunset. Saat sore juga banyak kapal yang bersandar sehingga bisa menjadi foreground objek sunset yang manis. Di sini, kita bisa menyewa kapal nelayan. Tarifnya sekitar Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Tarif tersebut masih bisa ditawar. Wisatawan akan diajak berkeliling untuk melihat sudut-sudut pelabuhan dengan segala aktivitasnya dari sudut pandang yang berbeda. Kamu juga akan diajak melihat lebih dekat mercusuar tua berwarna merah dan hijau peninggalan Belanda. Mengunjungi objek wisata ini juga bisa dengan berjalan kaki. Kita bisa mengamati kapal-kapal kayu di sana. Melihat kesibukan aktivitas bongkar muat barang. Jika beruntung, kita bisa berpapasan dengan pedagang kopi keliling yang mengendarai sepeda motor. Enak kan ngopi sore ditemani sunset Sunda Kelapa. (*)

  • Belajar Sejarah Surabaya di Museum Tugu Pahlawan

    TUGU Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Saat itu arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Tinggi monumen ini adalah 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (canalures) sebanyak 10 lengkungan dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Tanggal bersejarah Indonesia. Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa sekaligus arsitek monumen yang terletak di Jalan Pahlawan Surabaya ini. Menurut Gatot Barnowo, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Wali kota Surabaya Doel Arnowo. Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 November 1952. Biaya pembangunan Tugu Pahlawan berasal dari sumbangan para dermawan, termasuk rakyat yang ikut menyumbangkan dana. Konstruksi dimulai pada 20 Februari 1952 dan selesai pada 3 Juni 1952. Di bawah tanah lahan Tugu Pahlawan sedalam 7 meter, terdapat sebuah museum untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang berjuang di Surabaya. Di museum ini juga terdapat foto-foto dokumentasi pembangunan Tugu Pahlawan. Museum ini diresmikan pada tanggal 19 Februari 2000 oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Pada tahun 1991-1996, dilakukan pembenahan kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Perjuangan 10 November Surabaya yang dipimpin oleh arsitek Ir. Sugeng Gunadi, MLA dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Monumen ini berada di tengah-tengah kota di Jalan Pahlawan, Surabaya. Tugu Pahlawan merupakan salah satu ikon Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan. (*)

bottom of page