top of page

Search Results

165 results found with an empty search

  • Ubek-Ubek Mojokerto: Candi Brahu, Budha Tidur, dan Pendopo Trowulan

    CANDI Brahu merupakan salah satu candi yang terletak di dalam kawasan situs arkeologi Trowulan, bekas ibu kota Majapahit. Lokasi persisnya ada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, atau sekitar 2 kilometer utara jalan rayaMojokerto—Jombang. Candi Brahu dibangun dengan batu bata merah, menghadap ke arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan berketinggian 20 meter. Candi Brahu dibangun dengan gaya dan kultur Budha. Diperkirakan, candi ini didirikan pada abad ke-15 Masehi meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan candi ini berusia jauh lebih tua daripada candi-candi lain di sekitar Trowulan. Menurut buku Bagus Arnawa, kata Brahu berasal dari kata Wanaru atau Warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci seperti disebutkan dalam prasasti Alasantan, yang ditemukan tak jauh dari Candi Brahu. Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok bertanggal 9 September 939 (861 Saka), Candi Brahu disebut merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakar pun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Hal ini diverifikasi setelah dilakukan pemugaran candi pada tahun 1990 hingga 1995. Mengutip buku  Mengenal Peninggalan Majapahit di Daerah Trowulan  oleh IG Bagus Arnawa, diduga di sekitar candi ini banyak terdapat candi-candi kecil. Sisa-sisanya yang sebagian sudah runtuh masih ada, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar candi, banyak ditemukan benda benda kuno, semacam alat-alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca, dan lain-lainnya. Patung Budha Tidur di Mojokerto Patung Budha tidur  ( sleeping Budha ) menjadi salah satu tujuan wisata religi di  Bejijong – Mojokerto. Patung ini dibuat pada 31 Desember tahun 1989. Memasuki komplek Maha vihara ini hati merasa teduh dan damai. Pepohonan rindang dan suasana yang rapi pada komplek  Maha vihara ini membuat para pengunjung betah. Saya mengagumi kesahajaan dan kesucian para pemimpin umat Budha yang ada saat ini. Umat Budha dikenal sangat toleransi dengan berbagai agama di dunia. Di Indonesia sendiri ada banyak bukti betapa peradapan budaya dari agama Budha ini sangat tinggi sebagaimana ditemukan pada relief candi Borobudur. Memasuki tempat di mana patung Budha tidur, suasana begitu tenang.  Saya bertemu dengan beberapa wisatawan asing yang sedang berfoto dekat patung. Ada keinginan untuk segera mengabadikan patung Budha tidur ini. Kesulitan untuk mendapat posisi yang pas agar dapat memotret seluruh tubuh Budha tidur ini. Patung ini  berbahan fiber dengan rangka besi. Panjangnya 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4, 5meter. Merupakan patung Budha tidur terbesar ke tiga di Asia setelah Bangkok, dan terakhir patung Budha tidur yang di  Bandung ( Sumber Media Indonesia.com/2011) . Pemeliharaan patung ini dilakukan oleh para Bhiksu dan Bhiksuni. Saat pengambilan gambar dengan kamera saku beberapa kali gambar terpotong bagian kaki dan ujung kepala.  Seharusnya waktu itu saya menggunakan fitur panorama untuk memotret. Untunglah dengan segenap usaha akhirnya berhasil mendapat gambar utuh ini. Mengapa posisi patung Budha ini tidur? Ternyata  dari beberapa sumber disebutkan posisi tidur ini menggambarkan posisi Budha saat parinibanna. Dimana Sang Budha digambarkan seperti sang penguasa hutan yakni singa yang sedang tidur. Budha adalah penguasa segala mahkluk di bumi.Kemudian ada pula yang menyebutkan posisi ini adalah posisi meditasi sang Budha. Sumber lain menyebutkan posisi Budha tidur ini menggambarkan wafatnya sang Budha Gautama, dan kolam teratai  berada di sekitar patung ini menggambarkan laut dimana abu sang Budha Gautama larung. Di sini adalah salah satu tempat beribadah umat Budha dalam lokasi patung Budha tidur. Agama Budha merupakan salah satu agama tertua di dunia. Pendopo Agung Pendopo Agung Mojokerto adalah sebuah bangunan khusus khas nuansa Mojopahit dan sering difungsikan sebagai tempat pertunjukan kesenian, studi tour, lomba, tempat pertemuan dengan suasana yang teduh dan nyaman juga sebagai tempat untuk istirahat/rekreasi. Lokasinya berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Tempat tersebut diyakini sebagai pusat kerajaan Majapahit. Bagian bangunan asli yang masih tersisa dari Pendopo Agung hanya 26 buah umpak (batu penyangga tiang) saja, sedangkan bangunan Pendopo Agung yang sekarang berdiri merupakan bangunan baru. Di pendopo ini pula, diyakini Mahapatih Gajah Mada dahulu mengikrarkan Sumpah Palapa (Palapa kemudian dipakai sebagai nama satelit komunikasi pertama yang ‘menyatukan’ komunikasi di seluruh Indonesia). Di depan Pendopo Agung, di sebelah kiri, terdapat patung sang Mahapatih, dan di depan pendopo terdapat patung Raden Wijaya. (*)

  • Mlipir Tipis-Tipis ke Air Terjun Coban Talun

    DI Kota Wisata Batu sumber air sangat melimpah, ratusan sumber air tersebar di cekungan-cekungan lembah. Sumber air alami yang mengalir di pegunungan menjadi sungai yang bersih dan berkilauan. Salah satunya adalah air terjun Coban Talun yang terletak di desa Tulungrejo, kecamatan Bumiaji, Kota Wisata Batu. Air terjun ini akan lebih eksotis jika dilihat pada jarak yang cukup dekat dengan lokasi jatuhnya air dengan ketinggian sekitar 75 meter tersebut. Gemuruh suara benturan air dengan batu cadas di bawahnya menambah sensasi  semburan air terjun yang terasa seakan mengguyur sekujur tubuh. Pemandangan di sekitar lokasi air terjun akan bertambah elok karena selain bisa menikmati gemuruh deburan air terjun, anda juga bisa menyaksikan banyak pelangi. Pemandangan pelangi aneka warna itu  akan bisa disaksikan di setiap sudut lokasi air terjun. Untuk mencapai kawasan ini memang tidak mudah. Selain dituntut kehati-hatian, juga diperlukan tenaga ekstra. Pengunjung harus melewati aliran sungai dan menembus perbukitan yang tajam dan berkelok. Jalan setapak menuju lokasi amat sempit, licin dan curam. Sementara, di kiri kanan jalan setapak sepanjang 2km itu dikelilingi jurang. Namun begitu anda  tiba di lokasi air terjun, rasa lelah akan segera berganti dengan rasa lega, senang, dan kagum akan keindahan pemandangan alam Coban Talun. (www.kotawisatabatu.com)

  • Mencoba Mitos Beringin Kembar di Yogyakarta

    BERLIBUR ke Yogyakarta, biasanya tempat wisata yang banyak dituju para pelancong adalah kawasan Malioboro. Tetapi pernahkah Anda menikmati suasana malam di alun-alun Yogyakarta? Keraton Yogyakarta memiliki dua alun-alun, masyarakat setempat mengenalnya sebagai Alun-alun Lor, terletak di halaman depan Keraton dan Alun-alun Kidul yang berada di sebelah selatan Keraton. Setiap malam minggu, kedua alun-alun ini biasanya ramai dikunjungi, baik warga setempat maupun wisatawan. Alun-alun Kidul biasanya lebih ramai pengunjung dibanding Alun-alun Lor. Barangkali karena di lapangan ini terdapat dua pohon beringin kembar yang telah lama menyimpan mitos. Sekilas memang tidak ada yang istimewa dari kedua pohon raksasa tersebut. Tetapi mitos yang telah lama berkembang di masyarakat Jogja inilah yang membuat penasaran banyak orang. Konon, jika seseorang berhasil melewati celah dari kedua pohon itu dengan mata tertutup, semua permintaannya akan terkabul. Bahkan jika sepasang kekasih berhasil melewati celah ini bersama-sama dengan mata tertutup, maka hubungannya pun akan langgeng. Beberapa orang berhasil melewati celah di antara kedua pohon ini pada kesempatan pertama, tetapi lebih banyak yang memerlukan usaha berkali-kali sebelum akhirnya bisa melewati celah kedua pohon beringin ini. Oleh masyarakat sekitar, permainan melewati celah beringin ini dinamakan “Masangin” (masuk di antara dua pohon beringin). Tidak sedikit mereka yang mencoba Masangin, justru berjalan menjauhi beringin, berputar arah, atau bahkan menabrak beton yang memagari beringin. Padahal celah di antara dua pohon beringin tersebut sangat lebar. Inilah yang membuat wisatawan semakin penasaran mencobanya, terlebih pada saat malam hari. Masyarakat mempercayai, bermain Masangin di waktu malam lebih menantang karena suasana atmosfer di bawah pohon beringin ini yang berbeda. Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu kala pada masa kerajaan Sultan Hamengkubuwono I ada seorang putri yang cantik rupawan. Kecantikannya begitu terkenal, banyak pemuda yang jatuh hati dan ingin melamarnya. Namun tidaklah mudah untuk menaklukkan hati sang putri, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu pemuda yang melamarnya harus dapat melewati celah pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Konon, menurut Sultan orang yang dapat melewati celah beringin tersebut adalah seseorang yang mempunyai hati bersih dan tulus. Banyak yang mencoba, tetapi tidak ada yang berhasil, kecuali anak Prabu Siliwangi yang akhirnya menjadi suami sang putri. Selain itu, tempat ini pernah dijadikan sebagai pertahanan gaib untuk mengecoh pasukan Belanda yang ingin menyerang keraton agar mereka kehilangan arah. Kini, permainan Masangin ini dimanfaatkan sejumlah warga untuk menawarkan jasa sewa penutup mata. Jika tidak membawa kain sebagai penutup, pengunjung bisa menyewanya dengan membayar Rp 4.000. Percaya atau tidak, namun mitos tersebut layaknya usaha memperjuangkan cita-cita yang tak selalu berjalan mulus. Saat senja hingga tengah malam, di alun-alun ini juga diramaikan sepeda dan odong-odong hias. Kendaraan modifikasi dengan beraneka bentuk dan dihiasi lampu-lampu kecil berwarna-warni ini menjadi daya tarik tersendiri. Lelah bermain masangin, warga dapat bersantai mengayuh sepeda atau odong-odong mengelilingi alun-alun ini. (*)

  • Sepenggal Cerita yang Tertinggal di Pantai Delegan

    JARAK lokasi Pantai Delegan sekitar 75 menit ke utara dari pusat kota Gresik, tepatnya berada di desa Delegan. Pantai Delegan yang terkadang disebut pasir putih oleh warga sekitar, merupakan satu-satunya tempat wisata kota Gresik yang telah lama ada dan konon ramai dikunjungi warga. Namun, setelah di lihat lebih detail lagi, ternyata sebagian besar yang mengunjunginya hanyalah warga sekitar Delegan dan beberapa orang dari pusat kota Gresik, dan sedikit orang dari kota tetangga. Seperti kota Surabaya atau Lamongan. Malah orang Surabaya dan Lamongan sendiri banyak yang kurang tahu tentang keberadaan tempat wisata ini. Memang Walikota Gresik tidak terlalu fokus untuk mempercantik pantai ini. Beberapa alasannya adalah jauhnya lokasi dari pusat kota. Namun sebenarnya hal itu bukan masalah yang jadi penghambat untuk pelestarian daerah ini. Karena jalan ke pantai Delegan ini searah dengan jalan ke Lamongan apabila dariSurabayadengan motor atau tanpa melalui jalan tol. Selain itu, warga sekitar juga kurang perhatian dalam mempercantik dan mempromosikan wisata cantik ini. Berkali-kali saya mengunjungi daerah ini, kecantikannya tak kalah dengan pantai-pantai terkenal diIndonesia, khususnya Jawa. Bila saya bandingkan dengan pantai pasir putih di selatan Jawa, atau pantai Ancol, pantai Delegan juga memiliki keindahan yang tak jauh beda. Hanya saja pantai Delegan lebih kecil, tak terorganisir dengan baik, sedikit turis, dan jauh dari pusat kota. Bu Sum misalnya. Pedagang Simping (hewan laut yang bercangkang putih bulat, sejenis kerang namun lebih lebar dan tipis) yang berdagang di dekat wisata pantai Delegan ini hampir tiap harinya hanya melayani warga-warga sekitar, dan jarang sekali mendapati pelanggan yang berasal dari luarkota. Bu Sum juga berkata bahwa rata-rata pengunjung wisata ini ada yang memang sengaja ingin mengunjungi dan beberapa diantaranya hanya singgah setelah rekreasi di goa Maharani, atau Wisata Bahari Lamongan. Sangat disayangkan apabila satu-satunya permata kota Gresik dijadikan cadangan atau alternatif dari rekreasi ke tempat-tempat wisata di daerah kota Lamongan. Padahal lahan yang tersedia cukup luas, potensi yang ada cukup tinggi, dan apabila dikelola dengan baik, kemungkinan untuk mendapatkan profit kota sangatlah tinggi pula. Namun yang lebih disayangkan lagi, beberapa remaja sekitar berkunjung ke wisata ini untuk berkencan dan melakukan hal-hal yang tidak umum di depan umum. Dimana hal tersebut seharusnya dihindari apabila menginginkan wisata pantai Delegan ini dikunjungi banyak orang dan ternama minimal di daerah Jawa Timur. (Sumber berita: berita.univpancasila.ac.id)

  • Di Puncak Bogor Enaknya Ngopi

    PUNCAK Bogor memang sudah dikenal luas di kalangan pecinta alam, pecinta kuliner, pecinta keindahan, pecinta jalan-jalan, dan juga pecinta seks. Bahkan, baru-baru ini Puncak dihebohkan oleh tersebarnya video porno. Tetapi, seks tak perlu dibicarakan panjang lebar, cukup lakukan! Kesampingkan dulu citra Puncak yang lekat dengan “villa” dan “mesum”. Tempat yang berlokasi di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur ini menjadi tempat pas untuk menyegarkan pikiran, terutama bagi orang-orang yang bosan dengan ingar-bingar kehidupan Jakarta. Udara dingin pegunungan dan kabut yang perlahan naik menyambut sore. Meskipun di lokasi ini banyak tempat wisata, sebut saja Perkebunan Teh Gunung Mas, Gantole (Paralayang), atau Taman Safari, saya hanya ingin singgah di kios kecil di pinggir kelokan dan memesan kopi hitam. Kios sederhana dengan harga kopi murah, tetapi berhadapan dengan pemandangan mewah. Ya, keindahan memang sesederhana itu. Kepenatan kota metropolitan lenyap seketika diganti dengan keeksotisan pemandangan hamparan kebun teh dan tanaman hijau lainnya. Panasnya kota diganti dengan kesejukan udara pegunungan. Polusi asap kenalpot metromini atau kopaja diganti dengan kabut tipis. Ya begitulah, setiap yang pergi pasti akan datang pengganti. Kopi pesanan telah datang; hitam, satu cangkir, dan panas. Sementara di hadapan sana, warna-warni atap-atap rumah warga, kendaraan yang meliuk-liuk kecil di kejauhan mengikuti rute jalan, hijau tetumbuhan, dan beberapa orang yang bermain paralayang menjadi kesederhanaan dengan cita rasa istimewa. Untuk menikmati ini saya harus menunggu lama. Entah tahun berapa, saat pertama kali saya ingin mengunjungi tempat ini. Yang jelas saat itu saya masih kuliah. Saat itu Puncak menjadi salah satu lokasi yang ingin aku datangi. Dan, setelah bertahun-tahun, akhirnya aku bisa ada di sini. Selamat ngopi, keindahan! (*) Puncak, Bogor

  • Pantai Slopeng, Si Cantik dari Madura

    TIDAK hanya terkenal dengan sate, Madura juga memiliki alam yang indah. Pantai Slopeng merupakan objek wisata yang cantik di pulau ini. Pasirnya yang putih dan laut yang tenang, dapat mengisi akhir pekan Anda kali ini. Pantai ini terletak di bagian utara Pulau Madura dan berjarak 21 km dari Kota Sumenep. Selain pasirnya yang putih, pantai ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Sehingga memiliki suasana yang tenang dan cocok untuk berakhir pekan. Pantai Slopeng memiliki hamparan pasir yang membentang sepanjang 6 km. Pasir-pasir putih tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk bersantai di tepian pantai. Uniknya, tidak hanya hamparan pasir putih, tetapi pasir putih di pantainya menggunung. Anda bisa bermain pasir sepuasnya di sini. Suasana tenang dan nyaman akan Anda dapatkan. Dengan lambaian pohon-pohon kelapa, nuansa pantai yang khas sangat terasa. Puas bersantai, saatnya bermain air. Air laut di Pantai Slopeng berwarna jernih dan bersih. Arus lautnya pun cukup tenang, jadi tak perlu takut diterpa arus yang kuat. Anda dapat menikmati lautan yang biru dengan pemandangan langit yang luas. Dengan tenangnya suasana, Anda akan betah berlama-lama menikmati pantainya. Pesona Pantai Slopeng akan bertambah saat senja tiba. Ada sunset yang berwarna keemasan menyinari hamparan pasir putihnya. Bayangan Anda akan terlihat jelas saat berdiri di pantainya dengan disinari cahaya sang senja yang tenggelam. Pemandangan ini harus diabadikan dalam kamera. Jika lapar, ada beberapa penjaja makanan di pinggir pantainya. Anda bisa memesan soto, sate, hingga air kelapa untuk mengobati rasa lapar. Ingat, jagalah selalu kebersihan di pantai ini. Akhir pekan kali ini, cobalah untuk mengunjungi Pantai Slopeng. Suasana yang tenang dibalut pantai cantik nan menawan, akan membuat liburan Anda menyenangkan. (*)

  • Pagi-Pagi Nyasar ke Curug Cibeureum, Jawa Barat

    SEBAGAIMANA pekerja sumpek lain yang pengen healing, kami pun begitu. Setelah menyelesaikan deadline , kami nongkrong di warmindo langganan di depan kantor, di seberang jalan, di Kebayoran Lama, seperti biasa. Ngobrol ngalor-ngidul, terceletuklah ajakan untuk melipir ke Puncak Bogor. Cari kesejukan. Hari itu sudah lewat tengah malam. Tujuan kami sederhana: ngopi saja di Cibodas. Di kaki Gunung Gede-Pangrango. Kami berenam dengan tiga sepeda motor membelah malam meninggalkan Jakarta yang mulai terkantuk menuju Cibodas. Belum tidur pun tak apa. Kami tiba di warung dekat loket pendakian Gunung Gede-Pangrango setelah perjalanan hampir tiga jam. Lelah dan rasa kantuk seketika tumpas setelah lambung saya dihajar dengan mie goreng dan kopi hitam. Kami asyik ngobrol dan bercengkrama hingga menjelang pagi. Lalu, muncul celetukan lagi: Naik ke Curug Cibeureum seru nih. Semua semangat menyambut. Jadilah kami menunggu pagi untuk menunggu loket buka. Tanpa tidur. Air Terjun Cibereum atau dalam bahasa sunda disebut Curug Cibeureum masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Curug ini berada di jalur pendakian via Cibodas. Lokasinya di bawah pos 1. Curug ini berada di ketinggian sekitar 1.700 mdpl. Curug Cibeureum berjarak sekitar 2,8 km atau satu jam dengan berjalan kaki dari gerbang masuk Taman Nasional. Kalau jalan santai tentu akan lebih lama lagi. Ini pengalaman pertama saya jalan-jalan ke Bogor sejak pindah ke Jakarta. Saat jiwa-jiwa random masih tertanam. Kemana aja ayuk asal gak mahal dan gak terlalu jauh. Gaskeun. (*)

  • Pameran Seni Rupa ”Ya Bagus.” Tino Sidin di Jogjakarta

    TAK dimungkiri bahwa Tino Sidin selama hidupnya telah terbayangkan oleh banyak orang sebagai guru gambar. Pembawaannya yang kebapakan dan gaya bicaranya yang santun memberi kesan akan hal itu. Wajahnya yang teduh dan ucapan-ucapannya yang sederhana mengingatkan bahwa ia rendah hati. Wajar bila kemudian orang banyak yang menyukainya. Sikap kebapakan dan keguruannya jelas membantu dalam melakukan pendekatan pada anak didik maupun anak-anak yang menonton acara-acaranya. Identitas personal semacam ini menjembatani dirinya untuk selalu dekat dengan anak-anak dan dunianya. Dekat, seperti halnya sepasang manusia yang membutuhkan. Kerendah-hatiannya menjadi instrumen bagi anak-anak untuk memasuki dunia seni lukis, dunia yang mungkin bagi sebagian dari mereka adalah khasanah yang rumit. Dunia seni lukis seolah-olah begitu mudah bagi mereka, karena cara-caranya. Lukisan atau gambar, bagi anak-anak, akhirnya menjadi sarang pemikiran yang tak berhenti hanya sebatas teknik, akan tetapi juga berisi pengalaman sosial yang tak mampu toreh dengan tinta berbentuk tulisan. Tino Sidin sampai kini tidak dinilai eksis sebagai pelukis, meskipun karya seni lukisnya ratusan jumlahnya. Hal ini mencuat karena berbagai aktivitasnya yang keruh akan kegiatan mendidik anak-anak melalui gambar dan buku. Padahal meskipun disebut pendidik atau guru, ia tak punya di sebuah sekolah formal, dan tidak memiliki gelar akademik yang linier. Aktivitas lebih pada sekolah seni non-formal. Banyaknya pertemuan antara dirinya dengan jutaan anak, baik dilakukan secara langsung (melalui kursus melukis yang dikelola atau sebagai guru tamu dan juri lomba-lomba lukis) maupun melalui televisi, membuat namanya disaksikan sebagai pengajar nggambar . Ia tidak punya sekolah, tetapi muridnya “jutaan”. Sampai-sampai kebiasaannya yang diucapkan, “Ya…Baguus!!!” menjadi penanda ketika mengingat namanya. Terkadang dilanjutkan dengan kata-kata, “Jangan takut-takut!” atau “Ya.. besok ngirim lagi ya!” menjadi undangan agar anak-anak menggambar lagi tanpa bosan. Ia dicintai anak-anak, karena baginya tidak ada gambar (anak-anak) yang jelek. Semua bagus. Inilah yang ditunggu setiap pukul 4 sore di TVRI pada dasawarsa 1970-1980an. Saya sendiri sebagai penonton yang kala itu masih duduk di SD (di Jember, Jawa Timur) merasakan bahwa sore hari itu–sehabis mandi–menjadi lebih riang dengan “datangnya” Pak Tino. Puluhan komik dan buku menggambar untuk anak-anak yang dihasilkan semakin membuat dirinya juga ternama dalam dunia perbukuan. Buku yang dihasilkan seperti Gembar Menggambar Bersama Pak Tino Sidin (Kanisius, 1975) dan Ayo Menggambar (Balai Pustaka) adalah “kitab suci” bagi para anak didiknya. Tentu saja buku ini ludes terjual dalam beberapa waktu saja. Buku enam jilid ini menjadi salah satu buku paling efektif dalam pola pengajaran menggambar untuk anak-anak. Belum lagi buku aplikasinya berupa buku cerita alias komik. Setidaknya Tino Sidin telah menghasilkan komik dewasa bertajuk Harimau Gadungan dan Kalau Ibuku Pilih Menantu . Komik anak-anak juga dihasilkan seperti Anjing , Bandung Lautan Api , Bawang Putih Bawang Merah , Ibu Pertiwi , Serial Pak Kumis , dan sebagainya. Di samping komik, juga ada buku cerita mewarna bertajuk Membaca, Mewarnai, Merakit . Banyaknya buku yang dihasilkan inilah membuat Tino kehabisan waktunya untuk mengingat dirinya sebagai seorang seniman. Sesungguhnya dari manakah kemampuan Tino Sidin dalam bidang menggambar atau melukis di dapatkan? Tebingtinggi – Yogyakarta Tino adalah anak kelahiran Tebingtinggi, sebuah kampung yang terletak di pantai timur Sumatera Utara. Tino yang lahir 1925 tentu saja tidak mungkin untuk membentuk dirinya sendiri di kampungnya yang jauh dari sekolah seni maupun komunitas seni. Oleh karena itu, ia lalu melakukan migrasi ke Jawa pada di tahun 1946 bersama rekannya, yakni Daoed Joesoef (mantan menteri pendidikan era Orde Baru) dan Nasjah Jamin (sastrawan dan pelukis). Perjalanannya ke Jawa berakhir di Yogyakarta. Pada saat revolusi tersebut, mereka menjadi bagian dalam berbagai aktivitas kesenian di Yogyakarta. Ia berteman dengan seluruh pelukis yang berdatangan ke Yogyakarta, mulai dari Sudjojono, Hendra Gunawan, Affandi, Sudarso, dan lain-lain. Selama masa tersebut ia banyak belajar mengasah bakat seninya. Bakat artistik dan estetiknya ini turut ditopang dengan masuk di perguruan Tamansiswa. Di Yogyakarta ia tinggal bersama seorang pejuang kemerdekaan dan pamong Tamansiswa, Bapak Ki Darmosugito. Di masa ini ia turut bergabung dengan Kementerian Pembangunan Pemuda dan Kesenian di Yogyakarta, bagian Poster. Ketika Agresi Militer terjadi di Yogyakarta, ia turut serta maju ke medan perang, salah satunya turut mendokumentasi dengan membuat sketsa perjuangan. Sesudah Belanda menguasai Yogya untuk beberapa saat, Tino bergerilya dan menjadi bagian dalam kesatuan Divisi Siliwangi, menyusup hingga ke daerah Jawa Barat. Baru pada tahun 1960, Tino mendaftar dan menjadi mahasiswa ASRI Yogyakarta. Ia mengakhiri pendidikannya pada tahun 1963. Pertemanannya dengan Presiden Sukarno juga menjadi salah satu hal yang penting diutarakan. Keduanya senang melukis, Sukarno sendiri senang mengoleksi lukisan. Pertemanan ini membantu mereka dalam perjuangan memajukan bangsa. Mereka tidak saja berteman karena lukisan, tetapi juga tujuan lain. Dalam kisah hubungan ini mereka saling bahu-membahu, salah satunya adalah ketika Tino Sidin diminta sebagai ahli kebatinan bagi Sukarno. Tino Sidin, bersama ahli kebatinan lain dalam hal ini membantu secara sukarela untuk melindungi dan membentengi diri Sukarno, ketika isu politik “Ganyang Malaysia” tahun 1964 memanas. Hubungan mereka juga termanifestasikan pada sebuah karya yang diberikan oleh Tino Sidin. Karya bertajuk Penggembala Kambing (lebih kurang bertarikh 1964-66) menjadi koleksi Presiden Sukarno. Meskipun karya ini tidak termasuk dalam buku koleksi Presiden Sukarno, namun karya ini kini menjadi bagian di Istana Cipanas. Pada pojok kanan atas lukisan tersebut terdapat teks yang ditera oleh Tino lebih kurang sebagai berikut: “Kepada yang kami cintai Presiden Sukarno”. Kini, melalui peran salah satu putrinya, Titik Sidin, Tino hendak ditampilkan sebagai sosok seorang yang aktif berkarya. Pameran ini jelas dilatari oleh keinginan untuk mengartikulasi peran, eksistensi dan sejauh mana ekspresi estetik Tino Sidin sebagai manusia yang terus-menerus mengeksplorasi keindahan melalui karya seni dua dimensional. Lukisan dan sketsa, tentu menjadi sarana utama dan paling esensial guna melihat sosok Tino Sidin sesungguhnya. Apakah kesederhanaan dan kerendah-hatian Tino juga menjadi tampak dalam sketsa-sketsa maupun lukisan-lukisannya? Sketsa: Lurus-Lengkung  & Bersahaja Sketsa-sketsa Tino terdiri sekumpulan garis yang berukuran konstan. Garis-garis yang membentuknya ritmis, spontan, dan berpola teratur. Pada hampir semua sketsa hitam putih misalnya, garis yang dibuatnya satu ukuran dan diulang-ulang. Ungkapan saya berupa kata “diulang-ulang” bukan menunjukkan kesalahan dan menunjukkan minimnya teknik yang dimiliki, namun lebih karena pilihan teknik yang dilakukan Tino. Dengan modal garis yang sama dan dilahirkan dari satu macam alat tulis (pen, spidol, pensil), ia mampu melahirkan karakter benda. Garis itu bisa membentuk objek ( outline ), bisa pula mengisi “tubuh” objek (arsir). Objek seperti manusia, binatang, tumbuhan, laut, gunung, langit, hanya dikerjakan dengan goresan atau garis yang utuh dan satu jalur (meskipun sesekali sambung-menyambung). Adapun peran arsir adalah untuk mengisi ruang dan membentuk volume dan karakter benda. Kedua fungsi garis yang ada pada sketsa-sketsa ( outline dan arsir) Tino rupanya mampu mengejawantah apapun yang hendak digambarkan, sehingga tampak mudah dikerjakan. Selain Tino, kemampuan ini juga dimiliki oleh para pelukis lain seperti Ipe Ma’roef, Henk Ngantung, Fadjar Sidik, Widayat, Nyoman Gunarsa yang juga merupakan pelukis-pelukis ternama Indonesia. Kemampuan garis yang dilahirkan untuk membentuk objek maupun arsir dapat dilacak dari konsep berkaryanya. Menurutnya, pada Gemar Menggambar , ia menulis bahwa apapun yang hendak digambar, kuncinya hanya terdiri dari dua garis: garis lurus dan garis lengkung . Dengan kunci ini, siapa pun diyakininya akan mampu berkarya seni lukis. Ia tidak percaya pada bakat. “Sepengalaman saya membimbing anak-anak menggambar, tampaknya tidak ada satu anak pun yang tidak dapat menggambar,” ungkapnya. Kepercayaannya pada garis lurus dan lengkung sebanding dengan kepercayaannya pada menggambar dan menulis. Menggambar dan menulis ibarat sekeping mata uang. Recto-verso , kata orang Latin. Jika seseorang tidak bisa menulis, maka kemungkinannya tidak bisa menggambar. Jika bisa menggambar, kemungkinan ia bisa menulis. Begitu pula sebaliknya. Semua terjadi, karena pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan menorehkan garis lurus dan lengkung. Sketsa-sketsanya berangkat dari dasar-dasar semacam itu. Tema-tema sketsanya lebih variatif dibanding lukisan-lukisannya. Tema-tema sketsa yang dibuat antara lain: lanskap, kehidupan sehari-hari, potret figur, objek/benda mati dan benda hidup, dan kegiatan khusus. Lanskap yang pernah dikerjakan antara lain berupa pemandangan gunung/bukit (Kaliurang, Gunung Bentar Probolinggo, Borobudur), suasana kota (Wonosari, Alun-alun Kraton Yogyakarta, Bali, Jepang, Singapura, dan kota-kota lainnya), dan pantai (Parangtritis, Kukup-Baron Wonosari, Kamal Madura, Balikpapan, Palembang, Dermaga Surabaya, dan sebagainya). Tema kehidupan sehari-hari adalah sketsa yang menggambarkan aktivitas hidup sehari-hari seperti Polisi di Sidney (1984), Doa masuk Sendang Kasihan (1991), Melihat Orang Melukis (1977), Membaca Buku (tt), Pasar di Bangkalan (1976), Karapan Sapi (1976), Cuci Mobil (tt), dan sebagainya. Tema figur lebih pada potret satu maupun sekumpulan manusia yang direkam seperti Suharto di TVRI (tt), Tiga Saudara (1968), Kepala-Kepala Harapan (1990), Empat Kepala Main-Main (1968), Penambang Timah (1981), Tiga Gerakan (1977), Penjual Es Ketanggungan (tt), Kelompok Belajar (1990), Model di Ancol (1988), dan sebagainya. Adapun tema alam benda ( stillife ) yang dikerjakan seperti perahu dan bangunan ( Pintu Gerbang Gedung Agung ) banyak dikerjakan. Adapun tema binatang yang dikerjakan adalah Kepala Kuda (tt), Monyet (1985), dan Burung-burung Dara (1990). Tema kegiatan khusus diantaranya adalah kegiatan yang pernah diikutinya seperti pelantikan pengurus pramuka di Kaliurang, rekaman di TVRI ( Rekaman Ujang Kelompok PIA , 1970), dan beberapa lainnya. Ditinjau dari tema yang pernah dikerjakan, dapat diketahui bahwa fungsi sketsa bagi Tino adalah untuk melakukan pendokumentasian momentum, ruang dan waktu. Baginya perjalanan (baca: liburan dan berkeliling daerah) adalah “kerja” seni. Setiap saat ketika mengunjungi berbagai tempat dan aktivitas,  ia berbekal garis lengkung dan lurusnya. Sketsa dengan demikian adalah sebentuk pilihan estetik atas berbagai hal yang ada dan terjadi di lapangan. Baginya, kebiasaan dan kehidupan sehari-hari misalnya, adalah hal yang indah, sehingga ia harus melakukan kerja sket. Ratusan sketsa telah dibuatnya selama hidup. Pergulatannya dalam melakukan kerja sketsa dilanjutkan pada bidang lain, diantaranya lukisan untuk ego dan idealisme individunya. Adapun manifestasi yang lain yakni pada komik serta buku belajar menggambar untuk anak-anak dan orang di luar dirinya. Lukisan: Fantasi, Rasa & Misteri Hidup Lukisan-lukisan Tino bagi saya adalah sebentuk pengejawantahan vitalitas hidupnya. Jelas sekali bedanya dengan fungsi sketsa-sketsanya. Beberapa hal membuktikannya: warna yang meriah, garis yang energik, dan komposisi yang akademistik. Jika dirasakan lebih lanjut, tema-temanya secara visual adalah kehangatan di bawah naungan alam tropis yang tengah semarak. Warna pada lukisan-lukisan Tino merupakan manifestasi dari alam yang disinari oleh matahari. Tidak ada satu pun lukisan yang dibuat atau menggambarkan kehidupan pada malam hari. Setiap objek atau subjek dilukiskan dengan warna yang dekat dengan realitas, tidak pekat dengan gelap. Tubuh manusia, binantang, tumbuhan, objek pendukung dilapis dengan warna mendekati aslinya. Rata-rata dalam setiap lukisan, ia mengolah warna secara harmonis. Harmonisasi ini diwujudkan dalam suasana yang riang. Pada satu lukisan ia menggunakan dimensi “warna panas/hangat” (berupa warna kuning, orange, merah) untuk menggambarkan aktivitas manusia yang sedang melakukan pertunjukan yang dinamis atau anak-anak yang tengah lepas bermain-main. Dimensi “warna hangat” ini juga dipakai untuk melukiskan suasana laut lepas yang panas maupun hamparan bukit yang luas ( Pulang dari Ladang , 1992). Di sisi lain, ia menggunakan dimensi “warna dingin” (warna hijau, biru, ungu) untuk menggambarkan fantasinya tentang kelembutan figur yang diam memangku boneka. Suasana yang sayub diantara rindangnya pepohonan dimanifestasikan pula dengan harmoni “warna dingin”. Di samping itu “warna dingin” ditampilkan pada lukisan kehidupan hutan yang terasa dingin dan angker ( Naik Becak , 1992). Jelas sekali bahwa ia menerapkan warna-warna pada lukisan untuk menggambarkan rasa (perasaan) ketika mengalami sesuatu. Dengan konsep semacam ini, Tino tidak atau bukan tengah melukis tentang sesuatu. Ia tidak sedang menjawab pertanyaan “Tengah melukis apa?” akan tetapi lebih menjawab pertanyaan “Tengah mengalami apa saat melukis?”. Oleh sebab itu, melalui warna, jelas terjabarkan bahwa Tino sedang mencatat perasaan dan suasana hati, daripada realitas yang tengah dihadapi. Anak-anak yang tengah bermain adalah objek yang mengalami rekonstruksi fungsi pikiran Tino. Ia tidak saja sebentuk objek tubuh-tubuh kecil yang mempresentasikan sikap kanak-kanak, akan tetapi untuk menandai sebuah sikap akan hadirnya keriangan suasana. Itulah sebabnya lukisan-lukisan Tino harus dihadirkan sebagai “lukisan dengan fantasi penuh rasa” dari egonya sebagai manusia. Secara umum dan secara visual, tema-tema yang dihadirkan oleh Tino dalam lukisan-lukisannya adalah kehidupan sehari-hari. Dalam klasifikasi tema ini sering pula disebut dengan Lukisan Genre ( Genre Painting ). Tema ini menyerap hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Tino sendiri mengambil tema khusus yakni kehidupan sehari-hari di desa (kampung hutan dan kampung nelayan), tidak atau bukan kehidupan di kota (seperti rumahnya di Yogyakarta). Tema-tema lukisan-lukisannya jelas lebih homogen dibandingkan dengan tema-tema pada sketsa-sketsanya yang heterogen. Pada lukisan, Tino hanya mengambil hal-hal pokok seperti pemandangan desa dan aktivitas hidup orang desa sebagai subjek kajiannya. Bisa jadi, pilihan topik lukisan-lukisannya merupakan fantasi atau bayangan romantismenya mengenai kampung masa kecilnya di Sumatera. Bila dilihat dari kacamata visual, asumsi ini mungkin terlalu jauh, namun dari aspek pengambilan topik, sangat berdekatan dengan desanya di Tebingtinggi, Sumatera Utara. Dalam konteks gaya visual, Tino sebagai perupa yang pernah mengenyam pendidikan di ASRI adalah penganut gaya Post-impressionisme. Tampak dalam banyak karya Tino, interpretasi atas alam yang diimajinasikan termanifestasi sealur dengan gaya lukisan salah satu tokoh Post-Impresionisme: Paul Gauguin. Gauguin adalah pelukis Eropa yang melakukan migrasi ke Hawaii. Ia secara intens melukis pada usia dewasa hingga meninggal di sana. Gauguin akhirnya menemukan dunia fantasinya yang sempurna yang melahirkan karya-karya cemerlang di sana. Meskipun secara geografis dan kisah hidup antara mereka sangat jauh berbeda, terdapat kedekatan gaya visual. Gaya visual yang bersifat post-impresionistik (ala Gauguin) ini lebih menitikberatkan pada konsep emosi dan misteri dalam lukisan. Berbeda dengan gaya visual post-impresionisme ala George Seurat dan Paul Cezanne yang lebih berkonsep pada analitis dan rasionalistik. Dengan gaya ini Tino Sidin menjadi lebih cair dan secara naluriah mampu mereduksi alam bawah sadar dan kemampuannya yang lain (misalnya dalam ilmu kebatinan) dapat direpresentasikan dalam lukisan. Jadilah lukisan-lukisan Tino Sidin memiliki aroma dan dimensi misteri alam yang dilihatnya. Asumsi ini semakin menguatkan bahwa hubungan antara perkara rasa, emosi dan misteri mampu diwadahi pada lukisan-lukisannya selama ini. Tino Sidin, meskipun bergaya ala Gauguin, telah memberi pelajaran berharga bahwa kerja kreatif melukis tidak serta-merta hanya sebagai wadah dan media untuk merekam alam sadar (fisik), akan tetapi juga alam bawah sadar (non-fisik). Coba cermati pada setiap lukisan, Tino hanya melukis objek-objek dan figur-figurnya secara garis besar. Ia meninggalkan detail. Lukisan-lukisannya secara visual lebih sederhana daripada lukisan Gauguin. Akan tetapi jangan lupa, bahwa sejatinya Tino tidak melukis realitas. Ia lebih melukis emosi, perasaan, melalui suasana yang dilihatnya. Tampak sekali bahwa lukisan Tino jauh lebih mengendapkan perasaannnya, daripada lukisan Gauguin yang lebih kaya warna. Dengan demikian lukisan Tino tampak sederhana, akan tetapi secara konseptual tak sesederhana sketsa-sketsanya. Inilah nilai lebih lukisan-lukisan Tino Sidin. Jika lukisan Tino Sidin kita anggap sebagai media ekspresi individu, maka peran lukisan berakhir sebagai “cermin sang perupa”. Jika cermin adalah jembatan untuk mengetahui isi hati yang paling dalam, maka dalam pikiran dan perasaan Tino Sidin tergambar jelas: di balik keriangan sebagai pendidik-“bapak sejuta anak”, ia adalah pribadi yang misterius. Di balik kesederhanaan garis, di balik objek dan warna-warna lukisan-lukisannya yang simpel, tergambar bahwa ia tengah mengandung perasaan dan kekuatan ego yang dalam. Bisa jadi, ia adalah pribadi yang kompleks. Lalu apa yang tengah dialami Tino Sidin, kala ia melukis? (*) Sumber: mikkesusanto.jogjanews.com

  • Museum Affandi, Mengunjungi Istana Sang Maestro di Jogjakarta

    MENGUNJUNGI Museum Affandi yang terletak di Jalan Raya Yogyakarta-Solo, atau tepatnya tepi barat Sungai Gajah Wong, memberi kesempatan bagi anda untuk menjejaki seluruh bagian berarti dari kehidupan Affandi. Anda bisa melihat karya-karya agung semasa sang maestro hidup, karya para pelukis lain yang ditampungnya, alat transportasi yang dipakainya dahulu, rumah yang ditinggali hingga sebuah sanggar yang kini dipakai untuk membina bakat melukis anak. Kompleks museum terdiri dari 3 buah galeri dengan galeri I sebagai tempat pembelian tiket dan permulaan tur. Galeri I yang dibuka secara pribadi oleh affandi sejak tahun 1962 dan diresmikan tahun 1974 ini memuat sejumlah lukisan Affandi dari awal berkarya hingga masa akhir hidupnya. Lukisan yang umumnya berupa lukisan sktesa dan karya reproduksi ini ditempatkan dalam 2 larik atas bawah dan memanjang memenuhi ruangan berbentuk lengkung. Masih di Galeri I, anda bisa melihat sejumlah barang berharga semasa Affandi hidup. Di ujung ruangan, anda bisa melihat mobil Colt Gallan tahun 1976 yang berwarna kuning kehijauan yang dimodifikasi sehingga menyerupai bentuk ikan, juga sebuah sepeda onthel kuno yang tampak mengkilap sebagai alat transportasi. Anda juga bisa melihat reproduksi patung karyanya berupa potret diri bersama putrinya, Kartika. Menuju Galeri II, anda bisa melihat sejumlah lukisan para pelukis, baik pemula maupun senior, yang ditampungnya dalam museum. Galeri yang diresmikan tahun 1988 ini terdiri dari dua lantai dengan lukisan yang dapat dilihat dari sudut pandang berbeda. Lantai pertama banyak berisi lukisan-lukisan yang bersifat abstrak, sementara lantai 2 memuat lukisan dengan corak realis namun memiliki ketegasan. Galeri III yang menjadi tujuan selanjutnya merupakan bangunan berbentuk garis melengkung dengan atap membentuk pelepah daun pisang. Bisa dikatakan, galeri berlantai 3 ini multifungsi, lantai pertama berfungsi sebagai ruang pameran sekaligus lokasi “Sanggar Gajah Wong” tempat bagi anak-anak untuk mengasah bakat melukis, lantai kedua sebagai ruang perawatan dan perbaikan lukisan, sementara lantai bawah tanah sebagai tempat menyimpan koleksi lukisan. Tak jauh dari Galeri III, terdapat sebuah menara yang bisa digunakan sebagai tempat melihat pemandangan. Anda bisa melihat panorama seluruh bagian museum, Sungai Gajahwong hingga hiruk pikuk jalan raya. Turun dan berjalan ke barat dari menara itu, anda bisa melihat rumah berarsitektur unik yang digunakan Affandi sebagai tempat tinggal bersama istri dan anak. Rumah tersebut dibangun dengan konsep rumah panggung dengan tiang penyangga utama berbahan beton dan tiang lain berbahan kayu. Atap rumah berbahan sirap yang berbentuk pelepah daun pisang dan bangunannya berbentuk lengkung. Lantai bawah rumah ini kini dipakai sebagai lokasi Kafe Loteng, tempat penjuualan makanan dan minuman bagi para pengunjung, sementara laintai atas rumah merupakan kamar pribadi Affandi. Di sebelah kiri rumah, terdapat sebuah gerobak yang kini berfungsi sebagai mushola. Gerobak tersebut merupakan salah satu elemen pelengkap kompleks rumah Affandi yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan istri Affandi, Maryati. Semula, Maryati menginginkan adanya sebuah caravan yang banyak digunakan sebagai tempat tinggal berpindah bagi orang Amerika. Affandi menyetujui konsep bangunan itu, namun dengan wujud yang lebih meng-Indonesia, yaitu gerobak. Sebelum pulang, anda bisa singgah di rumah abadi sang maestro yang wafat 23 Mei 1990, berada di antara Galeri I dan II. Rumah abadi Affandi tersebut berdampingan dengan rumah abadi milik sang istri. Halaman rumah abadi tersebut dihiasi oleh rimbunan pohon mawar. Untuk berkunjung ke Museum Affandi, anda hanya perlu mengeluarkan biaya Rp 10.000,00 sebagai tiket masuk untuk wisatawan domestik dan Rp 20.000,00 untuk wisatawan mancanegara, serta tambahan Rp 10.000,00 sebagai biaya tambahan bila ingin memotret. (*) Naskah: Yunanto Wiji Utomo Copyright © 2007 YogYES.COM Museum Affandi Jl. Laksda Adisutjipto 167 Yogyakarta 55281 Phone/Fax: +62 274 562593 Jadwal Kunjungan: Hari Senin – Minggu Buka pukul : 10.00 – 16.00 Hari libur nasional: Tutup Biaya Masuk: Dewasa Rp. 10.000 Wisatawan Asing Rp. 20.000 Sumber: www.yogyes.com

  • Duo Galau Main ke Taman Sari Jogja

    TIDAK lama setelah lulus kuliah, saya ingin kembali ke Jogja. Sendirian. Kira-kira sudah setahun saya melewati masa kegalauan yang tak perlu saya ceritakan di sini apa penyebabnya. Saya hanya ingin jalan-jalan sendiri. Ke tempat yang agak jauh. Dan hati saya memilih untuk kembali ke Jogja. Namun, saat nongkrong bersama teman-teman semasa kuliah. Ada satu teman yang baru saja putus cinta. Galau lah dia. Karena paham betul bagaimana rasanya ditinggal cinta, saya pun menawarkan rencana perjalanan ke Jogja itu kepada teman saya ini. Awalnya dia menolak. Biaya untuk tiket kereta, makan, dan penginapan menjadi alasannya. Maklum lah. Baru lulus kuliah belum bisa mendapat pekerjaan yang oke. Lalu saya utarakan lah rencana saya selama di Jogja. Naik kereta ekonomi saja yang murah, makan di angkringan yang juga murah. Soal penginapan bagaimana? Nah, itu terus terang saya belum punya rencana akan tidur di mana. Hanya, yang saya percaya, tidur bisa ngemper di mana saja. Dan akhirnya kami tidur di gazebo di dekat Stasiun Tugu. Mandi di toilet umum di dekat situ juga. Cukup bayar Rp 5.000. Selama di Jogja, saya akhirnya menemani teman saya yang galau ini. Mau ke mana saja ayok. Saya antar. Meskipun kegalauan saya juga belum hilang sepenuhnya, saya dengan senang hati menghibur teman saya yang galau anyaran. Hehe... Saya antar di main ke Museum Affandi , pameran lukisan , dan ke Taman Sari. Total kami di Jogja selama tiga hari. (*)

  • Sosok-Sosok Penyendiri di Balai Seni Rupa Jakarta

    UDARA sejuk langsung terasa ketika memasuki gedung dengan delapan tiang besar di teras depannya ini. Udara Jakarta di luar sana yang panas memang sudah bisa menciutkan semangat. Tetapi, ketika memasuki ruang-ruang di galeri ini, semacam ada ”kesejukan batin” yang terasa. Karya-karya seni, mulai dari lukisan, seni instalasi, hingga keramik tepekur di tempatnya masing-masing. Jika dilihat dari catatan sejarah, gedung ini dibangun tanggal 12 Januari 1870. Awalnya, gedung ini difungsikan sebagai Kantor Dewan Kehakiman Pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia) oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat ini dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI. Gedung ini dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi pada 10 Januari 1972. Pada tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Wali Kota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta tanggal 20 Agustus 1976. Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Museum ini terletak di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Fatahillah itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia. Setelah menapaki tiga anak tangga dan lewat di antara tiang-tiang besar, pengunjung akan disambut dua patung setengah badan di sisi kiri dan kanan pintu masuk galeri. Patung di sisi kiri adalah patung dada S. Sudjojono, sementara di sisi kanan ada patung dada Raden Saleh Sjarif Bustaman. Sindoedarsono Soedjojono (Kisaran, Sumatera Utara, Mei 1913–25 Maret, Jakarta, 1985) merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Dengan diawali oleh Trisno Soemardjo, Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Julukan ini diberikan kepadanya karena Sudjojono adalah senimaan pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Ia biasa menulis namanya dengan ”S. Sudjojono”. Sementara Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807 atau 1811–23 April 1880) adalah pelukis Indonesia beretnis Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis. Di dinding depan bangunan itu juga ada prasasti peresmian gedung oleh Presiden Soeharto dan prasasti berisi sedikit keterangan tentang Balai Seni Rupa atas nama Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Untuk bisa menikmati karya-karya seni yang disimpan di galeri, pengunjung bisa memilih pintu di sebelah kiri, yaitu pintu masuk. Setelah masuk, pengunjung langsung berada di ruang 1. Di sana ada dena ruangan-ruangan yang ada di galeri. Di ruang 2 ada beberapa cat lukis. Pengunjung bisa menikmati lukisan ketika masuk ke ruang 3. Menariknya, di ruang 3 ini ada tangga yang langsung menuju ke lantai dua, di sana terletak ruang 10 dan 11. Di lantai dua itu terpajang beberapa lukisan karya Raden Saleh di ruang 10, sedangkan di ruang 11 ada beberapa lukisan karya S. Sudjojono. Setelah turun dan keluar dari ruang 3, pengunjung akan memasuki ruang 4. Di sana ada beberapa karya lukis dengan tema perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 oleh beberapa pelukis. Di ruang itu juga ada beberapa lukisan karya pelukis legendaris Affandi serta beberapa keramik. Saat menelusuri seluruh ruangan, pengunjung akan dihidangkan beberapa sejarah seni lukis dari zaman awal kemunculannya hingga lukisan modern. Selain lukisan, galeri itu juga memasang beberapa keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni kreatif kontemporer. Selain itu ada koleksi keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20. Secara keseluruhan, museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga sekarang. Koleksi-koleksi itu kemudian dibagi menjadi beberapa ruangan berdasar periodisasi, yaitu: • Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 – 1890) • Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an) • Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an) • Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 – 1945) • Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 – 1950) • Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an) • Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 – sekarang) Setelah ”mengubek-ubek” isi galeri, pengunjung akan melewati ukiran patung-patung Totem Asmat dan lain-lain. Di sekitar patung-patung kayu itu terdapat kursi-kursi yang bisa dijadikan tempat istirahat setelah lelah mengelilingi museum. Selain itu, di sekitar museum ada dua taman kecil yang asri. Hanya saja karena tidak beratap, tidak ada orang yang istirahat di situ, karena siang itu udara Jakarta memang sedang panas-panasnya. Meski begitu, pengunjung yang datang ke Balai Seni Rupa Jakarta ini bisa dihitung dengan jari. Maka, karya seni berupa lukisan, keramik, dan patung-patung ukiran itu menjadi sosok-sosok penyendiri yang terkurung dalam tempat bernama museum. Semoga mereka tidak kecewa. (*) *Dari berbagai sumber Jakarta

  • Stadhuis, Cikal Bakal Museum Fatahillah Jakarta

    STADHUIS dibangun tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Dalam bahasa Belanda, Stadhuis berarti Balai Kota. Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17, bergaya neoklasik, dengan tiga lantai bercat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin. Bangunan ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. ”Istana” ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua. Menurut catatan sejarah, gedung ini mulai dibangun sebagai gedung balai kota kedua pada tahun 1626 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Selain digunakan sebagai stadhuis, gedung ini digunakan sebagai ”Raad van Justitie” (dewan pengadilan). Pada tahun 1925-1942, gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Seperti umumnya di Eropa, gedung balai kota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan stadhuisplein. Menurut sebuah lukisan uang yang dibuat oleh pegawai VOC Johannes Rach yang berasal dari Denmark, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein. Awalnya, gedung ini hanya satu tingkat dan kemudian dibangun lagi. Karena tanah Jakarta sangat labil dan gedung berat, pada tahun 1648, gedung turun dari permukaan tanah sehingga kondisinya sangat buruk. Solusinya mudah, pemerintah Belanda tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut sebuah laporan, 5 sel di bawah gedung dibangun tahun 1649. Kemudian, Yayasan Oud Batavia memiliki rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia. Maka, pada tahun 1937 mereka mengajukan rencana itu dan kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co di sebelah timur Kali Besar, tepatnya di Jl Pintu Besar Utara No. 27 (kini museum Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini dibuka untuk umum tahun 1939. Pada tahun 1952, gedung ini menjadi markas Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Pada masa kemerdekaan, museum ini berubah menjadi Museum Djakarta Lama di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 Museum Djakarta Lama diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan di lokasi tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka, dengan bukti sejarah itu, air mancur dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973, Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu Taman Fatahillah untuk mengenang panglima Fatahillah, pendiri kota Jakarta. Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, kemudian meresmikan gedung ini menjadi Museum Fatahillah pada tanggal 30 Maret 1974. Museum Fatahillah juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum Fatahillah sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan sekadar tempat untuk merawat, memamerkan benda yang berasal dari periode Batavia, tetapi harus bisa menjadi tempat bagi orang Indonesia maupun asing, anak-anak, orang dewasa, bahkan bagi penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi. Untuk itu, Museum Fatahillah berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif. Selain itu, melalui tata pamernya, museum ini berusaha menggambarkan ”Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya”. Di tempat ini, pengunjung bisa menemukan objek-objek, antara lain, perjalanan sejarah Jakarta. Berdasar penggalian arkeologi, terdapat bukti bahwa permukiman pertama di Jakarta terdapat di tepi Sungai Ciliwung. Permukiman ini diduga berasal dari 2500 SM (Masa Neolothicum). Bukti tertulis pertama yang diketemukan adalah prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh Raja Tarumanegara pada abad ke-5. Prasasti merupakan bukti adanya kegiatan keagamaan pada masa itu. Pada masa berikutnya, sekitar abad ke-12, daerah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda dengan pelabuhannya yang terkenal, Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada masa inilah diadakan perjanjian perdagangan antara pihak Portugis dengan raja Sunda. Pada abad ke-17, perdagangan dengan pihak-pihak asing makin meluas. Pelabuhan Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta (1527) dan kemudian menjadi Batavia (1619). Tahun 1942 bangsa Jepang merebut kekuasaan dari tangan Belanda dan berkuasa di Indonesia sampai tahun 1945. Di Museum Fatahillah, pengunjung juga bisa melihat replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang M.H. Thamrin. Selain itu, ada berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Pengunjung juga bisa merasakan suasana ruang bawah tanah yang pada zaman penjajahan Belanda difungsikan sebagai penjara. Di kawasan bangunan itu juga diletakkan patung Dewa Hermes. Menurut mitologi Yunani, itu merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang. Patung itu tadinya ada di perempatan Harmoni. Ada pula meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Koleksi Museum Fatahillah Perbendaharaannya mencapai 23.500 buah yang berasal dari warisan Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum), hasil upaya pengadaan Pemerintah DKI Jakarta dan sumbangan perorangan maupun institusi. Terdiri atas ragam bahan material baik yang sejenis maupun campuran, meliputi logam, batu, kayu, kaca, kristal, gerabah, keramik, porselen, kain, kulit, kertas, dan tulang. Di antara koleksi yang patut diketahui masyarakat adalah Meriam si Jagur, sketsel, patung Hermes, pedang eksekusi, lemari arsip, lukisan Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda tahun 1602-1942, meja bulat berdiameter 2,25 meter tanpa sambungan, peralatan masyarakat prasejarah, prasasti, dan senjata. Koleksi yang dipamerkan berjumlah lebih dari 500 buah, yang lainnya disimpan di storage (ruang penyimpanan). Umur koleksi ada yang mencapai lebih 1.500 tahun khususnya koleksi peralatan hidup masyarakat prasejarah seperti kapak batu, beliung persegi, kendi gerabah. Koleksi warisan Museum Jakarta Lama berasal dari abad ke-18 dan 19 seperti kursi, meja, lemari arsip, tempat tidur dan senjata. Secara berkala dilakukan rotasi sehingga semua koleksi dapat dinikmati pengunjung. Untuk memperkaya perbendaharaan koleksi museum membuka kesempatan kepada masyarakat perorangan maupun institusi meminjamkan atau menyumbangkan koleksinya kepada Museum Fatahillah. Tata Pamer Tetap Dengan mengikuti perkembangan dinamika masyarakat yang menghendaki perubahan agar tidak tenggelam dalam suasana yang statis dan membosankan, serta ditunjang dengan kebijakan yang tertuang dalam visi dan misi museum, mengenai penyelenggaraan museum yang berorientasi kepada kepentingan pelayanan masyarakat, maka tata pamer tetap Museum Fatahillah dilakukan berdasar kronologis sejarah Jakarta, dan Jakarta sebagai pusat pertemuan budaya dari berbagai kelompok suku bangsa, baik dari dalam maupun dari luar Indonesia. Untuk menampilkan cerita berdasar kronologis sejarah Jakarta dalam bentuk display, diperlukan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan ditunjang secara grafis dengan menggunakan foto-foto, gambar-gambar dan sketsa, peta dan label penjelasan agar mudah dipahami dalam kaitannya dengan faktor sejarah dan latar belakang sejarah Jakarta. Sedangkan penyajian yang bernuansa budaya juga dikemas secara artistik dimana terlihat terjadinya proses interaksi budaya antarsuku bangsa. Penataannya disesuaikan dencan cara yang seefektif mungkin untuk menghayati budaya-budaya yang ada sehingga dapat mengundang partisipasi masyarakat. Penataan tata pamer tetap Museum Fatahillah dilakukan secara terencana, bertahap, skematis, dan artistik sehingga menimbulkan kenyamanan serta menambah wawasan bagi pengunjungnya. Aktivitas Sejak tahun 2001 sampai 2002, Museum Fatahillah menyelenggarakan Program Kesenian Nusantara setiap minggu ke-II dan ke-IV. Untuk tahun 2003, Museum Fatahillah memfokuskan kegiatan ini pada kesenian yang bernuansa Betawi yang dikaitkan dengan kegiatan wisata kampung tua setiap minggu ke-III setiap bulannya. Selain itu, sejak tahun 2001, Museum Fatahillah setiap tahunnya menyelenggarakan seminar mengenai keberadaan Museum Sejarah Jakarta baik berskala nasional maupun internasional. Seminar yang telah diselenggarakan, antara lain, seminar tentang keberadaan museum ditinjau dari berbagai aspek dan seminar internasional mengenai arsitektur gedung museum. Untuk merekonstruksi sejarah masa lampau, khususnya peristiwa pengadilan atas masyarakat yang dinyatakan bersalah, ditampilkan teater pengadilan dimana masyarakat dapat berimprovisasi tentang pelaksanaan pengadilan sekaligus memahami jiwa zaman pada abad ke-17. Aktivitas Yang Dapat Diikuti Pengunjung 1. Wisata Kampung Tua, minimal 20 Orang 2. Jelajah Malam Museum, minimal 20 Orang 3. Workshop Sketsa Gedung Tua, minimal 10 Orang 4. Nonton Bareng film-film Jadul, minimal 20 Orang 5. Pentas Seni ala Jakarta 6. Kunjungan ala tentara indonesia Fasilitas Perpustakaan: Perpustakaan Museum Fatahillah mempunyai koleksi buku 1200 judul. Bagi para pengunjung dapat memanfaatkan perpustakaan tersebut pada jam dan hari kerja museum. Buku-buku tersebut sebagian besar peninggalan masa kolonial, dalam berbagai bahasa. Di antaranya adalah bahasa Belanda, Melayu, Inggris, dan Arab. Yang tertua adalah Alkitab/Bible tahun 1702. Kantin Museum: Dengan suasana nyaman, kantin museum menawarkan makanan dan minuman khas Betawi. Souvenir Shop: Museum menyediakan cinderamata untuk kenang-kenangan para pengunjung yang dapat diperoleh di “souvenir shop” dengan harga terjangkau. Sinema Fatahillah: Menampilkan film-film dokumenter Zaman Batavia dan film populer dalam dan luar negeri. Musholla: Museum ini menyediakan musholla dengan perlengkapannya sehingga pengunjung tidak perlu khawatir kehilangan waktu salat. Ruang Pertemuan dan Pameran: Menyediakan ruangan yang representatif untuk kegiatan pertemuan, diskusi, seminar, dan pameran dengan daya tampung lebih dari 150 orang. Taman Dalam: Taman yang asri dengan luas 1000 meter lebih, serta dapat dimanfaatkan untuk gathering, resepsi pernikahan, maupun pentas seni. Museum ini terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat, dengan jarak tempuh sekitar satu jam dari tempat kos saya di Rawa Belong, Jakarta Barat. Waktu tempuh itu sudah dihitung dengan kemacetan di jalan pada pagi itu yang relatif sudah agak macet. Pagi yang cerah untuk jiwa yang merana, terjebak macet di cuaca yang panas. Tetapi, Museum Fatahillah sudah menjadi seperti air penghilang dahaga. Salam… (*) Jakarta

  • Kota Tua Jakarta yang Terus Berbenah

    PAGI ini, 4 Maret 2014, cuaca Jakarta begini cerah. Bahkan, sekitar pukul 09.00 udara sudah cukup panas. Padahal, belakangan ini Kota Metropolitan sering diguyur hujan. Memang hujan baru turun sekitar pukul 02.00 sampai pagi sekitar pukul 07.00, tetapi setelah ini cuaca berawan dan sedikit sejuk. Namun, pagi ini Jakarta menunjukkan wujud aslinya, panas dan tentu saja macet. Hampir tiga bulan menetap di kota ini, saya belum ”mengenal” Jakarta. Selama ini waktu yang saya habiskan hanya kerja-nongkrong-tidur-kerja-nongkrong-tidur lagi. Monoton memang. Tetapi, saya lebih menikmati hidup yang seperti ini. Ya, daripada harus berdesak-desakan di tengah kemacetan kota yang nauzubillah. Tetapi, lama kelamaan saya mulai jatuh cinta pada kota ini. Jadi, aku mulai belajar ”mengenalnya”. Kota Tua sebagai cagar budaya menjadi pilihan pertama. Untuk menuju lokasi ini memang tidak terlalu jauh, bisa dibilang dapat ditempuh selama satu jam (ini sudah dihining dengan jebakan-jebakan kemacetan) dari tempat kos. Sebagai warga pendatang, mendapati bangunan yang bukan gedung mewah perkantoran atau pusat perbelanjaan memang berkesan. Bangunan dengan arsitektur lama ini menjadi semacam oasis di tengah gurun. Selain memiliki arsitektur bernilai seni, kompleks bangunan ini juga memiliki sejarah yang tak kalah ”mewah”. Batavia Lama (Oud Batavia), begini kawasan ini dikenal. Sebuah wilayah kecil di belantara kota yang bertransformasi menjadi Kota Megapolitan. Memiliki luas area 1,3 kilometer persegi, kota kecil ini menjadi pusat perdagangan Benua Asia di sekitar abad ke-16. Ini dikarenakan letak wilayah ini strategis, yaini melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari, dan Roa Malaka). Karena ini, Jakarta Lama ini dijuluki sebagai “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur” oleh pelayar Eropa karena juga memiliki sumber daya melimpah. Setiap kota besar hampir selalu mengalami pergolakan dalam perkembangannya, begini juga Batavia Lama. Pada tahun 1526, Kesultanan Demak mengutus Fatahillah untuk menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran. Wilayah ini kemudian dinamai Jayakarta, hanya seluas 15 hektar dengan tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tidak sampai di sini. Berselang setahun kemudian, Jan Pieterszoon Coen, komandan VOC, menghancurkan Jayakarta pada tahun 1619. Setelah penghancuran ini, muncullah nama Batavia yang terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung (saat ini Lapangan Fatahillah). ”Metamorfosis” ini terjadi setahun setelah penghancuran. Kemudian, nama baru ini diambil untuk menghormati leluhur bangsa Belanda, Batavieren. Nama inilah yang kemudian menjadi cikal bakal suku ”Betawi”, yang terdiri atas etnis kreol, turunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia. Nama Batavia sendiri diambil dari kata ”Batavianen”, sebutan untuk penduduk Batavia. Seiring berjalannya tahun, wilayah Batavia semakin luas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Ini terjadi pada tahun 1635. Gaya arsitektur Belanda dipilih untuk membangun kota ini. Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650, lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal yang memisahkan beberapa blok. Kanal-kanal dibuat karena muncul wabah tropis di dalam dinding kota akibat sanitasi buruk. Setelah epidemi tahun 1835 dan 1870, wilayah kota ini semakin meluas hingga wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Ini terjadi karena banyak orang ”mengungsi” akibat wabah tersebut. Kota yang sekaligus menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur ini kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Foto: 16 Juni 2015 Batavia masuk ke dalam babak baru ketika Jepang mulai mendudukinya tahun 1942. Tahun ini juga bisa dijadikan tonggak penting negara Indonesia, di mana Batavia diganti menjadi Jakarta, dan tetap menjadi ibu kota hingga kini. Pecinta sejarah dan bangunan tua mau tidak mau harus berterima kasih kepada gubernur pertama Jakarta, Ali Sadikin. Sebab, lewat dekritnya, Kota Tua resmi menjadi sinis warisan budaya pada tahun 1972. Dekrit ini memiliki misi ”suci”, yaini melindungi sejarah arsitektur kota. Ya, meskipun pada akhirnya generasi penerus menjadi perusak yang potensial. Atas nama pembangunan dan modernitas, beberapa bangunan warisan era kolonial Belanda dinimbangkan dan diganti dengan bangunan-bangunan baru, yang mungkin lebih ”komersial” serta ”mendesak dan tidak bisa dicegah”. Istana Daendels (sekarang Departemen Keuangan Nasional) berdiri gagah, dengan mengorbankan Benteng Batavia (antara tahun 1890–1910) yang mungkin dianggap tak bernilai lagi. Ya, meskipun beberapa material bangunan lama masih dimanfaatkan untuk pembangunan gedung baru. Selanjutnya, demi alasan memperlebar jalan, Gerbang Amsterdam (lokasinya di pertigaan Jalan Cengkeh, Jalan Tongkol dan Jalan Nelayan Timur) diratakan dengan tanah tahun 1950-an. Kemudian, karena dinilai menjadi biang kemacetan, Presiden Soekarno memerintahkan untuk menimbun jalur Trem Batavia dengan aspal. Beberapa bangunan lainnya yang tak terawat seperti hanya menunggu giliran untuk disingkirkan, sebut saja Museum Sejarah Jakarta (bekas Balai Kota Batavia, kantor dan kediaman Gubernur Jenderal VOC), Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Hotel Omni Batavia. Meski begini, bukan berarti tak ada orang yang benar-benar tidak peduli terhadap cagar budaya tersebut. Walaupun sedikit, masih ada pihak yang ingin menjaga dan melestarikan warisan budaya yang tak ternilai harganya ini. Hal ini terlihat mulai 2007. Beberapa jalan di sekitar Lapangan Fatahillah seperti Jalan Pintu Besar dan Jalan Pos Kota, dinitup sebagai tahap pertama perbaikan. Tetapi, perbaikan memang tidak mudah. Material bangunan yang tua dan mungkin keropos memang rentan rusak. Karena ini, ketika kemarin saya berkunjung ke Kota Tua, beberapa unit bangunan sedang direnovasi. Jaring-jaring penahan konstruksi masih terpasang, pekerja juga masih sibuk memoles bangunan yang sudah keriput. Puluhan beton berbentuk bulat juga diletakkan di beberapa sudat Kota Tua, untuk menutup sebagian akses jalan untuk keperluan renovasi. Antusiasme warga terhadap bangunan cagar budaya juga bisa dibilang lumayan. Karena siang ini, meskipun siar matahari di langit Jakarta begini menyengat. Banyak rombongan yang berkunjung. Mulai dari rombongan siswa taman kanak-kanak, pelajar SMA, serta ibu-ibu dan bapak-bapak meramaikan tempat ini. Siang ini memang tidak terlalu ramai, karena memang tempat ini baru ramai dikunjungi wisatawan ketika hari sudah mulai sore, ketika panas tak begini menyengat, atau ketika hari libur. (*) Jakarta

bottom of page