Tubuh yang Terbakar
LAMPU di rumah Yu Sum tiba-tiba padam. Sementara lampu di rumah-rumah tetangganya tetap terang. Darah Yu Sum naik dengan cepatnya. Otaknya mendidih seperti lava yang siap meletus. Sudah berkali-kali lampu di rumahnya padam. Dia tidak bisa menyalahkan PLN karena kabel listriknya tidak terhubung langsung dengannya. Selama ini dia mendapatkan aliran listrik dari rumah Bu Mar, tetangga jauhnya.
Bu Mar memang tergolong orang kaya di desanya. Sebagai warga pendatang, dia sulit bergaul dengan warga lain. Tidak seorang pun tahu asal janda kaya itu. Dia tinggal sendirian di rumah yang cukup besar. Waktunya dihabiskan di dalam rumah. Karena itu, banyak warga yang kaget ketika mendengar bahwa Yu Sum, warga yang tergolong miskin, mendapat aliran listrik dari Bu Mar.
Kalau ada orang yang menanyakan hal itu kepada Yu Sum, jawaban akan sama, ’’Saya bayar sepuluh ribu setiap bulan.’’
Begitu mendengar jawaban Yu Sum, mereka ingin menemui Yu Mar dengan muka semangat. Mereka juga mau listrik murah seperti Yu Sum.
Setelah kejadian padamnya lampu itu, Yu Sum tidak bisa bersabar lagi. Langkahnya ringan seperti mengambang di udara dan dengan cepat dia sampai di rumah Bu Mar. Dia gedor pintu berkali-kali. Bu Mar membuka pintu. Dengan nada tinggi Yu Sum bertanya, ’’Kenapa sampean putus lagi listriknya?”
’’Sampean sudah enam bulan belum bayar.”
Jawab Bu Mar datar. Seperti sudah bosan mendengar protes Yu Sum.
’’Aku kan sudah bilang ke sampean, bulan depan saya lunasi semuanya!’’
Nada suaranya meninggi.
’’Bulan kemarin dan kemarin-kemarinnya lagi sampean juga bilang begitu.’’
’’Rumahku yang sepetak itu sebagai jaminannya kalau saya tidak bisa melunasi!’’
Kata Yu Sum semakin emosional.
Bulan sudah berganti, lampu di rumah Yu Sum kembali padam. Wanita lima anak itu tidak menepati janji lagi. Dia berang dan memuntahkan makian-makian tajam dan sumpah serapah kepada Bu Mar. Dia tidak berani menemui Bu Mar. Takut ditanya soal surat-surat rumah yang sudah dijadikan jaminan. ’’Kenapa lagi lampu di rumahmu, Yu?” Tanya salah satu tetangga.
’’Ah, sudah nasib orang miskin seperti saya, Yu.”
’’Maksudnya?”
Dia mulai mengarang cerita bohong yang menjelek-jelekkan Bu Mar. Dia bercerita kalau sebetulnya kekayaan Bu Mar tidak halal. Dia jarang keluar rumah dan tidak bekerja apa-apa tetapi bisa kaya karena memelihara tuyul. Dia bercerita kalau dia pernah diminta menemani Bu Mar mencari tempat untuk membeli tuyul. Imbalannya lumayan, diberi uang bulanan serta listrik gratis. Untuk itu, Yu Sum hanya diminta untuk tutup mulut dan nikmati fasilitas plus-plus itu.
’’Gratis? Katanya dulu sampean bilang harus bayar lima ribu rupiah setiap bulan?”
Yu Sum agak tercenung mendengar pertanyaan itu. Tapi yang namanya Yu Sum tak pernah kehabisan akal. Dia tidak perlu berlama-lama terjebak kecemasan. Dia kemudian kembali membual.
’’Ya itu kata Bu Mar. Saya harus tutup mulut. Jadi ngarang cerita lah saya.’’
’’Sampean mau disuap seperti itu?”
’’Mau apa lagi. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku butuh uang dan listrik.’’
’’Sampean lebih mementingkan listrik, padahal haram. Nauzubillah…’’
’’Alhamdulillah… Sekarang saya sadar, insaf...”
Tetangga yang rajin ikut pengajian itu pun tersenyum mendengar pertobatan Yu Sum. Dia merasa adem menyaksikan saudara seimannya hijrah ke jalan yang benar, Yu Sum. Seperti ada cahaya kebenaran yang menaunginya. Sementara itu, kepada Bu Mar, orang itu memendam kejengkelan. Kemusyrikan harus ditumpas.
Sejak saat itu, mau tidak mau, Yu Sum harus rajin salat ke masjid. Demi memenuhi ajak tetangga yang rutin ikut pengajian itu. Sudah kadung menjadi aktor, berakting sekalian. Yu Sum juga kadang-kadang mulai ikut pengajian. Tak lupa, disisipi gosip tentang tuyul Bu Mar di sela-sela pengajian, atau setelah bubaran.
Orang-orang yang melihat Yu Sum hijrah secara istiqamah pun terperangah. Mereka ingin tahu cerita perjalanan batin Yu Sum hingga menemukan cahaya. Meski rumahnya gelap karena padam listrik, ada sinar Illah yang meneranginya. Pikir mereka. Dan tak ada yang lebih indah dari itu.
’’Alhamdulillah Yu Sum sekarang rajin salat, ikut pengajian pula,’’ kata salah satu jamaah.
’’Iya, Alhamdulillah.’’
’’Dapat hidayah dari mana, Yu?’’ tanya yang lain.
’’Seperti kata Pak Ustad, Tuhan bisa mendatangkan hidayah-Nya lewat mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”
Jawab Yu Sum serius. Padahal hatinya meringis.
’’Dari mana sampean mendapatkannya?”
’’Dari mimpi.’’
’’Mimpi?’’
’’Iya. Waktu itu saya mimpi didatangi dua orang tua yang berpakaian serbaputih. Bahkan rambut, alis, kumis, dan jenggotnya pun putih. Mereka membawaku ke sebuah tempat. Saya bertanya kepada salah seorang itu, mau dibawa ke mana saya? Dia bilang, mereka akan membawa saya ke surga!”
’’Ke surga?”
’’Iya. Tapi sebelum masuk, saya terbangun. Saya mengalami mimpi yang sama berkali-kali. Sejak itu saya bersihkan hati ini dari kotoran batin. Setelah itu saya mimpi lagi sudah di dalam surga.’’
’’Apakah ini benar-benar hidayah, Ustad?’’ Tanya jamaah lain begitu menyadari ustad yang mengisi pengajian hari itu datang. Pak Ustad hanya tersenyum dan berkata insya Allah.
’’Alhamdulillah, semoga Yu Sum bisa khusnul khotimah,’’ kata yang lain.
’’Hus, saya belum mau mati,’’ sahut Yu Sum cepat.
Sore hari, di sebuah pengajian akbar yang diselenggarakan kepala desa, Yu Sum kembali berkisah tentang turunnya hidayah kepadanya. Ceritanya tetap sama. Lebih dari itu, dia mulai memprotes praktik syirik Bu Mar yang dikatakan memelihara tuyul untuk kekayaan. Dia meminta para warga mengambil tindakan sebelum azab Tuhan turun. Hampir semua warga pun setuju. Kemusyrikan harus ditindak.
Mereka pun berbondong-bondong mendatangi rumah Bu Mar. Melihat usahanya berhasil, Yu Sum tersenyum puas. Seruan Pak Kades dan Pak Ustad agar warga menahan emosi tak dihiraukan lagi. Yu Sum memimpin barisan penegak kebenaran itu.
Dalam perjalanan ke rumah Bu Mar, beberapa warga sempat mengambil jeriken-jeriken berisi minyak tanah dan korek api. Pak Kades dan Pak Ustad hanya bisa berteriak agar warga menahan amarah. Tapi percuma.
Mereka sudah berkumpul di depan rumah Bu Mar. Pak Kades dan Pak Ustad masih berusaha mendinginkan warga.
’’Saudara-saudara, sabar. Kita tabayun dulu dengan Bu Mar.’’
Seru Pak Ustad.
’’Saudara-saudara, beri kesempatan kepada saya dan Pak Kades untuk bicara enam mata dengan Bu Mar.’’
Sesama warga saling bertatap sebentar, kemudian mengangguk. Pak Kades mengetuk pintu rumah Bu Mar dengan salam berkali-kali. Namun, dari dalam rumah tak ada jawaban. Di sore itu, rumah Bu Sum masih dalam kondisi gelap. Pak Kades mencoba lagi. Tapi tetap tak ada suara.
’’Percuma, Pak Kades! Dia tidak akan keluar!” teriak Yu Sum, tidak sabar.
’’Langsung bakar saja!” teriak yang lain.
Warga semakin beringas. Yu Sum memberikan komando dengan berapi-api.
Pak Kades dan Pak Ustad semakin tak berdaya.
Mereka dengan cepat merangsek. Tutup jeriken-jeriken dibuka. Takbir menggema. Dengan cepat mereka menyiramkan minyak tanah ke rumah Bu Mar. Dengan sekali sulutan korek api, terbakarlah rumah Bu Mar. Api membubung tinggi. Terpancar rasa puas di wajah para warga, lebih-lebih Yu Sum. Sakit hatinya kini terbalaskan.
Pak Kades dan Pak Ustad hanya bisa menatap nanar pada api yang membakar. Api dengan cepat melahap rumah Bu Mar, menyisakan puing-puing yang berserakan.
Warga bersorak. Mereka membubarkan diri sebelum api benar-benar padam. Pak Kades dan Pak Ustad masih berdiri di tempatnya. Mata mereka berair. Sesekali mereka saling bertatap, lalu kembali memandangi rumah yang hanya menyisakan arang itu. Begitu api tinggal titik-titik nyala, mereka mulai melangkah memasuki rumah yang tinggal sisa saja. Mereka memasuki salah satu bilik dan mendapati sosok yang dicari. Tak henti-henti mereka beristighfar. Di hadapan mereka, tubuh perempuan itu terbakar dalam keadaan sujud. ¤
Surabaya, 29 April~1 Mei 2008