top of page

Telaga Anjing

SEBELUM kejadian kemarin itu, penduduk kampung Wotan hidup dalam damai dalam kesederhanaan. Penduduk di kampung ini tak lebih dari seratus kepala keluarga. Mereka hidup hanya dengan mengandalkan sawah. Nama kampung kami memang tak begitu akrab di telinga orang-orang. Tapi, keberadaan kami benar-benar nyata. Kami bukanlah liliput yang hidup di batang-batang jamur atau pohon-pohon kerdil di kampung antah berantah.

​

Kampung Wotan terletak di antara hamparan ladang, persawahan, dan hutan-hutan yang tersembunyi. Sepanjang hari –mulai pagi sampai menjelang sore– banyak dihabiskan warga yang menggantungkan hidup sebagai seorang petani untuk menggarap sawah dan ladang. Dan ketika hari berganti malam, hanya ada kesunyian dan mambang yang berkeliaran.

​

Tapi, ketenangan yang tampak kekal itu tiba-tiba hilang. Tanpa sebab yang pasti, saat bulan tepat di atas rumah-rumah kami, sekawanan anjing menyerbu telaga dengan lolongan yang mengerikan. Rumahku yang agak jauh dari telaga itu memang tak bisa begitu terganggu. Tapi beberapa warga di dekat telaga itu mengaku tak bisa tidur semalaman. Kedatangan sekawanan anjing malam itu membuat heran seluruh kampung.

​

Sekawanan anjing itu kembali menyerbu pada malam-malam yang lain. Mungkin itu ada kaitannya dengan hilangnya Suroto, sahabatku, anak dari keluarga Bapak Ngasem, sehari sebelumnya. Bisa jadi Suroto meninggal dan mayatnya teronggok di sekitar telaga itu. Tapi, esok harinya, warga yang mendatangi telaga dan menyisir di sekelilingnya tak menemukan apa-apa. Hanya ada bekas cakaran di pohon jarak di dekat telaga.

​

Hilangnya Suroto dan datangnya sekawanan anjing itu menjadi awal petaka yang lain. Beberapa pemuda kampung menyusul hilang. Lenyap ditelan malam. Kebanyakan yang hilang adalah pemuda yang menggembalakan hewan ternak, dan kemalaman di jalan saat hendak pulang. Tapi menduga Suroto dan anak lain mati dimangsa anjing-anjing itu rasanya tidak mungkin. Sebab, tidak ada bekas atau tanda-tanda yang mendukung kecurigaan itu.

​

Ibu pun mulai melarangku keluar rumah selepas magrib walau hanya untuk membeli. Ketika berdiam diri di rumah, kudengar dari cerita bapak tentang hilangnya anak-anak dari kampung kami. Mungkin itu ada kaitannya dengan isu yang berkembang akhir-akhir ini.

’’Selat Madura sedang meminta tumbal,’’ kata bapak di malam yang ganjil.

​

Aku tiba-tiba merinding.

​

Ini berkaitan dengan akan dibangunnya jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura. Jembatan itu sudah lama diwacanakan, tapi tak kunjung dibangun.

​

’’Jembatan itu minta fondasi awal berupa kepala-kepala manusia,’’ lanjut bapak.

​

Meski kampung kami sangat jauh dari Selat Madura, itu tak menjamin kami aman. Orang-orang itu disebut berkeliling Pulau Jawa, bahkan ke pulau-pulau di sekelilingnya, untuk mencari kepala.

​

’’Kepala yang terkumpul belum mencukupi.’’

​

’’Kenapa harus kepala?” tanyaku.

​

’’Beton saja tidak cukup. Selat Madura minta sedekah demi keamanan bersama. Kalau tidak begitu, nanti yang kena adalah para pekerja dan pengguna jembatan.”

​

Berkaitan dengan itu, bapak juga bercerita tentang pemberontakan di Madiun pada tahun 1965–1966. Memasuki tahun 1980-an, dampak goro-goro itu masih bisa dirasakan di kampung kami. Sebab, tidak jauh dari kampung –tepatnya di sebuah jembatan yang membelah hutan jati– terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang yang dianggap simpatisan komunis.

​

Saat ditemukan, mayat-mayat yang berjumlah puluhan itu tak utuh lagi. Semua kepalanya telah hilang. Misteri hilangnya kepala-kepala itu tetap gelap hingga memasuki tahun 1990-an. Proyek besar sudah direncanakan.

​

Cerita bapak belum tentu benar seratus persen. Tapi, itu sudah cukup untuk membuatku berpikir bahwa Suroto dan pemuda lain hilang karena proyek itu. Apalagi ada kabar yang berkembang bahwa rencana pembangunan jembatan itu ditolak warga setempat. Beberapa penolak akhirnya hilang.

​

Warga kampung yang sebelumnya guyub akhirnya saling curiga. Warga luar kampung yang bertandang –meskipun sangat jarang– pun tak lepas dari tatapan curiga. Beberapa orang luar kadang datang untuk membeli hasil bumi untuk dijual ke kota atau daerah lain. Kalau bicara orang yang paling dicurigai di kampung kami, ada satu sosok. Dialah Wak Tasripin. Dia adalah warga asli kampung kami. Tapi Tasripin muda meninggalkan kampung saat bekerja dan menikah di kota. Bertahun-tahun kemudian, dia kembali ke kampung kami. Dengan sosok yang sudah menjadi tua. Seorang diri.

 

***

 

Misteri hilangnya beberapa pemuda di kampung kami selanjutnya menjadi teror yang seakan tak pernah terkuak. Polisi yang diharapkan bisa memecahkan masalah justru tak banyak membantu. Mereka hanya datang sekali dan tak pernah kembali.

​

Setiap orang di sawah menjadi lebih sering membicarakan perihal hilangnya para pemuda kampung kami. Mereka yang biasanya pulang menjelang magrib pun bergegas lebih cepat. Sebelum ashar, mereka sudah duduk manis di teras rumah. Mereka tak mau berpapasan dengan malam.

​

Ketika akan pulang melewati telaga, aku berpapasan dengan Wak Tasripin di bawah pohon jarak yang ranting dan dahan-dahannya menjulur hampir menyentuh rerumputan. Seperti tangan-tangan iblis menjenguk semesta. Dia sedang mengamati baret-baret di batang pohon itu.

​

’’Sedang apa, Wak?”

​

Wak Tasripin sedikit kaget mengetahui kedatanganku yang tiba-tiba.

​

’’Ah, kau rupanya. Bikin kaget saja.”

​

’’Aku mau pulang, tapi melihat Wak di sini.’’

​

’’Bisa kau pikirkan kenapa anjing-anjing itu berisik setiap malam hanya untuk mencakar-cakar pohon ini?”

​

Aku tangkap kata-kata Wak Tasripin bukan sebagai pertanyaan yang mesti kujawab.

​

’’Kau ada waktu?” tanya Wak Tasripin kemudian. Aku berpikir sejenak. Dia kemudian melanjutkan, ’’Kalau ada waktu, mampir sebentar ke rumah.”

​

Aku menerima undangan Wak Tasripin. Mungkin dia kesepian dan butuh teman untuk sekadar mengobrol. Ketika Wak Tasripin pindah ke kota, aku masih terlalu kecil untuk mengingatnya. Aku hanya sedikit tahu tentang dia lewat cerita orang tua, atau juga tetangga.

​

Sesampai di rumah Wak Tasripin, aku dipersilakan duduk di teras. Dia kemudian masuk ke rumah dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa minuman. Air putih dan ketela rebus. Sambil duduk, sesekali aku amati rumah kayu Wak Tasripin yang sudah reyot. Keropos sana-sini dimakan rayap. Dengan kondisi seperti ini, sekali tiupan angin ribut bisa saja merobohkan rumah ini.

​

’’Tubuhku sudah terlalu tua untuk membetulkan rumah ini.”

​

’’Menurut Wak Tasripin, kenapa anjing-anjing itu datang ke telaga setiap malam? Aku heran saja, sebelumnya tak pernah terjadi hal seperti itu.”

​

’’Siapa bisa tahu maksud anjing.’’

​

Aku diam. Aku tidak punya pertanyaan. Antara segan dan menyimpan kecurigaan.

’’Saya turut simpati tentang Suroto, temanmu.’’

​

’’Terima kasih, Wak.’’

​

Kami diam.

​

Selama menunggu Wak Tasripin kembali berbicara, terdengar lagu mengalun dari celah-celah dinding sesek di belakangku. Badai selatan berikanlah gelaran harapan cinta bahagia, musnah harapan ditelan gelombang. Lagu yang suaranya tak begitu jernih itu keluar dari radio yang dibawa Wak Tasripin dari kota, begitu kata Wak Tasripin.

​

Setelah memberi tahu perihal radio itu, Wak Tasripin kembali berbicara.

​

’’Saya tahu, warga kampung ini mencurigai saya ada di balik kegaduhan ini.’’

​

Mendengar itu, aku tak tahu harus berkata apa. Aku merasa ditebak. Karena aku juga menjadi bagian warga kampung ini. Dan memang demikian.

​

Wak Tasripin kemudian bercerita panjang lebar. Aku akan mengulanginya sesuai yang aku ingat.

 

Berakhirnya tahun 1965, memasuki tahun 1966, dan tahun-tahun sesudahnya, harapan semua orang tentang jaminan keamanan semakin membuncah. Tidak terkecuali di Surabaya. Efek pemberontakan di Madiun pasti tak bisa dirasakan secara nyata di sini. Tapi, dampak dari semua itu bisa saya rasakan di seluruh kota.

​

Meskipun tahun 1965 dan 1966 sudah jauh tertinggal di belakang, kegaduhan itu masih mengancam sekitar tahun 1990-an. Menurut berita yang berembus, pencarian orang-orang berseragam terhadap sisa-sisa orang yang terlibat pergerakan di Madiun dan pembentukan kembali sebuah perlawanan di Blitar Selatan masih gencar dilakukan. Orang-orang yang kalah di Madiun dan Blitar Selatan melarikan diri ke kota lain untuk bersembunyi. Perlahan-lahan mereka menggalang kekuatan baru.

​

Surabaya menjadi salah satu kota yang aman untuk tempat persembunyian. Begitu orang-orang berseragam menggencarkan pencarian, Surabaya menjadi tak aman lagi.

​

’’Itu sebabnya Wak kembali ke kampung ini?”

​

’’Itu bisa jadi salah satu alasannya.”

​

’’Kalau begitu Wak punya alasan lain?”

​

’’Anak dan menantuku hilang entah ke mana. Di kota saya tak punya siapa-siapa lagi. Jadi saya pulang.’’

​

’’Apa ini ada hubungannya dengan hilangnya Suroto dan lainnya?”

​

’’Saya rasa Suroto dan lainnya diculik,” kata Wak Tasripin, mencoba menduga.

​

’’Diculik? Oleh siapa?’’

​

’’Mereka butuh kaderisasi untuk meneruskan perjuangan. Perjuangan petani! Rakyat kecil!”

​

Aku sangsi. Rentang tahun pemberontakan dengan sekarang sangat jauh.

​

’’Itu sudah lama berlalu, Wak, tidak mungkin.”

​

’’Anak muda sepertimu tak banyak tahu. Kau dengar di radio? Di Jakarta sedang gonjang-ganjing. Di sana para pemuda sedang berjuang menggulingkan pemerintah, memberontak!”

​

’’Suroto dan yang lainnya dikirim ke sana?”

​

’’Mungkin saja.’’

​

’’Lalu bagaimana dengan isu pembangunan jembatan di Selat Madura yang butuh kepala manusia sebagai sedekah laut?”

​

Mendengar pertanyaan itu, Wak Tasripin tertawa cukup keras.

​

’’Saya sudah tinggal lama di Surabaya. Tidak ada berita seperti itu. Sudahlah, temanmu dan lainnya tak akan kembali.’’

​

Hari menjelang sore. Aku pun pamit pulang kepada Wak Tasripin. Dia mempersilakan sambil berpesan kalau mau aku boleh mampir lagi kapan-kapan. Aku hanya mengangguk.

​

Bapak yang tahu perihal persinggahanku ke rumah lelaki tua itu pun memberikan nasihat.

​

’’Seharusnya tak perlu mampir,’’ kata bapak.

​

’’Menolak undangan tak enak.’’

​

’’Orang itu gila. Mana ada orang waras yang berbicara dengan pohon?”

​

’’Dia memang aneh, cerita tak keruan.’’

 

Sebulan sejak menghilangnya Suroto dan lainnya, sekawanan anjing itu tetap menyerbu telaga. Menurut kiai dan orang pintar yang sudah ditanyai, Suroto dan lainnya sudah meninggal. Hanya keberadaan jasad mereka belum diketahui. Pencarian yang dilakukan selama ini tak menemukan hasil.

​

Kecurigaan kami tak bergeser dari seputaran telaga, sumber berkumpulnya sekawanan anjing itu setiap malam. Namun, tetap tak ditemukan adanya tanda-tanda kematian.

​

Beberapa hari kemudian, kiai kampung, tetua, dan warga mengadakan perkumpulan di musala. Wak Tasripin yang beberapa hari belakangan tak terlihat tidak datang memenuhi undangan. Kami hendak mengadakan salat jenazah dan mengirim doa untuk Suroto dan lainnya. Malam setelah salat isya berjamaah, dari arah telaga terdengar salak anjing yang bersahut-sahutan.

​

Sesuai kesepakatan, kami bergegas menuju telaga untuk memastikan. Kami ingin kegaduhan ini segera berakhir. Kami ingin mengusir anjing-anjing itu. Dengan obor sebagai penerangan, kami membelah malam menuju telaga. Namun, apa yang terlihat kemudian, anjing-anjing itu menyalak sambil mengelilingi rumah Wak Tasripin. Mondar-mandir.

​

Anjing-anjing itu berputar-putar seperti berusaha mencari jalan masuk rumah. Ada yang mencoba mencabik-cabik lubang dinding dari sesek. Ada juga yang menunggu di depan pintu dengan terus menggonggong dan menjulurkan lidah.

​

’’Kenapa anjing-anjing itu menyerbu rumah Wak Tasripin?” tanya salah seorang warga.

​

’’Jangan-jangan…”

​

’’Jangan-jangan apa?”

​

’’Mayat Suroto dan lainnya ada di dalam rumah itu?”

​

Semua warga hanya bisa menduga-duga. Sementara aku hanya memikirkan Wak Tasripin yang tua. Mungkin dia sedang meringkuk di dalam rumah. Ketakutan diserbu sekawanan anjing itu. Namun, tak ada suara minta tolong dari dalam rumah.

​

Semakin malam, anjing-anjing itu semakin banyak saja. Kami akhirnya berusaha mengusir anjing-anjing itu dengan senjata obor. Meski susah payah, kami berhasil. Anjing-anjing itu hilang ditelan malam. Mungkin kembali ke hutan. Atau mungkin tetap memantau dengan mata nyalang di balik kegelapan.

​

Kami terkejut. Saat masuk, kami menemukan tubuh tua Wak Tasripin sudah tergantung. Lehernya tersangkut tali tambang yang diikat di langit-langit rumah. Dia bunuh diri.

 

***

 

Satu minggu berlalu. Wak Tasripin mati bunuh diri atau dibunuh masih menjadi misteri. Sebagaimana Suroto dan lainnya. Misteri kematian Wak Tasripin menjadi obrolan baru.

​

’’Kenapa Wak Tasripin bunuh diri?”

​

Sejak kematian Wak Tasripin, anjing-anjing itu masih menyerbu telaga setiap malam. Begitu musim berganti kemarau, kegaduhan itu semakin terasa. Di telaga. Air telaga perlahan-lahan surut dan malam-malam menjadi semakin gaduh.

​

Beberapa hari kemudian baru diketahui penyebab anjing-anjing itu menyerbu telaga. Tercium bau sangat menyengat. Bau busuk menyeruak dari dasar telaga. Ditemukan empat mayat yang terkubur lumpur. Warga histeris.

​

Setelah dievakuasi, kaki empat mayat tersebut terikat tali tambang yang diikatkan pada sebuah batu besar. Batu besar itulah yang membuat mayat-mayat itu membisu di dasar telaga. Yang membuat kami heran, tali-tali pada empat mayat itu sama dengan tali yang dipakai Wak Tasripin untuk gantung diri. Sementara itu, dari kejauhan, sekawanan anjing-anjing yang setiap malam menyerbu telaga tetap mengintai seakan-akan bersiap menunggu waktu yang tepat untuk menyerbu telaga anjing. ¤

 

 

Surabaya, 1~15 Januari 2011

bottom of page