top of page

Sarip Tak Mati-Mati

PELAJARAN segera dimulai. Pak Baki sudah berada di balik mejanya. Pak Baki adalah guru sejarah yang ketika bercerita air liurnya ikut tersembur. Maklum saja, sebagian gigi depannya telah tumpas digerus nikotin. Saat bercerita, matanya yang sudah sedikit rabun sering terlihat melotot di balik kaca mata besarnya. Anak-anak kasak-kusuk menggeser pantatnya di atas kursi untuk menemukan posisi duduk ternyaman. Mereka menunggu dengan tidak sabar. Anak-anak kelas II SD yang diajar Pak Baki biasanya diam saat cerita dimulai dan bersorak gembira ketika pelajaran usai.

​

Setelah bertahun-tahun mengajar, kegemilangan Pak Baki sebagai guru sejarah baru didapat beberapa tahun terakhir saja. Sebelumnya, Pak Baki tidak terlalu bersemangat ketika memberikan pelajaran sejarah tentang hari kemerdekaan, tanggal-tanggal penting, presiden-presiden nasional, atau tentang kepahlawanan. Hal itu dikarenakan anak-anak terkesan cepat bosan dan lebih senang bergurau sendiri. Lama-lama Pak Baki sadar, harus ada cara lain dalam mengajar agar murid-muridnya tertarik. Pak Baki putar otak untuk menemukan cara.

​

Semua berawal saat Pak Baki memulai pelajaran dengan sebuah cerita: sejarah lontong balap. Anak-anak bersorak-sorai saat dengan penuh semangat Pak Baki mempraktikkan bagaimana dulu penjual lontong balap dengan pikulan di pundak berlari saling salip. Seperti angkot mungkin, di bayangan anak-anak. Atau mereka ketakutan dan meringkuk di bawah meja masing-masing saat Pak Baki bercerita tentang rawon setan.

​

’’Anak-anak, hari ini bapak akan bercerita tentang sejarah Sura-baya,’’ kata Pak Baki memulai pelajaran. Anak-anak tak memberi respons.

​

Dalam pikiran mereka, yang akan diceritakan Pak Baki pasti tak jauh-jauh dari perang di Surabaya. Pak Baki tidak terlalu gusar dengan sikap anak-anak didiknya. Karena dia yakin, saat cerita dimulai, mereka akan bersemangat dan mendengarkan dengan antusias.

​

Anak-anak yang awalnya tidak memberi respons berubah menjadi tegang saat Pak Baki bercerita tentang ikan hiu dan buaya yang terus-terusan berkelahi untuk memperebutkan daerah kekuasaan. Dalam bercerita, Pak Baki menggunakan kedua tangannya laiknya dua binatang itu.

​

Wajah anak-anak terlihat tegang saat Pak Baki mempraktikkan perkelahian dengan mengadu dua tangannya. Di penghujung cerita, Pak Baki meletakkan kedua tangannya di atas meja seraya berkata, ’’Dalam pertarungan dahsyat ini, si buaya mendapat gigitan hiu sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Sementara hiu sura juga tergigit ekornya hingga hampir putus. Buaya puas dapat mempertahankan daerahnya.’’

​

Anak-anak bertepuk tangan. Ada juga yang sampai melompat-lompat kegirangan. Pak Baki tersenyum melihat anak-anak didiknya senang lalu bergegas merapikan buku-buku. Tapi, di antara anak-anak yang sedang sibuk menata buku dan alat tulis, ada yang melontarkan sebuah pertanyaan.

’’Minggu depan cerita apa, Pak?”

​

Pak Baki mengangkat kepala dan berusaha mencari-cari wajah anak yang melontarkan pertanyaan itu. Pak Baki menemukan sosok Syarifuddin berdiri di samping mejanya. Anak itulah yang selalu bersemangat ketika Pak Baki bercerita tentang sejarah, legenda, maupun mitos tentang kota yang tidak banyak orang tahu. Pak Baki berpikir sejenak. Dia juga belum sepenuhnya tahu cerita apa yang akan dia sampaikan pada pertemuan berikutnya.

​

’’Sejarah Sarip!”

​

Pak Baki menenteng tas, lalu keluar kelas. Keluarnya Pak Baki kemudian diikuti oleh anak-anak lain yang berhamburan berebut keluar kelas. Sementara itu, Syarifuddin masih berdiri di tempatnya semula, mencoba menerka-nerka cerita apa yang hendak disampaikan Pak Baki minggu depan. Hal lain yang menarik baginya adalah nama Sarip. Masak Pak Baki cerita tentang saya, pikir Syarifuddin yang setiap hari memang dipanggil…

​

’’Sarip, ayo main!”

​

Terdengar teriakan dari luar kelas.

 

Sarip terlihat berkelebatan di antara rumah-rumah juragan kaya yang kikir, yang berlindung di bawah ketiak kompeni, saat ditinggal penghuninya. Meskipun setiap rumah menempatkan pendekar untuk berjaga, Sarip bisa dengan mudah menyusup ke dalam rumah dan menguras isi brankas mereka. Dengan kecerdikannya, Sarip selalu berhasil mengelabui penjaga rumah tanpa diketahui. Tahu-tahu pemilik rumah telah kehilangan hartanya.

​

Meskipun terkenal cerdik dan susah ditangkap, Sarip tetap merasa harus berhati-hati dalam setiap aksinya. Dia tak mau ibunya tahu. Karena hal itu Sarip selalu melancarkan niat di tempat-tempat yang jauh dari rumah. Sama seperti hari-hari sebelumnya, saat ini Sarip sudah berada di tempat pengintaian. Sarip mengendap-endap di cela-cela gang sempit.

​

Dia sedang mengintai sebuah rumah yang dihuni pribumi kaya yang menjadi antek Belanda. Rumah itu milik Juragan Tambak yang tak lain adalah paman Sarip. Dia akan mencuri di rumah itu untuk kemudian dibagi-bagikan kepada warga miskin. Di Tambak Oso, Sarip dikenal sebagai orang yang berhati keras, mudah marah, namun sangat menyayangi kaum miskin, terutama ibunya yang janda.

​

Sarip bergerak dengan hati-hati. Di Wetan Kali mungkin dia yang berkuasa, tapi saat ini dia sedang berada di daerah musuh, Kulon Kali, yang kekuasaannya dipegang oleh pendekar bernama Paidi. Paidi, kusir dokar paman Sarip, seorang pendekar sakti yang mempunyai senjata andalan Jagang Baceman, yang sekaligus ditugaskan sebagai penjaga keamanan rumah paman Sarip. Selain harus berhati-hati pada Paidi, Sarip harus berhati-hati terhadap serdadu Government Belanda yang terus memburunya. Karena dianggap sering berbuat keonaran dan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Belanda, Sarip menjadi target utama pencarian.

​

Dari tempat pengintaian, Sarip melihat Paidi sedang bercakap-cakap dengan beberapa serdadu Belanda di sebuah gubuk kecil di depan rumah pamannya. Siang yang terik membuat Sarip gerah. Bulir-bulir keringat bermunculan di keningnya yang hitam berkilat. Dia terus berpikir. Biasanya yang berjaga di rumah pamannya hanya Paidi, tapi sekarang serdadu-serdadu Belanda pun terlihat.

​

’’Apa paman sudah tahu kedatanganku?”

​

Sarip bergumam sendiri. Sarip tahu ini adalah hari yang tepat untuk menguras habis harta pamannya. Sarip benci kepada pamannya karena selain menjadi antek Belanda dan suka menjajah rakyat miskin adalah juga karena menggelapkan uang ibunya. Karena perbuatan pamannya itu, ibu Sarip dihajar Lurah Gedangan karena tak bisa membayar pajak tanah garapan. Melihat hal tersebut, Sarip marah dan langsung menghabisi nyawa Lurah Gedangan dengan sebilah pisau dapur. Sekiranya hal itulah yang ingin dia lakukan juga pada pamannya.

​

’’Paidi seorang bukan masalah bagiku. Tapi, ditambah serdadu-serdadu bersenjata itu?’’

​

Sarip mencoba menakar-nakar kekuatannya.

​

Sudah beberapa lama Sarip bertahan di dalam persembunyiannya. Matahari sudah mulai surup dan hanya meninggalkan warna jingga.

​

’’Aku harus segera bertindak!”

​

Sarip memantapkan niat saat melihat serdadu-serdadu Belanda bersiap untuk pergi. Tidak lama kemudian, serdadu-serdadu Belanda itu meninggalkan Paidi seorang diri. Paidi kembali duduk di gubuknya untuk menikmati jajanan yang tersedia.

​

Sarip segera keluar dari persembunyian dan melesat menuju rumah pamannya. Tepat di depan pagar, Sarip dihadang Paidi yang sudah menghunus Jagang Baceman. Senjata Paidi lebih panjang daripada pisau dapur di balik pinggang Sarip. Dengan gerak cepat, Paidi menerjang Sarip dan mengayunkan Jagang Baceman untuk menebas leher Sarip. Tapi, Sarip masih bisa menghindar. Sarip melompat mundur beberapa langkah, lalu mencabut pisau dapur dari balik pinggangnya.

​

Sarip membalas dengan melompat dan mengayunkan pisau sekuat tenaga menerjang Paidi. Sarip berusaha menyentuh perut Paidi, namun gagal. Paidi bisa melompat dengan cepat dan mendarat lagi di tanah tanpa terhuyung. Paidi bisa menata keseimbangan, bersiap untuk menangkis serangan Sarip selanjutnya.

​

’’Rupanya sampean cukup berani menghadapiku seorang diri bocah,” kata Paidi.

​

’’Lebih baik sampean minggir, biarkan aku menguras harta antek kompeni itu!”

​

Bagaikan melayang di atas angin, Paidi menerjang Sarip yang sudah bersiap-siap menangkis. Sebelum Jagang Baceman milik Paidi menerjang perutnya, Sarip sudah berhasil menghindar. Namun, di luar dugaan, Paidi sedikit berputar dan mengayunkan kakinya menerjang kaki Sarip yang sedikit lengah. Paidi berhasil menjegal kaki Sarip dari belakang. Sarip kemudian roboh ke tanah.

​

Mengetahui Sarip tak berdaya, Paidi mengarahkan ujung Jagang Baceman ke perut Sarip. Dalam posisi masih terbaring di tanah, Sarip masih bisa melakukan sedikit perlawanan. Sarip mengangkat satu kakinya untuk menahan tangan dan menendang wajah Paidi dengan kaki yang lain. Paidi terpental beberapa langkah. Sementara Sarip bergegas bangkit dan menghunus pisau dapurnya kembali.

​

Pertempuran dua pendekar Tambak Oso terus berlangsung. Di dusun Tambak Oso memang dikenal ada dua pendekar sakti, yaitu Sarip yang membela rakyat miskin pribumi dan Paidi yang menjadi antek penjajah.

​

Setelah berhasil menghindar dari dua serangan Paidi. Sarip merasa gerakannya sudah bisa dibaca oleh Paidi yang saat ini masih berdiri di hadapannya. Sarip mengamati Paidi yang napasnya tersengal seperti dirinya, diam, seperti mencoba menyusun strategi.

​

’’Ilmumu lumayan juga, asu kompeni!” kata Sarip.

​

Kini giliran Sarip yang menyerang Paidi. Paidi tersenyum puas. Strategi berjalan seperti perkiraannya. Dengan hanya menunggu Sarip menyerang, Paidi bisa dengan mudah mengalahkannya. Sambil berlari, Sarip menyorongkan ujung pisau ke arah Paidi. Dengan gerak cepat pula, Paidi menghindar lalu mengayunkan kakinya ke perut Sarip. Tubuh Sarip limbung. Rasa sakit di perut membuat keseimbangan Sarip hilang. Dia tersungkur di tanah untuk kedua kali.  Tapi sepertinya keberuntungan Sarip tidak datang lagi. Jagang Baceman milik Paidi berhasil menembus perut Sarip. Sarip si maling budiman telah tumpas –lambungnya berlubang. Napasnya berhenti.

​

Perihal kematian Sarip itu, konon katanya, dulu setelah dia lahir, ayahnya datang dari bertapa di Goa Tapa di daerah Sumber Manjing selama beberapa waktu dengan membawa sebongkah kecil Lemah Abang. Selanjutnya, tanah tersebut dibelah dan diberikan kepada Sarip dan ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip bisa bangkit lagi dari kematian bila ibunya masih hidup, meskipun dia terbunuh seribu kali dalam sehari.

​

Hari sudah mulai gelap. Sinar jingga yang tadi masih tampak terang di balik rumah paman Sarip menjadi redup. Saat itu, Paidi yang berhasil membunuh Sarip berusaha mengangkat tubuh Sarip. Tapi, sebelum mayatnya dibuang ke sungai, Sarip bangkit kembali saat mendengar teriakan ibunya, ’’Sariiiip, wes wayahe muleh, Le….!”

​

Sarip dan teman-temannya mengakhiri permainan hari ini, tepat saat azan magrib mulai berkumandang dari corong langgar. Sarip dan teman-temannya memang sering mempraktikkan apa-apa yang diceritakan Pak Baki di kelas dalam permainan mereka: tentang sejarah Lontong Balap atau pertarungan Sura dan Baya. Begitu juga ketika kemarin di kelas Pak Baki bercerita tentang Sarip Tak Mati-Mati, Sarip dan teman-temannya pun bermain cerita itu.

​

Dengan malas Sarip kembali ke rumah. Sesekali dia masih menengok ke belakang demi melihat teman-temannya. Seakan tak rela berpisah, mengakhiri permainan. Sehabis azan magrib, mereka sudah harus berada di langgar untuk mengaji bersama. Dalam langkahnya yang pelan, Sarip masih mencoba menerka-nerka cerita apa lagi yang akan disampaikan Pak Baki di sekolah. ¤

 

 

Surabaya, 15 Mei 2011

bottom of page