Pesan yang (Tak Pernah) Sampai
Surat Pertama
SERING aku membayangkan kau menuntunku pada sebuah jalan kecil yang diapit hamparan taman hijau dengan bunga warna-warni. Dan ketika kita melewati jalan berbatu dan licin oleh gerimis, tanganmu akan lebih cepat bergerak untuk menangkapku ketika aku sedikit terpeleset. Seakan tak kau biarkan sedikit pun luka menggores tubuhku.
Aku juga sering membayangkanmu menemui aku dan dengan tanganmu kau hancurkan tembok pemisah dua jenis manusia yang ingin menyatukan hati itu. Lalu membawaku pergi. Bukan demi untuk membuktikan cintamu padaku, sama sekali bukan. Tetapi hanya untuk mengajariku bagaimana cara memberontak.
Sejak awal menaruh rasa padamu, aku lebih senang hidup dalam lamun. Pertemuan antara kita sangat jarang. Itu pun hanya sebatas bertukar salam dan senyum. Apa lagi yang bisa aku lakukan? Aku toh hanya bisa mencuri pandang wajahmu dari sela-sela tumpukan botol air mineral di sebuah rapat anggota. Karena tidak mungkin aku mendekatimu dan membelai rambutmu. Bisa saja aku dianggap wanita sundal yang tak tahu malu. Atau bisa juga seluruh anggota rapat membacakan dalil-dalil zina perbuatan dosa dengan sorot mata tajam seakan melihat setan.
Aku bukannya tak berani. Tapi waktu itu aku masih terlalu lugu untuk mengabaikan petuah ayah yang selalu dihunjamkan ke telingaku. Kamu harus menjaga kehormatan ayah dan ibumu, terlebih pesantren ini, mengerti! Aku tahu, ayahku adalah jenis manusia yang gila hormat. Dan aku muak dengan itu.
Memikirkan mungkin kau sedang tak berdaya menungguku di balik tembok-tembok itu, aku membayangkan daun-daun cemara yang tumbuh di dekat tembok itu berubah menjadi pasak-pasak beton yang jatuh dan menghancurkan penghalang itu. Lalu, bukan hanya kita yang bisa bebas bertemu dan pergi ke mana saja, tetapi akan banyak hati yang menyatu dan berbahagia.
Bagi seorang pencinta seperti aku, setebal apa pun tembok tak akan mampu menghalangi cinta yang ingin menyatu. Tapi, aku juga tak bisa terlalu sombong. Kenyataannya adalah aku tak bisa menemuimu lebih sering. Aku takut tak bisa terbiasa denganmu. Entah rasa apa yang akan kau alamatkan ke hatiku. Yang bisa aku yakini sekarang adalah kau juga mencintaiku. Mungkin kau akan menganggap cintaku ini adalah cinta yang tak mungkin. Terserah apa katamu nanti.
Tentu kau tahu, dan memang kau pandai dalam hal ini, bahwa membayangkan sesuatu sama saja menjadikan diri kita seperti Tuhan yang bisa berbuat apa saja. Tapi ketika sejenak saja kita lengah dan sadar, baru kita tahu bahwa itu hanya sia-sia. Karena kita tak bisa membuat takdir baru dalam garis takdir yang sebenarnya. Meskipun kita juga tak pernah tahu mana takdir yang sebenarnya. Kita hanya bisa sedikit saja mengubahnya. Itu pun jika kita mampu. Kata-katamu itu sudah menyatu denganku. Tapi aku tetap lengah dari kenyataan dan terus hidup untuk sekadar membayangkanmu...
Balqis berhenti menulis. Dadanya terasa sesak menahan air mata yang malah jatuh di hatinya. Menangis dalam hati memang terasa lebih menyakitkan. Tapi, Balqis sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi wanita yang kuat. Dia tak ingin ayahnya mengetahui atau mendengar isak tangisnya. Tipe orang seperti ayah Balqis adalah orang yang akan merasa menang dalam perselisihan ketika mengetahui lawannya menangis.
Balqis menaruh pena dan kembali meneliti tulisannya dari awal. Dia tidak ingin ada yang terlewat. Setelah benar-benar yakin, dia lalu melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop cokelat. Setelah merekatkan ujungnya dengan lem dan mencantumkan nama serta alamat tujuan, dia kemudian menyerahkannya kepada petugas pondok untuk diantarkan ke kantor pos terdekat.
Balqis menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya pelan-pelan. Seakan beban di dadanya ikut keluar bersama embusan napasnya. Sejenak dia merasa lega dan berharap Suseno cepat membalas suratnya.
Surat Pertama
​
AKU melihatmu cemberut saja waktu itu. Bukannya aku tak tahu apa yang bergejolak dalam hatimu, aku cukup pandai untuk membaca matamu. Ketika akan balik ke pondok, dengan malu-malu kau bertanya, ’’Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?”
Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku katakan padamu. Tapi, aku tak sanggup bersembunyi dari tatapan mata-mata nyalang dari orang-orang di sekitar kita. Dalam pertemuan rapat anggota itu, aku sengaja tetap menunduk. Bukan karena takut tak kuat menahan keinginan untuk bercumbu denganmu, sama sekali bukan, bahkan untuk berpikir saja aku tak berani. Aku hanya takut untuk becermin karena setiap melihatmu aku merasa seperti sedang melihat diriku di cermin matamu.
Perbedaannya sangat jauh, Balqis. Kau adalah air jernih yang ditampung di belanga yang terbuat dari kaca bening di ruangan rumah seorang yang terhormat. Sedangkan aku hanya seekor ikan nila yang tak ada pantas-pantasnya berenang di sana. Apa kata orang nanti. Aku memang bukan orang yang dengan mudah menggigil hanya karena direndahkan, sama sekali bukan. Hanya saja aku tak mau kau ikut direndahkan karena aku.
Banyak orang yang mengatakan, orang yang dimabuk cinta akan mengatakan cinta lebih penting daripada materi dan kehormatan. Tapi tidak denganku, Balqis. Aku memang jatuh cinta padamu. Tapi aku tidak menjadikan cinta sebagai segala-galanya. Kita tetap butuh materi dan kehormatan untuk menghidupi dan menjaga keluarga kita kelak. Aku belum berani memintamu. Karena aku sadar yang aku punya baru cinta. Aku tak mau membawamu diam-diam lewat pintu belakang rumahmu. Aku akan membawamu sebagai pengantinku dengan diiringi doa-doa kebahagiaan. Semoga aku tak terlambat.
Tentu kau ingat pertemuan terakhir kita sebelum kau pergi bukan? Waktu itu kutanyakan padamu tentang bagaimana kau bisa keluar dari pondok. Aku pun tersenyum senang meihatmu tampak merona seraya menjawab, ’’Seperti yang dulu, ada rapat pengurus di luar. Kau sendiri? Kebohongan apa lagi yang kau buat?” tanyamu kemudian.
Kau memandangku sebentar dan cepat-cepat memalingkan pandang ke arah padang rumput hijau yang terhampar di depan kita. Kau tersenyum.
’’Tidak ada,” jawabku.
Kau merasa heran, lalu menatapku seakan meminta jawaban yang jujur.
’’Benar.”
’’Untuk apa kau lakukan itu, Mas?” Tanyamu, heran.
’’Tinggal satu minggu lagi, Balqis. Dan kau tahu, aku tak punya alasan yang kuat agar aku bisa keluar ketika nanti kau akan berangkat. Dan aku akan menyesal tak bisa melihatmu.” Mendengar itu, air mukamu berubah murung lalu sedikit bergumam, ’’Iya, satu minggu lagi.”
Setelah itu kita diam. Hanya ada suara angin dan kicau burung yang menggema di telinga kita. Seakan di dunia ini yang ada hanya suara angin dan burung-burung saja.
’’Mas…” katamu memecah keheningan, ’’Sampai kapan kau akan menganggap aku sebagai adikmu. Apa tak ada sesuatu yang ingin kau katakan sebelum aku pergi?’’ tanyamu penuh harap.
Mendengar pertanyaanmu itu, aku tetap terpaku pada hamparan rumput hijau yang di mataku kini tampak seperti gersang. Kata yang hendak dengan paksa aku keluarkan untuk memenuhi harapanmu pun ikut tertelan kembali ke dasar hatiku. Dadaku terasa sesak.
’’Kau sudah tahu, ayahku sengaja memindahkan aku karena ketakutannya padamu. Karena hubungan kita yang semakin dekat ini. Tidakkah kau ingin memberiku kepastian agar aku bisa merasa tenang di tempat yang jauh. Mungkin akan sulit untuk kita bertemu lagi.’’
’’Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin memberitahumu tentang sesuatu.”
’’Apa?”
’’Mimpi.”
’’Mimpi?”
’’Iya, mimpi yang sama dan sering mengganggu tidurku. Aku sering terbangun dari tidurku karenanya. Aku bermimpi sedang berdiri di tepi sungai yang mengalir begitu tenang dan jernih. Hingga aku bisa melihat ikan-ikan yang berenang. Dalam pikiranku terlintas sebuah rencana untuk membuatkanmu sebuah sampan agar kita bisa mengarungi sungai itu sampai ke muaranya. Tentu kau tahu, muara adalah tempat berkumpulnya semua harapan dan cita-cita.
Tapi, sayang, setelah sampan selesai kubuat dan akan mendorongnya ke sungai, arus yang tadinya tenang dan meneduhkan berubah menjadi bergemuruh yang bisa menenggelamkan. Batu-batu besar yang tadinya tak ada pun kini seakan bermunculan dari dasar sungai. Arusnya semakin mengerikan. Kita pun akhirnya hanya bisa menatap nanar sungai itu dan membayangkan ujung muaranya. Dan kita pun pergi dari sungai itu tanpa satu kata pun.”
’’Pertanda apa itu, Mas?”
’’Entahlah. Aku cuma berharap kau bisa cepat selesai dan kembali ke sini agar aku bisa dengan mudah menemukanmu dan membawamu pergi.”
​
Pertemuan terakhir itulah yang menyiksaku sampai saat ini, Balqis. Cinta yang tak terungkapkan lebih menyakitkan daripada kehilangan. Merasa kehilangan adalah milik orang-orang yang pernah memiliki. Tapi aku sudah merasa kehilangan sebelum sempat memilikimu.....
Suseno berhenti menulis. Dia terpejam sebentar untuk menata hati dan memantapkan niat untuk mengirimkannya kepada Balqis. Perasaannya bergemuruh seperti mendung dijilat halilintar. Mengungkapkan rasa bagi dia lebih menegangkan.
​
Setelah mencantumkan nama dan alamat tujuan, dia menyerahkan surat itu kepada pengurus pondok dengan ongkos kirim untuk diteruskan ke kantor pos. Dia menata hati kembali dan mencoba menghilangkan prasangka buruk atas jawaban Balqis sesudah membaca suratnya itu. Dia merasa lega karena sudah mengungkapkan isi hatinya.
***
Surat Kedua
​
AKU tak tahu kenapa kau tak membalas suratku, Mas. Sudah lebih dari dua bulan kukirim pesan untukmu. Apakah pesan itu tidak sampai? Atau kau benar-benar tak menaruh perasaan terhadapku sedikit pun. Sehingga setelah baca kau remas-remas surat itu dan kau buang ke tong sampah?
​
Mas, satu minggu yang lalu ada keluarga terhormat menurut ayahku memintaku untuk anaknya. Orang yang katanya terhormat itu pemilik pondok di mana aku sekarang tinggal. Ayahku sangat antusias dengan pinangan itu. Sudah aku katakan dalam suratku yang pertama, ayahku adalah seorang yang gila terhormat. Dengan menikahkan aku dengan anak orang yang katanya terhormat itu, kedudukan sosial dan kehormatan ayah akan semakin tinggi. Dia tak hanya akan mengawinkan aku dengan anak orang itu. Tapi juga mengawinkan pondok ayahku dengan pondok orang yang katanya terhormat itu.
​
Aku merasa muak dengan itu. Mereka mungkin ingin membuat koloni besar berisi orang-orang yang gila hormat. Tanpa perasaan ayah memintaku untuk mengorbankan cintaku kepadamu untuk yang katanya kehormatan keluarga.
​
Sejak itu aku terus berpikir apakah seorang anak dilahirkan hanya untuk dikorbankan? Memang dalam hal dilahirkan kita tak bisa memilih. Tapi untuk hidup kita berhak memilih. Hanya saja aku sedih, setiap orang tua menganggap diri mereka selalu lebih tahu segala sesuatu. Alasannya hanya sudah hidup lebih lama.
​
Aku bilang percuma, percuma berdebat dengannya. Yang ada akhirnya aku akan menjadi anak durhaka di matanya. Jika legenda Malin Kundang memang benar-benar ada, aku ingin menjadi batu. Aku akan lebih senang hidup sebagai seonggok batu yang tak bisa merasakan apa-apa. Tapi, sebelum aku benar-benar menjadi batu, ada satu hal yang sangat mengganjal di hatiku. Tentang perasanmu kepadaku. Apakah kau mencintaiku, Mas? Aku ingin jawaban…
Hampir bersamaan dengan kata terakhir itu, air mata Balqis menetes mengenai tulisannya hingga sedikit kabur. Dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya agar tak jatuh. Tapi toh dia tetap wanita biasa yang tak bisa menjadi sekuat batu.
​
Untuk yang kedua kalinya dia memberikan surat itu kepada petugas pondok dan menaruh harapan sangat tinggi pada balasan Suseno.
Surat Kedua
​
APA aku terlalu banyak bicara hingga membuatmu bingung untuk membalas suratku? Aku mohon dimaklumi, Balqis. Aku sudah terlalu lama diam. Padahal sebenarnya banyak yang ingin aku katakan padamu. Tapi aku takut kau bosan. Dan ternyata memang kau bosan hingga tak membalas suratku. Atau kau sudah terlalu lama menunggu jawabku hingga kau merasa putus asa? Aku harap kau tak begitu. Karena yang aku kenal darimu adalah sifat pantang putus asamu. Atau mungkin keras kepala.
​
Balqis, di sini sambil terus mendalami pelajaran, aku sudah memiliki rencana membuka sebuah usaha setelah selesai nyantri. Usaha yang tak begitu memalukan bagi ayahmu untuk menerimaku menjadi menantunya. Tapi aku belum terlalu yakin. Kita sama-sama tahu seperti apa ayahmu.
Maaf, aku tak hendak mengatakan ayahmu materialistis atau gila hormat. Tapi kenyataannya aku hanya orang rendahan dengan cita-cita tinggi hendak mempersuntingmu. Meskipun aku tahu sebenarnya itu tak masalah bagimu.
​
Dan seperti yang aku janjikan padamu sebelumnya, aku akan membawamu keluar dari rumah melalui pintu depan dengan diiringi doa bahagia. Untuk itu, aku harap kau bisa menentukan hari baik kapan keluargamu bisa menerima kedatanganku untuk memintamu. Jangan lagi kau tak membalas suratku ini. Wassalam…
Dengan perasaan penuh harap, dia mengakhiri tulisannya dan langsung menyerahkan surat itu kepada petugas pondok. Dia sangat berharap tukang pos tak salah alamat. Dia merasa cemas.
***
Pada Sebuah Ruangan
​
Di tempat lain, di sebuah ruangan, di salah satu sudut kompleks pesantren tempat Balqis belajar, yang lampunya sedikit redup karena dimakan usia, ada sesosok dalam remang. Di ruangan itu, hanya ada satu orang yang sedang duduk di belakang meja kerjanya. Di hadapan orang berwajah remang itu, tergeletak empat surat dengan amplop cokelat. Dia membolak-balik empat surat itu untuk meyakinkan matanya apakah masih cukup awas untuk membaca alamat tuju.
​
Dia menyulut sumbu lilin dengan korek api untuk membuat penerangan tambahan agar bisa lebih mudah membaca isi surat-surat itu. Lama dia menekuri tulisan demi tulisan dari dua manusia yang sedang menghadapi cinta itu. Entahlah apa yang dipikirkan seseorang berwajah remang itu. Cahaya korek api menangkapnya menangis. Dia mungkin merasa bersalah, tapi tak bisa apa-apa. Dia dihadapkan pada dua pilihan. Dia harus memilih menjadi antagonis atau protagonis. Dia terpaksa memilih yang pertama, demi pekerjaannya.
​
Lelaki berwajah remang itu berapa kali membaca surat-surat itu. Memang, begitu rasa bersalah mengganggu, dia akan masuk ke ruangan itu dan menguncinya dari dalam. Di dalam ruangan itu, dia akan menghanyutkan dirinya dalam lautan kata-kata. Setelah selesai membaca dan air matanya belum benar-benar kering, dia akan memasukkan surat-surat itu ke dalam laci dan menguncinya rapat-rapat. Dia pun bergegas menuju sebuah tempat di seberang jalan. Tak jauh dari pondok.
​
Dia berjalan melewati gang-gang kecil di sebuah perumahan sederhana. Dia berlalu begitu saja menuju sebuah tempat dengan bau kembang kamboja. Dia sudah hafal di luar kepala makam mana yang akan dia ziarahi. Dia harus melewati beberapa pasang batu nisan sebelum sampai di pusara tuju. Dia langsung berlutut di depan makam itu dengan bercucuran air mata. Di tempat itu, mungkin sudah beribu kali berlutut berlama-lama, memohon maaf. Karena dialah surat-surat Balqis dan Suseno tak sampai, dan tak akan pernah sampai. ¤
Surabaya, 14 November 2009