Lukisan
AKU mengenal lelaki itu di sebuah galeri lukisan. Di antara pengunjung galeri, dia memang bukan yang paling tampan. Dari penampilannya juga sepertinya dia bukan lelaki mapan. Tidak adil memang menilainya dari penampilan. Tapi penampilan pertama selalu memberikan kesan. Dan seperti itulah dia mengesaniku.
Rambutnya acak-acakan. Kumis dan jenggot tipisnya dibiarkan silang sengkarut. Dia hanya mengenakan kaus dan jins lusuh. Sepatunya kusam berdebu. Dia hanya berdiri atau kadang duduk memandangi satu lukisan di sudut galeri. Dia akan tetap seperti itu sampai malam, menjelang galeri tutup, lalu pergi tanpa kata.
Dari beberapa kali kehadirannya, dia pernah meluangkan beberapa detik untuk membuang pandang kepadaku. Saat itu mata kami berpapasan. Sangat singkat. Matanya seperti lampu yang padam, tak bercahaya. Alisnya tebal, sementara garis rahangnya tegas. Dia lelaki yang murung, kukira. Pikiran tentang sosok pencuri yang pernah kusematkan kepadanya pun kubuang jauh. Kesimpulanku, dia hanya lelaki yang mengagumi lukisan di sudut galeri itu.
Pengunjung datang silih berganti. Ada yang membeli. Tapi kebanyakan hanya melihat-lihat. Tapi tak ada yang menyita pikiranku kecuali lelaki yang murung itu. Hanya orang aneh yang selalu datang ke sebuah tempat untuk memandangi sesuatu berlama-lama. Sesuatu yang justru diabaikan orang lain. Dia memang orang yang aneh. Mungkin karena itu juga yang membuatku membuang waktu untuk memikirkannya.
’’Dia hanya memandangi lukisan itu seharian, lalu pergi begitu saja,’’ kataku kepada Ve, teman kuliahku dulu.
Dia dulu bekerja di galeri tempatku bekerja sekarang. Dia keluar dan menawarkan posisi itu kepadaku. Dia sendiri sudah mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan. Setidaknya baginya. Sebagai sekretaris pribadi pemilik galeri ini.
Meskipun tidak tahu banyak tentang lukisan, aku menerimanya. Karena itu, aku harus belajar mulai dari nol tentang lukisan, tentang melayani tamu, dan menjual karya. Hampir puluhan katalog aku baca. Koran, majalah, sampai artikel tak terhitung jumlahnya. Dari pengalaman membaca itu, aku pun bisa memberikan sedikit penilaian. Lukisan itu tidak terlalu istimewa memang.
’’Ternyata lukisan itu masih di sana?”
Ve mendengus.
’’Aku tak menemukan keindahan di lukisan itu.”
’’Tak perlu buang-buang waktu,’’ kata Ve lalu tertawa.
’’Setidaknya kau bisa kasih tahu tentang lelaki? Dan hubungannya dengan lukisan itu.’’
Belum sempat menanggapi permintaanku, handphone Ve berbunyi. Dia menerimanya dengan suara manja dibuat-buat. Percakapan singkat itu diakhiri dengan kecupan di layar handphone. Itu pasti dari bosnya. Aku sedikit jijik melihatnya. Tapi aku maklum, orang yang sedang jatuh cinta memang sering konyol, dan kekanak-kanakan.
’’Maaf, aku harus pergi. Lain kali kita ketemu lagi. Daa....!’’
Dia pergi tanpa memberiku kesempatan untuk menahannya. Ve jalan berlenggak-lenggok di atas sepatu tingginya. Dia belum terbiasa hingga masih harus menjaga keseimbangan agar tidak terjerembap. Aku menghela napas.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Pengunjung galeri datang silih berganti. Tidak banyak lukisan yang terjual. Lelaki murung itu masih terus datang. Aku pun lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran atau browsing internet sambil sesekali mencuri pandang kepada lelaki itu.
Karena penasaran yang tak tertahan, pada entah hari keberapa aku memberanikan diri untuk menghampirinya.
’’Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Menyadari kedatanganku, lelaki itu sedikit gugup. Dia memasukkan tangannya ke kantong celana, tapi tak hendak mengambil apa-apa. Dia juga menggaruk tengkuknya yang tak gatal beberapa kali. Dia sangat gugup.
’’Ah, ti-tidak. Aku cuma, cuma ingin melihat-lihat.’’
Dia berbicara terbata-bata.
’’Mungkin ada yang bisa saya bantu?”
Aku tidak tahu mengapa mengulang pertanyaan itu. Aku merasa sedikit gugup juga.
Dilihat dari dekat, lelaki itu tidak terlalu buruk.
’’Ti-tidak, terima kasih.”
Melihat dia tersiksa dalam rasa gugupnya aku menjadi tidak tega. Aku juga tak tahu harus membuat percakapan semacam apa agar bisa sama-sama nyaman. Jadi aku tinggalkan dia dan kembali ke mejaku sambil sesekali masih mencuri pandang kepadanya.
***
Hari ini aku janji bertemu dengan Ve. Aku berharap dia bisa menceritakan kisah tentang lelaki itu. Akhir-akhir ini lelaki itu memang telah memenuhi pikiranku, sejak pertama kali melihatnya di galeri. Tidak, aku tidak sedang jatuh cinta. Aku tahu bahwa jantungku tidak berdebar ketika lelaki itu muncul di hadapanku. Aku hanya perempuan yang sedang penasaran.
’’Hati-hati, cinta sering datang dari rasa penasaran, April!’’ kata Ve menggoda.
’’Jatuh cinta? Haha… Jangan bercanda. Ayo, ceritai aku.’’
’’Benar kau penasaran? Atau benar sedang jatuh cinta? Tak kusangka temanku akhirnya jatuh cinta lagi. Setelah sekian lama.’’
’’Hus. Dia lelaki yang aneh. Dia melihatku seperti melihat hantu saja.’’
’’Jika kau berniat mengganggunya, tentu kamu memang hantu baginya.’’
’’Sudahlah, Ve. Ceritai aku.’’
’’Benar kamu jatuh cinta, Pril!’’
’’Terserah lah apa katamu. Yang penting ceritai aku.’’
’’Hahaha... Baiklah, dia sebenarnya lelaki yang baik. Dia seperti itu mungkin karena terlalu lama menarik diri,’’ lanjutnya.
’’Menarik diri?’’
Ya, kata Ve, lelaki itu tak pernah diketahui asal usulnya. Pada suatu hari tiba-tiba saja dia muncul di sebuah perkumpulan seniman lukis. Meskipun tidak cepat bisa berbaur dengan lingkungannya yang baru, dia akhirnya bisa berkembang sebagai pelukis yang berbakat. Beberapa lukisannya berhasil menarik perhatian penikmat dan kurator seni. Beberapa tulisan tentang dirinya dimuat di media lokal maupun nasional. Dalam waktu singkat dia masuk dalam jajaran pelukis muda yang cukup dikenal.
Dia mulai sering menghadiri wawancara. Semakin banyak orang yang coba mengulik asal usulnya. Berhadapan dengan hal semacam itu membuatnya risi. Dia benci popularitas. Dia tidak ingin dikenal sebagai individu. Dia ingin orang mengenal karyanya. Titik. Sejak itu dia mulai berubah.
’’Wajar kalau orang ingin tahu dirinya. Harusnya dia tidak menarik diri saat karir sedang bagus-bagusnya.’’
’’Semua orang berpikir begitu.’’
’’Semua orang berpikir begitu? Aku semakin bingung.’’
’’Ada hal lain yang membuatnya menarik diri. Dan itu lebih menyiksa dari popularitas itu sendiri.’’
’’Maksudmu?’’
’’Sebelum menarik diri dan benar-benar menghilang, dia sempat menyelesaikan sebuah lukisan yang justru memicu kontroversi.’’
Memicu kontroversi. Itulah yang dikatakan Ve. Sebelum menghilang, lelaki yang sejak kedatangannya di komunitas memperkenalkan diri dengan nama Barata (selain asal usulnya, nama aslinya pun tak pernah diketahui) itu meninggalkan lukisan berjudul Cafe di Tepi Sungai di depan galeri milik bos Ve. Tempatku bekerja saat ini. Setelah itu dia menghilang selama hampir satu tahun. Lukisannya memang sempat dipajang, tapi akhirnya diturunkan dan dipindahkan ke gudang. Kontroversi saat itu semakin liar.
Apa yang diceritakan Ve persis seperti yang aku baca di artikel-artikel. Tulisan itu mengulas tentang lukisan berjudul Cafe di Tepi Sungai karya Barata. Dia dituding memplagiasi karya pelukis terkenal Vincent van Gogh, Cafe Terrace at Night, di Arles, Prancis. Barata pelukis muda berbakat, memalukan kalau akhirnya dia berusaha meniru Van Gogh, lanjut artikel tersebut. Dan pada paragraf terakhir tulisan itu mengatakan bahwa tidak mungkin nama kafe dalam lukisan Batara diubah menjadi Cafe Barata seperti Cafe Terrace yang diubah namanya menjadi Cafe van Gogh. Selain karena dia belum menjadi apa-apa, nama itu juga tidak cocok untuk nama sebuah kafe, tutup artikel tersebut.
’’Dia melukis kejujuran. Aku heran mengapa kritik terhadapnya begitu tajam?’’ kata Ve, geram.
Aku semakin bingung dengan tingkah Ve yang begitu tahu tentang lelaki itu. ’’Dia melukis kafe dan sungai yang benar-benar ada. Nyata,’’ lanjut Ve.
Barata ingin melukiskan suasana kafe di tepi sungai yang membelah kota S, begitu kata Ve. Di tempat itulah dia dan seorang perempuan, mungkin kekasihnya, sering meluangkan waktu sore bersama. Dari beberapa sumber diperoleh kabar bahwa terakhir kali mereka bertemu dalam keadaan tidak baik. Dari wajah keduanya tercium aroma kepedihan. Wajah mereka tampak murung. Setelah saling bersalaman, mereka pergi dan sejak itu tak pernah terlihat lagi di kafe tersebut. Beberapa minggu kemudian lelaki itu menghilang dan hanya meninggalkan lukisan di galeri yang memicu kontroversi itu.
Tidak ada yang tahu apa yang membuat mereka berpisah. Perempuan yang namanya tak dikenal itu juga tidak pernah diketahui keberadaannya. Namun, sempat ada isu yang menyebut perempuan itu bernama Siva. Kabarnya, setelah menikah, Siva pindah dan menetap di kota lain. Tentang Barata, ada beberapa kabar yang mengatakan bahwa dia pernah terlihat berkeliaran di kota Y. Tapi itu hanya isu. Keberadaan dan apa yang terjadi di antara mereka masih menjadi misteri.
’’Jadi perempuan itu menikah dengan lelaki lain dan meninggalkan Barata?’’
’’Tak ada yang tahu pasti, April. Mungkin iya. Mungkin juga tidak begitu.’’
’’Tapi setidaknya itu bisa dijadikan alasan.’’
’’Tidak semua butuh alasan, Pril. Ada hal-hal tertentu yang terjadi begitu saja tanpa alasan.’’
Aku mengerti kepedihan Ve. Dia juga pernah mengalami kesedihan ditinggalkan. Hal yang belum bisa aku terima dari Ve adalah dirinya yang sekarang. Aku melihat Ve seperti melihat Barata. Bedanya, Ve menutupinya dengan menjadi orang lain. Sampai harus rela menjadi kekasih lelaki beristri, atau mungkin sudah menjadi istri simpanan. Meski begitu, Ve adalah sahabatku.
’’Lalu bagaimana nasib lukisan itu?’’
’’Awalnya hanya digantung di gudang galeri.’’
’’Dan lukisan yang kini dipajang di galeri?”
’’Setelah lama menghilang, dia muncul di galeri. Membawa sebuah lukisan. Dia datang seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya,’’ kenang Ve, tersenyum geli. ’’Pada permunculannya itu, dia terlihat begitu murung seperti yang kau lihat sekarang.’’
’’Lalu?’’
’’Sebentar. Jadi benar kau jatuh cinta, Pril?’’
’’Sudahlah, jangan terus-terusan menggodaku. Ayo, lanjutkan.’’
’’Saat itu, Barata langsung bertemu dengan Mas Bos. Entah apa yang mereka bicarakan. Lelaki murung itu keluar dengan membawa lukisan yang terbungkus kain putih dari gudang. Keesokan harinya aku sudah mendapati lukisan perempuan murung itu sudah terpasang di sudut galeri.’’
’’Hm, sebenarnya lukisan itu tidak terlalu buruk. Hanya saja terlalu murung,’’ nilai Ve.
Aku hanya diam dan mencoba mengingat lukisan yang sering aku amati sejak kedatangan lelaki itu. Ada kemurungan memang. Setidaknya itu penilaianku yang awam. Lukisan seorang perempuan berambut panjang duduk di tepi sungai menatap riak sungai. Sapuan kuasnya halus. Hanya saja warna yang digunakan dominan gelap sehingga kesan kemurungan begitu kuat.
Sejak kedatangannya aku memang sering mengamati lukisan itu, diam-diam. Karena benar-benar tertarik pada lukisannya atau pada pelukisnya aku sendiri tidak tahu. Aku hanya merasa penasaran. Atau benar aku sedang jatuh cinta seperti kata Ve? Ah, tidak mungkin aku jatuh cinta kepada lelaki misterius dengan kisah cinta yang tak kalah misterius itu. Bagaimana bisa dia hidup seperti itu?
’’Kau melamun, Pril!”
Ve membuyarkan lamunanku.
’’Ah, tidak. Tak apa-apa. Benarkah tak ada yang tahu asal usulnya? Tak ada yang tahu kisah cintanya?’’
’’Kenapa kamu menjadi begitu bersemangat? Tidak salah lagi, kamu jatuh cinta!’’
Aku sedikit tidak nyaman dengan penilaian itu. Tapi toh aku tidak bisa mengelak dari sepasang mata Ve yang selalu pandai menerawang isi hatiku. Mata yang jujur. Aku hanya ingin tahu banyak tentang lelaki itu. Kalau itu sudah bisa dikatakan sebagai alasan untuk jatuh cinta, baiklah, aku sedang jatuh cinta.
’’Cuma itu yang aku tahu, Pril,’’ kata Ve setelah lama menungguku tak angkat bicara. ’’Dia kan masih sering ke galeri. Jadi, lebih baik kau sendiri yang cari tahu. Atau temui saja dia di kafe di tepi sungai itu.’’
’’Emm…’’
’’Sejak kembali, kafe itulah satu-satunya tempat yang sering dia kunjungi.’’
’’Menunggu kekasihnya yang pergi entah ke mana?’’
’’Ah, kau cemburu, April!”
’’Berhentilah menggodaku!’’
Kami berdua sama-sama tertawa.
Gelas berisi lemon tea di hadapan Ve sudah kosong. Sedangkan milikku masih setengah. Kami diam sejenak. Jari telunjuk Ve sibuk menggeser-geser layar handphone-nya. Dia sibuk sendiri. Aku juga sibuk dengan pikiranku sendiri, tentang lelaki itu dan juga tentang perasaanku.
Kuraih gelas di hadapanku dan menenggak isinya sampai tumpas. Suara sendawa lirih keluar dari kerongkonganku. Mengetahui itu, Ve langsung mendongakkan wajahnya ke arahku. Sejenak kami saling bersitatap, kemudian sama-sama tertawa bahak.
Pertemuan kami berakhir setelah Ve menerima panggilan kekasihnya, mungkin juga suaminya. Dia tak pernah mendengarkan kata-kataku untuk tidak terlalu jauh berhubungan dengan lelaki yang sudah berkeluarga, apalagi dengan empat anak. Tapi Ve yang sekarang bukanlah Ve yang dulu lagi. Meski begitu, dia tetap sahabatku.
***
Siang itu aku datang agak terlambat. Bos pemilik galeri memaklumi keterlambatanku. Bahkan, sebelum pergi, dia menitip pesan bahwa Barata akan datang untuk mengambil lukisannya. Aku merasa tidak ada yang penting dari pesan itu. Aku hanya perlu membiarkan lelaki itu datang, mengambil lukisannya, dan kemudian pergi.
Tidak lama setelah aku sampai di galeri, lelaki itu sudah berdiri di depan pintu. Dia masuk tanpa melihatku. Dia langsung menuju tempat biasanya.
Namun, hari itu dia terlihat begitu senang. Wajahnya yang biasanya murung sedikit dijenguk senyum. Dia mengambil lukisannya, lalu membungkusnya dengan kain hitam. Begitu tenang, dalam diam.
Dia menoleh kepadaku saat menyadari derap langkahku semakin mendekat. Tatapannya yang selama ini begitu dingin menjadi terasa hangat. Atau hanya perasaanku saja? Lelaki itu berbalik ke arahku. Aku tak kuasa menolak saat dia menawarkan jabat tangan. Saat itu aku merasakan jantung memompa darah terlalu berlebihan. Aku memang perempuan yang tidak mudah jatuh cinta, tapi saat ini aku merasa sedang jatuh... cinta.
’’Perkenalkan. Awan.”
’’Maaf?’’
’’Aku hanya ingin memperkenalkan nama.’’
Tanpa bertanya, dia memperkenalkan nama. Tiba-tiba aku teringat perkataan Ve beberapa hari yang lalu, ’’Lelaki cenderung menghamba pada kebohongan. Tapi di hadapan orang yang dicintainya mereka cenderung menjadi pemuja kejujuran.’’
’’April. Nama saya April.’’
’’Terima kasih, April. Aku tidak akan merepotkanmu lagi,’’ kata lelaki itu sambil tersenyum.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya mengangguk kecil dan membalas senyumnya. Dia berbalik ke pintu keluar dan pergi. Tapi baru beberapa langkah sebelum sampai di pintu, dia berhenti kemudian berbalik ke arahku.
’’Kalau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu minum kopi di kafe di tepi sungai sana.’’
Ada apa dengan lelaki itu? Dulu begitu gugup dan dingin, beberapa saat lalu begitu hangat, dan kini begitu percaya diri mengajakku kencan. Apa iya kencan?
’’Mungkin lain kali,’’ kataku sambil membuang muka ke sana ke mari.
Sebenarnya tidak ada yang salah. Aku senang dengan keterusterangannya, mengajakku berkencan. Hanya saja itu terlalu cepat dan terlalu mengejutkanku. Bagaimana mungkin lelaki yang begitu murung bisa berubah begitu cepat? Aku kemudian teringat Ve. Apakah di belakang ini semua ada peran Ve atau bosnya? Atau mereka berdua bersekongkol untuk ini?
Dia tidak marah atas penolakanku. Dia tersenyum sambil berlalu, kemudian hilang di sebuah gang. Setelah hari itu, aku tak pernah melihatnya lagi datang ke galeri. Aku juga tak menemukan lelaki itu di kafe di tepi sungai itu. tiba-tiba aku merasa rindu. ¤
Gresik, September~November 2013