top of page

Kureng

HAMPIR semua orang yang ditanya siapa Kureng, pasti mereka menjawab jangan coba-coba cari masalah dengan orang itu, bila berjalan di depannya menunduklah kalau tidak mau kena masalah, jangan dekati orang itu, dan banyak lagi komentar lainnya yang bisa membuat nyali Anda meleleh. Hanyut, menyatu dengan comberan.

​

Kureng, pasti bukan nama dia yang sebenarnya. Cara membaca nama itu adalah huruf ’’e” dibaca seperti menyebut kata ’’reng’’ dalam kata ’’kelereng”. Seperti perihal namanya, orang juga tidak tahu asal orang yang tubuhnya dipenuhi tato itu. Dia orang yang menakutkan dan selalu meresahkan warga. Jadi semua orang senang ketika mendengar kabar bahwa Kureng telah mati.

​

Salah satu warga bercerita. Pagi-pagi sekali, ketika akan berangkat kerja lewat tempat mangkal Kureng beserta antek-anteknya, dia melihat sesuatu yang tidak biasa. Hanya ada tubuh Kureng yang menghamburkan bau alkohol dan bau aneh lainnya. Tubuhnya tergeletak sendirian.

Meski ragu, dia memberanikan diri untuk memastikan apa yang terjadi dengan Kureng.

​

’’Lalu?”

​

’’Saya beranikan diri mendekati dia?”

​

’’Lalu?”

​

’’Dengan bibir gemetar saya mencoba memanggil dia.”

​

’’Lalu?”

​

’’Tidak ada pertanyaan lain apa, selain lalu?”

​

’’Hehe, terus?”

​

’’Hah! Dia mati!”

​

’’Mati? Bagaimana kamu tahu?”

​

’’Setelah aku periksa, dia tidak bernapas lagi.”

​

Mendengar berita itu, kami merasa sangat bahagia. Kami merasa menjadi orang yang merdeka dari penindasan Kureng dan antek-anteknya. Mereka memang tidak terlihat seharian itu. Hari bersejarah ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Kami harus membuat acara, atau lebih tepatnya upacara kemerdekaan. Harus ada proklamator yang membacakan teks proklamasi kemerdekaan desa ini di depan semua warga.

​

’’Pak Kades, bagaimana kalau kita buat upacara?”

​

’’Untuk apa? Menghormati kematian Kureng?”

​

’’Ah, Pak Kades ini. Masak kita buat upacara buat orang seperti dia!”

​

’’Lalu?’’

​

’’Kita buat upacara untuk memproklamirkan kemerdekaan desa kita ini dari Kureng dan antek-anteknya.”

​

Pak Kades pun sangat setuju dengan usul itu. Karena selama ini Pak Kades dibuat seperti kambing congek oleh Kureng. Dia tidak bisa mengambil tindakan apa pun untuk mengadili Kureng yang kejahatannya sudah terbukti. Ceto welo-welo.

​

Dia juga gerah karena Kureng tidak bisa disentuh oleh hukum negara sekalipun! Entah punya ilmu apa orang itu. Mungkin juga dia memiliki hubungan saudara dengan pejabat.

​

Pak Kades kemudian mengumpulkan pembesar-pembesar, orang-orang, dan pemuda-pemuda yang dianggap berkompeten dalam hal ini. Tapi, sebelum membahas agenda upacara, ada satu masalah yang harus segera diselesaikan, yaitu jasad Kureng.

​

’’Antek-antek asu itu meninggalkan mayat Kureng begitu saja. Mereka tidak mau mengurusinya. Sebagai warga yang baik, kita urus lebih dulu jenazahnya,’’ usul salah seorang dari perkumpulan itu.

​

’’Sopan sekali ucapanmu, Bang?!”

​

’’Dia kan manusia juga. Biar perilakunya lebih liar dari binatang, lebih ganas melebihi iblis, toh tubuhnya perlu diurus. Kalau bau kan kita juga yang repot.’’

​

’’Benar Pak Kades, kalau tidak cepat-cepat dikubur, baunya akan mengganggu kita juga,” kata yang lain.

​

’’Orang seperti dia tidak pantas dikubur. Hanyutkan saja ke sungai biar tidak mencemari tanah desa kita,’’ yang lain menimpali.

​

’’Kalau kita hanyutkan, mayatnya akan menyusahkan orang lain. Kalau begitu kita sama saja dengan dia.’’

​

Akhirnya kesepakatan diambil. Mayat Kureng akan dikuburkan.

​

Setelah semua sepakat, Pak Kades memimpin seluruh warga mengurusi mayat Kureng. Mulai dari memandikan, menyalati, menguburkan, mendoakan, dan mengadakan upacara pelepasan kecil-kecilan.

​

Warga sepakat membuatkan makam khusus buat Kureng. Seperti halnya makam pahlawan bagi para pejuang. Tapi dengan nama yang lain. Makam penjahat, untuk para penjahat. Kureng adalah penjahat pertama yang mendapat ’’kehormatan’’ itu.

​

Setelah pemakaman selesai, orang-orang yang berkepentingan dalam penyusunan agenda upacara kembali ke balai desa. Sementara yang lain menunggu berita keputusan hari dan jam pelaksanaan upacara. Setelah dibahas beberapa kali, akhirnya diambil kesepakatan. Upacara akan dilaksanakan pada hari ketiga setelah kematian Kureng.

​

Agenda upacara disusun secara sederhana. Pemuda bernama Kino diberi tugas sebagai pimpinan upacara. Pemuda lain bernama Bone diberi tugas sebagai pembaca catatan kejahatan Kureng. Wanita cantik bernama Sri mendapat tugas sebagai pimpinan paduan suara yang dibentuk seadanya. Para pemuda lainnya mendapat kehormatan sebagai pasukan pengibar bendera. Sementara Pak Kades bertugas sebagai komandan upacara sekaligus sang proklamator.

​

Di tengah kesibukan mempersiapkan acara, terdengar kabar yang tidak bisa mereka percaya. Sungguh mustahil. Kureng hidup kembali. Kabar itu masih simpang siur, tapi sudah bisa membuat desa kembali gaduh. Lubang kubur Kureng menganga. Kosong. Ada yang berpendapat mayat Kureng diambil anak buahnya. Ada yang berpendapat mayat Kureng tidak diterima bumi. Atau mayat Kureng dibawa makhluk gaib dan lain-lainnya.

​

Orang boleh berpendapat berbeda-beda. Tapi, yang pasti, kabar itu harus diluruskan. Yang lebih penting lagi, mayat Kureng harus segera ditemukan. Segala upaya telah dilakukan. Tapi, hasilnya nihil. Mayat Kureng belum bisa ditemukan. Sementara hari pelaksanaan upacara semakin dekat. Satu hari sebelum hari H, dilakukan pertemuan darurat untuk membahas tentang pengunduran pelaksanaan upacara kemerdekaan sampai mayat Kureng ditemukan.

​

Hampir tengah malam, sebelum hari H, rumah Pak Kades digedor. Pintu dibuka. Ternyata Kino yang berdiri di depan pintu. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin berselancar di dahi dan sebagian tubuhnya telah basah.

​

’’Kenapa kamu, Kin?”

​

’’Itu, Pak. Itu…’’

​

’’Itu apa?” tanya Pak Kades sambil berusaha menenangkan Kino.

​

’’Aku melihat Kureng di sungai!”

​

’’Maksudmu mayat Kureng hanyut di sungai?”

​

’’Bukan hanyut, Pak. Dia mandi di sungai.”

​

’’Mandi di sungai? Salah lihat kali!”

​

’’Saya yakin tidak salah lihat, Pak. Dia kirim salam buat bapak. Dia ingin bertemu bapak.”

​

Kino kemudian memberi tahu tempat dan jam yang diminta Kureng untuk bertemu dengan Pak Kades.

​

’’Oke, Kin. Sekarang kamu pulang dulu. Jangan kasih tahu orang-orang dulu. Tenang.’’

​

Kino mengiyakan dan segera pergi.

​

Pak Kades sebenarnya tidak percaya. Tapi, dia tetap memutuskan pergi untuk memastikannya. Tepat dini hari Pak Kades berangkat sendirian ke tempat yang disebut Kino.

​

Setelah berjalan cukup jauh membelah semak-semak ke pinggiran desa, Pak Kades akhirnya sampai juga di tempat itu. Di situ, dia bertemu dengan seseorang yang mungkin sejak tadi malam menunggu. Pak Kades tidak bisa melihat muka orang itu karena gelap.

​

’’Selamat malam menjelang pagi, Pak Kades.”

​

Laki-laki itu menyapa.

​

Pak Kades tidak asing dengan suara itu.

​

’’Selamat pagi,” jawab Pak Kades penuh ragu.

​

’’Bagaimana kabar Anda, Pak?”

​

’’Katakan saja apa maumu. Uang?’’

​

Mereka kemudian berunding masih dalam kegelapan. Mereka tak bisa saling bertatap muka. Hanya suara. Menjelang subuh, perundingan mereka selesai. Pak Kades segera pulang.

​

Setelah salat subuh berjamaah di masjid, Pak Kades menemui orang-orang yang sudah mendapat tugas dalam upacara pagi nanti. Ketika matahari belum benar-benar tinggi, mereka menyampaikan perintah Pak Kades kepada para perangkat upacara. Mereka diminta segera mempersiapkan upacara. Perayaan tetap dilaksanakan. Pak Kades menjamin semua aman. Untuk pertanyaan soal mayat Kureng, Pak Kades masih bungkam.

​

’’Nanti saja saya jelaskan pas upacara,’’ kata Pak Kades.

​

Pagi pun datang, upacara akan segera dilaksanakan.

​

’’Pak Kades, upacara bisa dimulai sekarang?”

​

’’Tunggu sebentar, saya masih menunggu seseorang.”

​

’’Menunggu siapa, Pak?”

​

’’Tunggu saja.’’

​

Pak Kades muram. Dia berusaha mencari Kino.

​

Upacara pun dilaksanakan. Upacara berjalan dengan lancar dan penuh khidmat. Hingga sampailah pada acara puncak, pembacaan teks pembebasan.

​

Semua orang menunggu sang proklamator keluar dari balik tirai dengan berdebar. Sejenak suasana menjadi hening. Lama tak ada tanda Pak Kades akan naik panggung sebagai sang proklamator.

​

’’Woi, Pak Kades mana?”

​

Teriak salah seorang warga yang diikuti warga lain.

​

’’Keluar woi!’’

​

’’Ayo keluar!’’

​

’’Jancuk!’’

​

Pak Kades tak kunjung naik panggung. Warga mulai bergemuruh. Saat warga mulai beringas dan hendak naik panggung untuk memproklamirkan sendiri kemerdekaan Desa Kijang, rombongan polisi datang. Suara sirene mobil memekakkan telinga. Kerumunan warga di lapangan balai desa itu terbelah. Mempersilakan mobil polisi lewat.

​

Para aparat kemudian turun dan langsung menyongsong Pak Kades yang masih bertahan di kantornya. Warga bertanya-tanya. Mereka semakin bingung saat komandan polisi naik panggung.

​

’’Lho.’’

​

’’Woi.’’

​

’’Kok?’’

​

Sang komandan berusaha menenangkan warga. Setelah semua berangsur-angsur tenang, dia mulai bicara.

​

’’Izinkan Pak Kades kalian kami bawa ke kantor. Dia diduga melakukan pembunuhan.’’

​

Warga bertanya-tanya. Siapa orang yang dibunuh Pak Kades?

​

’’Jenazah Kureng sudah kami periksa. Pak Kades diduga membunuh Kureng. Jadi, kami harap tidak ada keributan lagi di desa ini.’’

​

Suasana kemudian senyap. Antara percaya dan tidak percaya.

​

Begitulah. Dalam pertemuan pada malam yang ganjil itu, di tepi sungai, Pak Kades bertemu dengan anak buah Kureng. Anak buah Kureng yang mengetahui skenario Pak Kades yang meracun Kureng. Dia ditangkap polisi. Dia pun bekerja sama dengan polisi untuk mengorek pengakuan dari mulut Pak Kades sendiri. Soal Kino yang mengaku melihat Kureng, itu hanya sebagian kecil dari skenario polisi dan anak buang Kureng itu.

​

Soal motif Pak Kades membunuh Kureng, polisi masih menyelidikinya. Namun, menurut kabar yang sudah berembus di seantero desa, Pak Kades dan perangkat di bawahnya telah memakan dana desa. Tikus desa! Kureng termasuk orang di luar lingkaran aparat yang menerima uang dengan jaminan keamanan.

​

Tapi yang namanya Kureng tak pernah puas. Dia terus memeras Pak Kades dengan ancaman membocorkan korupsinya kalau tak dituruti. Akhirnya Pak Kades mengambil jalan pintas. Meracun Kureng.

​

Begitu sang komandan turun panggung dan membawa Pak Kades pergi, Kino yang entah muncul dari mana secepat kilat naik ke panggung. Dia segera meraih mikrofon dan berteriak lantang.

​

’’Merdeka! Kureng sudah mampus. Pak Kades biar membusuk di penjara!’’

​

Teriakan warga menyusul dengan lebih bergemuruh.

​

’’Merdeka!’’

​

’’Hidup Desa Kijang!”

​

Teriakan itu terus membahana, mengiringi mobil polisi yang perlahan-lahan meninggalkan desa. ¤

 

 

Surabaya, 23 Juli 2008

bottom of page