top of page

Ibu

DERU ombak terus bersahut-sahutan. Tak pernah habis, terus susul-menyusul. Iramanya mencipta sebuah lagu tak bernada. Perempuan tua itu masih berdiri di pinggir pantai, di antara bunga-bunga rumput yang tumbuh liar. Entah dari kapan, tak seorang pun memperhatikan keberadaannya. Dia hanya seorang di antara keramaian pengunjung pantai.

​

Dengan beragam keasyikan dan tema pembicaraan, mereka berebut waktu untuk menyaksikan semu merah senja di ujung barat laut. Semu merahnya yang muncul secara perlahan seolah malu-malu pada tatapan banyak pasang mata manusia.

​

Beratus-ratus pasang mata di pantai itu berbinar-binar antusias menantikan senja. Penanda pergantian siang dan malam. Sepasang mata itu terus menatapnya tanpa kedip. Bibir terkatup, tanpa kata.

​

Namun, kedua bola matanya seolah telah mengatakan semuanya kepada senja yang kini mulai memancarkan cahaya merah muda. Kisah masa lalu terpantul dalam gelombang kolam yang tersembunyi di balik kedua mata sayunya. Kerinduan.

​

Bahkan, senja seperti salah tingkah dan terpanah oleh tatapannya yang sayu, tapi menusuk.

Tak sanggup menahannya, dia pun berlindung pada awan mendung yang tiba-tiba muncul. Sinarnya tak terlihat lagi. Titik-titik air mulai berjatuhan satu per satu. Itu pun jika kita bisa menghitungnya dengan sebutan angka.

​

Para turis tercerai-berai oleh air hujan. Mereka berlari dari dan ke berbagai arah, mencari tempat perlindungan. Namun, tidak dengan perempuan itu.​

​

Dia masih berdiri di tempatnya. Wajahnya basah oleh air. Tak ada yang tahu, apakah air hujan telah menggenangi wajahnya atau luapan kolam dari sepasang bola mata sayunya yang tak terbendung lagi.

​

Tak ada yang memperhatikan. Tak ada pula yang peduli. Pada seorang ibu yang merindu pada peluk hangat anaknya yang telah lama pergi. ¤

 

 

Oleh Sri Nuryasih

Jakarta, 2017

bottom of page