Dua Cangkir Kopi
AKU mengenalmu dari secangkir kopi. Saat hari mulai ingsut, matahari mengingin rebah di segaris mata. Lampu-lampu semringah di gedung-gedung tinggi, di gang-gang sempit, di jalan-jalan mampet. Angin bertiup sekenanya. Di lesehan pedagang asongan pinggir Jalan Merdeka, aku, kopi, dan mengenalmu.
​
Kita kadang berbincang tentang siapa mengenal siapa. Siapa menemukan siapa. Kita pun akan sama-sama berkata, ’’Kamu yang ingin mengenalku. Kamu yang ingin menemukanku.”
​
Kita kemudian saling tidak setuju, lalu sama-sama mengambil kesimpulan: kita diperkenalkan, kita dipertemukan.
​
Kita kemudian mafhum. Kita tak memiliki kemampuan apa-apa untuk saling menemukan. Kita hanya manusia yang dipertemukan, diperkenalkan. Dan kita hanya melakukan apa-apa yang sudah digariskan oleh waktu.
​
Kamu seakan disekap lamun. Dua bola mata di balik sepasang kaca itu terpaku pada entah. Hanya sesekali dipeluk kedip. Adakah kenangan yang ingin kamu ziarahi? Tanyaku pada tanya.
’’Aku kadang tidak percaya pada laki-laki,’’ katamu, lalu diam beberapa saat.
​
Lama tak ada suara. Aku menunggu. Kamu mulai meraih cangkir kopimu, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya lagi. Pandanganmu menerawang jauh. Acuh pada gemuruh Jalan Merdeka. Apa kamu ingin merdeka? Dari apa? Lamun yang membelenggumu atau kenangan-kenangan yang mengusik tidurmu?
​
Bukan kenangan tentang dirimu sendiri, tetapi kenanganku.
​
Kamu menarik napas dalam-dalam, melepasnya pelan-pelan.
​
’’Kenapa kamu mau mengenal perempuan yang tidak percaya pada laki-laki?’’ desakmu.
​
Aku tidak langsung menjawab. Membiarkan angin malam sesekali menerpa wajahmu, wajah kita. Atau membiarkan sedikit kebisingan menyela, membelai telinga, lalu hilang. Aku terus berpikir. Perempuan tidak suka pada laki-laki yang menurut mereka tidak bisa dipercaya. Apa pun jawabanku, mungkin kamu juga tidak akan percaya. Buat apa aku harus menjelaskan banyak, bertele-tele. Kalimat bersayap-sayap. Kalau pada akhirnya jawabanmu hanya, ’’Oh, gitu.’’ Dan yang tersisa hanya kecurigaan.
​
Tapi, mengacuhkan bukan pilihan yang tepat. Laki-laki harus menjawab apa pun pertanyaan perempuan. Maka aku jawab, ’’Karena perempuan kadang juga tak bisa dipercaya.’’ Kataku sekenanya.
​
’’Haha, iya. Perempuan kadang begitu,” katamu.
​
’’Kadang aku bilang membencimu. Tapi, sejujurnya aku sangat mencintaimu.’’
​
’’Perempuan begitu pandai bersiasat, kapan harus mengedepankan benci daripada cinta, atau cemburu,’’ balasku.
​
’’Ya, karena laki-laki tidak pandai membaca isi hati perempuan.”
​
’’Kalau semua laki-laki bisa membaca hati perempuan, aku yakin tak akan pernah ada perang dunia di dunia ini.”
​
’’Maksud kamu?”
​
Kamu protes sambil melirikku.
​
Kita pun tertawa. Menertawakan diri kita sendiri yang terkadang begitu kekanak-kanakan. Lalu, kisah cinta manakah yang tidak kekanak-kanakan?
​
Aku diam. Kamu mengenang.
​
Lampu-lampu berpendar keemasan. Bising knalpot Jalan Merdeka melengking-lengking. Pembalap-pembalap amatiran memacu rongsokan mereka melesat mengalahkan nalar. Para joki sibuk menghitung uang-uang taruhan yang lusuh, lecek, receh. Mereka generasi merdeka. Berpacu dengan malam di depan istana.
​
’’Aku terkadang masih ragu,’’ katamu kemudian.
​
Beruntunglah kita yang masih memiliki ragu. Terlalu yakin akan membuat orang tak pernah mau melihat hal-hal lain yang tak diyakininya. Meskipun kadang ada arti yang mungkin kita cari.
’’Aku ragu kamu benar-benar mencintaiku,’’ katamu lagi.
​
’’Ya.’’
​
’’Itu saja jawabmu?’’
​
’’Ya. Maksudku, aku tahu kamu masih ragu. Tapi, setidaknya kamu perlu tahu, keraguanmu tak akan bisa mengubah apa-apa.’’
​
’’Bisa. Keraguan itu bisa buat aku ninggalin kamu.’’
​
’’Kalau memang begitu, berarti kamu meragu pada cintamu sendiri. Tak ada cinta yang meninggalkan.’’
​
’’Ih, kamu kok jadi puitis gitu sih.Gombalin tuh kopi.’’
​
Kamu kembali protes. Tersipu.
​
Kita tertawa.
​
Di seberang jalan, pepohonan mewarna-warni. Butiran lampu berkelip-kelip. Sesekali berderai diterpa angin larut malam. Jalanan mulai lengang. Hanya sesekali deru memecah diam.
’’Kadang aku cemburu pada masa lalumu,’’ katamu.
​
Lidahku mulai pahit. Kucabut sebatang rokok filter dari bungkusnya. Sebelum kusulut, kuraih segelas kopi yang mulai menjadi dingin. Entah siapa dulu yang dengan jenius mencoba memetik biji tanaman, menumbuknya, lalu menyeduhnya menjadi minuman yang kita kenal sebagai kopi ini. Biji kopi tetap bernama kopi meski telah diolah menjadi minuman apa pun. Bahkan, ketika dijadikan permen pun, nama kopi tak hilang. Minuman yang begitu kelam, dengan sisi pahit dan manisnya.
​
Kenanganku dan aku yang sekarang sama dengan kopi yang kusesap kini. Kenanganku adalah sisi pahit kopi, dan perkenalanku denganmu adalah sisi manisnya. Menyatu dalam segelas kopi. Sekarang kita hanya perlu memilih, memesan kopi atau minuman lain yang hanya manis belaka.
Kenanganku adalah tentang aku dan diriku yang dulu, tentang perempuan-perempuan yang datang dan pergi. Kenangan adalah tentang yang lalu. Tentang yang sekarang adalah kita. Menulis kenangan kita sendiri –yang mungkin akan dicemburui perempuan lain yang datang jika akhirnya kamu memilih untuk pergi. Tapi, bukankah tak ada cinta yang meninggalkan?
​
’’Kamu tahu, tak ada siapa pun yang bisa mengubah kenangan,’’ kataku.
​
’’Aku hanya bisa membuatnya tak penting lagi.’’
​
’’Ya, itu pasti. Aku hanya merasa kamu tidak mencintaiku seperti kamu mencintai mereka.’’
​
’’Karena kamu bukan mereka.”
​
’’Itu jawaban klise.’’
​
’’Tapi itu benar.’’
​
’’Ya, aku juga nggak mau jadi mereka.’’
​
’’Lalu, kenapa kamu ingin aku mencintaimu seperti aku mencintai mereka?’’
​
’’Aku Cuma merasa cintamu lebih besar kepada perempuan-perempuan sebelum aku.’’
​
’’Cinta bukan masalah seberapa besar atau seberapa kecil. Cinta adalah seberapa penting.’’ Aku diam sejenak. ’’Dan kamu penting buatku, sekarang, saat ini.’’
​
Angin melalu. Malam melarut.
​
Jalan Merdeka diselimuti pagi. Ragu dan deru berselang-seling. Rindu dan risau berdesau-desir. Cinta dan asa menunas di kepala kita, bahwa tak ada yang lebih berharga dari saat ini dan sekarang ini, bersamamu. Bahwa tak perlu ada yang dicemburui dari kenangan. Ia tak lebih seperti hujan. Ia hanya air yang jatuh, berkali-kali, lalu lesap di antara keacuhan, hilang di antara ketidakpedulian. Lalu bekasnya beranjak lekas. Menuju ketiadaan.
​
Tak perlu pula kamu merisaukan angin yang menggetarkan ranting, berderit-derit, menggugurkan daun-daun yang rapuh. Atau menggetarkan lonceng yang memekakkan telinga, berkeloneng di belakang kepala kita. Sebab, kita telah memiliki suara kita sendiri.
​
Cukupkan ia serasa belai yang menumbuhkan tunas, menjadi napas, menjadi degup, menjadi aku-kamu. Kita hanya perlu risau ketika senyum tak lagi tersenyum di wajah teduhmu, di wajah diamku.
​
Kita hanya perlu risau kala binar tak lagi berbinar di sepasang mata kita, yang bertemu, berbicara pada pandang. Kita hanya perlu risau saat kata yang diucapkan kata sebatas kata. Hanya eja, kemudian hilang menyisakan lamun, diam dan mendalam.
​
Ada senyum yang menggerakkan pipimu, sedikit mengernyitkan matamu.
​
’’Sudah seharusnya aku tak memedulikan kenanganmu,’’ katamu setelah lama diam. ’’Sekarang aku tahu. Aku hanya memedulikanmu. Kadang aku tidak percaya pada laki-laki. Tapi, aku juga tidak bisa tidak percaya bahwa kamu mencintaiku.”
​
’’Kok kayak terpaksa gitu?’’ kataku menggoda.
​
’’Tak ada cinta yang terpaksa…,’’ sahutmu membalik kata-kataku.
​
Kita tersenyum di pagi yang semakin pagi.
​
Kita beranjak pergi. Kunyalakan motor, lalu kita melaju di Jalan Merdeka yang lengang. Kamu memelukku erat. ¤
Jakarta, 18 Agustus 2016