Dongeng Putih
SUSI melihat bayangan ibu yang selalu menyayanginya duduk di sudut kamar mandi. Ibu Susi sering terlihat mencuci di tengah malam yang gigil. Tak pernah selesai. Susi hanya bisa mengamati ibunya dari posisi berjarak. Ibu Susi hanya menunduk dan terus mengucek pakaian satu per satu.
Mata ibu Susi tak pernah mau berpaling dari pekerjaannya. Meski untuk sekadar menoleh ke arah Susi. Kalaupun mau berpaling, itu hanya untuk memberikan isyarat kepada Susi agar segera kembali ke kamar dan tidur.
Beberapa hari sejak kejadian itu, Susi sering terbangun di tengah malam. Dia tidur dengan gelisah. Sebab itulah, meskipun matanya tertutup, dia masih bisa mendengar sayup-sayup suara dari kamar mandi. Suara seseorang sedang mandi atau mencuci. Sejak itu pula Susi menyadari kehadiran sosok ibunya yang telah lama meninggal. Dia senang ibunya telah kembali. Ibu yang selalu dirindu dalam hari-harinya yang sepi.
Tapi apakah ibu Susi nyata adanya? Entahlah. Ayah Susi yang sesekali terbangun hanya mendapati sosok Susi seorang diri di sudut kamar mandi. Seperti sedang mengamati sesuatu. Sejak kematian ibunya, baru kali ini Susi menjadi akrab kembali dengan kamar mandi. Kamar mandi menjadi sebuah ruang pelarian yang sempurna bagi jiwa-jiwa yang sepi. Kamar mandi menghadirkan sebuah melodi kesendirian yang merdu. Tik tik tik.
Hampir setiap malam Susi diperdengarkan dongeng kamar mandi. Dongeng yang sekiranya sedikit demi sedikit mampu membangkitkan jiwa-jiwa sunyi yang bersemayam di dalam diri Susi. Dongeng tentang kematian ibu yang selalu menyayanginya di tangan ayahnya sendiri. Setelah semuanya berakhir, dia bisa terlelap di kamar mandi dan bangun keesokan harinya ketika tangan ayahnya dengan kasar menarik tubuhnya.
’’Apa yang kau lakukan di sini?”
’’Menemani ibu.”
’’Diam kau! Tak ada siapa-siapa di sini.”
Setelah itu, Susi hanya bisa menuruti tangan ayah yang menuntunnya pergi. Sementara tertatih menuruti tarikan ayahnya, dia masih bisa melihat sosok ibunya yang masih sibuk mencuci.
***
Kamar mandi menjadi tempat yang diakrabi Susi sejak kecil. Dia selalu ingin menemani ibunya yang sedang mencuci. Dia bisa mengingat dengan jelas bagaimana dulu dia suka bermain di bak mandi seperti ikan kecil. Dia bisa menghabiskan waktu berendam di bak air bersama bebek kecil mainannya. Tidak seperti ibu Susi yang selalu menyayanginya, ayah Susi lama-lama menjadi geram dengan kebiasaan itu. Bukan hanya lantaran kebiasaan Susi yang gemar bermain air, tapi lantaran biaya hidup yang semakin mencekik leher.
Kebutuhan hidup yang semakin banyak dan sulitnya mencari pekerjaan membuat ayah Susi mudah marah. Kejadian kecil sudah bisa membangkitkan emosinya. Pertengkaran menjadi sering terjadi di keluarga kecil Susi. Tak jarang, bentakan dan pukulan mampir di wajah mungil Susi dan raut tabah ibunya.
Puncak kemarahan ayah Susi terjadi di suatu sore yang rintik. Entah dari mana, ayah Susi terlihat datang dengan menenteng bungkusan hitam. Setelah dibuka, bungkusan kain itu berisi bubuk putih seperti bedak yang dicampur dengan bunga melati. Bubuk dan bunga melati itu kemudian ditabur di setiap sudut rumah. Ibu Susi yang mencoba menanyakan hal itu hanya mendapat pukulan sebagai jawaban. Susi yang melihat kejadian itu dari sela-sela pintu kamar mandi hanya bisa meringkuk. Ketakutan. Tubuhnya menggigil.
Keesokan harinya, ketika Susi sedang asyik bermain dengan bebek kecil mainannya, ayah Susi datang menghampiri ibunya yang sedang mencuci pakaian. Dari balik bajunya yang kumal, ayah Susi mengeluarkan sebilah parang yang berkilat. Melihat itu, Susi menjadi gagap dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Mata Susi terbelalak, mengucurkan air mata. Dia berharap itu hanya mimpi. Tapi itu bukan mimpi buruk yang beberapa kali mengganggu tidurnya. Segalanya baru saja terjadi di hadapannya.
Dia melihat sendiri tubuh ibunya terjerembap di lantai. Susi tak bisa bergerak. Dia ingin berteriak, tapi gagap. Ingin menangis, tapi tertahan. Dia tak bisa berbuat apa-apa melihat tubuh ibunya menjadi pucat kehabisan darah. Setelah itu, ayah Susi mengangkat mayat ibunya dan memasukkannya ke dalam bak mandi. Ayah menimbunnya dengan adonan semen. Setelah selesai dengan pekerjaannya, ayahnya menghampiri Susi yang masih meringkuk di sudut kamar mandi.
’’Jangan banyak bicara! Mengerti?!”
Bentak ayahnya sebelum meninggalkan tubuh kecil Susi yang masih menggigil. Pandangan Susi tak mau lepas dari pusara ibunya. Hanya diam.
***
Sejak kejadian itu, Susi yang awalnya periang dan suka bermain tumbuh menjadi gadis yang tertutup. Pendiam. Susi lebih sering menghabiskan waktu dengan menyendiri di kamar mandi. Berharap bisa bertemu ibu yang selalu dirindukannya.
Susi menjadi sulit bergaul. Susah didekati. Dia menjadi canggung ketika sedang berada di keramaian. Dia menjadi semakin dijauhi teman-temannya. Kalau tidak di kamar mandi, dia bisa ditemukan di sebuah bangunan tua di sisi lain kesunyian kota. Di tempat itu pula, dia bertemu dengan seorang wanita dengan jiwa sunyi lainnya. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Maya. Melihat Susi dan Maya layaknya melihat bayangan diri sendiri. Mereka memiliki kesunyian masing-masing.
’’Aku Susi.”
Susi memperkenalkan diri.
Perkenalan ganjil Susi dengan Maya berlanjut sampai beberapa waktu. Mereka menjadi teman. Kebanyakan waktu mereka habiskan di luar rumah. Di museum, bangunan tua, atau tempat-tempat lain yang jarang didatangi orang. Mengenal Maya membuat Susi seperti hidup kembali. Seperti jiwa yang hilang bersama ibunya telah kembali. Apakah Maya adalah penjelmaan ibunya? Atau diri Susi sendiri?
Sejak mengenal Maya, Susi semakin jauh dari lingkungan teman-temannya. Dia selalu abai terhadap siapa dan apa pun. Hampir seluruh waktunya hanya untuk Maya. Apakah Maya benar-benar penjelmaan ibunya? Atau mungkin Maya hanya sosok fiktif yang dia cipta sendiri untuk menemaninya? Entahlah. Sejak kehadiran Maya dalam kesunyiannya, Susi menjadi memiliki semangat kembali.
’’Apa ibumu juga mati di tangan ayahmu?” tanya Maya.
’’Benar. Bagaimana bisa sama denganku?”
’’Benarkah? Persamaan itulah yang mungkin mempertemukan kita.”
Susi tersenyum, tapi tetap dengan senyum yang ganjil. Orang biasa yang melihatnya tidak akan pernah bisa menemukan senyum itu. Tapi, lihatlah dengan cermat. Susi benar-benar bisa tersenyum. Senyum yang dingin.
’’Ayah sekarang menjadi orang kaya.”
Susi bergumam.
’’Begitu juga ayahku. Rumahnya yang dulu kecil dan sederhana kini menjadi mewah dan gedong. Ayah sudah sukses. Ayah mengorbankan ibu untuk semua itu.”
Susi menatap Maya. Susi seperti tak bisa percaya bagaimana kejadian yang menimpa Maya sama persis dengan yang terjadi pada Maya. Susi diam sejenak. Dia seperti sedang berpikir keras tentang Maya. Apakah Maya adalah benar penjelmaan ibunya? Atau hanya bayangan dirinya yang kemudian hidup menjadi sosok lain bernama Maya?
Susi belum berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi, sejurus kemudian, tubuhnya bergetar ketika melihat Maya mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya. Mata Susi terbelalak sama seperti ketika melihat ayahnya menghunus parang. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Mulutnya meracau, tapi tak ada suara yang keluar. Susi menghindar. Dia merasakan ngilu yang hebat di lehernya.
’’Tenang, Susi. Aku tak akan menyakitimu.”
’’Jauhkan itu dariku!”
Susi terpojok di sudut bangunan tua. Maya terus mencoba mendekati Susi dengan tangan berpisau. Selama itu pula Susi terus berteriak.
’’Menjauh dariku!”
’’Aku membunuh ayahku dengan pisau ini.”
’’Jauhkan pisau itu dariku!”
Tubuh Susi kuyuh, pucat pasi seperti kehabisan darah. Matanya merah. Bayangan tubuh ibunya yang tersungkur di lantai bertahun lalu terlihat jelas di pelupuk matanya. Dia menjerit sejadi-jadinya. Dia melolong seperti anjing menyambut purnama. Saat itu juga Susi ingin menemui ayahnya, dan membunuhnya. Tapi setiap melihat pisau, tubuhnya menjadi kacau.
Susi berkali-kali meminta Maya membuang jauh-jauh pisaunya. Tapi, tak ada tanggapan dari Maya. Tak ada lagi sosok Maya yang menghunus pisau. Tak ada orang lain selain dirinya sendiri.
***
Susi terbangun di tengah malam oleh mimpi. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dalam mimpi yang gelap, terlihat samar-samar sosok Maya kembali datang dengan menghunus pisau. Mata pisau yang tajam itu seperti ingin menguliti tubuhnya. Sosok Maya kala itu tak ubahnya sosok ayahnya yang beringas. Susi bangkit dari pembaringannya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Seperti malam-malam yang lalu, Susi memasuki kamar mandi seperti memasuki kesunyian yang lain. Dia melangkah penuh hati-hati. Dia seperti takut kalau-kalau menginjak kaki ibunya. Mungkin tangan ibunya. Atau mungkin juga kepala ibunya. Apakah kau tak pernah menyentuh apa-apa ketika sedang meraih gagang gayung? Atau ketika kau ingin buang air kecil? Apakah kau tidak merasakan kalau ada sosok lain yang selalu mengintaimu di kamar mandi? Jika bisa melihatnya, mungkin kau akan lebih berhati-hati. Karena di ruang paling sunyi seperti kamar mandi sekalipun sebenarnya kau tidak sendirian.
Susi sungguh bisa merasakan kehadiran ibunya. Dia bisa melihat sosok ibunya sedang mencuci. Ibu Susi tersenyum. Susi ikut tersenyum. Tapi, senyum mereka dingin. Seperti senyum bengis seorang pembunuh. Lalu, dengan gerak sedemikian rupa, ibu Susi mengambil sebilah pisau dari tumpukan cuciannya.
’’Ambil pisau ini! Bunuh ayahmu! Kuliti ayahmu!”
Kata-kata itu membuat telinga Susi sakit. Lebih-lebih lagi dia kembali merasakan ngilu yang sangat hebat di lehernya.
’’Ambil pisau ini! Bunuh ayahmu! Kuliti ayahmu!”
Suara-suara itu terus menyerang telinga Susi seperti mata pisau tajam. Susi tak sanggup. Ingin melawan. Dia menguatkan hati untuk meraih pisau itu dan merobek jantung ayahnya. Tapi, apa yang kemudian dilakukan, meraih pisau itu dari tangan ibunya yang bermata Maya. Dia kemudian menarik sosok ibunya yang bermata Maya itu hingga terkulai di lantai.
Susi berusaha merogoh jantung ibunya. Kuliti dia. Dia menancapkan mata pisau di pergelangan tangan, pergelangan kaki, lalu ditarik sampai ke pundak, paha, lalu perut, leher, punggung. Dia mencongkel kedua bola mata ibunya yang seperti mata Maya itu. Gelap dan sunyi. Susi tertawa. Wajahnya dingin ketika mulai memotong-motong tubuh ibunya.
Tapi, apa yang kemudian terlihat adalah Susi sedang menguliti dirinya sendiri. Dia mengiris nadinya sendiri, menancapkan mata pisau ke lehernya sendiri. Dia mencongkel matanya sendiri. Yang seperti mata Maya. Seperti mata ibunya. Lihatlah, Susi masih berusaha menguliti dirinya sendiri. ¤
Jojoran Asri, Maret 2011