top of page

Dongeng Kebahagiaan

KAMI sedang berkemas di rumah kami. Sebelumnya, ketika mendung mulai terbentuk di atas desa, kami sudah menyiapkan apa saja yang perlu kami bawa. Tikar, gelas, piring, makanan dan apa saja yang ada. Apa yang sekiranya perlu. Kami bukan bersiap untuk piknik atau semacamnya. Ini sudah menjadi sebuah ritual yang sekaligus menjadi satu-satunya hiburan lima tahun sekali.

​

Ya, desa kami seperti daerah mati. Seluruh penduduk tak bisa lagi berbicara maupun bersuara. Hari-hari kami berjalan datar dan sepi. Meskipun begitu, kami tak pernah merasa bersedih. Karena kami telah diberi bekal kebahagiaan yang cukup. Janji-janji indah.

​

Kalian tak perlu heran kenapa kami tetap bahagia meskipun mulut kami tak lagi bisa bersuara. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana. Dengan diam, kami tak perlu menebar teror kebohongan di mana-mana. Dengan diam kami tak perlu membentak anak-anak atau istri-istri kami karena sedikit kesalahan. Dengan diam kami juga dapat menjaga lidah tetap bersih dari janji-janji. Kami hanya berbicara dengan isyarat.

​

Maklum, suara kami sudah habis untuk seseorang yang telah memberi kami kebahagiaan. Atau lebih tepatnya janji. Janji akan memberikan kebahagiaan. Dan kami sudah cukup bahagia dengan janji. Kami hanya perlu memberikan suara-suara kami. Ya, bahkan anak-anak yang masih di dalam kandungan pun telah kehilangan suaranya.

​

Tibalah hari ini.. Desa kami seperti hidup kembali dari mati suri. Musim janji-janji sudah datang. Ada kebahagiaan dan kehidupan. Riuh gempita. Semua orang pun sibuk mengemasi barang-barang sehingga menimbulkan kebisingan yang memekakkan telinga. Setiap orang sibuk mempercantik diri dengan pakaian paling baik yang mereka punya. Mereka juga akan membawa segala barang paling berharga yang tersisa. Begitu juga kami.

​

Kami semua berpacu dengan waktu. Ketika hujan mulai turun serempak, kami pun secara otomatis berhenti berkemas dan berhamburan ke luar rumah.

​

’’Jangan sampai melewatkan detik-detik kedatangannya.”

​

Kata orang tua kami dulu. Kadang, kami belum selesai memakai baju hujan sudah turun. Ada yang sisirnya masih nyangkut di kepala, ada yang ritsleting celana maupun roknya belum ditutup. Yang paling parah adalah ada yang belum sempat memakai celana. Anak-anak kami pun tertawa cekikikan –tetap tanpa suara– ketika melihat kami keluar rumah setengah telanjang.

​

Mungkin akan lebih baik jika kami beri tahu kepada kalian terlebih dulu tentang desa kami. Desa kami bukan desa dari negeri dongeng di atas awan atau di bawah tanah. Desa kami benar-benar ada. Desa kami berada di pinggiran kota tempat kalian tinggal. Entah desa kami benar-benar termasuk desa atau masih berada dalam wilayah pemerintah kota kalian. Jika dilihat dari peta, kami termasuk warga kalian. Tapi, kami lebih suka menamakan tempat kami desa, tempat yang bisa menawarkan keakraban yang hangat antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan kota adalah tempat yang individualistis.

​

Kami seperti hidup di desa terpencil dari gemerlapnya kota. Selama bertahun-tahun kami selalu meneriakkan kabar keberadaan koloni kami. Manusia-manusia yang hampir habis berharap. Tapi, sepertinya telinga kalian sudah bebal dan tuli, atau mungkin sengaja tak acuh. Kami menjadi kaum yang terpinggirkan. Lamban tapi pasti kalian gerogoti tanah kami sedikit demi sedikit untuk membangun peradaban baru yang semakin memojokkan kami. Dan perlu kalian ketahui, kami sekarang hidup di tanah yang luasnya tak lebih dari lapangan bola. Sementara jumlah kami semakin bertambah.

​

Di desa kami tidak akan pernah kalian temui fasilitas hiburan, kesehatan, maupun pendidikan. Kalian hanya akan menemukan tempat sampah raksasa yang memakan hampir setengah lahan permukiman.

​

Jangan kalian pura-pura simpati kepada kami. Karena kami tahu sekarang musim sudah berganti hujan. Musim menebar kebaikan demi kepentingan sendiri telah datang. Jangan pikir kami menderita. Itu salah besar. Justru saat seperti inilah kebahagiaan kami akan datang. Ya, pada saat seperti inilah –ketika hujan mulai turun– akan datang seorang perempuan yang kami namai Perempuan Hujan.

​

Dia akan menceritakan kepada kami sebuah dongeng kahyangan. Kami bisa bahagia mendengarnya. Dia berbeda. Dia bukan seperti yang sudah-sudah. Yang menawarkan jadi, lalu pergi tak kembali-kembali. Dia akan memberi kami bekal kebahagiaan. Kami sudah memberikan suara-suara kami. Dia akan menepati janji.

​

Kami sudah menganggapnya sebagai malaikat penolong. Sebab itulah kami dengan sukarela menyiapkan barang-barang yang perlu kami bawa untuk dihadiahkan kepada dia sebagai ucapan terima kasih.

 

***

 

Kini, kami sudah berada di tempat yang lapang. Di bawah guyuran hujan kami membentuk sebuah lingkaran. Kami duduk dengan saling berpegangan tangan. Tua-muda, kecil-dewasa, laki-laki, dan perempuan. Semua tak sabar menunggu kedatangannya. Sementara itu, di hadapan kami, terdapat tumpukan barang-barang yang sudah kami siapkan sebagai hadiah.

​

Seperti tahun-tahun lalu, dia akan keluar dari balik lorong sempit nan gelap di ujung perkampungan. Menurut kabar burung –yang sudah lama kami percayai– perempuan itu berasal dari kota seberang sana. Awalnya, kami menganggap dia sama seperti yang lain, suka memeras darah kami. Tapi, kenyataannya, dia bukan seperti mereka. Dia tidak simpati, tapi dia bangga dengan ketegaran kami. Untuk itu, dia memberikan hadiah berupa dongeng kepada kami.

​

Sebenarnya dongeng yang dia ceritakan kepada kami sama persis seperti tahun-tahun lalu. Tapi toh dongeng itu mampu menyihir kami. Kami juga sebenarnya tidak begitu paham dengan dongeng yang dia ceritakan. Tapi, dia mampu mengubah dongeng itu menjadi seperti mukjizat yang memberikan kebahagiaan langka kepada kami. Kami pun dengan senang hati memberikan barang-barang berharga sebagai hadiah.

​

Hujan mulai deras. Kami pun bersiap-siap menyambut kedatangannya. Kami tak pernah berpikir kalau-kalau desa kami akan tenggelam oleh air hujan. Sepertinya, Perempuan Hujan itu telah melindungi desa kami dengan dinding tipis yang tak terlihat. Jadi, kami tetap aman meskipun kota tetangga selalu dilanda banjir setiap tahun. Kami sungguh tidak pernah merasa khawatir.

​

Kami masih menunggu detik-detik kedatangan perempuan itu keluar dari balik lorong. Seperti biasa, dia akan berjalan mendekati kami dengan payung merah yang melindunginya dari hujan. Wajahnya putih bersih dengan rambut disanggul ke atas dan diikat pita merah pula. Tubuhnya ramping, semampai. Dia biasanya akan mengambil posisi di tengah-tengah lingkaran kami. Dia kemudian akan duduk dengan lembut dan mulai bercerita.

​

’’Tahukah kalian, ada sebuah tempat di mana tidak ada kesedihan di sana?”

​

Dia jeda sejenak untuk memperbaiki posisi duduknya. ’’Di tempat itu, hanya ada kebahagiaan. Di tempat itu semua orang mendapat derajat yang sama, keadilan yang sama, dan kekayaan yang sama.’’

​

’’Aku adalah dewa penyelamat bagi orang-orang seperti kalian.’’

​

Setelah itu, apa yang dikatakan perempuan itu tak dapat lagi kami dengar. Kata-katanya seperti mantra yang bisa membuat kami tenggelam dalam alam bawah sadar.

​

Kejadian itu, seingat kami, berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya kami terbangun dan menyadari hujan sudah reda dan langit kembali cerah. Barang-barang yang kami siapkan sudah hilang. Seketika itu kami akan bersorak gembira karena perempuan hujan itu bersedia menukar kebahagiaannya dengan barang-barang kami.

​

Tapi, lama perempuan itu tak kunjung datang. Kami bergeming. Tak peduli meskipun harus duduk beralas tumpukan sampah dan genangan air mulai merendam tubuh kami. Kami tetap menunggu dengan khidmat dan terus membaca mantra mengharap kedatangannya.

​

Kami mulai resah. Dia belum datang meski mantra sudah kami baca ratusan kali. Bibir kami pun mulai membiru karena dingin yang amat sangat. Anak-anak kami mulai roboh dan tersungkur di atas sampah. Air sudah mulai menggenangi sekitar kami. Tapi kami seperti tidak peduli dan tetap meneguhkan keyakinan bahwa sebentar lagi Perempuan Hujan akan datang.

​

Tapi, kenapa dia tak kunjung datang? Waktu membuat keyakinan kami mulai surut dan terus menunggu adalah hal yang sia-sia. Tubuh kami sudah mulai membeku-membiru. Kami tak mau mati sia-sia. Kepercayaan kami sudah habis sampai di sini. Kami pun bergegas membereskan barang-barang kami: lebih tepatnya rongsokan. Sebab, harta yang paling berharga sudah kami tukarkan semua, suara-suara kami.

​

Kami mulai memanggul anak-anak kami yang mulai membeku. Hujan bukannya mereda, tapi malah semakin deras saja. Kaki-kaki kami pun mulai sarat oleh sampah-sampah yang menghalangi langkah kami. Sementara itu, air sudah mulai tinggi. ¤

 

 

Surabaya, Maret 2009

bottom of page