top of page

Dia si Pemulung

AKU sebenarnya tidak merasakan apa-apa sebelum hari ini. Aku pikir, hari itu adalah hari jenuh yang sedang menghinggapi dia. Sehingga dia sepertinya tak ada gairah sedikit pun dalam hidupnya. Dia melewati sebuah gang kecil dan berlalu pergi begitu saja tanpa melirik sebuah tempat yang seharusnya dari tempat itulah, paling tidak, dia bisa mendapatkan sesuatu yang berharga.

 

Meskipun aku tidak mengenal dia secara pribadi, tapi aku sudah tidak merasa asing. Hampir setiap sore aku melihat dia menerobos gang-gang kecil di sekitar tempat tinggalku. Dari penampilannya, aku langsung tahu kalau dia adalah pemulung. Tapi, aku rasa dia pemulung yang istimewa. Karena karung yang dia bawah selalu terlihat baru. Tak tampak noda sedikit pun. Kait dari besi yang dia bawah pun masih terlihat mengkilat. Tak ada tanda-tanda habis dipakai untuk mengorek-ngorek tempat sampah.

 

Jika pikiran positifku yang berbicara, aku akan menganggap dia sebagai pemulung baru. Atau, paling tidak dia selalu mengganti karung kotornya dengan karung yang bersih. Tapi, menurutku, itu sedikit tidak masuk akal. Selain aku selalu melihatnya dengan penampilan yang sama, mengganti karung setiap hari adalah pemborosan yang sangat bodoh.

 

Jika pikiran negatifku yang berbicara, aku akan mengatakan kalau dia adalah maling yang berkedok sebagai pemulung. Dia berkeliling guna menakar-nakar waktu yang aman untuk melancarkan niat jahatnya. Sekaligus menggambar tempat mana yang bisa menjadi sasaran empuk. Tapi, bukanlah hakku untuk menentukan siapa dia. Untuk saat ini, biarlah aku menganggapnya sebagai pemulung yang sedang tak bergairah.

 

Dan sore ini, aku sengaja duduk di depan rumah. Menunggu dia lewat. Jika dilihat dari kebiasaan, tak lama lagi dia akan lewat di depanku. Dan ternyata memang benar. Dari kejauhan, aku melihat dia berjalan agak pelan, tak seperti biasanya. Sepertinya ada beban berat yang harus dia bawa sehingga mengurangi kelincahannya. Ketika dia semakin dekat, aku pun mempersiapkan diri untuk sekadar menyapa. Tapi kata yang sudah sampai di kerongkongan harus kutelan kembali. Dari dekat, aku melihat karung yang dia bawah begitu kotor dan menimbulkan bau tidak enak. Aku mulai merasakan mual yang tak tertahankan. Aku beranjak pergi. Aku melihat dia tersenyum kecil kepadaku sebelum akhirnya kututup pintu rapat-rapat.

 

Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata. Bau itu masih menyerang perutku sehingga mual yang mulai sedikit reda kambuh lagi. Ibu tak mencium bau apa pun ketika aku tanyakan soal bau yang membuatku tak bisa tidur itu. Ibu menyarankan aku supaya memakai minyak wangi untuk menghilangkan bau itu. Tapi percuma. Bau itu semakin menyengat. Kepalaku malah ikut-ikutan pusing. Mataku sedikit rabun dan setelah itu aku tak sadarkan diri. Begitu bangun, aku menemukan diriku sudah terbaring di kamar.Dan aku bersyukur, kini bau itu sudah hilang.

 

Sore harinya, aku melihat dia lalu lalang di sekitar rumahku. Kalau tak salah hitung, dia sudah memutar sebanyak tiga kali. Aku masih trauma dengan bau itu sehingga lebih memilih tetap berada di kamar dan mengamati dia dari jendela. Aku semakin heran dengan apa yang aku lihat. Hari ini lain dari yang kemarin. Karung yang dia bawah sore ini terlihat penuh, tapi masih terlihat bersih. Sebenarnya siapakah orang itu?

 

Pikiranku kini sedikit banyak tersita pada pemulung itu. Bukannya apa-apa, tapi ini menyangkut keamanan sekitar tempat tinggalku. Apalagi, akhir-akhir ini banyak warga sekitar yang mengeluh kehilangan. Memang barang yang hilang bukan barang-barang berharga. Hanya pot bunga dan barang-barang berbahan plastik lainnya. Tapi, ini sudah mencapai pada tingkat meresahkan warga. Jadi, aku sebagai orang yang diberi kepercayaan dalam hal ini harus bergerak cepat. Atau kalau tidak, laporan kehilangan akan sering terjadi.

 

Karena kepercayaan itulah pada sore berikutnya aku menunggu dia di bawa pohon mangga. Tempat biasa dia berteduh ketika hujan maupun ketika panas. Tempat itu hanya berjarak kira-kira seratus meter dari rumahku. Hanya saja jalan yang aku lalui untuk mencapai tempat itu banyak belokannya. Lama aku menunggu, tapi dia tak datang juga. Akupun bersiap untuk pulang dengan tangan kosong karena hari sudah mulai gelap. Tapi, di tengah jalan, aku berpapasan dengan orang yang dari tadi kutunggu.

 

’’Selamat sore, Pak. Aku sudah lama menunggu.”

 

’’Menungguku?”

 

’’Iya. Aku ingin bicara sedikit dengan bapak. Mari kita duduki di situ saja.”

 

Kataku sambil menunjuk ke arah bangku yang tidak jauh dari tempat kami berpapasan.

Dia menurunkan karung dari pundaknya ketika aku persilakan duduk di sampingku. Aku lihat wajahnya penuh dengan tanya, tapi tetap tenang. Jika melihat sikapnya, aku pikir dia tak ada tampang untuk menjadi seorang pencuri berkedok pemulung. Tapi, hati orang siapa yang tahu? Jika disuruh memilih lebih senang menghadapi orang yang tenang atau yang gagap, aku lebih suka memilih yang terakhir.

 

’’Maaf mengganggu pekerjaan bapak. Saya di sini mewakili warga sekitar sini untuk....”

 

’’Aku tahu maksud saudara.”

 

Dia memotong sebelum aku selesai menyampaikan maksudku. Baguslah kalau begitu. Berarti aku tak perlu lagi merasa bersalah harus menyatakan sekaligus menanyakan perkara kehilangan-kehilangan itu.

 

’’Saudara ingin menanyakan soal kehilangan yang sering terjadi itu kan?”

 

’’Maaf, Pak. Saya tak bermaksud menuduh. Cuma selama ini kami hanya melihat bapak yang ada di sekitar tempat tinggal kami ini.”

 

’’Jika aku mengaku mencuri, apa yang akan kalian lakukan?”

 

Dia menanyakan hal yang sulit untuk aku jawab. Inilah sebabnya kenapa aku lebih suka menghadapi orang gagap daripada orang yang tenang dalam menghadapi sebuah permasalahan.

 

’’Tentu kami akan memaafkan bapak jika mau mengembalikan barang-barang yang telah bapak ambil.”

 

’’Kalau seandainya aku mengaku tidak mengambilnya, apa yang akan kalian lakukan?”

 

’’Kami akan mencari pelakunya.”

 

’’Tentu kamu tahu guyonan kalau maling ngaku, penjara akan penuh bukan? Apa iya ada saksi yang melihat aku mengambil barang-barang kalian?”

 

Aku menggeleng. Memang selama ini tak ada satu pun orang yang melihat dia mengambil sesuatu dari rumah-rumah warga.

 

’’Tentu kamu bisa bersikap bijak dalam hal ini, anak muda. Baiklah, aku mohon pamit.”

 

Aku tertegun melihat kharismanya. Secepat kilat aku berpikir bahwa orang tua ini tak pantas menjadi seorang pemulung, apalagi sebagai pencuri. Aku kemudian berusaha agar dia tak cepat pergi. Masih ada sesuatu yang menghantuiku tentang dia. Dan, di luar dugaanku, dia ternyata dengan tenang duduk kembali di sampingku, setelah kuminta.

 

’’Ada apa lagi, anak muda?”

 

’’Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada bapak.”

 

Dengan agak terbata-bata, aku menanyakan perihal apa yang aku lihat selama ini. Tentang karungnya yang selalu baru. Tentang kait besinya yang selalu mengkilap. Dan tentang karung penuh muatan yang membuat perutku mual sampai pingsan tempo hari itu.

 

Dia hanya tersenyum kecil setelah mendengar pertanyaan-pertanyaanku itu. Dia kemudian mengambil karung di sampingnya yang tampak penuh dan memperlihatkan isinya padaku. Aku sedikit tak percaya dengan penglihatanku sendiri ketika aku melongok ke dalam karung. Apakah rasa pusing bercampur mual yang membuatku sejenak merasa rabun kambuh lagi sehingga karung yang sepertinya penuh muatan itu terlihat kosong?

 

’’Kamu tidak salah lihat, anak muda,” katanya ketika melihatku mengucek mata untuk meyakinkan penglihatanku.

 

’’Bagaimana mungkin?”

 

’’Aku memang pemulung. Tapi, aku bukan pemulung barang-barang yang ada di tempat itu. Aku memulung barang-barang yang jauh lebih mahal dan berharga dari itu semua.’’

 

’’Apa ada yang lebih berharga bagi seorang pemulung melebihi itu?”

 

’’Ada. Kenangan. Aku memulung kenangan. Kenangan dibuang pemiliknya begitu saja.’’

 

Aku diam. Dia melanjutkan bicara.

 

’’Mereka tak pernah sadar bahwa kenangan indah atau buruk sama penting dan berharganya. Mereka seharusnya menyimpan baik-baik kenangan mereka untuk cermin di kemudian hari. Dengan kenangan buruk, paling tidak kamu mampu melihat kalau kamu pernah terjatuh dan yakin bisa lebih baik lagi. Dan akan semakin baik. Dan dengan kenangan indah, kamu bisa bercermin bahwa di tengah kesulitan dan kesedihan, kamu pernah mengalami kebahagiaan. Dan dengan itu, kamu akan yakin bisa bahagia lagi.”

 

’’Apa ada orang yang membuang kenangan indah?”

 

’’Ada. Kenangan indah bersama seseorang yang dicintai, yang kemudian pergi. Setelah itu, kamu akan berusaha sekuat tenaga untuk membuangnya jauh-jauh dari ingatanmu. Hanya karena orang yang kamu cintai kini menjadi milik orang lain.”

 

’’Lalu yang kemarin itu?”

 

Mendengar pertanyaanku, dia tersenyum. Tapi, aku bisa melihat ada kegetiran di balik senyumnya yang lembut. Kemudian, dengan perlahan, dia menceritakannya. Dulu, sejak pertama dia mengenal seorang gadis dan kemudian jatuh cinta. Cintanya disambut oleh gadis itu. Akhirnya mereka berikrar untuk saling setia, apa pun yang terjadi. Tapi, di tengah kebahagiaan mereka, tersulut setitik api yang perlahan membesar dan membakar hati mereka. Ya, orang tua gadis itu tak pernah setuju dengan hubungan mereka. Gadis itu dinikahkan dengan orang lain yang lebih berada.

 

’’Suatu sore kami bertemu untuk sama-sama mencari jalan keluarnya. Tapi, keinginanku untuk memiliki dia seutuhnya begitu besar. Aku tak rela dia menjadi milik orang lain.”

 

’’Lalu?”

 

’’Dia menyerahkan hidupnya padaku. Dan dengan tangan ini, aku membunuhnya.”

 

Aku terperanjat. Orang setenang dia adalah pembunuh.

 

’’Setiap sore aku berusaha memulung kenangan-kenangan kami yang tersebar di kompleks ini. Aku persembahkan kenangan-kenangan indah itu kepada dia sebagai hadiah. Karena aku tak pantas memilikinya. Karena itu semua terlalu berharga untuk dibuang.”

 

’’Kemarin yang kamu lihat itulah kenangan pahit itu: hadiah yang cukup pantas untukku sendiri. Dan yang ini, kenangan indah terakhir yang aku pulung dari kompleks ini. Sekaligus hadiah terakhir yang bisa aku hadiahkan kepadanya.”

 

Otakku mendadak kosong mendengar cerita pemulung itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa memandanginya ketika bangkit dari duduknya. Dia merapikan karung, lalu memanggulnya kembali. Aku pun tak bisa mencegahnya lagi. Dari kejauhan, aku terus memandangi tubuhnya yang berjalan gontai. ¤

 

 

Surabaya, Maret 2009

bottom of page