Di Sebuah Kafe
BANYAK yang aku rindukan. Menjadi perindu memang terkesan cengeng. Tapi tetap manusiawi. Itu tandanya masih ada hati, dan ingatan. Dari sekian banyak hal tak penting yang kurindukan, aku menemukan ingatan tentang sebuah kafe. Mungkin seharusnya kafe itu juga menjadi hal yang sama tak pentingnya.
​
Kafe itu memang sedikit berkesan. Tanpa pintu, jendela, hingga siapa saja yang datang bisa masuk dari arah mana saja. Tempat duduknya berkerangka besi, dibalut dengan jalinan rotan yang membentuk sebuah kursi. Mejanya bundar seperti umumnya sebuah meja. Di sudut kafe itu, ada air mancur kecil yang kadang mati. Ada gemericik yang meneduhkan. Di tempat itu, waktu berjalan dengan cepat.
​
Aku mulai sering mendatangi kafe itu. Lebih sering sendiri. Tempat yang awalnya asing itu lama-lama menjadi seperti sahabat yang menyambut hangat, dengan cappuccino panas dan biskuit cokelat. Kafe itu kemudian menjadi semacam tempat perziarahan.
​
Didatangi kapan pun dan dengan siapa pun, kafe itu tetap menjadi spesial. Bahkan, duduk berlama-lama sendirian di tempat seperti itu tak pernah menjadi teror. Justru ada keintiman. Sangat intim. Serupa pendosa bercumbu dengan tuhannya; ”Malah, bagiku, kafe sudah menjadi rumah ibadah yang membebaskan kita dari seluruh perasaan susah. Terus terang, setiap kali aku ke kafe, aku seperti tengah melakukan pengakuan dosa!” ucap seorang perempuan dalam sebuah pertemuan mistis Rendezvous.
​
Kafe menjadi semacam altar dengan lampu-lampu temaram yang menggantikan lilin-lilin putih. Tak ada koor penyanyi yang kadang menyanyat hati. Hanya alunan musik mendayu-dayu. Bisa jazz, pop, atau juga dangdut. Maka, aku lebih menyukai kafe itu daripada altar gereja.
​
Aku tak pernah lagi bersimpuh di bawah rosario. Memohon, meminta pengampunan. Sebagai gantinya, aku pergi ke kafe itu, duduk dan minum kopi. Ketika malam mulai membosankan. Kafe lagi-lagi menjadi sahabat yang hangat.
​
Kalaupun akhirnya kafe itu mempertemukan aku dengannya, aku hanya bisa katakan itu hanya sebuah kebetulan. Pada sebuah petang, dia datang dengan begitu anggunnya. Dengan langkah santai dia masuk kafe dan duduk di salah satu sudut, tidak jauh dari tempatku duduk. Posisi duduknya memungkinkan baginya untuk melihat apa yang aku tulis di sebuah kertas. Meskipun aku tak yakin dia bisa membaca seluruhnya, nyatanya dia memang tertarik dengan tulisanku.
”Hanya tulisan dari kekosongan pikiran,” kataku saat aku sadar dia memperhatikanku.
Dia tersenyum sambil melirik ke kertas yang aku pegang.
​
”Mana mungkin dari pikiran kosong ada kata-kata semacam itu. Kosong berarti tidak ada apa-apa,” kata perempuan itu kemudian memanggil waiters untuk memesan sesuatu.
​
Dia memesan cappuccino. Setelah waiters itu pergi, dia berkata, ”Boleh aku lihat?”
​
”Apa?”
​
”Tulisan itu…”
​
Aku ragu. Tapi ada semacam tangan gaib yang menuntun tanganku untuk mengambil potongan kertas itu dan memberikannya kepada perempuan itu. Pesanannya datang saat tangannya yang putih menerima kertasku. ’’Terima kasih,” kata perempuan itu, kepada waiters yang kemudian berlalu.
​
Dia membaca. Bibirnya yang ranum bergerak pelan. Kulitnya putih, alisnya tidak terlalu tebal, hidungnya juga tidak terlalu pesek. Aku tak bisa menggambarkan bentuk wajahnya dengan sempurna. Lagi pula itu tak perlu, biarkan aku saja yang menikmati wajahnya di petang yang hangat itu.
​
Dia mengernyitkan alisnya setelah membaca. Melirikku dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Aku tercenung. Dia sudah kembali memandang kertas di tangannya saat aku membalas senyumnya. Dia membaca pelan, ”Tuhan turut menangis karena trauma itu menyakitimu; tetapi semua itu diizinkan-Nya untuk membentukmu supaya tumbuh menjadi seperti Kristus!”
​
’’Aku sudah lama tidak ke gereja,” katanya sambil mengembalikan kertasku.
​
Aku menerimanya dengan diam, sambil mencoba mengartikan wajahnya yang mendadak sayu.
​
’’Aku justru lebih menyukai tempat ini.”
​
’’Sering datang ke sini?”
​
’’Lumayan sering. Kamu bagaimana?”
​
’’Lumayan juga.”
​
Aku berharap ada sesuatu yang dia katakan tentang tulisan itu. Tapi, sudah tak ada kata-kata lagi sampai dia pergi. Dia hanya membalasnya dengan senyum saat kukatakan sampai bertemu lagi.
Pada pertemuan pertama itu, kami belum saling bertukar kenal nama. Hanya ada percakapan singkat dan senyuman.
​
Beberapa hari kemudian aku kembali ke kafe itu. Pada hari-hari kemudian lagi. Tapi, perempuan itu tidak pernah terlihat. Apa kali ini dia lebih suka ke gereja daripada kafe? Kalau memang begitu, aku juga senang. Tapi, pada hari berikutnya aku akhirnya melihatnya lagi. Dari kejauhan dia sudah tersenyum saat melihatku. Kami saling bertatap. Dia berjalan agak tergesa menuju meja waiters dan langsung memesan sesuatu. Dia kemudian berjalan ke arahku.
​
”Sedang bersama seseorang?” tanyanya, sambil menunjuk kursi di depanku, dipisahkan meja bundar.
​
”Iya. Aku sedang bersama seseorang.”
​
Raut wajahnya memancarkan sedikit kekecewaan mendengar jawabanku. Dia mengangguk kecil dan matanya mulai mencari tempat duduk lain di sekelilingnya. Hari itu pengunjung memang ramai. Bisa dibilang hanya di mejaku yang sepi. Satu meja dengan dua kursi dan hanya satu yang terisi, yang kini sedang kududuki.
​
Melihat dia bingung, aku tak tega.
​
”Aku bercanda. Aku sendiri.”
​
Mendengar itu, ada kelegaan dari tanda napas panjang yang dia tarik dalam kemudian embuskan cepat-cepat. Lebih tepatnya mendengus. Mungkin rasa lega, bisa juga kesal karena aku permainkan. Kenal nama pun belum. Hanya percakapan kecil di sebuah petang.
​
”Jadi, aku boleh duduk di sini?”
​
”Tentu.”
​
Dia duduk, meletakkan tas kecil di atas meja. Tidak lama kemudian pesanannya datang. Secangkir cappuccino yang sama seperti pertemuan pertama. Jadi, kini di meja ada dua cangkir berisi cappuccino.
​
”Ada sesuatu yang bisa kubaca lagi?” tanyanya sambil meniup minumannya dan kemudian menyeruputnya.
​
”Sesuatu yang bisa dibaca?”
​
”Iya. Kita mulai bicara setelah kamu menulis.”
​
”Kamu ingin aku menulis apa?”
​
”Terserah kamu saja. Aku hanya ingin membaca tulisanmu hari ini.”
​
Aku mulai menulis. Tidak lama. Aku langsung memberikan kertas itu kepadanya.
​
Kalau boleh tahu, siapa namamu?
​
Dia membacanya pelan, lalu tersenyum.
​
”Apa tidak ada perkenalan lain yang lebih gentle?’’
​
’’Aku sudah berusaha.’’
​
’’Kalau tidak boleh?” katanya, manis sekali.
​
”Terpaksa aku memintamu meninggalkan kursiku.”
​
”Kursimu? Apa kamu ingin menggodaku?”
​
”Aku cuma ingin tahu namamu.”
​
Sebenarnya, kalaupun dia tak mau menyebutkan nama, aku tak akan memintanya pergi. Tak apalah tanpa nama. Aku bisa memanggilnya dengan nama apa saja.
​
’’Sebaiknya tanpa nama. Sepakat?’’
​
’’Sepakat.’’
​
Dia tersenyum lega.
Sejak perkenalan itu, aku mulai sering pergi ke kafe bersama dia. Ada semacam kedekatan yang tak terbantahkan. Memang kami tidak selalu menghabiskan waktu bersama di kafe. Kadang aku mengajaknya nonton ke bioskop. Aku suka film action, sementara dia suka horor. Tapi, itu tak menimbulkan pertengkaran tentang film mana yang lebih enak ditonton.
​
Kalau ada pameran lukisan, kami juga pergi. Aku lebih tertarik dengan lukisan abstrak, dia lebih suka realis. ”Kamu memang abstrak!” katanya, mencoba menggodaku yang sedang asyik mengamati sebuah lukisan di sebuah galeri. Untuk membalasnya, aku hanya perlu mencubit pipinya, dengan lembut. Tapi, tetap saja dia merintih sok kesakitan.
​
Kami memang banyak perbedaan, tapi tidak untuk cinta dan kafe itu. Kafe tetap menjadi tempat yang sering kami datangi. Kalau akhirnya aku bertemu dengan dia di kafe, itu adalah sebuah kebetulan yang indah. Tapi, dia menolak saat kukatakan pertemuan itu hanya kebetulan.
”Tuhan tidak bermain dadu,” protesnya.
​
Baginya, tak ada yang namanya kebetulan. Aku mengiyakan. Selain aku suka senyum dan tawanya, aku juga suka saat melihatnya cemberut, protes. Bisa dibilang aku suka dia saat dia tertawa bahagia, cemberut marah. Apa pun darinya. Aku hanya tidak suka saat dia menangis.
​
”Jadi, tuhan membawamu kepadaku?”
​
’’Mungkin.”
​
”Tuhan tidak bermain dengan kemungkinan.”
​
Merasa kata-katanya kubalikkan, dia meraih tisu, menggulungnya kecil dan melemparku dengan itu. Kami tertawa.
​
Itu beberapa tahun yang lalu. Kini dia sudah pergi. Tidak pernah lagi menemaniku minum kopi di kafe itu. Sejak kepergiannya aku masih pergi ke kafe yang sama. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun. Tak ada orang seperti dia yang datang untuk sekadar membuat obrolan kecil, lalu pergi tanpa meninggalkan nama.
​
Setelah kepergiannya, aku pun pergi meninggalkan kota. Meninggalkan kafe. Meninggalkan kenangan. Mungkin ada lelaki dan perempuan lain yang menorehkan kisah di kafe itu. Entah. Setiap orang berhak memiliki dan memilih kisahnya sendiri.
​
Aku masih bisa mengingat dengan jelas pertemuanku dengan dia di kafe itu. Bukan hanya ingat, bahkan pertemuan terakhir itu selalu datang di mimpi-mimpi gelisahku.
​
Kamu bisa datang setiap hari ke kafe ini. Tetapi, kamu tidak selalu bertemu dengan orang yang ingin kau temui duduk manis di kafe ini.
​
Waktu itu, aku memang tidak menanggapi serius kata-kata dia, sebelum pergi.
​
Apa salah jika aku selalu berharap menemukanmu duduk manis saat aku datang ke kafe ini?
Tak ada yang salah. Kadang kita dituntut untuk memilih dan kita akhirnya memilih sesuatu yang tidak kita inginkan.
​
Saat itu aku mulai takut dengan kata-katanya. Selama bersama, dia adalah gadis periang. Kata-katanya mengalir indah di kejernihannya. Tapi, pada pertemuan terakhir itu, sungguh tak pernah aku tahu kalau itu akan menjadi yang terakhir. Kata-katanya seperti lautan dalam, gelap dan tak mudah ditebak.
​
Seperti yang pernah kau tulis dulu. Mungkin aku akan sedikit berkorban untuk menjadi Kristus.
Saat itu, aku hanya menulis. Tak ada yang serius.
​
Iya, tapi dari tulisan itu aku mulai mencintaimu. Kamu adalah lelaki yang memiliki sesuatu yang membuatku jatuh cinta. Aku tak tahu apa. Yang jelas aku jatuh cinta.
Ya. Aku juga merasakan yang sama. Kita akan bahagia.
​
Aku merasa sepertinya aku akan segera pergi. Aku merasa aku harus pergi, ke sebuah tempat, untuk berkorban, untuk menjadi Kristus.
​
Apa kamu akan menikah dengan orang lain dan meninggalkanku?
​
Entahlah, tuhan tak pernah bermain dadu. Dia punya rencana sendiri.
​
Aku tahu dia tak pernah punya rahasia. Selama bersama, dia selalu berbicara apa saja. Dia suka bicara dan aku suka mendengar. Karena itu aku menganggapnya tak pernah memiliki rahasia. Tapi, aku salah. Setiap orang punya rahasia.
​
Besok kalau kamu tak ada acara, kamu bisa menemukanku di sini.
​
Aku tak tahu. Sepertinya aku akan pulang beberapa hari. Ibu menyuruhku pulang. Ada hal penting katanya…
​
Baiklah. Setelah kembali, kamu bisa menemukanku di sini.
​
Saat itu dia tak berkata apa-apa. Hanya mengangguk. Setelah itu kami hanya diam. Menanti waktu. Dan tibalah saat dia minta diri. Pulang. Tapi, sebelum pergi dari kafe, dia mengajukan sebuah pertanyaan.
​
Kamu akan mengenangku sebagai apa? Gadis penyuka kafe dan cappuccino, atau gadis yang jatuh cinta padamu?
​
Aku terpaku. Tak tahu harus menjawab apa. Dia begitu berbeda hari itu. Lama aku tak bisa menjawab. Mulutku kaku. Aku pun tak tahu jawaban apa yang pantas. Tak ada. Segalanya serbarumit. Apa dia akan pergi menikah? Meninggalkanku?
​
Dia pun pergi tanpa jawaban. Aku menatap punggugnya. Jalannya seperti pipit terbang gontai. Sayapnya terluka.
​
Sejak pertemuan terakhir itu, aku masih sering ke kafe. Berminggu-minggu hingga berbulan-bulan tak ada kabar tentang dia. Sampai akhirnya berita itu datang. Lima bulan selepas kepergiannya. Dia meninggal dalam kecelakaan tunggal.
​
Ada orang yang bilang murni kecelakaan. Ada yang bilang dia sengaja menabrakkan mobilnya ke moncong truk. Masalahnya, dia dipaksa menikah.
​
Aku hanya bisa berduka. Tak bisa berziarah ke makamnya. Aku hanya pergi ke kafe itu, memesan kopi dan duduk di kursi yang sama berlama-lama.
​
Waiters datang membawa kopi pesananku. Sebelum pergi, waiters itu memberikan secarik kertas.
​
”Apa ini?”
​
”Beberapa hari lalu ada perempuan datang ke sini dan menitipkan ini.”
​
Aku sedikit ragu. Tapi kubuka juga lipatan kertas itu. Ada tulisan tangan yang tak asing bagiku.
Kamu akan mengenangku sebagai apa? Gadis penyuka kafe dan cappuccino, atau gadis yang jatuh cinta padamu?
​
Aku benci dengan diriku. Karena aku menangis setelah membacanya. Lelaki memang makhluk paling cengeng. Entahlah aku harus mengenang dia seperti apa. Aku hanya bisa mengenang dia sebagai perempuan yang pergi. ¤
Surabaya, 18 Februari 2013