Deru Kereta
DIA masih mencoba mempertahankan dirinya untuk tetap berendam lebih lama lagi di kubangan air berlumpur itu. Dia bergeming dan mencoba untuk tetap tenang agar tak menimbulkan kecipak air yang bisa menggagalkan persembunyiannya. Walaupun lumpur di wajahnya sudah mengering dan retak-retak serta menimbulkan rasa gatal, dia tetap bertahan. Atau nyawanya akan melayang di tempat itu juga. Tak dia hiraukan pula nyamuk-nyamuk kelaparan yang mengerubungi tubuhnya yang tak berbaju. Rasa gatal bercampur nyeri pun dengan brutal menyerang.
’’Aku harus bertahan,” gumamnya.
Dari balik persembunyiannya, dia melihat di sekelilingnya banyak bayangan hitam. Dia sedang diburu. Dalam penglihatan matanya, semua bayangan itu menghunus parang, pentungan, balok kayu, dan sebagainya.
’’Aku tak akan rela mati konyol di tempat ini!” gumamnya sekali lagi.
Suara gemelotak rel yang sedang dilintasi roda-roda besi kereta api memecah keheningan sejenak bersama sirene yang meraung-raung. Atau bunyi peluit penjaga stasiun yang bertugas mengabarkan keberangkatan dan kedatangan kereta. Di sudut stasiun ini, aku menemukan pemandangan yang tak pernah aku temukan di stasiun Gubeng, Balapan, Tugu, Lempuyangan, atau stasiun lain yang pernah kusinggahi. Stasiun Wonokromo menyuguhkan hal yang berbeda ketika malam mulai turun.
Di sekitar tempat itu mulai bermunculan tenda-tenda semipermanen beratap terpal plastik dengan rangka kayu. Ketika malam semakin jatuh dalam kegelapan, kehidupan lain yang penuh tawa-canda wanita-wanita penjaja cinta dan suara pria di warung remang-remang puluhan itu mulai menggeliat. Kehidupan malam dimulai. Kehidupan glamor kelas bawah yang menggairahkan. Para pelacur pun mulai melancarkan rayuan maut atau promosi diskon harga pakai. Menarik laki-laki berkantong tipis tak masalah.
’’Yang penting laku,” kata seorang pelacur kemudian menggandeng laki-laki tua memasuki bilik terpal miliknya.
Jangan bayangkan di tempat ini akan kalian temui deretan akuarium yang memamerkan ikan-ikan hias seperti Dolly. Jangan pula bayangkan opera prostitusi seperti di tivi-tivi. Yang memamerkan keglamoran dunia malam dengan minuman keras ternama. Atau pria berdasi dengan bau parfum menyengat merek luar negeri. Jangan bayangkan pula lampu warna-warni diskotek serta perempuan montok yang selalu bergelayutan di pundak lelaki berkantong tebal. Jangan bayangkan.
Cukup hanya dengan melihat sekilas, kalian akan tahu apa yang ada. Hanya ada warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman keras kelas teri. Wanita menor yang sudah kendor. Juga laki-laki lusuh berbau asem, atau kalau sedikit beruntung bau minyak angin pengusir meriang.
Kalau bukan karena suatu hal yang sangat penting, aku pun enggan memasuki dunia lain ini. Dunia ini menyajikan opera recehan yang diaktori perempuan-perempuan di ambang usia senja dan laki-laki bau tanah.
’’Aku mencari, Ngatijo,” kataku kepada salah seorang yang sedang duduk-duduk di warung remang-remang itu. Kopi hangat tersaji di meja. Aku rasa semua orang di tempat itu mengenal Ngatijo dengan baik. Apalagi, sejak ada kejadian tadi pagi, Ngatijo pun semakin dikenal.
’’Sampean lurus saja ke sana.”
Aku pun mengikuti arah telunjuk laki-laki tadi.
Sudah aku bilang, kalau bukan karena suatu hal, aku pun enggan memasuki daerah ini. Karena itulah, aku pun tak begitu mengenal tempat ini dengan baik. Karena itu, aku harus beberapa kali bertanya kepada orang-orang setempat untuk bisa menemukan rumah Ngatijo. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya aku bisa menemukannya. Rumahnya tak jauh dari Jembatan Jagir –utara stasiun, berada di perkampungan Bratang Tangkis. Nama itu pun aku tahu dari warga sekitar.
’’Saya menyediakan lima kamar,’’ kata Ngatijo.
Aku pun diajak melihat kamar-kamar tersebut. Masing-masing kamar kurang lebih berukuran 1 × 2 meter. Menurut berita yang kubaca di media, tempat itulah yang dipakai secara bergantian oleh pelacur ketika transaksi dengan pria hidung belang. Pintunya pun hanya sehelai kelambu. Bahkan, ada yang pakai bekas spanduk kampanye. ’’Sesuai kesepakatan, ongkosnya sekali pakai Rp 5 ribu,’’ sambung Ngatijo, menjelaskan.
Di dalam setiap kamar, tergeletak selembar kasur yang sudah menjadi keras, dan tipis. Bilik-bilik tersebut tidak berlampu. Hanya mengandalkan pantulan cahaya dari lampu 15 watt di kamar mandi di ujung bilik. Cahaya remang-remang di dalam bilik itulah yang menyelimuti desah yang diiringi suara aliran air di pintu Sungai Jagir. Atau kalau kereta sedang lewat, raungan lokomotif dan gemuruhnya mengaburkan berahi yang semakin liar.
Aku pun sampai pada satu bilik yang kasurnya berlumur darah. Di tempat inilah pembantaian itu terjadi.
’’Sebenarnya hal ini tak perlu terjadi. Andai saja Sunarko tak terlalu gegabah memainkan celuritnya.’’
Ngatijo mulai bercerita sesuai permintaanku.
Berdasar cerita Ngatijo, kejadian itu berlangsung hampir tengah malam –celurit Sunarko menebas leher seorang pelacur bernama Sulastri. Pelacur yang dianggap sebagai kembangnya Jagir. Sulastri dibunuh bersama Ngatmo, teman Sunarko. Kematian Ngatmo barangkali tidak terlalu penting. Mudah dilupakan. Tapi, kematian Sulastri tak bisa diterima. Sulastri ibaratnya sudah menjadi magnet tempat itu.
Tidak ada yang tahu pasti asal Sulastri. Tahu-tahu dia sudah ada di tempat itu. Dan menggelar dagangan bersama perempuan lain yang sudah lama mangkal di tempat itu. Kabar angin menyebutkan bahwa Sulastri dari Madiun. Alasannya kalau dia bicara medoknya nggak ketulungan. Ada juga yang bilang Sulastri asli Mojokerto, Gresik, dan Lamongan. Ada juga yang bilang Sulastri asli Madura. Gara-garanya unik. Waktu itu, ada tukang becak yang habis pakai tidak bisa bayar, atau lebih tepatnya tidak mau bayar. Sulastri pun menonjok moncong laki-laki yang sudah menikmati dadanya itu. Selama tiga hari laki-laki itu tak kelihatan narik becaknya lagi. Laki-laki itu meriang, begitu kata tetangganya.
Tapi prediksi itu kemudian dibantah oleh orang-orang. Karena logat Sulastri tak ada Madura-Madura-nya sama sekali. Hingga kematiannya, tidak ada yang tahu daerah asal Sulastri. Mereka juga tidak peduli. Mereka yang biasa mangkal di situ hanya banyak membicarakan kemampuan Sulastri dalam memuaskan laki-laki. Lebih jago daripada perempuan lain. Bahkan, istri-istri sendiri.
Umur Sulastri tidak muda lagi, kira-kira 40 tahunan. Tentang usia Sulastri pun tak ada orang yang tahu pasti. Yang diingat orang, Sulastri masih kenyel dan tentu saja laris. Barangkali pengalaman atau jam terbang lah yang membuat Sulastri pandai menyervis laki-laki. Pelanggannya pun tidak terhitung jumlahnya. Termasuk di antara pelanggan-pelanggan itu adalah Sunarko dan Ngatmo. Dua laki-laki bangkongan yang sudah lama ditinggal mati istri-istrinya. Mereka bahkan hampir setiap satu minggu sekali mengencani Sulastri. Dari kedua laki-laki bau tanah itulah segala persoalan kemudian muncul.
Hari itu sepanjang pagi sampai siang Sunarko terlihat tekun menggenjot becaknya. Bisa sampai 4–5 kali sehari. Semangatnya bekerja memang tak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun umurnya sudah lebih dari setengah abad, kekuatannya dalam menggenjot becak bisa dibilang masih prima. Bahkan lebih bertenaga dari laki-laki lain yang seumuran dengannya.
Bisa dimungkinkan, kekuatannya menjadi berlipat ganda jika yang digenjot bukan lagi becak, tapi Sulastri. Sunarko merasa tergelitik berahinya ketika mengantarkan pelanggan perempuan berbodi padat-berisi setelah belanja di pusat grosir daerah itu. Malamnya, ketika akan mengunjungi gubuk Sulastri dengan menahan berahi seakan mau meledak, Sunarko menemukan los itu kosong.
Dari tukang becak lainnya, Sunarko tahu kalau Sulastri sedang di-booking Ngatmo, temannya sendiri. Ngatmo mengajak Sulastri bergulat di bilik sewaan milik Ngatijo. Kejadian seperti itu sudah berlangsung beberapa kali hingga membuat Sunarko berang. Pertengkaran antara dua laki-laki bangkongan yang berteman sejak lama itu pun tak bisa dihindari. Mereka sama-sama emoh memakai jasa perempuan selain Sulastri. Meskipun cuma berlangsung sebentar karena banyak orang yang melerai, perkelahian malam itu menjadi awal kegemparan yang lain.
Sebelumnya, menurut kabar yang beredar –ini pun aku tahu dari cerita Ngatijo– Sulastri telah menyanggupi permintaan Sunarko untuk tidak melayani laki-laki lain selain dirinya. ’’Nanti sampean tak siri!” kata Sunarko.
Setelah melewati perjuangan yang lama dan berliku, Sunarko akhirnya bisa meyakinkan Sulastri kalau dirinya masih sanggup menafkahinya sebagai istri. Dia masih sanggup mencari uang untuk hidup mereka kelak kalau sudah kawin.
Meski begitu, bukan berarti Sulastri serta-merta berhenti melayani laki-laki lain. Selama belum resmi disiri, dia akan tetap berjualan. Hal itu membuat Sunarko cemburu. Karena itu, dia harus membuktikan kata-katanya dengan bekerja lebih keras dan membawakan beberapa lembar uang untuk sang pujaan hati.
Selama menunggu kepastian dari Sunarko, ternyata diam-diam Sulastri juga menerima tawaran Ngatmo yang juga menaruh cinta dan berniat mengawininya. Lebih dari itu, Ngatmo ingin membawa Sulastri pergi dari daerah itu.
’’Mau kerja apa kalau pergi dari sini?” kata Sulastri.
Ngatmo pun menjanjikan akan mengajaknya pulang ke kampungnya di pedalaman Lamongan. Dan menggarap tanah yang ditinggalkan almarhumah istrinya.
Tapi, begitu desas-desus itu merebak, banyak orang tidak yakin keseriusan Sunarko dan Ngatmo mengawini Sulastri. Itu mungkin modus mereka agar bisa menikmati servis Sulastri tanpa bayar. Cinta segi tiga tukang becak dan pelacur. Lucu. Tapi manusiawi, pikirku. Sejak pertengkaran itu, semua orang juga yakin Sunarko dan Ngatmo serius ngajak Sulastri kawin.
’’Malam itu kejadiannya begitu singkat,’’ kata Ngatijo sedikit bergetar ketika mulai menceritakan pembunuhan itu.
Orang tua itu mungkin trauma. Melihat pembunuhan di depan matanya. Ditambah interogasi polisi yang mungkin saja intimidatif. Dia masih sebagai saksi.
Malam itu Sunarko datang melabrak dengan menghunus celurit. Sekali menyibak kelambu yang menutupi bilik, jeritan itu terdengar histeris. Ngatijo yang mengamati dari sudut tersembunyi tak bisa berbuat apa-apa. Dia ketakutan. Ngatmo dan Sulastri tak bisa menyelamatkan diri dari sabetan celurit Sunarko. Pasangan bugil itu pun terkulai di kasur dengan bercak darah segar.
’’Dia kabur begitu mendengar teriakanku.’’
’’Apa bapak yakin kalau pelakunya Sunarko?”
’’Saya sepenuhnya yakin, Mas. Mata saya belum rabun.”
Menurut cerita Ngatijo, setelah membunuh Ngatmo dan Sulastri, Sunarko melarikan diri. Dia membuang celuritnya ke sungai untuk menghilangkan barang bukti. Setelah itu, Sunarko berlari beberapa meter, kemudian menceburkan diri ke sungai. Bersembunyi.
’’Bagaimana bapak bisa tahu begitu detail?”
’’Diam-diam saya mengikutinya.”
’’Bukankah bapak ketakutan saat itu?”
Ngatijo diam.
Ngatijo kemudian mengajakku keluar dari rumahnya. Bulan di langit bersinar remang, tertutup awan hitam kelam. Perasaanku malam berjalan begitu cepat. Laki-laki tua itu mempersilakan aku duduk di kursi tua di teras rumahnya. Setelah menemukan kesempatan yang baik, aku kembali mengajukan pertanyaan.
’’Bagaimana Sunarko bisa mati di tangan warga?”
’’Malam itu bulan tidak cukup terang,’’ kata Ngatijo kemudian diam. Aku pun diam demi menunggu dia melanjutkan ceritanya. ’’Aku bisa mendekati persembunyiannya tanpa diketahui. Dia masih mencoba mempertahankan dirinya untuk tetap berendam lebih lama di kubangan air berlumpur itu. Dia mencoba untuk tetap tenang agar tak menimbulkan kecipak air yang bisa menggagalkan persembunyiannya.”
Ngatijo selanjutnya menceritakan bahwa malam itu banyak warga yang mencari pembunuh Sulastri dan Ngatmo. Mereka membawa parang dan benda apa saja yang bisa dipakai untuk menghantam Sunarko. Kematian Sulastri sungguh tak bisa diterima. Mereka mengumpat. Kematian Sulastri membuat mereka hanya bisa membayangkan kepiawaian Sulastri melayani pelanggan, dengan memainkan kelamin sendiri untuk mencari kenikmatan. Sedang dengan pelacur lain mereka belum menemukan ke-Sulastri-annya.
Seketika itu, Ngatijo berteriak untuk membongkar persembunyian Sunarko. Menurut ceritanya pula, karena teriakan itu, Sunarko kalang kabut. Seperti ikan terkena pancingan. Warga pun memburu Sunarko. Mereka mengangkat tubuh kurus Sunarko ke pinggir sungai. Dia dihantam berkali-kali, sebelum beberapa tusukan akhirnya menumpas nyawanya.
Pagi harinya, mayat Sunarko yang tersangkut di pintu air Jagir diangkat petugas medis. Mayatnya diangkut dengan ambulans ke rumah sakit. Pada saat itu juga Ngatijo dibawa ke kantor polisi sebagai saksi. Setelah memberikan kesaksian, Ngatijo diizinkan pulang. Tapi sewaktu-waktu dia harus datang jika dipanggil kembali.
’’Seberapa penting Sulastri bagi lokalisasi itu?”
’’Sangat penting, Mas. Penting banget malah. Kecantikan yang belum sepenuhnya pudar serta servis yang memuaskan sangat dirindukan setiap laki-laki di sini.”
’’Termasuk bapak sendiri?”
Aku memberanikan diri menanyakan hal itu. Karena beberapa orang yang aku temui mengatakan bahwa Ngatijo juga diam-diam menaruh cinta kepada Sulastri.
’’Sayang, Sulastri hanya mau uangnya saja. Ngatijo loyo. Burungnya tidak bisa berdiri,” kata salah seorang kepada saya sambil berbisik, di sebuah warung kopi tempo hari.
Aku tahu juga dari orang itu kalau Ngatijo sangat sensitif bila berbicara tentang burung.
’’Bisa-bisa sampean ditempeleng!”
Beberapa kabar juga mengatakan kalau Ngatijo orangnya keras dan tukang ngibul.
’’Katanya, dulu, di kampung dia punya empat istri. Padahal, burungnya itu kan terkena flu akut. Loyo!”
Banyak kabar yang aku terima. Dan aku tak tahu mana yang bisa aku percaya. Tapi, aku sudah tak peduli apakah Ngatijo pembual atau burungnya loyo. Yang pasti, pertengkaran antara Sunarko dan Ngatmo pernah terjadi. Dan itu karena memperebutkan Sulastri. Sekarang mereka bertiga telah tewas. Dengan fakta itu, aku bisa meyakini kalau kali ini Ngatijo tidak membual. Apalagi polisi memintanya menjadi saksi. Aku sudah tahu apa yang harus kutulis.
Setelah merasa cukup mendapatkan bahan untuk tulisanku, aku berpamitan. Sebelum subuh, aku sudah bisa menyelesaikan tulisanku dan segera melayangkannya ke koran tempatku magang melalui surat elektronik. Di depan layar komputer, aku hanya berharap nanti sore bisa melihat tulisanku terpampang di rubrik berita sore yang akan menentukan nasibku di koran tersebut.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Ingin mengusir lelah yang melilit kepala. Memikirkan kasus itu membuatku tersenyum sendiri geli. Aku baru saja keluar dari kehidupan lain di sisi kota metropolis ini. Hiburan malam, remang-remang. Prostitusi kelas bawah untuk manusia-manusia pinggiran berkantong tipis. Apa pun rupanya, kenikmatan tetap sama.
Lamat-lamat telingaku mendengar berita dari tivi yang lupa kumatikan. Aku melihat jam di meja dekat komputer. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku tertidur rupanya. Kujernihkan pendengaran. Kantuk seakan kabur begitu kudengar berita tentang pembantaian tiga orang yang mangkal di sekitar Stasiun Wonokromo. Sulastri seorang PSK, Sunarko dan Ngatmo tukang becak.
Menurut berita tersebut, pelaku pembunuhan Sunarko dan Sulastri adalah Ngatijo, seorang warga setempat yang menyewakan kamarnya untuk tempat transaksi seks.
’’Sesuai kesepakatan, ongkosnya sekali pakai Rp 5 ribu,’’ kata Ngatijo menjawab pertanyaan wartawati tivi. ’’Sunarko lah yang membunuh mereka karena cemburu. Saya tidak bersalah.’’
Beberapa narasumber yang diwawancarai sesaat kemudian memberikan keterangan yang beragam. Ada yang mengatakan tak percaya Ngatijo pelakunya. Ada yang percaya Ngatijo membunuh mereka karena sewa kamarnya tak pernah dibayar.
Ada yang mengatakan kalau Ngatijo balas dendam karena cintanya ditolak Sulastri. Alasannya, Ngatijo impoten. Dan keterangan-keterangan lain yang simpang siur. Tapi, bukti-bukti yang diperoleh polisi menguatkan sangkaan bahwa pembunuhnya adalah Ngatijo.
Aku ingin memejamkan mata lagi. Aku tak ingin membaca koran sore ini. Pikiranku kosong. Langit-langit kamar menjadi seperti langit tak berbatas. Pikiranku melayang-layang tak tentu arah –diempaskan angin yang bertiup. Rasanya mata ini menuntutku untuk memejam kembali. Sementara kereta yang melintas di luar sana masih menyisakan deru. ¤
Surabaya, September 2010