top of page

Resonansi Hujan

ADARA terlihat melamun. Dia bersandar pada punggung kursi. Dia baringkan kedua telapak tangannya di atas meja. Di antara dua tangannya yang seperti lunglai tak bertenaga, secangkir kopi iseng sendiri. Coffee latte yang permukaannya bergambar kembang hati itu masih utuh bentuknya. Dia perlu memalingkan wajahnya ke kanan untuk melihat dunia di balik jendela. Sedang di luar hujan masih saja turun.

​

Adara tak pernah ingat sejak kapan menyukai kopi. Tapi mencintai hujan? Dia bisa mengingatnya dengan mudah. Dia jatuh cinta pada hujan sejak diceritai oleh mamanya tentang hujan dan peri-peri yang menjinjing keranjang. Konon, keranjang-keranjang itu dirajut dari pelangi. Mamanya bilang, peri memakai keranjang Pelangi itu untuk membawa air dari bumi: air mata.

​

’’Air mata?” tanya Adara kecil. Raut wajah polosnya tampak kebingungan.

​

’’Iya, peri-peri itu akan memetik air mata orang-orang yang berbahagia,’’ jawab mamanya.

​

’’Lalu, Ma?”

​

’’Setelah itu, hujan akan turun. Peri ingin membagi kebahagiaan kepada semua orang,’’ kata mamanya sambil membelai rambut Adara.

​

’’Ceritai aku tentang pelangi, Ma?’’

​

’’Jika Adara melihat pelangi, itu tandanya peri-peri sedang menari dengan mengayun-ayunkan keranjangnya.’’

​

’’Lalu, Ma?” tanya Adara penasaran. Mata mungilnya pun terpaku pada bibir, mata, dan wajah mamanya yang begitu ekspresif ketika bercerita.

​

’’Hujan adalah tanda cinta dari peri-peri, tanda kebahagiaan...’’

​

’’Lalu, apa lagi, Ma?’’

​

Mamanya pun terus bercerita sampai Adara terlelap.

​

Adara tak pernah puas dengan satu cerita. Bisa dibilang, dia tidak bisa tidur sebelum diceritai mamanya. Kadang keinginan Adara membuat mamanya harus berpikir keras. Karena dia tidak mau cerita selain tentang hujan. Dan Adara tahu mana cerita yang sudah diceritakan atau belum. Malam-malam berikutnya dia tak mau lagi diceritai tentang peri-peri yang membawa keranjang pelangi.

​

’’Di negeri di atas awan sana, ada dewi bernama Aldora,’’ mamanya mulai bercerita di malam yang lain. Adara pun menajamkan pendengarannya, memperjelas pandangannya.

​

Dewi Aldora memiliki sayap kelabu yang mampu mendekap bumi. Mamanya melanjutkan cerita. Sayapnya terbentang antara timur barat dan utara selatan. Bulu-bulunya adalah jalinan mata air-air mata bagai kristal. Adara semringah saat mamanya merentangkan tangannya seperti burung. ’’Jika Dewi Aldora berbahagia, dia akan mengepakkan sayapnya... ’’

​

’’Lalu, Ma?’’

​

’’Hujan pun turun...,’’ kata mamanya sambil memperagakan air yang turun dari langit dengan kedua tangannya.

​

Begitulah Adara kemudian jatuh cinta pada hujan. Bahkan, sampai dia dewasa dan tahu bahwa cerita-cerita mamanya hanyalah dongeng. Tak ada peri yang menyulam keranjang dari warna-warna pelangi. Tak ada peri yang memetik air mata. Tak ada juga Dewi Adlora dengan sayap-sayap air kristal. Tetapi, dia tetap mencintai hujan.

​

’’Kamu melamun, Ra?’’

​

Suara lelaki membuyarkan lamunan Adara. Arthan, nama lelaki itu, duduk berhadap-hadapan. Hanya dipisahkan meja cokelat kecil. Adara tersenyum setelah menyadari dari tadi tak mengacuhkan teman lelakinya itu. Untuk saat ini, hujan di luaran sana ternyata lebih menarik perhatiannya.

​

Lelaki di hadapannya membalas dengan memperlihatkan senyum yang sama saat mereka pertama kali bertemu beberapa bulan lalu. Seperti itulah awalnya mereka bertemu, saling bersapa senyum, di antara garis-garis hujan di sebuah halte di sudut kota. Sejak perkenalan itu, Adara tak pernah menggerutu pada jam keberangkatan bus yang selalu terlambat.

​

’’Hujan deras begini bus belum juga datang.’’

​

Terdengar seorang lelaki menawarkan sebuah percakapan basa-basi. Adara kemudian tahu lelaki itu bernama Arthan dari perkenalan basa-basi pula.

​

’’Memang sudah biasa begini, bulan Desember,’’ sahut Adara sambil menatap jauh menerobos hujan.

​

’’Mau ke mana, Mbak?’’

​

Percakapan basa-basi itu pun terus berlanjut. Kadang suara mereka terdengar jelas, tapi sering terdengar samar, kalah oleh suara hujan yang jatuh di atap halte. Entah berapa lama mereka berbincang. Yang jelas, mereka sudah merasa cukup dengan saling menyebutkan nama. Meski setelah beranjak tak menjamin ada keinginan untuk saling mengingat nama.

​

Obrolan mereka berhenti saat bus yang ditunggu Adara datang. Sementara Arthan harus berpindah halte untuk mendapatkan busnya. Dia hanya lelaki yang singgah, berteduh dari hujan yang menderas. Dia tak merisaukan kepergian perempuan itu. Adara juga tak berat meninggalkan lelaki yang masih berdiri di halte, menakar sebaris hujan, itu. Mereka seperti ingin meyakinkan diri, percakapan di sebuah halte hanyalah ritual pengusir kebosanan dalam penantian.

​

’’Kopinya jangan dicuekin, keburu dingin,’’ kata Arthan, lalu tersenyum.

​

Adara juga tersenyum. Dia sedikit membenarkan posisi duduknya, lalu meraih cangkir yang masih hangat. Dia tiup kembang hati yang kemudian menjadi sedikit bergelombang dan meminumnya perlahan. Adara merasa sedikit hangat. Ruangan kafe yang berpendingin udara memang terasa lebih dingin dengan hujan yang turun. Musik terus mengalun.

​

Pada hari yang lain mereka kembali bertemu di halte yang sama. Arthan tentu saja sengaja singgah. Obrolan kembali menjadi kesibukan mereka sembari menunggu bus. Pada hari-hari berikutnya mereka kembali saling bertemu. Dan sampailah mereka bersama di kafe itu.

​

’’Waktu aku kecil,’’ kata Adara, memecah keheningan.

​

Arthan mulai menatap Adara dengan diam, menunggu perempuan di hadapannya itu melanjutkan cerita.

​

Adara pun mengulang cerita yang pernah diceritakan mamanya. Tentang peri-peri yang membawa keranjang pelangi, peri-peri pemetik air mata, dan tentang Dewi Aldora yang bersayap hujan. Dia agak ragu menceritakan hal konyol itu kepada lelaki yang duduk di hadapannya itu. Tapi dia tidak ingin malam berjalan dengan kesunyian. Maka dia ceritakan apa saja yang terlintas di pikirannya saat itu. Namun, Adara tersenyum senang ketika Arthan ternyata menyimak ceritanya.

​

’’Hanya dongeng sebelum tidur di masa kecil,’’ kata Adara, menutup ceritanya.

​

Arthan kembali tersenyum, meraih cangkir kopinya, lalu mencecapnya untuk menemukan rasa yang tersembunyi dalam seduhan kopi.

​

’’Kamu nggak punya dongengan masa kecil?’’ tanya Adara.

​

Lelaki yang tadinya masih menunduk itu pun mendongak. Dia melihat kedua mata Adara yang berbinar. Namun, dia tak sanggup menatapnya lama-lama. Dia kembali menunduk pada cangkirnya, meletakkannya di atas meja. Dia pun mulai bercerita.

​

’’Mamaku tak pandai bercerita seperti mamamu.’’ Arthan mulai bicara. ’’Tapi, waktu kecil aku suka mengejar matahari pagi.”

​

Adara mempertajam pendengarannya, menjernihkan pandangannya. Dia seperti Adara kecil yang sedang mendengarkan dongengan mamanya. Dia memang perempuan yang gemar mendengar cerita. Hujan di luar membuat suara lelaki di hadapannya itu sedikit terdengar lirih. Jadi, dia harus benar-benar mempertajam pendengarannya dan menjernihkan pandangan untuk membaca gerak bibir lelaki itu.

​

’’Pernah berhasil?’’

​

Adara merasa pertanyaannya tidak penting.

​

’’Tidak pernah. Yang ada aku sering terjatuh, lutut berdarah-darah.”

​

’’Hmm...’’

​

’’Aku hanya bilang mengejar layang-layang.”

​

’’Apa?”

​

’’Jika mama bertanya, aku hanya bilang mengejar layang-layang.”

​

’’Tentang luka itu?”

​

’’Ya,’’ kata Arthan, lalu meminum kopinya lagi. ’’Kalau nggak begitu, mama akan tertawa,’’ lanjutnya.

​

’’Apa?”

​

’’Kalau aku bilang mengejar matahari, orang akan menganggap aku gila sejak lahir.”

​

Adara dan Arthan saling bertatap sejenak, lalu sama-sama tertawa.

​

’’Bukannya semakin dekat, dia malah semakin tinggi,” Arthan merasa malu melanjutkan cerita yang tak penting itu. Tapi, toh dia tetap melanjutkannya setelah melihat wajah perempuan di hadapannya itu. ”Sejak itu aku hanya memandanginya.”

​

Lalu senyap.

​

Gemericik hujan di luar terdengar lirih di ruangan.

​

Musik kafe terus mengalun.

 

love like rain

can nourish from above

drenching couples with a soaking joy

but sometimes under the angry heat of life

love dries on the surface

and must nourish from below

tending to its roots keeping itself alive...[1]

 

Satu per satu pengunjung kafe meninggalkan kursinya. Lampu kuning keemasan yang menggantung di atas meja-meja masih berpendar. Hujan di luar mulai melukis sketsa embun di kaca jendela. Wajah-wajah gelisah terlihat di antara orang-orang yang menunggu hujan di luar sana. Satu dua orang mengembangkan payung, menyingkap tirai hujan, lalu hilang dari pandangan mata. Adara mendesau.

​

Arthan mencecap kembali kopinya sambil sesekali mencuri pandang ke arah perempuan di depannya itu. Sementara Adara masih menekuri hujan. Kadang diam menjadi sebuah percakapan yang lebih intim.

​

’’Apa kamu menyukai hujan, Ar?’’ tanya Adara, matanya tetap tertambat pada hujan.

​

’’Aku rasa tak ada yang tak menyukai hujan.’’

​

’’Berarti kamu juga suka hujan?’’

​

’’Tidak salah.’’

​

’’Tapi, kamu juga menyukai matahari pagi?’’

​

Adara melirik lelaki itu sejenak, lalu kembali tertambat pada hujan.

​

’’Tidak salah juga.’’

​

Adara tersenyum. Tapi, pandangannya masih tidak rela berpindah dari hujan.

​

Lagu lain mengalun...

 

I’m singing in the rain

just singing in the rain;

what a wonderful feeling

I’m happy again...[2]

 

Kesunyian kembali menari-nari di ruangan yang semakin sepi. Semua pengunjung kafe telah pergi. Kini hanya mereka yang masih setia menekuri detak waktu yang berderap. Tik tok, tik tok, tik tok. Di meja kasir, para pekerja sibuk berbenah. Meja-meja dan kursi-kursi yang berantakan sudah ditata rapi. Tidak lama lagi kafe tutup. Sementara hujan masih saja turun.

​

Adara mengingat cerita mamanya. Peri-peri itu akan memetik air mata orang-orang yang berbahagia, lalu hujan pun turun. Peri ingin membagi kebahagiaan kepada semua orang. Dia seperti ingin melesat ke luar. Menari di bawah hujan. Mereguk kebahagiaan. Namun, dia bukan lagi Adara kecil yang bisa bebas bermain hujan.

​

Dia melirik Arthan yang kini ikut memandangi hujan. Lelaki di depannya itu tak menyadarinya. Dia seperti sedang ingin membaca partitur yang ditulis butiran-butiran hujan itu.

​

Suara rintik di luar menggantikan obrolan mereka. Lagu-lagu yang mengalun berganti-ganti, berkolaborasi dengan rintik. Orkestra mini yang menciptakan resonansi tanpa nama, tanpa tanya. Mereka kemudian bangkit dari kursi, berjalan beriringan di antara meja. Udara dingin dan aroma hujan menyambut begitu pintu dibuka.

​

Setelah pertemuan itu, mereka telah merencanakan sebuah pertemuan lainnya. Mungkin juga di sebaris hujan. Di musim yang entah.

​

Lagu di belakang kepala mereka terus mengalun...

 

selalu ada yang bernyanyi dan berelegi

di balik awan hitam

semoga ada yang menerangi sisi gelap ini

menanti...

seperti pelangi setia menunggu hujan reda...[3] ¤

 

 

 

Jakarta, 17 November 2014

​

​

[1] Paulo Coelho, River Piedra I Sat Down and Wept

[2] Lihat Arthur Freed.

[3] Efek Rumah Kaca, Desember.

bottom of page