top of page

Buket untuk Pacarku

UNTUKMU yang kusebut pacarku. Ingatkah kau tentang kita yang sering berjalan melewati los-los di pasar bunga di kota itu. Saat itu, ketika kita berjalan di depan kios yang sama, kau tanyakan padaku pertanyaan-pertanyaan yang sulit kujawab. Bahkan, aku belum bisa menjawab pertanyaanmu saat pertama kali kita melewati kios dengan banyak etalase berkaca bening itu.

​

’’Apakah buket bunga selalu indah?”

​

Aku tak tahu harus menjawab apa. Lalu, aku hanya bisa meminta padamu agar memberiku waktu untuk menemukan jawabannya.

​

Setelah hari-hari itu, kau sengaja selalu minta diajak pergi ke pasar bunga yang sama. Berkali-kali. Seperti tak ada rasa bosan yang menerormu. Kau terus menggandeng tanganku dan bergegas menghampiri kios yang sama. Saat kau menemukan buket bunga yang lain di etalase (dan celakanya memang selalu tampak indah), kau pun kembali memberiku pertanyaan yang susah kujawab.

​

’’Apakah orang yang merangkai buket itu selalu jatuh cinta?”

​

Karena aku tidak bisa menjawab, bahkan pertanyaan-pertanyaanmu yang dulu pun belum bisa aku jawab, aku hanya bisa kembali bertanya untuk mengalihkan perhatianmu.

​

”Memangnya kenapa?”

​

”Karena buket-buket itu selalu berbeda, tetapi tetap saja indah.”

​

Saat kau katakan itu, aku lihat ada binar di matamu. Aku diam, mengagumi keindahan yang dianugerahkan semesta padamu. Tapi, kau adalah kau, perempuan yang selalu ingin tahu dan tidak mudah teralihkan. Kau mengulang kembali pertanyaan yang sama.

​

”Apakah orang yang merangkai buket itu selalu jatuh cinta?”

​

Dengan sangat menyesal aku hanya bisa kembali bertanya, ’’Bolehkah kujawab lain kali?”

​

Kau tidak marah. Aku tahu kau tak akan marah. Biasanya, kau hanya tersenyum dan kembali memandangi buket di balik kaca bening itu. Biasanya. Tapi, hari ini kau terlihat berbeda. Ada raut kekecewaan di wajahmu. Itu bisa kulihat. Meskipun kau berusaha menyembunyikannya di balik senyummu.

​

Aku tak pernah bisa menjawab pertanyaanmu. Bahkan, di hari-hari kepergianmu pun aku belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Apakah buket bunga akan selalu indah? Apakah orang yang merangkai buket itu selalu jatuh cinta?

​

Yang bisa kukatakan hanya berupa pertanyaan, lagi.

​

’’Bolehkah kujawab ketika kau kembali?”

​

Dan kau katakan hal itu. Kalimat yang mengubah segalanya.

​

’’Aku tak akan kembali.”

​

Celakanya, kau katakan itu justru setelah kau telah benar-benar pergi. Dan, tak sedikit pun memberiku kesempatan untuk menahanmu. Di mana aku belum menemukan jawaban mengapa buket selalu indah dan apakah orang yang merangkainya selalu jatuh cinta.

​

Sebagai jawabannya, aku hanya berusaha mencari bunga-bunga yang tumbuh di taman kota. Kupetik setangkai demi setangkai. Lalu kubuat seikat bunga sederhana. Dengan pita merah muda. Sebagai hadiah pernikahanmu. Setelah itu kau bisa mendapatkan jawabannya, apakah orang yang merangkai buket itu selalu jatuh cinta?

​

Sudahkah buket hadiahku sampai di depan pintu rumahmu? Semoga kau suka. ¤

 

 

Jakarta, 28~29 Januari 2014

bottom of page