Agil
AGIL masih memandangi wajahnya di cermin dengan pupuhan bedak putih dan sedikit lipstik memerahi bibirnya. Meski begitu, Agil merasa tak ada yang perlu ditakuti dari cermin di depannya itu. Dia juga merasa tak ada yang aneh dari dirinya dengan pakaian itu –dengan rok sedikit kedodoran dan kaus pink press body bergambar tiga jagoannya; The Powerpuff Girls.
Hanya saja, Agil merasa was-was dengan keberadaan sosok laki-laki yang mengamatinya dari belakang. Dengan pakaian dan dandanan seperti itu, Agil menjadi tampak lucu. Di belakang Agil, Asrul –bapaknya– duduk di kursi rotan. Dia sedang mengamati anaknya dengan pakaian yang baru dibelikannya. Laki-laki itu pula yang membedaki dan memerahi bibir anaknya itu. Asrul tampak puas melihat anak semata wayangnya itu. Tetapi tidak dengan Ira, istri Asrul. Dia terlihat gelisah mengamati anak kecil dalam pakaian perempuan itu. Bukan karena tidak cantik atau tidak lucu. Sebaliknya, Agil tampak seperti bocah yang dikaruniai keayuan wajah, kenes.
Agil menunduk tak bergerak di depan cermin. Hanya tangannya tampak sibuk memilin ujung roknya. Dia tak berani menangis. Atau laki-laki berkumis tebal di belakangnya akan menghunus kayu rotan dan mengasari pantatnya.
’’Sekarang kamu bisa bermain dengan teman-temanmu!” kata Asrul kepada Agil, setengah membentak.
’’Tidak mungkin dia bermain dengan pakaian seperti itu, Mas?”
Ira angkat suara demi membela anaknya.
’’Kenapa? Dia cocok memakai pakaian itu.”
’’Dia akan ditertawakan teman-temannya, Mas.”
Ira memohon.
’’Ambilkan boneka dan alat masak-masakan yang biasa dia mainkan!”
’’Mas, Mas serius melakukan ini pada Agil? Bagaimana kata tetangga nanti?”
Asrul tak mengindahkan protes istrinya. Dia bangkit dari kursi untuk mengambil sendiri boneka yang sering dipakai Agil untuk bermain bersama teman-teman perempuannya.
Ira hanya diam, tak bisa berbuat apa-apa. Asrul kemudian membanting kardus berisi mainan itu tepat di depan Agil yang masih berdiri sesenggukan di depan cermin.
’’Kamu mau nangis? Wajar, kamu kan perempuan!”
Asrul mengalihkan pandangan ke arah perempuan yang sedang gelisah berdiri di samping tempat duduknya.
’’Itu kan yang kamu inginkan?” kata Asrul kepada Ira yang kemudian menatap mata suaminya yang menjadi merah, amarah.
’’Kamu terlalu keras mendidik dia, Mas.”
Protes Ira, berpaling dari pandangan mata suaminya.
’’Kamu yang terlalu memanjakan dia. Kamu juga salah memperlakukan dia sebagai seorang anak.”
’’Apanya yang salah? Karena dia minta boneka? Dia masih anak-anak, Mas.”
’’Memang salah. Karena mainan itu mainan perempuan. Kamu harus sadar, Ra. Anakmu itu laki-laki.”
Ira menjadi surut, tak bisa menjawab lagi. Keinginannya untuk memiliki anak perempuan begitu besar hingga memperlakukan Agil layaknya anak perempuan.
Ketika usia pernikahan memasuki tahun ketiga, kebahagiaan Asrul dan Ira lengkap dengan hadirnya jabang bayi yang tumbuh di rahim Ira. Sebagai ibu yang mengharapkan bayi perempuan, Ira sudah memiliki keyakinan bahwa janin di kandungnya perempuan.
Karena itu, jauh-jauh hari Ira sudah mempersiapkan segalanya. Ira pun mengabaikan saran suaminya agar memeriksakan kandungan untuk mengetahui jenis kelamin calon anak mereka.
’’Biar surprise, Mas,” kata Ira bersikukuh.
Sejak itu Ira menjadi lebih sering kelihatan bergaul dengan anak-anak perempuan tetangga. Bahkan, tak jarang Ira mengundang mereka bermain di teras rumah. Ketika melihat anak perempuan yang lucu, dia pun tak segan mencium serta mencubit gemas seraya bergumam semoga anak di kandungannya lucu seperti mereka.
Ketika belanja ke pasar pun Ira lebih tertarik dengan pakaian-pakaian perempuan. Melihat perangai istrinya itu, Asrul sesekali menjadi gemas juga.
’’Kita periksakan saja kandunganmu, Ira. Siapa tahu anak kita laki-laki.’’
’’Amit-amit, Mas. Ini bawaan orok, Mas. Aku yakin anak ini perempuan,” kata Ira sambil mengelus-elus perut buncitnya.
Asrul yang sebenarnya menginginkan anak laki-laki segagah dirinya kemudian tak peduli lagi dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Entah istrinya membeli bando, gelang plastik, peralatan masak-masakan, atau perlengkapan untuk anak perempuan lainnya. Asrul tak mau ikut campur.
Begitulah, akhirnya Agil lahir sebagai anak laki-laki. Asrul bahagia menyambut kelahiran pahlawan kecil yang sehat dan gagah itu. Tapi, meskipun Agil tumbuh sebagai anak yang tampan, Ira tetap memperlakukannya layaknya anak perempuan. Dia tetap mendandani Agil bayi seperti perempuan.
’’Sudah telanjur beli, Mas. Sayang dijual lagi,’’ kata Ira saat memakaikan rok ke Agil bayi.
Asrul hanya mendengus.
Dengan pakaian perempuan, Agil memang terlihat ayu. Hingga orang-orang yang tak mengenal keluarga Asrul akan menyangka Agil adalah anak perempuan.
Perlakuan Ira kepada anaknya itu bukannya tanpa tentangan sepenuhnya. Asrul berkali-kali membentak istrinya agar memberi pakaian yang pantas untuk anak laki-laki. Tetapi, Ira selalu mencari pembelaan. Agil masih kecil dan tak akan menimbulkan masalah.
’’Toh, tetangga-tetangga gemas melihat Agil dengan pakaian seperti itu.”
’’Tapi, dia laki-laki, Ira.”
’’Biarlah, Mas. Anak masih kecil ini.”
’’Tapi dia tetap laki-laki.”
’’Iya, sayang sekali dia laki-laki. Kalau saja perempuan, dia pasti akan menjadi perawan ayu,” gumam Ira, lebih pada dirinya sendiri.
’’Kamu keterlaluan, Ira.”
Asrul hanya bisa menahan amarah. Meskipun wajahnya cukup sangar dan tak segan berbuat kasar, perempuan bukanlah objek pelampiasan.
Agil tumbuh sebagai anak laki-laki yang gagah. Yang disayangkan Asrul, anak lanang-nya itu lemah gemulai. Ketika bermain pun, dia lebih memilih lompat tali, boneka, atau masak-masakan.
Sudah beberapa kali kayu rotan mendarat di pantat Agil hingga meninggalkan bilur-bilur. Dalam keadaan seperti itu, sering Ira tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah suaminya memberikan ’’pelajaran” kepada Agil. Meski begitu, ada saatnya Asrul capek dan menyerah. Sepenuhnya menyerah. Dia menjadi tak acuh dengan perlakuan istrinya kepada Agil.
Pada suatu hari, diam-diam Asrul pergi ke pasar dan membeli beberapa pasang pakaian perempuan untuk Agil. Dengan tangannya sendiri, Asrul memakaikan rok kaus berwarna cerah kepada Agil. Tak lupa, Asrul mengambil bedak dan lipstik dari meja rias Ira dan mendandani Agil. Mirip banci kaleng pinggir jalan.
’’Dia sudah menjadi perempuan sekarang, seperti yang kamu inginkan,” kata Asrul kepada istrinya yang tersedu. ’’Apa tindakanku ini masih salah juga?’’
Ira semakin tersedu, sedangkan Agil gemetaran di depan cermin. Bukan takut pada penampakan wajahnya di cermin, tapi takut pada rotan yang mungkin akan mengasari pantatnya lagi.
’’Antar dia keluar. Biarkan dia bermain dengan teman-teman perempuannya,” perintah Asrul kepada istrinya.
’’Dengan pakaian seperti itu, Mas? Aku pun tak pernah mendandani Agil seperti itu.”
Ira tetap mencoba meyakinkan suaminya.
Meskipun tak tega, Ira tak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya menuntun anaknya ke depan pintu. Daripada rotan kembali melukai pantat anaknya itu. Hanya sampai di pintu, Ira berhenti dan memandangi tubuh anaknya dalam pakaian perempuan menghambur ke kerumunan teman-temannya. Sementara itu, Asrul bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah jendela. Dari sisi lain kaca jendela yang gelap itu, Asrul mengamati anaknya dengan mata berlinang.
Agil yang sedari tadi ketakutan menjadi ceria dalam. Teman-temannya terpingkal melihat Agil dengan pakaian seperti itu. Tapi itu cuma sebentar. Karena kemudian teman-temannya punya ide untuk membuat sebuah permainan. Cerita cinta putri Cinderella dan pangeran tampan.
Sudah bisa ditebak, Agil berperan sebagai putri Cinderella dan sepatu kaca. Dalam cerita, pangeran sedang mencari putri sebagai pendamping. Dan pilihan jatuh kepada pemilik sebelah sepatu kaca yang tertinggal di dalam sebuah pesta dansa. Permainan pun dilanjutkan dengan peragaan dansa Agil dan teman laki-lakinya yang berperan sebagai pangeran itu.
Asrul meneteskan air mata melihat anaknya berdansa ala kadarnya dengan rok sedikit kedodoran. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kelak Agil tumbuh dewasa menjadi laki-laki yang gemar bersolek layaknya perempuan, atau bahkan anak kecil dengan kaus mini itu kelak tak segan memilih jalan hidup sebagai perempuan yang rupawati dan menyukai laki-laki.
Membayangkan hal itu, hati Asrul seperti diperas sampai kering. Asrul pun merasa lemas dan terkulai di atas kursinya. Sedang mata merahnya menerawang ke langit-langit rumah.
Ira yang masih berdiri di bingkai pintu mengamati Agil yang sedang asyik berdansa. Sesekali Ira membasuh air matanya yang jatuh ke pipi. Ira terus memandangi Agil yang kini memainkan adegan pernikahan dengan sang pangeran. Dengan berat hati Ira memalingkan pandang dari Agil. Dia sadar bahwa Agil anak lanang, bukan perempuan. Ira lalu menghampiri suaminya yang terkulai di atas kursinya. Asrul tertidur, entah sampai berapa lama. ¤
Surabaya, Mei 2010